Experience The Best of Norway (For Free): Yuk Coba WWOOF!

Monday, May 30, 2022



Ingat sekali bagaimana dulu awal-awal saya mencari cara untuk bisa tinggal di luar negeri, salah satu informasi yang sering muncul lewat mesin pencari adalah WWOOF. Membaca deskripsinya, saya merasa WWOOF bisa jadi salah satu cara bagi kita yang ingin merasakan langsung kehidupan di luar negeri  khususnya di daerah perkebunan, peternakan, atau persawahan.

WWOOF atau World Wide Opportunities on Organic Farms sudah ada lebih dari 50 tahun lalu dan awalnya merupakan wadah komunitas yang mendukung para petani lokal untuk memfasilitasi edukasi seputar pertanian organik dan sustanaible living. Didirikan di Britania Raya tahun 1971, WWOOF adalah salah satu program pertukaran pendidikan dan budaya pertama di dunia. Sekarang, WWOOF sudah tersebar di lebih dari 130 negara di dunia  termasuk Indonesia, dan jumlahnya diperkirakan akan terus berkembang.

Masuk Kuliah di Eropa Itu Mudah! Ini Buktinya!

Saturday, April 9, 2022



Sekitar enam atau lima tahun lalu, saya mengobrol dengan salah satu teman sekelas yang baru masuk ke kelas bahasa Denmark kami. Cowok muda asal Islandia yang pindah ke Denmark untuk mengubah nasib ini sebetulnya ramah dan good looking, tapi mulutnya cukup sadis. Kalimatnya yang paling saya ingat sampai sekarang, "hanya ada dua tipe anak muda Asia yang bisa sampai Eropa. Yang suuuuper kaya sekali atau yang suuuuper pintar sekali! Kaya karena dibiayai orang tua atau pintar karena dapat beasiswa."

Bodohnya, meskipun tahu itu salah namun saya iyakan pernyataan tersebut. Well, dia juga tak sepenuhnya salah sebetulnya. Namun yang saya ingat, dia tidak menanyakan mengapa saya ada di Denmark saat itu dan hanya nyerocos membicarakan hal lain setelahnya. If only he knew saya di Denmark jadi 'babu' alias au pair, mungkin akan menepis semua stereotipe dia sebelumnya tentang orang Asia di Eropa. Lambat laun, saya baru tahu bahwa si cowok ini bisa berkata demikian karena punya role model seorang teman cewek yang juga berasal dari Indonesia. Si teman ini dapat beasiswa kuliah di Denmark, super aktif berorganisasi dan berprestasi, sampai akhirnya bisa bekerja di UN Denmark. What a lucky (yet smart) girl!

Ketika Nasib Membawa Mu Pulang

Thursday, March 31, 2022



Kutipan tak bertuan berbahasa Norwegia di atas berarti, kebahagiaan itu tak selalu naik ke puncak tangga, tapi berhenti pada tahap dimana seseorang berkembang.

Seringkali saya membaca dan mendengar kata-kata motivasi dari para imigran Indonesia yang tinggal di luar negeri atas nama perjuangan. Salah satunya, "anak rantau pantang pulang" atau yang sebetulnya lebih menggambarkan tak boleh pulang sebelum berhasil di negara orang. Meski tak semua berpendapat sama, namun keberhasilan ini lebih erat kaitannya dengan materi. Jujur, saya mungkin salah satu yang kurang setuju dengan kata-kata motivasi ini setelah merasakan langsung bahwa realita seringkali memaksa kita untuk jadi realistis. Tak selamanya usaha mendukung hasil.

6 Persepsi Keliru Tentang Au Pair

Wednesday, February 23, 2022



Semakin banyak yang membagikan cerita kehidupan mereka sebagai au pair, semakin banyak juga anak muda Indonesia yang tertarik ingin mengikuti jejak. Cerita dibuat semotivatif dan semenarik mungkin agar interaksi dengan para pengikut terus berjalan. Dari mulai cerita betapa mudahnya pindah ke negara-negara di Eropa, bisa dapat pacar bule yang seru dijadikan konten, hingga kesempatan melanjutkan sekolah atau berkarir di luar negeri.

Gaya orang bercerita memang berbeda. Namun bagi kalian yang tertarik jadi au pair, saya sarankan tetap harus banyak mencari info dari kanan kiri sebelum cepat menarik kesimpulan dari satu pernyataan. Jangan sampai mimpi terkalahkan ekspektasi yang melambung tinggi. Au pair bukanlah program yang 'too good to be true'. Berikut 6 persepsi keliru yang sering saya dengar:

Kuliah Mandiri di Luar Negeri, Keberuntungan atau Kerja Keras?

Saturday, January 8, 2022



"Menurut kamu ya, Nin, apakah memungkinkan kuliah di luar negeri pakai biaya sendiri, tanpa bantuan teman, pacar, saudara, atau host family saat lagi pandemi seperti ini?" tanya seorang rekan au pair di akhir tahun 2020 saat kami nongkrong di pusat kota Oslo.

Tulisan ini semestinya dirilis lebih awal, ketika cerita hidup saya yang nelangsa sebagai mahasiswi di Norwegia lebih relevan. Pertanyaan tersebut muncul tanpa sebab. Teman saya ini tahu betul bagaimana terpuruknya saya saat menjalani semester dua dengan tertatih karena sempat kehilangan pekerjaan. Di saat genting ini, uang tabungan saya semasa au pair terkuras dan cari kerja lagi juga tak mudah. Keluarga di Indonesia tak bisa banyak membantu secara materi. Pun teman sejawat hanya bisa menolong dari segi moril.

Berandai-andai, teman saya tersebut hanya ingin tahu apakah mungkin mantan au pair yang lanjut kuliah mandiri semasa pandemi bisa hidup nyaman? Jika waktu bisa diputar kembali, mungkinkah kemarin saya bisa menabung lebih banyak untuk dana emergency? Atau jika tak punya pilihan, apakah memang sesulit itu cari kerja lagi  padahal bisa jadi cleaning lady atau babysitter?