Masyarakat Kopenhagen dan Stereotipe Orang Denmark

Thursday, 29 October 2015




Lahir dan besar di Palembang membuat saya menjadi orang yang lebih menyukai suasana medium city ketimbang hiruk-pikuk di Jakarta. Menurut saya orang-orang di kota terbesar secara alami mempunyai pola hidup yang tidak rileks, cenderung kaku, dan individualis. Wajar memang, mengingat pusat negara dan kesibukan ada disana, sehingga karakter orang-orang yang bermukim pun cenderung berwarna-warni.

Sewaktu di Belgia, saya memang merasakan perbedaan besar ketika tinggal di dekat Brussels dan Ghent. Orang-orang yang ada di Brussels sangat bervariasi, tidak santai, dan sedikit emosional, terutama para imigran. Berbeda ketika berada di Ghent, saya kebanyakan bertemu dengan orang asli Belgia, sehingga atmosfer pun terasa lebih hangat dan bersahabat.

Sejujurnya saya bukannya kontra dengan para imigran, karena sebenarnya saya juga pendatang. Namun tinggal di Ghent membuat saya merasakan Belgia sebenarnya karena sering bertemu orang asli negara tersebut. *Saat menulis tulisan ini pun saya merindukan suasana Ghent lagi!*

Begitu pun dengan Indonesia, orang-orang yang ada di Jakarta tentunya sudah kebanyakan pendatang dari kota lain. Menemukan orang asli Betawinya sendiri tidak gampang. Namun cobalah ke kota besar lain seperti Medan, Yogyakarta, atau Surabaya, suasana asli yang hangat dan akrab akan lebih terasa.

Kembali ke Kopenhagen, ibukota Denmark. Kota ramah pengendara sepeda ini sama saja dengan ibukota negara lain, ramai oleh pendatang dan sibuk. Banyak juga orang Denmark asli yang bermukim di Kopenhagen, namun mereka lebih memilih tempat-tempat yang sedikit ujung wilayah Kopenhagen.

Sejauh ini, saya merasa nyaris 70% orang-orang yang ada di Kopenhagen adalah pendatang. Rata-rata mereka datang dari negara-negara Eropa Timur seperti Hungaria, Polandia, atau Turki. Sementara dari Asia sendiri, saya lebih sering bertemu dengan orang China, Filipina, dan Thailand. Banyak juga yang berasal dari Jerman atau Swedia datang ke Kopenhagen untuk sekolah gratis di CBS (Copenhagen Business School), DTU (Technical University of Denmark), atau KU (Københavns Universitet). Kabarnya sekolah bisnis di Kopenhagen adalah salah satu terbaik di Eropa.

Walaupun banyak kampus oke di Kopenhagen, kota pelajar sebenarnya adalah Aarhus. Sama seperti di Belgia, kebanyakan pelajar dari kota-kota lain akan bermuara di Ghent. Makanya kota ini pun terkesan lebih youthful dan bersahabat. Satu lagi, kota pelajar ini juga biasanya akan sedikit sepi di hari Sabtu karena kebanyakan pelajar akan pulang ke rumah orang tuanya dan kembali di Minggu sore.

Sebenarnya tinggal di ibukota negara seperti Kopenhagen tidak merugikan juga. Selain saya bisa bertemu dengan banyak teman internasional, banyak juga acara-acara seru yang diadakan di kota ini. Sayangnya menurut saya, sekali lagi, masyarakat Kopenhagen hampir sama dengan tipe-tipe orang di ibukota negara lainnya. Terlalu sering bolak-balik Kopenhagen sebenarnya cukup bosan juga. Apalagi pada dasarnya Kopenhagen lebih terkenal sebagai tempat membuang duit saat nongkrong (baca: pesta dan mabuk) di akhir pekan.

Oh ya, bukan di Kopenhagen saja, mungkin saya harus bicara tentang masyarakat Denmark keseluruhan. Ada stereotipe yang mengatakan bahwa orang Denmark itu pada dasarnya memang sangat tertutup, sering terprovokasi media, dan berpola pikir sempit. Hal ini memang sepertinya benar karena pada kenyataannya orang Denmark yang saya tanya pun mengakui hal tersebut

Sangat sulit masuk ke lingkungan pertemanan orang asli Denmark kalau kita tidak bicara bahasa mereka. Namun jika kita sudah sangat dekat dengan mereka, "they will stick with you forever," aku salah satu orang Denmark. 

Walaupun orang-orang Barat memang tidak terlatih untuk bertutur sapa dan mengenal tetangga sekitar mereka tinggal, namun ada juga yang ramah. Di Denmark sendiri, ada juga beberapa orang yang tidak segan menyunggingkan senyuman atau sekedar say hi saat berpapasan. Namun orang yang saya temui itu tentu saja bukanlah di Kopenhagen, namun lebih di daerah pinggir kota atau pedesaan yang lebih sepi. 

Yang saya tahu, orang Barat memang tidak mengenal istilah SKSD seperti kita di Asia. Orang Asia memang terkesan lebih terbuka dan ramah walaupun baru detik itu bertemu. Kita bisa saja bicara soal masalah berita hingga keluarga ke orang yang tidak sengaja menegur di dalam bus.

Namun bagi orang sini, random conversation seperti itu tidaklah penting dan mereka hanya menilai kita sama sekali tidak peduli. Oke, satu hal yang saya tangkap, bagi kita random conversation bisa berupa awal dari bersikap ramah. Tapi bagi mereka, justru deep conversation yang carefree lebih berharga dan intim.


Kota yang Sepi, Negara yang Sepi

Wednesday, 21 October 2015




Kalau ingin menilai diri sendiri, saya termasuk orang yang introvert secara publik, namun tidak secara personal. Saya memang lebih suka tempat-tempat yang tenang demi hanya membaca buku atau berjalan menikmati alam. Tapi sesuka-sukanya saya dengan ketenangan, Denmark menurut saya terlalu kaku!

Karena tinggal hanya 11 km dari Kopenhagen, tentunya waktu luang saya sering dihabiskan di kota ini. Sama seperti Amsterdam, warga Kopenhagen juga lebih suka mengendarai sepeda ke tempat-tempat yang masih menjadi The Great Copenhagen Area. Selain harga tiket transportasi umum yang mahal, Kopenhagen hanyalah kota kecil yang jalanannya kebanyakan flat sehingga sangat nyaman bersepeda serta tidak terlalu lama menjangkau ke banyak tempat. Jalanan untuk sepeda pun dibuat serapih mungkin agar hak pengendara sepeda terjamin.

Saya memang belum pernah ke kota-kota besar lain seperti Århus atau Odense, tapi melihat Kopenhagen, cukup memberikan gambaran bagaimana suasana kota-kota lainnya. Walaupun Kopenhagen adalah kota terbesar sekaligus ibukota Denmark, tapi kota ini sungguh sepi. Jika ingin melihat banyak orang berlalu lalang, silakan saja mendatangi tempat-tempat yang sering didatangi turis di sekitar area stasiun utama Kopenhagen, Nørreport, hingga Østerport.

Daerah itu pun menjadi ramai karena memang pusat-pusat tempat wisata berada disana. Selain itu, ada juga jalan terkenal bernama Strøget (baca: Stro' el) yang kanan-kirinya kebanyakan toko-toko fashion yang nantinya jalan ini berujung di salah satu mall dan Nyhavn (baca: Nuha 'n).


Salah satu sudut keramaian di sentral Kopenhagen

Daerah pejalan kaki yang kanan kirinya pertokoan memang tidak pernah sepi

Saat naik bus dari Herlev (baca: Hearlu), suasana terasa begitu lenggang walaupun saya sudah masuk bagian utara wilayah Kopenhagen. Namun suasana berubah ramai saat bus berhenti di stasiun Nørreport. Pernah juga saya berhenti di bagian lain Denmark, Bagsværd, yang tidak jauh dari Herlev. Ketika ingin ganti bus menuju Herlev, stasiun terasa begitu sepi dan hening. Padahal hari itu Sabtu dan waktu belum menunjukkan pukul 9 malam. Saya membayangkan masih begitu hidupnya suasana di kota kecil Belgia di waktu yang sama.

Don't worry, she'll be fine in lonesome.
Salah satu sudut permukiman mahal di Hellerup

Suasana hening pun juga terasa saat naik kendaraan umum di Denmark. Di bus, metro, ataupun kereta, orang-orang sepertinya tutup mulut lalu hanya memandangi ponsel atau luar jendela. Di kereta sendiri, ada satu koridor yang khusus ditujukan untuk orang-orang anti bising. Bahkan pernah ada kejadian teman saya yang sedang main ponsel dengan earphone dan jelas-jelas tanpa suara pun, ditegur oleh nenek-nenek. "Kamu tahu tidak kalau ini ruangan anti bising?", katanya dalam bahasa Denmark.

Tapi dibalik sepi dan heningnya negara ini, sebenarnya rasa tenteram dan aman selalu dapat saya rasakan. Suatu malam, saat baru satu minggu di Denmark, saya sempat tersasar hingga dua jam. Selain ponsel mati, saya juga sulit sekali menemui orang yang sekedar lewat di jalanan demi menanyakan arah. Beruntung saya berhasil bertemu dengan dua orang pesepeda, lalu satu orang wanita yang sedang mengajak jalan anjingnya di tengah malam. Alhamdulillah dari wanita itulah saya akhirnya bisa menemukan jalan pulang ke rumah dengan aman. Sialnya, jalan yang harusnya bisa ditempuh 8 menit saja menembus hutan, terpaksa menjadi 55 menit karena saya harus berputar melewati jalanan aspal.

Jalanan sekitar stasiun utama Kopenhagen dan Tivoli di Sabtu malam

Saya jadi mengerti mengapa Denmark dijuluki sebagai salah satu kota teraman di dunia selain Selandia Baru. Jumlah populasi yang sedikit membuat tingkat kriminalitas di negara ini sangat rendah. Tidak akan ada yang merampok, membegal, ataupun menculik sekiranya kita ingin jalan kaki sendirian di tengah malam sekali pun. Saya juga pernah mendengar pengakuan seorang ekspatriat dari Amerika yang sudah tinggal lama di Kopenhagen mengatakan bahwa hanya di Denmark dia berani berjalan kaki membawa anjingnya saat jam 2 pagi. Di Washington DC, tempat dia tinggal, ada beberapa wilayah yang saat siang hari pun dia tidak berani lewati.

Selain jumlah populasinya yang sedikit, Brian, host dad saya, juga mengatakan kalau sebenarnya tidak ada yang berbahaya di Denmark. Mereka tidak punya singa, hewan berbisa, atau sesuatu yang mematikan seperti di Indonesia. Bahkan kalau bertemu laba-laba pun, tidak perlu juga dibunuh karena biasanya mereka hanya menumpang lewat. Fiuuhh..


Mengenal Sistem Transportasi Umum yang Mahal di Denmark

Wednesday, 7 October 2015




Setelah uang saku harus dipotong pajak, saya pun juga harus jadi financial manager untuk diri sendiri. Selain membagi pos-pos uang untuk belanja, jalan-jalan, dan tabungan, saya juga harus menyisihkan 25% dari uang saku untuk pos transportasi setiap bulannya.

Karena sudah jadi penduduk sementara Denmark, saya harus memikirkan betapa mahalnya uang yang harus dikeluarkan demi naik kendaraan umum disini. Sewaktu di Belgia, saya hanya perlu membeli tiket €23.60 per bulan naik bus tanpa batas ke semua daerah Flemish. Sementara disini, harus menyisihkan 655kr atau sekitar €88 per bulan untuk naik kendaraan umum (kereta, bus, dan metro) tanpa batas hanya di beberapa penjuru Denmark.

Denmark memang kota mahal. Bahkan orang Denmark sendiri mengakui kalau biaya transportasi umum di negara mereka memanglah mahal. Untuk punya mobil pribadi pun, mereka harus membayar pajak yang tinggi. Belum lagi urusan bensin dan biaya perawatannya. Transportasi umum di Denmark sendiri sebenarnya sangat nyaman dan bagus ketimbang Belgia. Terutama untuk kereta antarkota yang lebih mirip kereta antarnegara, atau betapa mudah dan cepatnya akses dari Kopenhagen ke bagian selatan Swedia, Malmö.

Sebelum berangkat ke negara tujuan, saya memang rajin mempelajari dulu tentang sistem transportasi umum dan pembelian tiket di negara tersebut. Menurut saya transportasi menjadi hal terpenting karena nyaris setiap hari saya harus berangkat ke sekolah bahasa, belum lagi hang out setiap minggunya.

Berbeda dengan Belgia yang lebih simpel, mempelajari sistem transportasi umum di Denmark cukup membuat saya pusing. Denmark memberlakukan sistem zona yang dibagi menjadi 99 bagian. Belum lagi banyak sekali pilihan tiket yang bisa dipilih berdasarkan status, umur, dan intensitas ke tempat tujuan. Sebagai au pair, berikut saya berikan gambaran tentang sistem transportasi yang ada di Denmark!

1. Pahami dulu zona transportasi umum di Denmark

Memahami pembagian zona yang ada di Denmark membuat kita terhindar dari overpaying ke tempat tujuan. Saya juga awalnya sering sekali "ketipu" hingga akhirnya harus mengeluarkan uang lebih demi sebuah single ticket. Sebelum memulai, silakan ketahui dahulu zona tempat tinggal kita lalu cek website Movia untuk menggunakan dan mengecek kalkutor zona yang ada di Denmark.

2. Rencanakan rute dan hitunglah zona yang akan dilewati

Karena saya tinggal di Herlev (baca: Hearlu), maka sesuai peta zona di bawah ini Herlev berada pada zona 31 (warna merah).



Sekolah bahasa yang akan saya datangi nyaris setiap hari berada di Ballerup, masuk ke Zona 42 (warna biru muda). Sesuai dengan peta zona, maka saya akan melintasi 2 zona jika ingin ke Ballerup. Lain halnya jika saya ingin ke Roskilde yang ada di zona 8 (warna oranye), maka harus melintasi 6 zona. Silakan lihat bagian peta di kanan bawah, tabel menerangkan tentang pembagian beberapa zona yang akan dilewati berdasarkan warna.

3. Pembelian tiket normal untuk semua moda transportasi

Di Denmark, satu tiket yang dibeli berlaku untuk semua moda transportasi seperti bus, kereta, dan metro. Waktu berlaku tiket pun berdasarkan dengan jumlah zona yang ditempuh. Tiket yang berada pada satu zona berlaku sampai 60 menit, 2 zona berlaku 75 menit, 3 zona berlaku 90 menit, dan seterusnya ditambah 15 menit.

Jika perjalanan pertama menggunakan bus, maka tiket bisa langsung dibeli di supir saat akan naik dengan uang tunai. Sementara jika perjalanan pertama dilakukan dengan kereta dan metro, tiket bisa langsung dibeli melalui mesin ataupun 7-Eleven. Pembelian tiket inipun dihitung berdasarkan zona yang akan dilewati.

Untuk pembelian tiket normal dengan uang tunai, dikenakan tarif 12kr per zona. Sementara pembelian tiket melalui SMS akan dikenakan diskon khusus. Contohnya untuk tiket ke 2 zona seharga 24kr, bisa dibeli dengan harga 15kr saja melalui SMS.

Menurut saya, membeli tiket bus langsung dengan si sopir bisa menghindarkan kita dari overpaying asalkan tahu kemana rute yang akan kita ambil dan tahu total zonanya. Contohnya saya berada di Herlev (warna merah-lihat peta) ingin ke Kopenhagen (warna kuning) yang masuk ke Zona 1, artinya saya hanya akan melintasi 3 zona. Namun karena saat itu si sopir juga tidak tahu berapa zona yang akan dilewati jadinya dia sembarang hitung hingga 4 zona. Saya pun "terdoktrin" untuk selalu membayar 96kr PP dari Herlev-Kopenhagen, padahal bisa berhemat 24kr seandainya lebih paham sejak awal.

Sopir bus biasanya lebih acuh dan hanya menuruti pembelian tiket sesuai jumlah zona yang penumpang katakan. Jadi daripada mengatakan "ke Kopenhagen", sebut saja "3 zona". Berbeda halnya jika kita membeli tiket metro atau kereta melalui mesin atau 7-Eleven, mereka biasanya akan menghitung jumlah zona berdasarkan rute kereta yang akan kita lewati. Dari Herlev menuju Hellerup yang sebenarnya hanya 2 zona, bisa menjadi 3 zona karena si kereta melintasi zona lain sebelum tiba di Hellerup.

Untuk lebih jelasnya soal jadwal kereta, jumlah zona, serta harga tiket yang harus dibayarkan silakan buka website ini.

4. Membeli tiket bulanan untuk intensitas tanpa batas

Tiket bulanan atau Periodekort ini saya pilih karena setelah dihitung-hitung, jatuhnya lebih murah ketimbang harus membeli tiket normal setiap waktu. Tiket ini juga cocok bagi au pair yang sering pulang pergi tempat kursus nyaris setiap hari menggunakan transportasi umum. Belum lagi acara nongkrong di kota besar setiap akhir pekan.

Karena kota besar yang selalu saya datangi adalah Kopenhagen, sementara saya harus ikut sekolah bahasa di Ballerup, maka saya harus membeli tiket bulanan 4 zona. Keempat zona ini pun bukan sembarangan zona yang berada di sekitar Herlev, tapi dihitung berdasarkan rute menuju Kopenhagen atau Ballerup saja. Untuk ke Kopenhagen dari Herlev, saya harus melewati Zona 31, 2, 1, sementara Ballerup sendiri berada di Zona 42 (warna biru muda-lihat peta).

Lalu bagaimana jika saya ingin ke Lyngby (warna biru muda) yang ada di Zona 41? Tiket bulanan ini tidak berlaku karena zona yang tercatat hanya Zona 31, 2, 1, 42 saja. Untuk ke zona lainnya saya tetap harus membayar tiket lagi. Untuk harga tiket bulanan di tahun 2015 ini sendiri, bisa cek disini.

Sebenarnya membeli tiket bulanan ini memanglah sangat mahal di awal. Namun cukup affordable apabila rute yang dilewati setiap minggu hanya itu-itu saja. Lagipula selama 30 hari kita dapat mengakses semua moda transportasi yang ada tanpa batas waktu, kecuali untuk night bus yang akan dikenakan harga 2 kali lipat dari harga normal.

Selain bisa dibeli melalui aplikasi DSB, tiket ini juga dapat dibeli melalui kantor DSB yang ada di stasiun kereta kota-kota besar seperti Kopenhagen, Aarhus, Odense. Bagi yang baru pertama kali membeli, harus menyertakan pas foto diri berukuran 3x4 sebagai identitas. Setelahnya, tiket ini dapat diperpanjang langsung dengan membeli Periodekort di mesin.

5. Membeli Wildcard bagi yang berusia di bawah 26 tahun

Menggunakan Wildcard akan sangat menghemat biaya jika ingin bepergian ke daerah yang lebih jauh menggunakan kereta. Wildcard sendiri dapat dibeli melalui aplikasi DSB yang dapat diunduh di Google Play atau App Store seharga 125kr atau di 7-Eleven tertentu dengan harga 150kr yang masa keanggotaannya berlaku selama satu tahun.

Memiliki kartu ini memungkinkan para muda-mudi mendapatkan diskon kereta hingga 50% di hari Sabtu, atau 20% untuk tiket menuju Malmö, serta diskon produk lainnya di 7-Eleven. Wildcard bisa sangat menguntungkan jika memang ingin mengunjungi daerah-daerah di Denmark yang cukup jauh dari tempat tinggal.

6. Berlangganan Rejsekort 

Rejsekort adalah kartu transportasi isi ulang yang juga dapat digunakan pada semua moda transportasi di Denmark. Bagi yang sudah memiliki Wildcard, bisa mendaftar langsung untuk mendapatkan Rejsekort for Young Person di kantor DSB. Dengan kartu ini, para muda-mudi bisa mendapatkan diskon transportasi umum yang sama seperti membeli tiket lewat SMS.

Kartu fisik Rejsekort didapat setelah mengisi formulir dan menyerahkan uang 50kr untuk membeli kartu di loket DSB. Jangan lupa juga untuk melakukan check in saat akan menaiki transportasi umum, lalu check out saat sampai tempat tujuan. Jangan check out setiap kali turun dari transportasi umum, namun check out hanya saat sudah benar-benar sampai di tempat yang kita tuju.

Banyak yang mengatakan Rejsekort bisa sangat hemat dibandingkan membeli tiket bulanan. Namun saat saya hitung sendiri, langganan Rejsekort juga tidak sehemat yang semua orang kira. Memang kita mendapatkan diskon harga di waktu-waktu tertentu, namun bisa juga sangat boros mengingat kita harus sering-sering juga isi ulang.

7. Naik sepeda sekalian cuci mata

Selain Amsterdam, Kopenhagen juga penuh oleh pengendara sepeda. Dibandingkan naik transportasi umum yang mahal, orang-orang yang masih tinggal di dalam area besar Kopenhagen lebih memilih sepeda sebagai transportasi mereka. Berbeda dengan Herlev yang jalanannya kebanyakan tanjakan, jalanan di kota besar seperti Kopenhagen kebanyakan datar sehingga lebih nyaman untuk bersepeda.

Bukan hanya hemat dan sehat, bersepeda juga memungkinkan kita cuci mata. Di Kopenhagen, saya sering menemui banyak cowok-cowok keren yang bersepeda sekalian konvoian bersama teman. Jadi tidak perlu takut mati gaya saat bersepeda, karena nyatanya pengendara sepeda juga banyak yang oke-oke.

Tapi yakinlah, saat cuaca buruk sepeda bukanlah transportasi yang nyaman digunakan. Saya sendiri sudah kapok bersepeda saat musim dingin, ketika wajah lebih sering kena angin hingga sepeda mudah goyah dan harus digayuh lebih kuat. Pengalaman saya berbelanja saat musim dingin di Belgia pun akhirnya benar-benar membuat saya menyerah sering-sering menggunakan sepeda di Denmark.

Namun sebenarnya, bersepeda cukup mengasyikkan juga apalagi saat cuaca sedang sempurna. Selain itu, kita juga tidak terpaku jadwal bus dan takut ketinggalan kereta terakhir karena fleksibilitas pengendara sepeda. Mungkin saat memasuki musim semi yang cukup hangat, saya akan bersepeda kembali.

Memahami sistem transportasi umum di Denmark memang cukup membingungkan di awal-awal, belum lagi soal pembagian zona yang banyak orang juga tidak mengerti. Namun ilmu matematika kita harus benar-benar diasah disini kalau tidak ingin membayar lebih.

Untuk info selengkapnya mengenai transportasi umum di Denmark serta info lain tentang Denmark, silakan cek di website ini.


Uang Saku di Denmark Naik, Pajak Menunggu!

Thursday, 1 October 2015




Hari ini saya gajian. Tapi langsung sakit hati setelah sadar uang saya harus dipotong nyaris 32% untuk bayar pajak. Hiks!

Saya mengerti kenapa orang Denmark disebut-sebut sebagai orang paling bahagia di dunia. Setelah harus "sakit" dipotong gajinya untuk membayar pajak tiap bulan, nyatanya memang warganya mendapatkan banyak fasilitas dari pemerintah. Selain mendapatkan fasilitas rumah sakit gratis, mereka juga dapat menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi tanpa dipungut biaya apapun. Lucunya, bukannya harus membayar uang kuliah, para pelajar justru mendapatkan tunjangan pendidikan yang besarnya 4000-5000kr perbulan. 

Pemotongan pajak penghasilan ini pun dihitung persenannya berdasarkan jumlah gaji yang kita terima setiap tahun. Seseorang wajib kena pajak jika penghasilannya lebih dari 42.900kr. Semakin besar penghasilan yang diterima setiap tahunnya, semakin besar pajak yang harus dibayar. Seperti Louise yang gajinya harus dipotong 37% untuk membayar pajak tiap bulan, lalu Brian yang mesti kena pajak penghasilan sampai 60%. 

Lalu kenapa au pair juga harus membayar pajak, padahal katanya au pair bukanlah dianggap sebuah pekerjaan?

Per tanggal 1 Juli 2015, diberlakukan peraturan baru soal status au pair. Salah satunya, au pair boleh mengikuti kegiatan sukarela tanpa dibayar lalu tentang kenaikan gaji yang sebelumnya 3500kr menjadi 4000kr. Senang? Tentu saja! Tapi hanya ketika saya berada di Indonesia. Setelahnya disini, saya harus dibuat pusing oleh beberapa penjabaran pajak yang intinya harus saya bayar sebelum tanggal 20 setiap bulannya.

Kalau dihitung, jumlah uang saku saya 48000kr pertahun dibandingkan au pair lama yang hanya 42000kr. Artinya, saya memang sudah wajib dikenai pajak di Denmark. Sialnya, dibandingkan au pair lama yang bisa mendapatkan uang saku 3250kr hingga 3500kr perbulan, saya hanya mendapatkan tidak sampai 3000kr setiap bulan! Aaarrgghh..

Sebenarnya saya memang sudah diberitahu Louise soal uang pajak ini sebelum saya terbang ke Denmark. Namun Louise juga tidak tahu kalau pajak yang harus dibayarkan lebih dari apa yang dia tahu. Ikhlas tidak ikhlas, ya nyatanya pajak tetaplah harus dibayarkan.

Karena status kependudukan saya sudah nyaris disamakan dengan warga Denmark, maka saya harus membayar pajak 8% untuk fasilitas kesehatan, 23.7% untuk pajak balai kota, lalu tidak sampai 1% sisanya untuk membayar pajak gereja. Tapi karena saya bukan pengikut gereja, jadinya pajak ini bisa dihapuskan dari kewajiban saya. Untuk pajak balai kota sendiri, tergantung dimana domisili au pair tersebut. Tiap balai kota menerapkan pajak yang berbeda-beda untuk setiap penduduknya.

Meski au pair bukanlah dianggap sebuah pekerjaan, namun ternyata kami juga harus membayar pajak atas fasilitas tempat tinggal dan makan gratis. Walaupun semua makanan saya di rumah dibeli oleh keluarga asuh, namun ternyata hitungan kasarnya saya "membayar" sekitar 768kr perbulan untuk makanan tersebut. 

Seseorang yang bekerja untuk usahanya sendiri, masuk ke pajak tipe B, yang artinya akan ada pembebasan pajak 2 bulan dalam satu tahun yaitu bulan Februari dan Desember. Untuk kedua bulan tersebut saya akan mendapatkan gaji penuh tanpa dipotong pajak.

Walaupun mendapatkan fasilitas rumah sakit gratis, nyatanya au pair bukanlah penduduk permanen kota Denmark. Siapa sih au pair yang ingin sakit di masa-masa kontraknya? Saya juga berharap tidak ingin sakit parah lalu "bahagia" bisa berobat gratis di rumah sakit. Meski ada juga pemeriksaan kanker rahim dan payudara yang sebenarnya beruntung juga bisa gratis disini. Sayangnya untuk dokter gigi tidak digratiskan karena klinik dokter gigi tersebut berjalan sendiri tanpa dibantu pemerintah.

Kalau dibandingkan dengan Indonesia, jangankan memutar uang pajak untuk kepentingan masyarakat umum, yang ada pajak dikorupsi. Belum lagi adanya perbedaan fasilitas yang didapat untuk orang miskin dan kaya di rumah sakit. Berbeda di Denmark, orang termiskin dan terkaya sekalipun tetap akan mendapatkan pelayanan rumah sakit yang sama. Ya sudahlah, selamat datang di salah satu negara termahal dunia dimana nyaris semua hal diberlakukan pajak yang tinggi!

**per tanggal 1 Januari 2016 uang saku au pair di Denmark menjadi 4050kr/bulan