How Are You, Nin?

Sunday, December 27, 2020



I.. am pretty drained!

Sebelumnya, terima kasih banyak untuk kalian yang sering DM ke Instagram saya demi mengecek apakah ada postingan terbaru di blog. December is a severe month dan saya memang harus pandai mengatur waktu agar 2020 berakhir dengan indah.

Dari awal Desember, saya disibukkan dengan tugas akhir proyek dimana saya dan teman setim mesti lembur demi menyelesaikan 2 presentasi akhir, baik di kelas maupun di perusahaan tempat kami magang. Yang satu ini selesai, masih ada 3 tugas laporan lain menunggu sampai tenggat waktu 18 Desember. Rasanya sangat puas dan plong ketika semuanya selesai serta menyadari saya berhasil survive tanpa ada masalah mental sedikit pun. Tahun ini memang berat untuk semua orang; terutama bagi para mahasiswa asing di Norwegia yang harus kehilangan pekerjaan, tinggal di kos kesepian, online learning, dan terkurung belum bisa pulang ke negara asal. Salah satu kolega saya di kantor yang baru 3 bulan bekerja, harus mengundurkan diri lantaran punya masalah mental disebabkan beban tesis dan lingkungan kerja yang terlalu berat.

Bahasa, Tantangan Terbesar Hidup di Norwegia

Monday, December 7, 2020



Minggu-minggu terberat semester tiga hampir berakhir, sampai saya punya jeda meluangkan waktu menulis lagi di blog. Proyek kami magang di perusahaan ditutup dengan presentasi dan laporan besar yang proses pembuatannya saja memakan waktu tiga minggu. Belum lagi ada tiga tugas individu lain yang tenggat waktunya saling berdekatan. Semuanya menggunakan bahasa Inggris yang memang jadi bahasa pengantar kelas Master di banyak universitas di dunia. Tapi semakin sering menulis laporan dan presentasi, ada hal yang akhirnya saya sadari; whatever I say or write in English, it doesn't come out right! Nilai bahasa Inggris saya saat mendaftar S2 dulu sebetulnya tak terlalu jelek, namun lama-lama perkembangan bahasa Inggris saya justru semakin menurun!

Why is my English getting worse?!

Call me arrogant, tapi dulunya saya memang pernah dikira orang Amerika karena aksen Inggris saya terdengar seperti nativesetidaknya saat berbicara. Delapan bulan tinggal di Denmark, saya sudah bisa mengopi aksen orang lokal sampai guru bahasa Denmark saya dibuat terkekeh dengan gaya bicara saya. Banyak tugas grammar di satu bab juga saya lalap habis hanya dalam hitungan menit. "Saya sangat yakin, kamu sudah bisa bicara sangat fasih dalam waktu 2 tahun saja!" katanya saat itu. Tidak hanya sampai disitu, pertama kali belajar bahasa Belanda di Belgia, saya sudah bisa lompat level dari A1 ke B1, tanpa perlu belajar A2 lagi. Secepat itu!