Kesempatan Au Pair ke Irlandia, Spanyol, dan Italia

Thursday, 28 March 2019



Dari sekian banyaknya negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia, ternyata masih ada juga yang tanya ke saya apa memungkinkan jadi au pair di negara lain? Awalnya saya katakan tidak bisa, karena memang tidak ada program khusus au pair bagi orang Indonesia ke negara tersebut. Namun karena pertanyaan yang sama terus muncul dan banyak juga yang berminat kesana, ada cara lain mewujudkan impian kamu.

Bukan pakai visa jangka panjang untuk au pair, tapi visa turis dan visa pelajar. Sebagai catatan, kalau kamu tertarik kesana kurang dari 90 hari, sebaiknya pakai saja visa turis. Cara ini bisa kamu gunakan kalau hanya ingin tinggal sebentar dan mencicipi Eropa lebih lama dari turis biasa. Tapi saya tidak yakin kalau ada host family yang bersedia menyewa jasa au pair 3 bulan saja. Lagipula, kita tidak bisa juga bekerja di Eropa hanya memakai visa turis biasa.

Cara terbaik yang bisa kamu lakukan selanjutnya adalah memakai visa pelajar. Di postingan ini saya hanya akan membahas negara yang paling banyak ditanya, yaitu Irlandia, Spanyol, dan Italia. Ada plus minus yang mesti kamu perhatikan baik-baik sebelum betul-betul tertarik ke negara tersebut. Satu lagi, saya bukan petugas imigrasi yang tahu sistem kependudukan di semua negara. Jadi informasi yang saya berikan disini hanyalah gambaran awalnya saja dan silakan menuju tautan yang sudah tersedia untuk dibaca lebih teliti.

Tur 'Jalanan Cantik' di Kopenhagen

Monday, 25 March 2019


I love Copenhagen!

Kalau ada yang tanya ke saya, kota mana paling hipster di Eropa, saya akan jawab Kopenhagen! Dari soal tempat nongkrong yang seru, kotanya para desainer super kreatif, jalanan bak panggung runaway karena gaya masyarakatnya simpel dan elegan, hingga gabungan arsitektur tua dan modern yang menjadikan sudut Kopenhagen begitu 'hyggelig' alias nyaman.

Banyak yang minta rekomendasi ke saya, selain nongkrong dan menghamburkan uang di bar atau kafe, apalagi yang bisa dilakukan di Kopenhagen. Bagi sebagian orang, kota ini juga dinilai membosankan karena tidak menawarkan banyak tempat wisata. Tapi, Kopenhagen bukan hanya Christiania, Nyhavn, dan Little Mermaid. Ada banyak kegiatan seru yang sebetulnya bisa dilakukan disini.

Saat adik saya, Katya, datang berkunjung musim gugur tahun lalu, saya mengajaknya mengitari sudut-sudut cantik lain di Kopenhagen yang mungkin orang lain banyak belum tahu. Ide ini muncul dua tahun lalu saat saya membuat proyek 'Min KĂžbenhavn' sebagai materi kompetisi film pendek CAFx.

(Akhirnya) Saya Punya Instagram!

Thursday, 21 March 2019



Per 2 April 2019, Google resmi menutup jejaring sosial Google+ yang diluncurkan 8 tahun lalu. Saya sebetulnya tidak terlalu aktif menggunakan akun tersebut karena tidak paham fungsinya bagaimana. Namun sejak memiliki blog sendiri, saya gunakan saja media tersebut untuk sharing konten agar postingan saya terlacak Google dan muncul di laman pencarian.

Saya ini sebetulnya tipe orang yang paling tidak bisa promosi, termasuk menjual tulisan sendiri. Punya sosial media pun hanya Twitter (2009) dan Facebook yang baru dibuat tahun 2015 karena ingin main Tinder. Teman-teman saya di dua akun tersebut juga bukan pangsa pasar untuk sharing konten tentang au pair, makanya saya promosikan saja via Google+ yang jumlah pengikutnya pun kurang dari 50.

Dari dulu pembaca blog ini banyak yang bertanya juga apa saya punya akun Instagram. Belum ada, karena saya malas bikin dan malas pula foto-foto lalu ditaruh di sosial media. Tapi karena bahan promosi saya, si Google+, harus tutup bulan depan, mau tidak mau saya harus pindah lapak baru. So, here it is my brand new Instagram account; @artochlingua.

Silakan bagi yang berminat follow saya disana dan update tulisan terbaru saya. Mungkin kalau ada kesempatan, saya juga ingin sharing foto dari sini yang tidak sempat saya tampilkan lewat blog. Kalau miskin Story, maafkan ya, saya memang tidak terlalu getol main sosial media. Hoho.


Malasnya 'Business Trip' dengan Host Family

Wednesday, 20 March 2019



Salah satu perks of being an au pair itu adalah bisa jalan-jalan gratis alias "dinas" atau "business trip" ke luar dan dalam negeri dengan keluarga angkat. Pengalamannya tentu saja banyak, bisa diajak melihat tempat-tempat anti mainstream yang mungkin tidak akan pernah kita singgahi kalau harus travelling sendiri, tiket PP gratis, serta ikut kecipratan fasilitas hotel mewah kalau memang beruntung mendapatkan keluarga Eropa yang kaya raya. Kadang kalau keluarganya baik, uang saku saat liburan pun ikut ditambah.

Contohnya saja Vicky, eks au pair Denmark, yang sempat dibawa "dinas" ke Dubai selama 7 hari menemani host family. Kegiatan sehari-harinya hanya berjemur seksi di pantai atau hotel berbintang karena mengikuti gaya liburan keluarganya yang santai.

Ada lagi Anggi, eks au pair Belgia, yang beruntung tinggal bersama keluarga Belanda kaya raya yang sering diajak travelling menggunakan jet pribadi. Dari penginapan dan makan sehari-hari di restoran semuanya ditanggung tanpa takut kelaparan. Tidak suka makanan restoran, boleh pesan menu di hotel yang juga masuk ke bill keluarga. Kegiatan dinas juga tidak hanya menemani host kids di pantai Spanyol, tapi juga ber-ski di Austria. Lucky? Iya.