My Home, My Rules

Monday, 25 January 2021



Mungkin bagi orang awam yang tak tahu regulasi resmi au pair, uang saku €450 di Belgia atau NOK 5900 di Norwegia per bulan itu terlalu sedikit. Jauh dari upah minimum pegawai lainnya yang diwajibkan pemerintah setempat. Tapi mereka tak paham, bahwa uang saku yang diberikan ini adalah upah bersih yang diterima au pair tanpa harus bayar akomodasi dan makan setiap bulannya. 

Sekarang, banyak yang ketagihan jadi au pair tidak hanya karena embel-embel pertukaran budaya. Tapi kegirangan, bisa tinggal di luar negeri dengan jaminan dari host family plus dapat gaji. Sebagai orang yang mengundang au pair ke rumah mereka, host family wajib menyediakan fasilitas kamar yang baik dan bahan makanan yang cukup, ditambah dengan uang saku yang sudah ditetapkan pemerintah untuk mencukupi kebutuhan tersier au pair. Sebagai timbal balik, au pair hanya perlu membantu urusan rumah tangga dan menjaga anak dari si keluarga saat dibutuhkan. Win-win solution demi kehidupan yang nyaman antara kedua belah pihak.


Ada banyak sekali au pair beruntung yang mendapatkan studio, apartemen, atau kamar mewah sendiri dengan fasilitas lengkap layaknya hotel bintang lima. Saking baiknya, host family yang punya kolam renang pribadi bahkan memperbolehkan au pair mereka mengundang teman untuk pool party. Saya akui, kehidupan au pair yang penuh fasilitas seperti ini memang bisa membuat kita manja. Hanya saja, semua kemewahan yang didapatkan sebetulnya fana. Mengapa, karena kita hanyalah tamu dan sesungguhnya posisi kita tetaplah menumpang di rumah orang! 

Aturan Nama Anak di Wilayah Nordik

Monday, 18 January 2021



Zaman sekarang, nama-nama anak Indonesia entah kenapa semakin panjang, sulit ditulis, serta dibuat super kreatif anti-mainstream. Ada yang dikutip dari bahasa lain, singkatan dari gabungan kata, ataupun hanya karena tersadar akan sesuatu, nama tersebut akhirnya tercipta. Di Indonesia, kebanyakan nama diberikan orang tua karena mengandung doa di dalamnya. Tak ada aturan baku yang mewajibkan harus menamai anak apa, hingga akhirnya orang tua boleh sekreatif mungkin merangkai nama agar tak pasaran dan termakan zaman. Ada juga artis yang mati-matian memikirkan nama anak sampai tak boleh dicontek oleh orang lain hanya karena nama tersebut dinilai begitu spesial.

Tapi tahu kah kalian bahwa 5 negara di wilayah Nordik, Eropa Utara, punya aturan tertulis tentang penamaan yang diakui hukum negara? Bagi kita, aturan tertulis seperti ini mungkin terkesan konyol dan melampaui hak asasi sebagai orang tua. Negara harusnya menghukum para koruptor, bukan mengatur-atur nama masyarakatnya! Kurang kerjaan!, mungkin begitu komentar banyak orang. Betul memang, anak itu milik orang tuanya dan hak orang tuanya juga ingin memberi nama apa. Hanya saja, peraturan pasti dibuat dengan alasan tertentu.


Di Nordik, aturan tentang penamaan ini disahkan karena negara ingin melindungi para anak dari nama-nama tak layak pakai. Nama dibawa sampai mati dan jangan sampai si anak ini di-bully kemudian hari hanya karena namanya bermakna buruk, aneh, serta terlalu sulit diucapkan. Tak percaya? Buka tautan ini bagaimana sembarangannya orang tua Indonesia memberikan nama anak saat lahir! Bukannya mengandung doa, nama-nama tersebut justru nonsense dan bisa jadi bahan candaan yang harus diterima sampai tua. Makanya ada aturan baku di Nordik untuk menghindari hal seperti ini.

5 Sumber Gratis Belajar Bahasa Norwegia Secara Mandiri

Monday, 11 January 2021



Tidak seperti bahasa Jerman, Prancis, atau Belanda yang lebih terkenal, saya cukup amazed saat tahu ada beberapa orang di Indonesia tertarik belajar bahasa Norwegia. Beberapa dari mereka bahkan bertanya ke saya sumber belajar yang bisa digunakan mengingat tak ada yang menyelenggarakan kursusnya di Indonesia.

Hanya dituturkan oleh 5,5 juta orang di Eropa Utara, bahasa Norwegia yang merupakan rumpun akar bahasa Jermanik sebetulnya bukanlah bahasa populer untuk dipelajari. Rasanya tak ada alasan yang kuat mempelajari bahasa ini jika kamu tak punya niat tinggal di negaranya langsung. Kebanyakan imigran yang tinggal di Norwegia pun sebetulnya hanya belajar mati-matian karena dua hal, syarat dapat pekerjaan dan sedang proses ingin mendapatkan PR (Permanent Residence) serta ganti kewarganegaraan. Di samping itu, masih banyak yang malas belajar karena mayoritas orang Norwegia lancar berbahasa Inggris.

Tapi berita baiknya, Norwegia masuk ke dalam negara Skandinavia yang memiliki bahasa serumpun dengan dua negara tetangganya, Swedia dan Denmark. Secara lisan, bahasa Norwegia sangat mirip dengan bahasa Swedia dan mereka biasanya bisa mengerti satu sama lain. Sementara tulisan, kita bisa lebih mudah memahami bahasa Denmark karena alfabet yang dipakai sama. Nilai plusnya, kita punya kelebihan menguasai bahasa asing lain selain bahasa Inggris. Karena kenapa, English is boring :b

Berhutang Demi ke Luar Negeri

Saturday, 2 January 2021



Awal tahun 2021 akan dibuka dengan cerita saya melangkahkan kaki ke luar negeri pertama kali hingga masih berada disini, dibiayai dari hasil hutang. Kamu mulai skeptis dengan semua hal yang berhubungan dengan hutang piutang? Baca sampai akhir agar tahu bahwa tidak semua hutang itu identik dengan hal-hal negatif!

Saat backpacking mulai booming di Indonesia awal tahun 2007-an, saya termasuk salah satu orang yang mengamini bahwa jalan-jalan ke luar negeri itu bukan hanya milik orang kaya lagi. Apalagi ketika low-cost carrier (LCC) milik Malaysia berinovasi menjual murah harga tiket pesawat keliling Asia hingga Prancis, semakin membuat mimpi orang Indonesia keliling dunia lebih dekat dengan kenyataan. Beberapa orang mulai mencoba jalan-jalan mandiri dengan modal backpack dan menginap di tempat murah, lalu membukukan kisah perjalanan tersebut. Mereka membuktikan bahwa modal keluar negeri itu memang tidak perlu sampai ratusan juta. Yang penting tujuannya bisa jalan-jalan murah meriah ke banyak negara meskipun harus menanggalkan kemewahan untuk sementara waktu.

Saya sangat tertarik dengan kisah perjalanan murah seperti ini, hingga membeli banyak buku backpacking dari berbagai penulis. Salah satu penulis favorit saya kala itu bahkan sudah mengeluarkan banyak buku travelling dengan judul-judul menggugah, seperti contohnya bisa ke Singapura dengan modal 500 ribu Rupiah saja. Meskipun hampir semua penulis berdomisili di ibukota, namun tak mengubur motivasi saya sebagai anak daerah untuk berpetualang keluar Indonesia.