Calon Au Pair, Waspada Penipuan!

Monday, 22 October 2018



Saya tahu, mimpi untuk ke luar negeri rasanya tidak pernah padam. Keinginan untuk segera berangkat, tinggal di negara empat musim, dan melihat salju sudah terpatri sekian lama. Setelah tahu bahwa au pair bisa membawa mu ke luar negeri dengan 'mudah', kamu pun sangat bersemangat mencari keluarga angkat di negara impian.

Sayangnya, rasa suka cita calon au pair ini kadang tidak bersamaan dengan kewaspadaan. Tidak sedikit pembaca blog saya yang mengadu bahwa calon host family mereka terlihat mencurigakan dan minta uang. Saya perlu tekankan bahwa untuk jadi au pair itu tidak ada syarat deposito uang dimana pun. Kita hanya perlu menanggung biaya visa dan bayar biaya aplikasi ke imigrasi negara tersebut. Beberapa au pair ada yang harus menanggung tiket perjalanan mereka sendiri, tapi itu pun setelah ada kesepakatan dengan keluarga angkat.

Ke Australia beda lagi, itu bukan pakai visa au pair, tapi Working Holiday Visa (WHV). Makanya ada syarat menunjukkan bukti finansial agar imigrasi Australia tahu kalau kamu mampu menanggung biaya hidup disana nanti.

Biaya Hidup (baca: Belanja) di Norwegia

Tuesday, 16 October 2018



Bagi orang Indonesia, biaya hidup di negara-negara Skandinavia memang terkenal sangat tinggi. Tapi kalau sudah tinggal, hidup, dan bekerja disini, kamu mulai berhenti membandingkan harga dengan di Indonesia karena para pekerja di tiga negara ini mendapatkan upah tinggi yang juga sepadan dengan biaya hidup besar tersebut.

Saya beruntung bisa tinggal selama 2 tahun di Denmark yang biaya hidupnya pernah saya rincikan disini. Setelah hampir 8 bulan pindah ke Oslo, Norwegia, saya kadang masih suka membandingkan harga barang-barang di Oslo dan Kopenhagen. Biaya hidup di Norwegia dinilai salah satu dari yang tertinggi di Eropa dan dunia, sementara Oslo, masuk ke daftar salah satu negara termahal untuk ditinggali.

Saya akui, uang saku sebagai au pair di Norwegia memang lebih tinggi dibandingkan di Denmark dulu. Tapi pajak serta biaya hidup di Oslo yang tinggi juga membuat saya kewalahan mengatur keuangan. I am (indeed) stop comparing the price, but I can't stop spending money outside!

Jadi Au Pair ke Amerika? Bisa!

Thursday, 11 October 2018



Dari dulu saya tidak pernah berani merekomendasikan Amerika Serikat sebagai negara tujuan au pair Indonesia karena syarat visanya yang tidak mudah. Selain itu, saya juga jarang sekali mendengar ada au pair Indonesia yang datang langsung dari Indonesia untuk jadi au pair kesana. Ada buku Keliling Amerika Ala Au Pair yang ditulis oleh Ariane O. Putri di tahun 2014 sempat membahas pengalamannya jadi au pair di Amerika selama 2 tahun. Tapi saya belum sempat membaca bukunya, jadi tidak tahu apa saja rintangan dalam mengurus visa kesana.

Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu tertarik datang ke Amerika Serikat karena miskin budaya dan bahasa. Tapi banyak sekali pembaca blog saya yang ternyata berminat ke Amerika dan berulang kali bertanya apakah bisa jadi au pair kesana. Beberapa tulisan lawas saya secara tegas menyatakan kalau pemegang paspor Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Amerika karena tidak berkualifikasi.

Dulu saya berpikir, untuk datang ke Amerika kita harus menunjuk salah satu dari 15 agensi resmi au pair yang sudah dipercaya. Sayangnya, banyak sekali agensi yang tidak melayani orang Indonesia karena proses visanya yang cukup sulit. Di sisi lain, kebanyakan agensi tersebut hanya menerima orang-orang Eropa, Filipina, ataupun Thailand. Tapi setelah saya mencoba mencari tahu satu per satu agensi tersebut, ternyata ada angin segar untuk pemegang paspor hijau. Kabar baiknya, kita bisa jadi au pair ke Amerika lewat visa J-1!

Pengalaman Pertama Ikut Emirates Open Day di Norwegia

Wednesday, 10 October 2018



Meneruskan postingan bulan lalu, Sabtu pagi, jam 5.45 saya sudah bangun dan segera menyiapkan diri. Make up mesti on, rambut harus klimis dan rapih, serta tidak lupa membawa stocking cadangan dan pump shoes ke dalam tas. Sengaja sepatu ditaruh di dalam tas, karena kebesaran dan kurang nyaman dipakai menuju ke lokasi. Hari itu saya harus segera berangkat jam 7 pagi karena Open Day akan dimulai jam 8 tepat. Lalu betul saja, membawa stocking cadangan memang ide yang baik karena stocking yang saya pakai entah mengapa robek saat menunggu bus di halte.

Open Day diadakan di Radisson Blu Plaza Hotel yang hanya 4 menit jalan kaki dari stasiun utama Oslo. Saya sampai jam 7.40 lalu segera mengganti sepatu sesaat sebelum masuk hotel. Masuk ke lobi, saya mencari toilet untuk langsung mengganti stocking dan mengecek penampilan sebelum menuju ruangan rekrutmen yang berada di lantai 33.

Tiba di lokasi, saya langsung pasang senyum cemerlang dan menyapa beberapa orang yang sudah datang duluan. Seorang cowok menyarankan saya mengambil selembar kertas di atas meja yang berisi informasi mengenai pekerjaan sebagai pramugari Emirates. Empat menit sebelum acara dimulai, beberapa orang kembali berdatangan dan mulai bertegur sapa. Ada yang penampilannya all-out dan sangat formal, ada yang sangat casual, ada juga yang cuek memakai jeans dengan rambut terurai.