Rencana Eks-Au Pair Setelah Au Pairing

Saturday, 23 May 2015




Satu atau dua tahun bukanlah waktu yang lama jika masa au pairing mu sangat menyenangkan. Terlebih lagi biasanya beberapa bulan sebelum kepulangan ke Indonesia, kita sudah punya banyak teman akrab atau someone special yang rasanya sedih sekali untuk ditinggal. Tapi tiket pulang sudah di tangan dan waktu kepulangan ke Indonesia tinggal sebentar lagi.

Lalu apa yang akan dilakukan eks-au pair ini setelah masa au pairing mereka di Eropa? Beberapa teman au pair biasanya sudah memiliki beberapa rencana yang akan mereka lakukan selepas belajar dan bertukar budaya selama setahun disana.

1. Kembali ke Indonesia dan melanjutkan kuliah yang tertunda

Beberapa eks-au pair yang tujuannya mendalami bahasa asing, biasanya sengaja stop out dulu dari kuliah demi jadi au pair. Selepas masa au pair mereka selama satu tahun di Eropa, tentunya sudah berbekal pengalaman dan juga kemampuan bahasa asing yang lebih baik. Hal ini pastinya akan dilakukan para eks-au pair yang masih berstatus mahasiswa.

2. Kembali ke Indonesia dan mencari pekerjaan di tanah air

Au pair merupakan salah satu kesempatan yang luar biasa menyenangkan karena bisa tinggal di luar negeri dan bertukar budaya dengan keluarga angkat. Pengalaman berharga yang dirasakan akan terus membuka pikiran kita untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Namun cukup untuk satu atau dua tahun menjadi au pair, beberapa eks-au pair memutuskan untuk mencari pekerjaan di Indonesia saja. Berbekal bahasa asing selain bahasa Inggris, skill ini dapat mereka 'jual' ke perusahaan atau masyarakat nantinya. Banyak juga eks-au pair yang bahkan menjadi guru les bahasa asing atau membuka usaha bisnis sendiri bermodalkan tabungan sewaktu menjadi au pair.

3. Kembali ke Indonesia dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi

Saya banyak bertemu dengan teman-teman au pair yang mulai mendapatkan residence atau work permit pertama mereka tepat setelah lulus sekolah menengah. Ada juga teman au pair yang sudah sempat bekerja di Indonesia, namun belum menyandang gelar sarjana. Semangat teman-teman eks-au pair ini untuk sekolah lagi patut diacungi jempol karena biasanya mereka akan menabung selama di Eropa untuk bekal melanjutkan S1 atau S2 di Indonesia.

4. Kembali ke Indonesia untuk mengurus berkas-berkas sekolah di luar negeri

Beberapa teman saya yang dulunya juga pernah jadi au pair di Belanda, memang sengaja jadi au pair lagi di Belgia untuk sekolah disana. Ada juga eks-au pair yang pindah negara dari Jerman ke Austria karena memang berkeinginan melanjutkan kuliah di salah satu negara tersebut setelah masa au pair mereka. Hal ini biasanya akan direncanakan oleh beberapa eks-au pair yang sudah pernah jadi au pair lebih dari satu kali.

Sekilas info, biaya kuliah S1 di KU Leuven (Belgia) untuk kelas bahasa Belanda hanya €800-1900 pertahun. Sementara untuk universitas lain di Belgia biayanya ada yang lebih mahal. Teman saya yang akan melanjutkan sekolah di Belgia tahun ini, memang juga mengatakan kalau dibandingkan Belanda, biaya kuliah di Belgia jauh lebih murah. Karena kelas bahasa lokal biaya kuliahnya memang lebih murah, kemampuan bahasa Belanda level B2 (upper-intermediate) harus sudah dikuasai. Seorang teman yang baru tahun kemarin jadi au pair, akhirnya masuk kelas bahasa Belanda intensif agar cepat naik level. Sementara untuk kelas pengantar bahasa Inggris sendiri harganya bisa €3500 pertahun.

Sama halnya juga dengan biaya kuliah di Jerman yang terkenal murah se-Eropa Barat. Teman saya ini sengaja mati-matian belajar bahasa Jerman agar bisa melanjutkan studi S2-nya disana. Namun semua teman eks-au pair ini memang bukan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya. Mereka harus membayar sendiri semua biaya selama mereka berada disana. Salah satu syarat merepotkan bagi siswa internasional yaitu mereka harus memiliki jaminan sekitar €8600 pertahun yang akan diendapkan sebagai deposit. Deposit ini untuk memastikan bahwa mereka bisa tinggal, menyewa kamar, dan makan selama masa studi mereka.

Uang deposit ini bisa dihilangkan dari salah satu syarat mendaftar kalau ada sponsor yang bersedia menjamin kita selama disana. Seorang eks-au pair pernah mendapatkan sponsor dari keluarga angkatnya di Denmark untuk melanjutkan studi S2-nya. Teman-teman saya lainnya juga pernah mencoba 'merayu' keluarga angkat mereka untuk memberikan surat sponsor ini. Namun sayangnya hal tersebut tidak mudah karena sangat sedikit sekali keluarga yang mau direpotkan soal surat jaminan ini.

4. Kembali ke Indonesia dan mengurus visa baru ke negara lain

Saya pernah bertemu dengan dua orang au pair asal Filipina yang ternyata ini adalah tahun keempat mereka menjadi au pair. Sebelumnya mereka pernah menjadi pengasuh anak di Belanda selama setahun, dua tahun berikutnya di Denmark, lalu tahun ini di Belgia. Bahkan mereka juga berkeinginan jadi au pair lagi di Norwegia, Perancis, bahkan Amerika nantinya!

Lalu apa yang benar-benar mereka cari selama proses au pairing ini sendiri? Kenapa begitu seringnya berpindah-pindah tempat demi jadi au pair? Bukankah itu sama saja 'merendahkan' konteks au pair itu sendiri ya?

Namun berbeda dengan para TKW dari Indonesia yang kebanyakan sekolah menengah, biasanya au pair dari Filipina ini justru lulusan S1 bahkan S2 lho! Intinya mereka adalah orang-orang yang well educated. Lalu apa motivasi mereka datang jauh-jauh ke Eropa hanya jadi tukang bersih-bersih? Yang saya tahu, mereka sangat sadar negara mereka masih berkembang dan kesempatan bekerja dengan gaji yang layak sangatlah terbatas. Untuk itulah mereka datang ke negara-negara maju untuk mengubah nasib, walaupun itu hanya sebagai tukang bersih-bersih atau pengasuh anak. Dilihat dari sini, tentu saja alasan mereka adalah uang.

Bukannya ingin menjelek-jelekkan salah satu bangsa, namun faktanya orang Filipina yang jadi au pair memang merupakan orang yang sangat giat bekerja. Dibandingkan orang Indonesia yang lebih suka menghabiskan days off berkumpul bersama teman atau belanja-belanja cantik di chain stores, para au pair Filipina biasanya tetap bekerja di tempat lain saat hari libur walaupun sudah tahu hal itu ilegal. Oh ya, para au pair ini pun hampir sama dengan orang Indonesia yang akan mengirimkan uang hasil kerja keras mereka ke kampung halaman. Walau sudah melanggar konteks au pair sebenarnya, namun au pair yang pindah-pindah negara ini tujuannya memang untuk membantu perekonomian keluarga di rumah.

Lalu bagaimana dengan au pair dari Indonesia sendiri? Seperti yang saya jelaskan di atas, au pair dari Indonesia yang memutuskan untuk jadi au pair lagi biasanya memiliki keinginan untuk mendalami bahasa asing demi meneruskan studinya di negara tersebut. Atau bisa jadi memang salah satu tujuannya adalah making money dan belajar. Kehadiran someone special juga bisa jadi salah satu faktor mengapa setahun dirasa belum cukup sehingga tetap harus kembali mengejar cinta. Hasseekkk..

5. Memperbarui visa living together

Tanpa pulang ke Indonesia, biasanya eks-au pair akan mengupayakan memperbarui visa ini di negara au pairing mereka. Mereka yang akan mengupayakan mendapatkan visa living together biasanya dibarengi dengan hadirnya seorang pacar berkewarganegaraan negara tersebut. Saya mengenal dua orang eks-au pair yang berhasil mendapatkan visa living together sehingga bisa tinggal lebih lama di Eropa. Tentunya syarat utamanya adalah kalian punya pacar berkebangsaan negara tersebut, sudah kenal cukup lama (minimal 2 tahun), dan tentunya berkeinginan tinggal bersama di satu atap tanpa ikatan pernikahan (visa yang diperbarui akan berbeda jika tujuannya menikah). Mendapatkan visa ini juga tidak mudah, karena seorang teman asli Belgia pernah mengaku kalau permohonan visa si pacar sempat ditolak.

Itulah rencana-rencana yang biasanya eks-au pair akan lakukan selepas masa au pairing mereka. Walaupun kampung halaman menyimpan sejuta kenangan dan lapangan pekerjaan, keinginan untuk sekolah atau menetap luar negeri merupakan salah satu keinginan terbesar eks-au pair setelah berhasil menginjakkan kaki di Eropa. Masalah di Indonesia yang cukup pelik, moda transportasi yang belum semaju negara-negara di Eropa, bahkan bagusnya kurikulum perkuliahan di Eropa merupakan salah satu alasan-alasan klasik mengapa biasanya eks-au pair belum bisa meninggalkan benua biru ini.

Namun banyak juga eks-au pair yang cukup yakin dengan tanah air sehingga lebih memilih pulang dan berkarya di Indonesia. Pengalaman berharga selama di Eropa tentunya akan menjadi salah satu pelajaran terbaik yang dapat mengembangkan potensi serta memperkuat mental mereka untuk terjun di masyarakat.


Saatnya Au Pair Travelling!




Dalam satu tahun, seorang au pair akan mendapatkan liburan yang masanya dari dua minggu hingga satu bulan tergantung regulasi negara atau tawar-menawar dengan keluarga angkat. Liburan ini sifatnya pribadi dan gaji kita tetap akan dibayar penuh walau mengambil masa 'cuti' hingga satu bulan. Masa-masa ini biasanya digunakan seorang au pair untuk travelling ke tempat baru di negara yang sama, ataupun hijrah ke luar negeri.

Biasanya dari Indonesia kita sudah punya beberapa tempat yang akan dikunjungi, alias dream places atau wishlist, kalau sudah sampai Eropa. Apalagi negara-negara Eropa begitu banyak jumlahnya untuk dikunjungi dan yang pasti setiap tempat memiliki kecantikannya sendiri. Beberapa au pair ada yang sengaja menyempatkan travelling di akhir pekan ke negara tetangga yang cukup dekat, lalu ke negara-negara yang agak jauh saat liburan panjang.

Sama seperti teman-teman au pair lainnya, saya juga sempat menuliskan beberapa tempat dan kota-kota rekomendasi yang sepertinya akan saya kunjungi saat di Eropa. Namun, karena keterbatasan waktu, uang, dan banyak rencana-rencana baru, akhirnya banyak kota yang harus saya coret dahulu. Di Belgia, masa liburan pribadi untuk au pair adalah 2 minggu dalam satu tahun. Sayangnya karena saya sempat pindah keluarga, akhirnya liburan ini baru bisa saya lakukan sebulan sebelum kepulangan saya ke Indonesia dan tentunya totalnya tidak lagi 14 hari.

Karena Belgia adalah sentralnya Eropa, jalan-jalan ke kota besar seperti Paris dan Amsterdam bisa dilakukan saat akhir pekan saja. Jarak Brussels-Paris tidak terlalu jauh dan hanya berkisar sekitar 4 atau 5 jam dengan naik bus, atau 1.5 jam dengan naik kereta cepat.

Sementara untuk Amsterdam sendiri, bisa dicapai dengan naik kereta cepat atau mobil yang hanya 2.5 jam saja. Kesempatan untuk travelling akan jauh lebih murah jika moda transportasi kesana kebetulan sedang mengadakan promo. Suatu kali, Megabus pernah mengadakan promo hanya €1 untuk jurusan Brussels-Paris (one way). Lumayan kan?

Setelah tawar-menawar dengan keluarga angkat yang baru, akhirnya sudah ditetapkan jatah liburan saya adalah 9 hari. Negara mana yang harus saya kunjungi selama 9 hari ini? Bagaimana keuangan saya saat itu? Mesti tinggal dimanakah saya? Bagaimana saya bisa kesana, naik transportasi darat atau udara kah?

Awalnya, saya ingin pergi travelling sendiri ke negara-negara lain. Namun karena teman dekat saya, Anggi, yang juga seorang au pair ingin ikut serta, saya justru sangat welcome. Karena ada dua orang disini, tentunya ada dua pendapat yang berbeda dalam memilih tempat liburan.

Semenjak dari Indonesia saya memang ingin sekali ke Turki demi menuntaskan salah satu daftar "what should I do before I die", yaitu naik balon udara di Cappadocia. Selain Turki, negara selanjutnya adalah Rusia atau Swiss. Namun Anggi ingin sekali ke negara mahal seperti Norwegia demi melihat Aurora Borealis yang memang cuma bisa dilihat saat winter. Kebetulan saat itu bulan Februari dan masih puncak musim dingin di Eropa.

Pertimbangan seperti ini biasanya memang akan mempengaruhi rencana travelling kita. Saya dan Anggi akhirnya bisa mengatasi masalah ini dengan beberapa cara. Cara berikut bisa kalian jadikan referensi untuk merencanakan liburan au pair kalian nantinya.

1. Pergi sendirian lebih bebas, namun pergi bersama teman justru lebih seru! 

Saya yakin, kebanyakan au pair akan memilih pergi liburan bersama teman au pair lainnya. Pergi untuk jangka waktu sehari hingga empat hari mungkin masih bisa kita atasi sendirian, namun kalau sudah dua minggu, saya rasa bepergian bersama teman malah lebih seru. Kita bisa saling gantian memotret atau bisa juga jadi partner of crime yang dapat diandalkan saat ragu dalam memilih keputusan. Tapi pastikan memilih teman jalan yang benar-benar bisa diandalkan, tidak suka borong belanjaan, dan yang pasti tidak suka mengeluh!

2. Pilih-pilih tempat tujuan lalu berdiskusilah dengan bijak bersama teman seperjalanan

Bagi yang berencana pergi sendiri dari hari pertama sampai hari terakhir, tidak akan ada masalah dalam memilih tempat tujuan karena biasanya mereka akan pergi berdasarkan apa yang sudah mereka tetapkan tanpa ada yang interupsi. Berbeda halnya dengan teman seperjalanan yang juga punya keinginan mengunjungi negara lain di Eropa.

Saya dan Anggi yang tadinya memiliki keinginan mengunjungi negara yang berbeda-beda tentunya sempat berdebat kecil. Saya tadinya tetap nekad ingin ke Turki, si Anggi juga bersikeras ke Norwegia. Saat RyanAir sedang promo (winter sale), akhirnya saya langsung memesan tiket pulang jurusan Athena-Brussels. Iya, hanya tiket pulang. Sementara untuk tiket perginya sendiri saya dan Anggi masih menunggu promo lainnya. Kenapa Athena, karena menurut saya negara ini sudah bertetangga dengan Turki dan tinggal mencari alternatif bagaimana rutenya nanti.

Sebenarnya saya dan Anggi berencana pergi ke tempat-tempat awal yang memang ingin kami kunjungi, lalu bertemu di Athena saja. Namun karena tiket dari Brussel ke Turki saat itu sudah melambung tinggi, saya batalkan dulu niat kesana. Sementara untuk Anggi sendiri, terhalang masalah dana karena biaya hidup di Norwegia yang sama tingginya. Padahal saat itu tiket one way dari Brussels ke Oslo Rygge hanya €22 saja.

Akhirnya, kita sama-sama membatalkan untuk pergi ke Turki dan Norwegia hingga memutuskan ke Italia. Berangkat dari Brussels ke Pisa-Florence-Roma, lalu Athena sebagai kota terakhir yang akan kami kunjungi. Memilih Italia ketimbang negara lainnya pun juga penuh pertimbangan. Kenapa harus Italia, kenapa bukan Spanyol atau Jerman? Kenapa tidak ke negara-negara Eropa lainnya yang lebih murah kalau memang terhambat dana?

Well, memilih negara yang akan dikunjungi dalam waktu 9 hari tentunya membuat saya cukup pusing. Apalagi awalnya saya sudah mengatur jadwal perjalanan ke Turki dengan sedemikian rupa. Namun akhirnya saya memilih ke Italia atas rekomendasi seorang teman. Lagipula menurut saya Italia dan Yunani itu memiliki keunikan sendiri.

Kali ini saya memang cenderung memilih tempat yang kalau di foto, sudah terkenal tanpa perlu orang menebak dimana saya berada. Sama halnya dengan Menara Eiffel yang semua orang pasti tahu ada di Paris tanpa perlu bertanya dulu ke saya. Lagipula saya menilai, Italia dan Yunani tidak "terlalu mainstream Eropa" yang artinya tiap tempat di negara tersebut tidak sama dengan negara-negara Eropa lainnya. Contohnya saja bangunan kuno di Italia seperti Menara Pisa, Vatikan, dan Colosseum, atau Acropolis dan pelabuhan cantik dengan rumah bersusun di Athena.

Intinya, saya memilih tempat dengan acuan "seandainya saya tidak akan kembali ke Eropa lagi". Nah itulah mengapa menurut saya Italia dan Yunani sudah mewakili Eropa sebenarnya. Lagipula waktu itu tiket paling murah dari Brussels di akhir pekan adalah ke Pisa. Lalu saya juga berasumsi, biaya akomodasi dan makan di kedua negara tersebut masih sehitungan dengan isi tabungan kami.

3. Faktor yang sangat krusial tentunya adalah masalah keuangan

Menentukan negara tujuan baiknya juga diawali dengan seberapa siapnya keuangan seorang au pair ke negara tersebut. Beberapa teman saya memilih mengunjungi ibukota negara-negara Eropa Timur seperti Budapest, Praha, atau Wina yang tidak hanya terkenal cantik namun juga biaya hidupnya yang murah. Biaya travelling kali ini, karena saya dan Anggi tidak punya uang tabungan khusus untuk jalan-jalan, jadinya kita terpaksa mengambil dari uang gaji bulan itu.

Untuk moda transportasi sendiri, kita lebih sering menggunakan pesawat terbang dan bus saat di dalam kota. Teman-teman saya yang mengunjungi Eropa Timur, memadukan pesawat terbang, Blablacar, hitchhiking, dan bus di dalam kota. Untuk pesawat terbang, kami sering mengecek website-nya maskapai low cost carrier seperti RyanAir atau EasyJet. Kedua maskapai tersebut biasanya akan memberikan promo sangat lumayan yang harganya lebih murah ketimbang bus dan kereta.

Sementara Blablacar, saya menggunakannya saat menempuh perjalanan dari Florence ke Roma. Mengingat harga tiket kereta yang sangat mahal di Italia, melalui Blablacar kami hanya membayar €15/orang dibandingkan kereta yang saat itu €54 sekali jalan.

Blablacar ini adalah sebuah aplikasi yang bisa di-download lewat Android atau iOS yang fungsinya sebagai wadah untuk sharing a ride. Karena mahalnya bensin dan biasanya si sopir hanya pergi sendirian ke suatu tempat, untuk itulah mereka menawarkan kursi-kursi kosong di mobil untuk ditawarkan ke orang yang akan pergi ke tempat yang sama.

Dengan aplikasi ini, kita bisa mengecek apakah ada pengendara yang akan pergi ke tempat yang akan kita kunjungi. Berbeda dengan hitchhiking yang konsepnya menumpang gratisan, pengendara mobil biasanya akan mengepos tarif Blablacar mereka berdasarkan waktu keberangkatan.

Blablacar bisa jadi alternatif transportasi darat yang bisa kita gunakan untuk menghemat biaya. Namun perlu juga diperhatikan, kadang menggunakan bus atau kereta justru lebih murah ketimbang naik Blablacar sendiri. Enaknya sih naik Blablacar yang pengendaranya muda, ganteng, mobilnya bagus, musiknya asik, penghangat atau AC-nya kenceng, ramah, dan senang mengobrol. Waahh serasa roadtrip dan flirting bareng kan ya? Hihihi.. :p

Selain transportasi, selanjutnya adalah akomodasi. Di Eropa Utara tentunya harga penginapan sangat mahal dibandingkan Eropa Timur. Teman saya menginap di salah satu hostel di Budapest dengan tarif hanya €7/malam sudah termasuk sarapan, teh atau kopi gratis, dan acara party bersama. Teman saya ini juga sempat couchsurfing di Praha untuk menghemat pengeluaran selama disana.

Berbeda dengan saya dan Anggi yang kurang nyaman tinggal di rumah orang, kami lebih memilih tinggal di hostel yang harganya masih lumayan di kantong dan tempatnya strategis. Kami tahu hostel-hostel di Italia memang masih mahal dibandingkan di Hungaria atau Republik Ceko, namun hostel yang kami tempati Alhamdulillah semuanya tidak mengecewakan dan sangat bersih. Apalagi hostel-hostel di Athena kebanyakan berdekatan dengan Acropolis yang saat malam hari bisa terlihat sangat cantik dari lantai atas.

Selanjutnya adalah soal makanan yang juga masuk hitungan kesiapan finansial saat travelling. Di Italia sendiri saya dan Anggi memang sangat tidak pelit untuk urusan perut. Bahkan kami tidak pernah berpikir dua kali untuk fine dining di tiap kota yang kami kunjungi. Makan malam terkeren kami adalah sewaktu di Athena, di salah satu restoran cantik di bukit Acropolis. Kerennya lagi karena makan malam ini gratis.

Seorang teman sekamar kami, McKenzie, memang sudah niat membayari saat tahu kami sedang bokek. Sementara di Italia, banyak jebakan maut yang membuat kami harus membayar sangat mahal untuk satu gelas coke raksasa yang harganya €9! Gelato atau es krim yang normalnya hanya €5 untuk 4 rasa, kami harus membayar €8 hanya untuk 3 rasa. Pfffttt..
 
Pertimbangan-pertimbangan di atas biasanya akan mempengaruhi keuangan au pair. Apalagi biasanya tabungan au pair tidak jelas setiap bulannya. Ada baiknya memang memiliki manajemen keuangan dengan sangat baik. Apalagi mengingat liburan ini ada yang satu bulan lamanya. Wah, dipuas-puasin tuh keliling Eropa on (au pair) budget

Oh ya, pemilihan musim saat travelling juga mesti diperhatikan. Harga penginapan dan transportasi udara biasanya akan lebih murah di pertengahan dan akhir musim dingin. Namun suhu yang masih cukup ekstrim biasanya sangat tidak nyaman untuk berjalan kaki. Banyak juga tempat-tempat wisata yang tidak dibuka di musim ini. Untungnya saat saya dan Anggi ke Italia dan Yunani, suhu musim dingin disana lebih hangat, sekitar 15-18 derajat, dibandingkan Belgia sendiri yang masih 3-7 derajat Celcius di siang hari.

Sementara saat summer, tempat-tempat wisata akan sangat ramai oleh turis karena memang sedang masa liburan. Harga akomodasi dan transportasi akan melambung saat peak season. Namun karena matahari lebih panjang bersinar, waktu untuk mengeksplorasi tempat baru atau sekedar minum coke di bangku-bangku taman akan sangat mengasyikkan.

Menurut orang Eropa sendiri, awal-awal musim gugur (September-Oktober) dan pertengahan musim semi (April-Mei) adalah waktu terbaik mengunjungi tempat-tempat cantik di Eropa bagian manapun. Selain curah hujan yang tidak terlalu banyak, biasanya suhu 9-12 derajat Celcius masih cukup nyaman untuk berjalan kaki di siang hari saat musim ini. Selain itu harga pesawat dan akomodasi cenderung stabil dan masih cukup affordable.


Salju Pertama di Belgia

Thursday, 21 May 2015



Desember 2014, newsfeed Facebook saya dibanjiri posting-an teman au pair Indonesia di Belgia yang begitu bahagianya bisa melihat dan merasakan langsung salju di musim dingin tahun kemarin. Bukan hanya mereka, tapi saya pun ikut bahagia dengan keceriaan musim dingin di penghujung tahun. Sebenarnya warga Belgia sendiri juga agak ragu apakah salju akan turun, mengingat suhu di musim gugur yang abnormal alias 'terlalu' panas dari suhu biasanya. Masuk awal-awal musim dingin pun, matahari sedang senangnya bersinar terik walau kadang disertai angin kencang saat tengah hari.

Natal tahun kemarin saya tidak ikut agenda host family liburan ski ke Austria. Cukup menyenangkan juga karena rumah sedang kosong dan jam kerja saya yang ikut ditiadakan. Walaupun tidak terlalu mengharapkan salju akan turun, tapi sepertinya tinggal di Eropa tidak terasa "empat musimnya" kalau belum bisa merasakan sendiri wujud si es halus alami itu. 

Sehari sebelumnya, seorang teman mendengarkan berita di radio dan mengabarkan kalau besok akan turun salju. Agak tidak percaya juga karena di hari itu walaupun matahari tidak terik bersinar, tapi cerah-cerah saja. Tidak ada tanda-tanda besok akan turun salju yang katanya bisa jadi seharian.

Tapi, selamat datang di Belgia dimana cuacanya sangat labil dan sulit sekali ditebak! Hari ini bisa hujan, besok bisa sangat panas. Atau hari ini bisa jadi sangat cerah, besok-besoknya salju turun dengan sangat derasnya.

Dua hari setelah Natal, saya dan Alin, teman au pair asal Bogor yang kebetulan sedang menginap di Laarne, akhirnya kegirangan karena berita di radio ternyata benar! Hari itu tepat Sabtu, hari di saat semua au pair yang sedang menikmati day off akan bangun siang dan menikmati hari dengan bermalas-malasan ria. Saat saya dan Alin bangun dan sarapan, setengah jam kemudian ternyata salju benar-benar turun dengan lembut dan perlahan.


Sebelum keluar rumah dan foto-foto, kita masih menikmati salju yang terlihat sangat cantik dari dalam rumah. Thank God, I met my first snow! Alin juga senang sekali karena ternyata justru di tahun kedua inilah dia juga baru bisa melihat dan merasakan salju secara langsung. Alin pernah tinggal di Belanda sebagai au pair dua tahun lalu, tapi nyatanya musim dingin disana terlalu hangat.

Walaupun salju terus turun dari pagi sampai malam, tapi karena frekuensinya tidak terlalu deras, salju yang menumpuk di jalanan pun tidak terlalu tebal. Meskipun kita sebagai orang tropis merasa sangat bahagia dengan tumpukan salju yang sepertinya empuk sekali, namun tumpukan salju di jalan juga sangat membahayakan pengendara mobil. Seorang teman Belgia pernah mengatakan kalau salju deras yang terus-terusan turun sepanjang hari biasanya bisa sampai bersenti-senti meter tebalnya.


"Kalian yang belum pernah lihat salju atau anak-anak Belgia sendiri, memang akan sangat senang saat salju turun karena bisa membuat boneka salju. Tapi sekarang, saya sangat mengutuki salju yang turun karena bisa jadi sangat berbahaya dan merepotkan kalau sudah setebal betis," katanya.


Walaupun salju yang turun tidak terlalu banyak dan besoknya cuaca sudah cerah kembali, tapi setidaknya kami sudah berekspresi ria di hari itu. Meskipun juga boneka salju yang dibuat tidak bisa sekeren yang ada difilm-film kartun, tapi saya juga tidak bisa membayangkan harus berperang melawan hujan salju setiap hari. Suhu -10 yang kami rasakan saat itu cukup sukses membuat tangan membeku tiap kali mengambil foto. Salju yang turun juga membuat malas untuk keluar rumah lebih jauh karena nyatanya foto yang diambil hanya sekitar pekarangan saja.


It was a perfect winter for me! I saw snow, made a snowman (Alin's handmade actually), and melted in my noodle afterwards!