Skin Care Favorit di Segala Musim

Wednesday, 29 May 2019



Tiap kali video call dengan ibu di Indonesia, yang dibahas bukan body shaming, tapi kantung mata saya. "Nak, jangan lupa pakai krim pelembab biar muka tidak kering. Itu kenapa kantung mata besar sekali? Pakai krim mata jangan lupa!" pesan beliau.

Selain baju yang mesti pas, saya setuju bahwa persoalan kulit harus dianggap serius saat tinggal di negara empat musim. Karena cuaca di Eropa lebih kering, menjaga kulit menjadi hal wajib kalau tidak ingin terjadi hal yang serius. Peradangan seperti eksema bisa memicu luka-luka dan pendarahan serta efek gatal-gatal yang bisa disebabkan oleh dehidrasi kulit.

Karena perbedaan temperatur, krim yang dibawa dari Indonesia tidak cocok dengan keadaan iklim di Eropa. Komposisi skin care Indonesia yang kebanyakan mengandung pemutih dan disesuaikan untuk iklim tropis, malah bisa membuat kulit tambah kering dipakai saat cuaca dingin. Makanya saya tidak pernah membawa krim dari Indonesia, karena formulanya hanya cocok digunakan saat cuaca panas dengan tingkat kelembaban yang tinggi.

'May 17th' di Pulau Pribadi

Tuesday, 21 May 2019



Bulan Mei adalah Norwegian's month karena setiap tanggal 17, akan ada perayaan terbesar di setiap sudut Norwegia untuk merayakan hari nasional mereka. Setelah penandatanganan konstitusi negara oleh Majelis Eidsvoll pada tahun 1814, secara resmi Norwegia merdeka dan independen dari kekuasaan Swedia selepas Perang Napoleon.

Untuk menghormati semangat patriotik ini, semua orang Norwegia tumpah ruah ke jalanan dan merayakan pesta nasional secara meriah baik berkelompok ataupun personal. Orang-orang biasanya berdandan sangat formal memakai kostum tradisional "Bunad", lalu bersuka cita di jalanan sambil menikmati parade anak-anak, mengibarkan bendera, dan menikmati marching band.

Sudah dua tahun ini saya absen menyaksikan May 17th di Oslo karena harus kerja. Host family saya memang tidak terlalu nyaman dengan keramaian sehingga tiap tahun memutuskan untuk tidak pernah ada di Oslo saat perayaan berlangsung. Alih-alih bersuka cita bersama semua penduduk Oslo, tahun ini saya harus ikut mereka lagi ke pulau pribadi tak jauh dari Bergen.

4 Cara Mengembangkan Diri Sebagai Au Pair

Monday, 20 May 2019



Tahun ini masuk tahun kelima saya jadi au pair di Eropa. Tidak menyangka akan selama ini. Bagi saya, kali pertama au pair itu merupakan 'pengalaman'. Kali kedua karena 'keasikkan'. Lalu kalau sudah masuk kali ketiga, itu namanya 'kebingungan'! Kebingungan apakah Indonesia betul-betul tanah yang kita harapkan untuk pulang ataukah justru sudah terjebak rasa nyaman yang jauh di tanah yang lain.

Au pair adalah program pertukaran budaya yang menawarkan kesempatan kepada anak-anak muda seperti kita merasakan pengalaman menakjubkan di tanah asing. Bisa dikatakan, program au pair ini sesungguhnya adalah jalan mewujudkan mimpi yang tertunda. Tidak hanya sekali, tapi kita bisa jadi au pair berkali-kali sampai batas usia 30 tahun. Namun terus-terusan memproyeksikan au pair sebagai job replacement akan menimbulkan ketergantungan yang bisa menjadi drawback dalam proses pengembangan diri dan karir di masa depan. This lifestyle is not going to last forever.

"When things are easy, you stop growing." - Anonymous

Kerja Sampingan Au Pair

Tuesday, 14 May 2019



Sejak di Belgia, sebetulnya saya sudah mendengar cerita dari seorang teman kalau para au pair Filipina terkenal sangat pintar cari uang di Eropa. Cari uang ini maksudnya adalah cari kerja tambahan di sela-sela waktu au pair dengan menjadi cleaning lady. Pekerjaan ini biasanya didapat lewat mulut ke mulut, situs pencarian kerja, atau turun temurun dari teman.

Di Belgia dulu praktik blackwork seperti ini sangat tidak lazim karena adanya pengawasan yang ketat dari pihak kepolisian Belgia serta minimnya niat au pair lain untuk cari uang tambahan. Namun setelah sampai Denmark, saya baru sadar bahwa blackwork di kalangan au pair memang benar adanya. Tidak hanya satu dua orang, tapi banyak!

Tidak ingin munafik, saya dulu juga sempat kerja tambahan dengan bantu bersih-bersih bed & breakfast (B&B) kakaknya host mom di Belgia. Sebetulnya pekerjaan itu bukan saya cari, tapi ditawari. Kebetulan yang sering bantu-bantu disitu saya kenal dan doi langsung menawari kalau saya sedang free. Kerjaannya membersihkan B&B sekitar 4 kamar dan dibayar €10 per jam. Lumayan kan?

Jangan Bawa Banyak Barang ke Eropa!

Thursday, 9 May 2019



Yang berencana datang ke Eropa untuk tinggal cukup lama, bersiaplah mengemas barang bawaan sesimpel dan seringan mungkin! Beberapa maskapai penerbangan internasional mulai menetapkan peraturan baru dalam menyusutkan berat bagasi yang boleh dibawa di awal tahun ini. Artinya, kalau kita adalah calon au pair yang akan tinggal 12-24 bulan di Eropa, siap-siap untuk tidak bisa membawa bahan makanan atau pakaian yang banyak dari Indonesia!

Salah satu maskapai Timur Tengah favorit saya, Emirates, pun ikut menyusutkan berat bagasi per Februari 2019. Thai Airways, maskapai internasional yang sering bolak-balik Eropa dan terkenal berharga cukup terjangkau juga tidak lagi bersikap royal dengan penumpang kelas ekonomi.

Jujur saja, satu hal yang paling membuat saya stres pra dan pasca au pair adalah packing! Dulu masih sedikit nyaman karena bagasi kelas ekonomi gratis 30 kg. Bahkan ada beberapa maskapai yang membolehkan berat maksimumnya sampai 32 kg malah. Itu pun juga mesti mencari akal agar barang saya muat di koper plus tidak overweight. Bayangkan, datang dari Indonesia mungkin masih sedikit ringan, tapi pulangnya bisa sangat menyiksa. Saya sampai harus membuang banyak sekali baju sebelum pulang hanya karena koper sudah keberatan.

72 Jam di St. Petersburg, What to Do?

Sunday, 5 May 2019


Jalan-jalan ke negara sebesar Rusia, pastinya tidak akan cukup dijelajah hanya dalam waktu satu minggu, apalagi kurang dari 3 hari. Tapi daripada harus repot-repot mengurus visa Rusia dari Oslo, saya dan seorang teman mengambil kesempatan ke Rusia hanya 72 jam saja tanpa visa.

Destinasi kami kali ini adalah St. Petersburg dan memang hanya akan fokus di kota ini saja. St. Petersburg adalah kota terbesar nomor 2 di Rusia berpopulasi 5 juta penduduk yang atmosfir kotanya katanya tidak jauh beda dari Moskow. Kota ini juga menawarkan banyak bangunan cantik, musisi jalanan yang suaranya menggema di pusat kota, hingga kuliner tradisional yang pantang untuk dilewati. Satu lagi, karena tinggal di Norwegia yang mana salah satu kota termahal di Eropa, datang ke St. Petersburg jadi angin segar untuk kami karena biaya hidupnya yang sangat murah dibandingkan Oslo.

Kalau kamu tertarik mengunjungi St. Petersburg kurang dari 72 jam saja, simak cerita saya di bawah ini karena siapa tahu menginspirasi perjalanan kamu selanjutnya! FYI, kami datang ke Rusia tidak dalam rangka backpacking-an alias menghemat biaya sebesar-besarnya. Jadi kalau gaya jalan ini dirasa kurang cocok, just skip! 😉