Cerita di Thailand: Tersiksa di Kereta

Friday, 31 May 2013



Saya sedih mesti meninggalkan Bangkok pagi-pagi dan mesti berada di Phuket keesokan harinya. Sambil mencangklong travel bag saya yang rusak di hari pertama backpacking, saya memasuki stasiun kereta api Hua Lamphong. Sebelum memesan tiket kereta api ke Surat Thani, saya menitipkan travel bag dulu. Agak sedikit kaget tiket yang dibeli cuma 217B untuk kereta api kelas 3. Padahal di buku panduan jalan-jalan yang sedang saya bawa, si penulis mendapatkan tiket 60B lebih mahal dari saya. Hehe. Rencananya sebelum ke Surat Thani, saya ingin menyempatkan diri membeli tas di Chatuchak Weekend Market.

Jam 3 sore, saya sudah tiba di stasiun lagi. Naik ke lantai atas dan menyempatkan ibadah dulu. Dari atas saya bisa melihat aktifitas calon penumpang di ruang tunggu yang tadi pagi saya lihat masih sepi, ternyata semakin sore malah semakin ramai. Bahkan ada bapak-ibu bule yang langsung membuka dua koper mereka di tengah-tengah ruang tunggu. Koper mereka itu bukan yang ukuran mini ya, sodara-sodara. Tapi yang guede itu, yang kira-kira muat buat backpacking-an 6 bulan. Hihi. Mereka dengan santainya merapihkan isi koper sambil menyusun barang belanjaan yang sepertinya baru sudah dibeli. Seru sekali melihat aktifitas di staisun Hua Lamphong di sore hari.

Dari lantai atas di ruang shalat, saya bisa melihat jadwal keberangkatan kereta. Waktu sudah menunjukkan pukul 5, tapi saat saya coba mengecek di papan jadwal, rute Bangkok-Surat Thani mengalami keterlambatan hingga satu jam. Akhirnya saya menyempatkan shalat Maghrib dulu sekalian menunggu kereta datang.

Satu jam kemudian, kok tidak ada tanda-tanda kereta akan datang ya? Di papan jadwal masih tertulis delay dan saya sendiri masih membeku di ruang shalat. Saya melihat ke bawah, di ruang tunggu bule-bule dengan ransel bagong semakin rame saja. Kereta memang menjadi salah satu transportasi murah yang sering dijadikan alternatif mengunjungi tempat-tempat di Thailand selatan.

Jam setengah 7 nih, kok perasaan saya makin tidak enak ya? Saya turun dan mencoba bertanya ke salah seorang om-om yang sedang berdiri memandang papan jadwal. Bodohnya, bukannya langsung cari kereta ke gerbong, saya tetap yakin kalau kereta mungkin saja telat lebih lama. Sialnya, om-om yang ditanya sama sekali tidak bisa bahasa Inggris. Malah sok-sokan mengerti lagi, saya makin bingung nih. Saya tinggalkan dia dan langsung bertanya ke polisi jaga yang berdiri di dekat gerbang (dari tadi kek!). Gila, saya rasanya mau melompat saat dia bilang kereta menuju Surat Thani sudah mulai meninggalkan stasiun. Si pak polisi langsung menyuruh saya lari-lari dan menunjuk kereta di gerbong sekian (lupa, jekk) yang memang sedang berjalan pelan. Mammaaakkk..traveling bag saya berat sekaleee. *Maklum, ditambahin barang belanjaan dari Chatuchak :p*

Setelah memastikan kembali apakah itu benar kereta menuju Surat Thani dengan kondektur yang lagi berdiri di pintu, saat dia bilang iya, saya beneran langsung melompat ke kereta yang sedang berjalan pelan itu. Sesaat sebelum masuk kereta, saya melirik sebentar ke pak polisi yang tadi mengantar saya ke gerbong, dia melambaikan tangan dan air mukanya berubah jadi lega. Saya lebih lega, Pak, terima kasih.

Baiklah, tapi penderitaan belum berakhir. Kereta sudah mulai berjalan lebih cepat dan sekarang waktunya saya mencari tempat duduk. Jujur, ini pengalaman pertama saya naik kereta antar kota setelah sejak belasan tahun lalu. Saya naik kereta terakhir kali ke kampus, dengan kondisi kereta yang nyaman dan tidak pernah nyaris ketinggalan. Saya mulai celingukkan mencari tempat duduk, kira-kira saya bakalan duduk dimana nih. Dan saya mau teriak, pas salah seorang kondektur bilang tempat duduk saya ada di gerbong 1 dan saya sekarang ada di gerbong 12. Artinya? Artinyaaa...??

Cukup. Saya sudah mulai kehabisan napas melewati 11 gerbong di belakang dengan mengangkat tas yang berat dan keadaan kereta yang oleng kesana kemari saat berjalan. Baiklah, saya sudah berada di bangku, menarik napas, dan mulai memperhatikan sekeliling. Saya lupa kalau sekarang saya naik kereta api kelas 3, bergabung dengan warga lokal, lalu akan menghabiskan malam di kursi keras ini. Betapa bodohnya saya yang sudah menyamakan tingkat kenyaman saya dengan tingkat kenyaman penulis di salah satu buku backpacking itu! Saya mulai berpikir rasional dan ingat kata-kata teman saya waktu kami nyasar di Kuala Lumpur dulu, tidak semuanya yang di buku panduan itu bakal memandu! Tidak semuanya yang terlihat mudah dan gampang buat si penulis juga bakalan mudah untuk kita. Kenyataannya selalu berbeda.

Benar saja, 'penyiksaan' ini dimulai dengan pakaian saya yang tidak siap perang melawan malam. Saya cuma pakai jaket tipis dan sandal jepit. Semakin malam, udara malam semakin menusuk. Memang, jendela di dekat saya sudah ditutup, tapi jendela di bangku penumpang di barisan kiri rata-rata terbuka lebar. Saya benar-benar tidak bisa tidur dan berulang kali terbangun. Akhirnya saya mengambil kaus kaki wool di dalam tas dan berusaha menyelamatkan kaki. Kaki saya rasanya sudah beku saat itu. Saya benar-benar mengutuki diri saya yang ingin hemat, tapi seperti menyiksa diri. Telinga dan wajah saya juga sudah beku dan mati rasa. Topi yang saya kenakan ternyata tidak mampu menahan hawa dingin udara malam yang membuat telinga ikutan membeku. Saya memang tidak bawa topi wool, ya lagian buat apaan? Thailand kan panas. :(

Jam 3 pagi saya terbangun dan bersumpah tidak mau tidur lagi. Rasanya seperti mimpi buruk berada di kereta ini! Kenapa nggak pesen sleeper aja tadi?!, gerutu saya saat itu. Untungnya saya sebangku dengan ibu-ibu lokal yang lumayan ramah walaupun tidak bisa sedikitpun bahasa Inggris. Dia selalu berusaha mengajak saya berbicara walaupun di antara kami terdapat batasan bahasa. Yasudahlah, setidaknya saya masih bisa berpikiran positif di saat kondisi menyiksa seperti ini.

Tapi lagi-lagi pikiran negatif saya kambuh, duh..mana yang katanya naik kereta api kelas 3 nyaman? Mana yang katanya bisa tidur nyenyak? Penipu! Saya kok malah berulang kali menggerutui pengalaman penulis yang bukunya sedang saya jadikan panduan ini ya? Haha. Ternyata memang benar kata teman saya, apa yang dirasakan penulis di buku panduan jalan-jalan bisa saja selalu berbeda dengan apa yang kita rasakan. Kita tidak harus selalu menjadi 'kere' untuk berhemat, tapi setidaknya kita juga harus bisa memastikan apakah akomodasi/transportasi yang dianjurkan penulis sesuai dengan kita. Bisa saja rate atau kenyamanan yang ada dirasakan penulis berbeda dengan yang ada di lapangan.

Jam setengah 5 pagi, ibu-ibu ramah tadi turun di stasiun yang jaraknya kurang lebih 3 stasiun sebelum Surat Thani. Dia tersenyum ramah dan mendoakan saya selamat sampai tujuan. Khob khun mak kha, Bu.. (terima kasih banyak). Tapi mata saya kok merem melek begini? Saya malah mengantuk diterpa angin Subuh yang mulai menyejukkan, bukan menusuk kulit! Di sepanjang perjalanan mulai terlihat pohon kelapa khas wilayah pantai dan katanya sudah mulai dekat dengan stasiun Surat Thani.

Tidak terasa saya menempuh perjalanan hampir 12 jam hingga sampailah saya di stasiun Surat Thani dan selanjutnya akan meneruskan perjalanan ke Phuket dengan bus. Betapa kagetnya saya saat mendapati jemari kaki yang terbungkus kaus kaki sudah membengkak. Benar-benar bengkak dengan jemarinya yang membesar. Hiks... Saya buru-buru membersihkan muka, membungkus kaki dengan sepatu kets, dan bersiap menuju Phuket dengan mata panda.


Bahasa Perancis: Fashion

Thursday, 30 May 2013


Hola todos.. (Spanish, halo semua..)
bueno tardes (Spanish, selamat siang)

Baiklah, sepertinya saya sedikit nggak nyambung nih. Judul postingannya 'Bahasa Perancis' tapi opening greetings-nya malah pakai bahasa Spanyol. Haha.. Maafkan. Di tulisan sebelumnya saya sudah mengaku kalau saya agak iritasi sama bahasa Perancis. Kenapa? Membingungkan! Tulisannya apa, bacanya apa. Saya pernah menuruti salah seorang native speaker asal Perancis bicara, yang ada tenggorokan saya kering dan sakit.

Postingan kali ini cukup simpel, membahas tulisan dengan lafal bahasa Perancis. Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan seorang penyiar radio menyebutkan brand asal Perancis dengan ngaco. Saya jadi sok pinter dan mikir, seorang penyiar radio harusnya cari info yang bener dulu baru di-share ke pendengar. Ini kok dengan bangga menyebut salah satu brand pakaian asal Perancis tapi cara pelafalannya salah. Duuuhh...kok saya waktu itu jadi kesal sendiri ya. Secara saya juga bukan tukang belanja barang bermerk, tapi memang cukup aktif beli majalah fashion. Makanya ketika mendengar si penyiar salah sebut seperti itu, sedikit risih di telinga saya.

Berikut beberapa brand ternama asal Perancis yang orang sering mengucapkannya dengan lafal yang kurang tepat. Hayooo..jangan mengaku suka beli barang mahal ya, tapi menyebut merk-nya saja salah.

Chanel (baca: syanel)

Louis Vuitton (baca: lui vitong) 'o pada foto' . Ini nih brand yang penyebutannya salah sama si penyiar. Tau dia nyebut apa?? LUIS VUITON, jaaahhh...ular piton kali ah.

Dior (baca: jio) 'o pada foto'

Hermes (baca: ighrmes) 'e pada Memes'

Balenciaga (baca: balonsiagya) 'o pada balon'

Givenchy (baca: zyivongzi)

YSL/Yves Saint Laurent (baca: ivs sang lorang). Jadi inget zaman SMA dulu tiap ke toko sepatu terus lihat merk ini bacanya 'waives seint loren'. Haha..

Lacoste (baca: lekost)

Chacarel (baca: syakarel)

Nina Ricci (baca: nina rici)

Pierre Cardin (baca: pier kardan)

LANVIN (baca: longvang)

Celine (baca: selin)

Christian Lacroix (baca: krisciong lakroa)

Le Coq Sportif (baca: lu kog sportif)

Etam (baca: ehtam) 'e pada lele'

Karl Lagerfeld (baca: karl laguerfeld)

Kookai (baca: kukay)

Chantelle (baca: syongtel)

Catherine Malandrino (baca: kehtrin malandrino)

Huruf R pada bahasa Perancis kurang lebih dibaca ghr.
See? Kenapa saya tidak menyukai bahasa Perancis? Saya tidak rela tenggorokan saya gatal-gatal. Haha.. Atau memang saya-nya saja kali ya yang tidak bakat jadi orang romantis.


(brand source: Discount Upon)


Tips Belajar Bahasa Asing (3)

Monday, 27 May 2013



Tulisan yang saya berikan sebelumnya adalah tips untuk pemula yang baru mulai belajar bahasa asing atau masih berada di tingkat basic/beginner. Banyak orang mengatakan 'memulai' suatu hal itu adalah hal yang sangat sulit. Ada banyak hal yang biasanya jadi masalah seseorang malas belajar bahasa asing, apalagi secara otodidak.

Tidak ada teman ngobrol.
Malas buka buku.
Tidak ada waktu.
Sekarang belum penting, nanti aja nunggu dapat beasiswa sekolah ke luar negeri.

Keluhan di atas merupakan 4 dari banyak kendala yang sering dialami seseorang ketika mulai atau sedang belajar bahasa. Tapi setiap kendala tentunya punya solusi dong. Intinya kita memang harus disiplin dan rajin mencari solusi atas kendala atau keterbatasana kita kalau kita memang mau belajar.

1. Sewaktu di Penang, saya sekamar dengan seorang tante asal Spanyol. Saya sempat kegirangan saat itu gara-gara saya juga sedang belajar bahasa Spanyol dan selama ini tidak ada teman ngobrol. Sebalnya, tiba-tiba kemampuan bahasa Spanyol saya kok jadi hilang ya? Swear, untuk bilang 'apa kabar?' saja saya amnesia! Saya mengaku kalau sebenarnya sedang belajar bahasa Spanyol dan mendadak lupa saat bertemu dengan dia. Tante yang namanya Veronica itu langsung memberikan tips saya harusnya punya pacar orang Spanyol biar ada teman mengobrol. Tante Veronica sebenarnya benar juga sih. Karena level bahasa Inggris saya juga sempat naik lantaran tiap hari BBM-an sama gebetan asal Kanada (isshhh pameeerr).

Kamu sebenarnya tidak harus punya pacar dulu untuk ngobrol, kamu bisa menemukan situs yang menghubungkan kamu dengan para native speakers yang bersedia mengajarkan kita sedikit bahasa mereka. Berikut rekomendasi yang saya berikan karena sering pakai:

Status pertemanan ini saya gunakan dua tahun belakangan. Anggotanya berasal dari hampir seluruh negara di dunia. Mirip-mirip Facebook sih, tapi kelebihannya kita bisa sekalian cari teman yang bisa diajak tukar bahasa (language exchange). Kita juga bisa sekalian pilih teman yang bisa diajak mengobrol dengan melihat deskripsi profil mereka. Kita juga bisa mengatur profil pribadi dengan membatasi umur orang yang bisa menghubungi kita serta membuat tulisan warna-warni di profil. Lucunya, kita juga bisa flirting sama cowok-cowok ganteng disini dengan modus minta diajarin bahasa mereka. Tertarik bikin akun?

Kamu suka kirim-kiriman surat atau tukar-tukaran kartu pos dengan orang di seluruh dunia? Kamu wajib bikin akun di situs ini! Selain bisa tukar-tukaran kartu pos, saya biasanya memanfaatkan situs ini untuk belajar bahasa. Kalau kebetulan kamu 'disuruh' mengirim kartu pos ke negara yang sedang kamu pelajari bahasanya, bisa jadi ajang pamer kemampuan menulis dong. 

2. Saat sedang pelajaran bahasa Inggris waktu di SMA, guru saya pernah ngomong daripada ngabisin duit kursus bahasa bertahun-tahun, mendingan duitnya dikumpulin terus belajar keluar negeri. Sudah banyak tempat kursus bahasa Inggris besar seperti EF yang menawarkan homestay keluar negeri sebagai bagian dari proses belajar. Kalau kamu merasa malas belajar bahasa asing di kota kamu (dan kebetulan banyak duit), saya sarankan mencoba kursus musim panas di luar negeri yang durasinya 3-12 bulan tergantung level yang kamu tuju. Biaya yang dikeluarkan memang besar, dari akomodasi sampai uang kursus. Tapi ada beberapa kursus bahasa yang memberikan beasiswa bebas uang kursus namun kita tetap harus menanggung biaya akomodasi dan tiket pesawat.

3. Zaman sekarang memang sudah masanya teknologi digital. Saya sendiri masih tetap memerlukan buku teks atau modul sebagai penunjang. Bayangkan kalau kita mesti dihadapkan pada kondisi dimana mati lampu seharian penuh. Kita tetap tidak bisa memanfaatkan laptop atau handphone untuk mengecek arti satu kata secara terus-menerus kan? Untuk itulah keberadaan buku dan kamus tetaplah penting saat belajar bahasa asing. Sebaiknya carilah buku-buku yang bahasanya kamu mengerti, komposisi bukunya cukup lengkap, dan harganya bisa disesuaikan dengan kantong. Sebelum pergi ke kasir, pastikan dulu kamu membaca isi buku tersebut sekali lewat. Kamu juga bisa mengambil beberapa modul di internet sebagai penunjang kalau kebetulan tidak ingin keluar uang banyak membeli buku.

4. Kalau kebetulan kalian ingin mempelajari bahasa tertentu dan memerlukan tentor atau setidaknya website yang user-friendly agar tidak terlalu membingungkan, saya sarankan mengunjungi website dibawah ini.

Disini kamu bisa ngobrol langsung dengan native speakers yang bisa berbahasa Inggris, mencoba kelas privat berbayar dari mereka, atau kamu juga bisa mendaftarkan diri sebagai tutor orang lain.

Pod101
Website ini menurut saya komplit. Kita bisa download modul, video, podcast untuk belajarr listening, bahkan ada sesi latihannya. Situs ini termasuk yang 'mendaftar seumur hidup' dan kamu tinggal meng-upgrade akun agar banyak keuntungan yang bisa kamu dapat.

Pertama kali mendaftar, kamu akan mendapatkan waktu gratis 7 hari untuk men-download semua podcast yang tidak semuanya bisa terbuka kalau kamu belum meng-upgrade akun. Saya sarankan kamu harus memiliki kemampuan bahasa Inggris di level Intermediate untuk mendengarkan podcast-nya. Semuanya berbahasa Inggris, namun sangat mudah dipelajari kalau kamu paham apa yang sedang mereka ucapkan. Mereka juga punya musik pengantar lucu sesuai negara yang bahasanya sedang dipelajari. Untuk menemukan situs dengan bahasa yang tepat untuk kamu, cukup tambahkan bahasa yang ingin kamu pelajari + Pod101 + [dot]com, enter. Contohnya ItalianDutch, Japanese, atau Swedish.

Seperti yang saya bilang ditulisan sebelumnya, selain belajar bahasa baru, durasi belajar bahasa Inggris tetap harus dilebihkan. Ini merupakan situs favorit saya saat belajar reading dan listening. Yang paling penting, situsnya user-friendly, materinya fun, dan kita bisa download teks atau audio-nya gratis.

5. Belajar bahasa bisa kapanpun dan dimanapun, bahkan untuk kamu yang sudah terdaftar di salah tempat kursus manapun. Kalau problem waktu adalah alasan terbesar kamu malas belajar dan kamu lebih memilih otodidak, cobalah untuk terus belajar minimal seminggu sekali. Bisa hari apapun dan jam berapa pun. Bahkan durasinya terserah kamu. Saya sendiri kadang harus membawa buku grammar bahasa Inggris ke kampus biar bisa dipelajari di dalam bus. Kadang juga cuma bertahan 20 menit, soalnya saya cepat ngantuk kalau belajar grammar. Hihi..

6. Kapan waktu yang tepat untuk belajar? Ya sekarang! Kamu menunggu apalagi? Menunggu dapat beasiswa dulu? Duh, kelamaan! Kalau memang kamu sedang merencanakan studi ke luar negeri, ada baiknya kamu mulai mempelajari bahasa negara yang sedang kamu bidik. Kemampuan berbahasa yang baik akan menaikkan poin kamu dimata juri saat kamu mengajukan beasiswa. Akan kelihatan kalau kamu serius belajar di negara mereka dengan bukti kamu sudah mempersiapkan diri kamu jauh sebelum diterima.

Semoga tips-tips di atas membantu ya, teman. Tidak ada kata terlambat kok untuk belajar. Namun apa yang bisa kita lakukan sekarang, yuk mari kita lakukan. Semoga bermanfaat!


Tips Belajar Bahasa Asing (2)



Setelah mengetahui bahasa apa yang mulai kamu ingin pelajari, sekarang saatnya mulai ke tahap inti. Kamu boleh langsung ikutan kursus di kota kamu ataupun bisa belajar otodidak. Bagi yang di tempat tinggalnya sudah tersedia tempat kursus bahasa asing, tinggal datang dan langsung daftar. Nah saya, susah sekali belajar kursus bahasa asing disini dikarenakan tidak adanya lembaga yang membuka kelas bahasa tersebut.

Ada lembaga bahasa di kampus menyediakan kursus bahasa asing semisal Jepang, Jerman, atau Perancis. Tapi sayangnya, pembukaan kelas didasari pada kuota siswa. Kelas baru akan dibuka kalau jumlah siswa minimal 15 orang. Teman saya yang ingin belajar bahasa Perancis sempat sebal gara-gara harus menunggu pendaftar dulu baru kelas barunya dibuka. Sebalnya, orang yang baru mendaftar untuk kelas bahasa Perancis baru 5 orang!

Belajar lewat kursus ataupun otodidak sebenarnya sama. Sama-sama harus tekun dan rajin agar bahasa asingnya lancar. Tapi memang ada keunggulan dan kekurangan dari tiap masing-masing cara belajar. Kalau kamu suka suasana belajar yang ramai/dinamis, langsung bertemu dengan native speaker/belajar langsung dari tutor, mendapatkan sertifikat, memang sebaiknya kamu ikut kelas. Kekurangannya adalah sistem belajar yang monoton, moody datang ke kelas, dan yang terpenting biasanya biaya yang dikeluarkan juga besar.

Tapi kalau kamu mengalami keterbatasan seperti saya, sulit mendapatkan kursus bahasa asing di tempatmu, mau tidak mau harus mulai terbiasa belajar secara otodidak. Memang kita harus belajar ekstra keras, menunggu mood dulu untuk belajar, tidak ada tutor untuk belajar, tapi asiknya adalah kita bisa menentukan kapanpun akan belajar, kita juga lebih mandiri dengan belajar sendiri, dan hemat biaya.

Berikut tips dari saya untuk kalian yang ingin mempelajari bahasa baru, baik melalui kursus ataupun otodidak:

1. Mulailah dengan 3 kata sakti. Di tempat kursus biasanya kamu akan menerima modul yang berisi materi-materi pelajaran yang akan dipelajari. Sebaiknya sebelum memulai kursus atau belajar, pelajarilah dulu speaking paling dasarnya. Kata-kata sakti seperti 'halo', 'apa kabar?', dan 'terima kasih' biasanya akan membantu kalian di sesi paling awal.

2. Perkenalan diri. Untuk kamu yang belajar otodidak, selain dimulai dengan 3 kata sakti di atas, pelajaran berikutnya adalah dengan proses perkenalan diri. Biasanya perkenalan diri yang pendek sedikit lebih gampang. Kalimat perkenalan seperti 'Halo, apa kabar? Nama saya..... Senang berkenalan dengan kamu' bisa kamu pelajari berulang-ulang. Perhatikan juga kalimat yang digunakan, karena biasanya terdapat perbedaan percakapan formal-informal dan soal gender kata.

3. Ayo ngomong! Yang paling penting belajar bahasa adalah ngomong! Ngomong dong ngomong (iklan banget). Ngomong apaan, kan belum lancar? Ya, ngomong 3 kalimat sakti dan perkenalan diri.

4. Jangan lupa beli kamus. Saya sarankan untuk membeli kamus yang setidaknya memuat kata kerja dasar dari bahasa tersebut. Sejujurnya saya sendiri tidak punya kamus saku dan lebih sering memanfaatkan aplikasi translator untuk membantu. Tapi saya memang harus beli kamus nih sepertinya. Karena beberapa kata kerja di translator itu sebenarnya kadang kurang tepat.

5. Manfaatkan YouTube. Siapa guru kedua saya belajar bahasa selain buku teks? Jawabannya adalah video. Selain mendapatkan gambaran yang pasti tentang tulisannya, saya juga lebih mudah memahami gaya bicara si native.

6. Dengar dan dengar. Kamu sudah punya modul dan kamus, tapi koneksi internet sedang tidak bagus sehingga YouTube kelamaan buffering-nya? Kamu bisa mendownload podcast atau rekaman suara native speaker saat sedang memberikan materi tentang pelajaran. Tapi seperti yang saya bilang di tulisan sebelumnya, bahasa Inggris kamu setidaknya harus berada di level Intermediate karena rata-rata para native speaker menggunakan bahasa tersebut untuk memberikan materi.

7. Mulailah kalimat sederhana dengan native. Chatting merupakan kegiatan yang sebenarnya bisa sangat bermanfaat kalau kita mampu menggunakannya dengan benar. Maksud saya, chatting yang berkualitas itu bukan hanya curhat tentang kegalauan atau menghabiskan waktu. Kamu juga bisa cari aplikasi di smartphone yang memungkinkan untuk berbicara dengan orang asing ataupun native speaker dari bahasa yang sedang kamu pelajari. Dulu saya sangat menyukai aplikasi Yahoo! Messenger yang memungkinkan kita masuk 'room' dan ngobrol dengan orang asing. Lumayan sih melatih percakapan dalam bahasa Inggris. 

8. Saatnya menulis. Sekarang setidaknya kamu sudah bisa berbicara kalimat sederhana dengan orang asing, pelajaran selanjutnya adalah kamu harus menulis. Bahasa asing yang menggunakan huruf latin memang tidak ada masalah, tapi bagaimana dengan kamu yang belajar bahasa Jepang atau Mandarin? Tentunya tulisan tidak bisa dianggap sepele. Kurang panjang, kurang garis, kurang titik, kurang bundar, bisa mempengaruhi arti sebuah kata.

9. Komitmen. Belajar itu tidak mudah makanya dibutuhkan keseriusan dan komitmen yang tinggi. Intinya saat kamu mulai menyerah dan merasa tidak semangat, coba kamu ingat kembali apa alasan kamu belajar. Ingat kembali apa hal yang akan kamu dapatkan seandainya level bahasa asing kamu sudah di tingkat Intermediate. Saya sendiri sempat hampir menyerah, tapi akhirnya saya ingat, saya ini orangnya paling malas mengulang dari awal lagi. Membosankan. Daripada saya mengulang yang lupa, lebih baik saya meneruskan apa yang sudah pernah saya pelajari. Lagipula saya merasa tidak ada ruginya juga belajar bahasa apapun.

10. Latihan dan terus latihan. Saya yang sudah belajar bahasa Arab selama 3 tahun, sampai saat ini belum bisa fasih ngomong. Kenapa? Gara-gara saya tidak latihan dan kebanyakan melupakan pelajaran. Tapi ini tidak berlaku untuk kamu yang terus latihan demi meningkatkan level bahasa kamu. Bahkan, kamu mungkin bisa hampir lulus level dasar di bulan ke-2.


Tips Belajar Bahasa Asing (1)



Pada bagian ini saya akan memberikan sedikit tips dalam memilih bahasa yang akan kamu pelajari. Tips ini sebenarnya saya gabung-gabungkan dari pengalaman pribadi belajar bahasa asing baik otodidak maupun melalui native speaker langsung. Let's jump!

1. Pilih bahasa asing yang digunakan setidaknya oleh dua negara

Sebagai contekan, ada beberapa bahasa yang biasanya digunakan oleh lebih dari satu negara di dunia. Bahkan bahasa ini pun sebenarnya merupakan bahasa kedua yang direkomendasikan untuk dipelajari selain bahasa Inggris. Berikut bahasa kedua yang menurut saya baik untuk mulai dipelajari.

French, bahasa yang kata orang, sekali lagi kata orang, paling romantis di dunia ini dipakai di beberapa negara di Eropa selain Perancis. Contohnya, Belgia, Luksemburg, dan Swiss (di beberapa bagian region), negara di Afrika, Maroko, bahkan beberapa tempat di Kanada.

Spanish, selain di Spanyol sendiri, bahasa ini juga digunakan di Amerika Latin. Bahkan sudah banyak universitas di Amerika yang memberikan persyaratan kepada calon mahasiswa baru harus memiliki sertifikat keahlian bahasa Spanyol (DELE).

German, bahasa ini dipakai juga di Austria, Swiss, serta beberapa kawasan di Luksemburg dan Belgia.

Arabic, negara-negara yang tergabung di UAE (United Arab Emirates) berbicara dengan bahasa ini. Selain itu juga, Maroko dan beberapa negara di Afrika memakai bahasa Arab sebagai bahasa utama mereka.

Mandarin Chinese, bahasa Mandarin memang cukup populer dan digunakan oleh lebih 960juta orang di dunia. Bukan hanya di China sendiri, tapi juga di Taiwan, Hongkong, Macau, dan Shenzhen.

2. Pilih bahasa yang cara pengucapannya mirip dengan lafal bahasa Indonesia


Tips ini sebenarnya yang membuat saya sangat selektif dalam memilih bahasa apa yang akan saya pelajari. Kalau ditanya, bahasa apa yang tidak mau saya pelajari, jawabannya adalah Perancis! Sumpah, saya merasa harus berpikir dua kali untuk belajar bahasa ini. Apa yang ditulis dan diucapkan, nyaris 80% berbeda! Ini beberapa bahasa yang cukup dikenal dengan lafal pengucapan yang tidak terlalu susah.


Italiano, keputusan saya belajar bahasa ini gara-gara pelafalan kata-katanya miriiiippp banget sama bahasa Indonesia. Paling ya beda 10-20%. Tapi tidak terlalu banyak perbedaan yang berarti dari segi pengucapan.

Spanish, antara bahasa Spanyol dan Italia sebenarnya tidak terlalu berbeda. Seorang kenalan dari Spanyol pernah mengatakan, kalau kamu sudah bisa bahasa Italia, tidak akan terlalu susah mempelajari bahasa Spanyol. Bahkan dari segi grammar pun, bahasa Spanyol dibawah bahasa Italia (alias lebih gampang).

Dutch, ada beberapa alfabet yang sedikit berbeda dari bahasa kita. Walaupun bahasa yang ditulis sedikit berbeda dari pengucapan, tapi biasanya kita sudah bisa menebak apa pelafalan dari kata tersebut. Bahasa Belanda sendiri juga sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan pelafalan bahasa Inggris. Kombinasi saja sih.

Finnish, yang ini memang agak langka dan hanya dipakai di Finlandia. Tapi beberapa hari ke belakang saya sempat penasaran dengan bahasa ini sampai akhirnya searching di YouTube. Huhu. Bahasanya susah gampang, tapi pertimbangannya cuma satu, yang ditulis itulah yang diucapkan!

Turkish, kalau ngomongin Turki kok saya langsung inget cowok-cowok perpaduan muka Arab dan Eropa yang ganteng-ganteng ya? Hihi.. Bahasa ini juga tidak terlalu susah untuk diucapkan. Hampir sama seperti bahasa Belanda, mungkin sedikit berbeda, tapi tidak terlalu menyusahkan.

3. Pilih bahasa berdasarkan tulisannya

Yang terakhir ini menurut saya sangat subjektif sekali. Saya sendiri sebenarnya malas mempelajari bahasa asing yang memiliki tulisan lain di luar tulisan latin. Saya jadi mesti harus belajar tiga kali untuk memahaminya. Pertama,  belajar bahasanya dulu. Yang kedua, belajar tulisannya. Dan yang ketiga, saya mesti paham apa yang ditulis, apa bacaannya, lalu kemudian apa artinya. Deuuhh...panjang! Itulah hal yang akhirnya membuat saya menyerah belajar bahasa Thai.

Tapi kalau kamu tekun dan bisa menguasai bahasa dengan tulisannya, jujur saya salut! Artinya kamu bisa dapat poin plus dong dari bahasa yang sedang kamu pelajari. Tentunya bisa lebih enak mencurahkan isi hati, karena tidak ada orang yang mengerti.

Mandarin Chinese, tidak ada salahnya kamu mempelajari bahasa ini beserta tulisannya. Bahasa Mandarin mulai menjadi bahasa internasional bahkan diterima di beberapa badan/perusahaan asing ternama di dunia.

Arabic, tidak rugi juga belajar bahasa ini. Selain bisa mengerti sedikit bahasa Al-Qur'an, saat di Tanah Suci biasanya kita tidak akan kesulitan menawar barang (lho..lho.. kok ujung-ujungnya belanja??).  Saya sendiri tiga tahun mempelajari bahasa Arab di sekolah. Tapi dasar memang dodol dan malas ribet, akhirnya sampai sekarang tidak mengerti arti tulisan Arab sama sekali. Saya bisa baca, tapi tidak mengerti artinya.

Japanese, orang Eropa punya minat tinggi terhadap kebudayaan di Asia. Salah satunya adalah Jepang. Ingat cerita Nobita di film Doraemon yang nyasar tidak bisa pulang gara-gara tidak bisa baca huruf kanji?

Korean, yang ini lagi musim! Banyak gadis-gadis di luar sana lagi serius mendalami bahasa Korea dan tulisannya biar bisa ngerti postingan yang ada di website Korea. Tidak ada salahnya juga sih belajar bahasa ini. Dulu saya sempat iseng-iseng belajar dan menurut saya tingkat kesulitannya dibanding bahasa Jepang lebih kecil.

Greek, ada yang tertarik belajar bahasa dewa-dewi ini?

*tip lagi: walaupun bahasa asing di atas menggoda untuk dipelajari, saran saya mantapkanlah dulu bahasa Inggris setidaknya di level Intermediate. Karena menurut saya, porsi untuk belajar bahasa Inggris tetap harus dilebihkan untuk keperluan globalisasi.

Sekian tips belajar bahasa asing dari saya. Semoga bisa membuka pikiran dan membantu kira-kira bahasa mana yang ingin dipelajari. Habis dari sini, cepat-cepat daftar ke tempat kursus atau belajar lewat YouTube dan buku ya.


Ayo Belajar Bahasa Asing!

Sunday, 26 May 2013


Apa yang kalian lakukan di rumah saat sedang galau, bad mood, kesepian, ataupun bosan tiada tara?

Nonton TV atau DVD?
Dengar radio?
Curhat sama teman?
Jalan ke mal?
Atau tidur-tiduran di kasur, pasang AC, sekalian BBMan sama someone?

Semuanya tidak ada yang salah. Semuanya bisa kita lakukan untuk membunuh rasa bosan dan jenuhnya rutinitas setiap hari. Tapi tahu apa yang biasanya saya lakukan saat sedang bosan dan malas sekali melakukan aktifitas di luar? BELAJAR BAHASA ASING!

Lho kok, sedang bosan masih sempet-sempetnya belajar? Belajar bahasa asing pula! Bahasa Inggris aja belum lulus ini. Yuhuuu.. Entah kenapa daripada berkeluh kesah dan mikirin si doi yang belum tentu mikirin kita (duilee..curhat) saya lebih menikmati buku-buku traveling ataupun buka Youtube untuk belajar bahasa asing. Saya merasa selain kegiatan ini positif, pikiran juga teralihkan dari rasa bosan yang kadang membuat saya mau teriak sejadi-jadinya.

Terus apa sih enaknya belajar bahasa asing? Bukannya bahasa Inggris aja belum tentu sampai tingkat 'lumayan' ya? Tidak ada waktu nih belajar bahasa asing, tidak ada mentornya, tidak ada partner ngomongnya.

Nah, ada beberapa alasan yang membuat saya mau belajar bahasa asing dan merasa perlu sekali untuk mempelajarinya. Yang jelas satu, kita mesti punya passion ataupun minat untuk belajar dulu. Susah juga sih untuk belajar kalau minatnya belum terbangun. Lagipula tidak setiap orang punya kemampuan di bidang linguistik alias bahasa. Saya sebenarnya juga tidak memiliki passion di bahasa asing, bakat dan minat saya pun sebenarnya lebih ke seni ataupun desain. Saya juga baru mulai belajar bahasa asing beberapa bulan ini. Tapi kok jadi nyandu ya? Berikut alasan saya mengapa merasa kita perlu mempelajari bahasa asing: 

1. Karena saya suka traveling. Sungguh, walaupun tidak begitu membantu saat menanyakan suatu tempat saat kesasar, tapi kata-kata sederhana seperti "terima kasih", "halo", "maaf", ataupun "sampai jumpa" dalam bahasa mereka membuat saya merasa dihargai oleh penduduk lokal. Saat berkesempatan ke Thailand tahun lalu, saya mati-matian mempelajari bahasa mereka. Tidak penting ya sepertinya? Tapi kok saya malah jatuh cinta ya sama bahasa itu. Hohoho.. Tapi sedihnya saya akhirnya menyerah juga mempelajari bahasa Thai gara-gara malas belajar hurufnya yang keriting-keriting itu. Hehe.. Di Thailand sendiri saya akhirnya cuma mengingat kata-kata dasar seperti "halo" dan "terima kasih". :p

2. Menambah kemampuan bahasa asing. Kalau kamu ada keinginan untuk melanjutkan studi di luar negeri ataupun tertarik bekerja di perusahan multinasional, tentunya kemampuan bahasa asing sangat diperlukan. Saya sendirinya sebenarnya sangat tertarik melanjutkan studi ke Eropa kalau ada kesempatan (dan dapat beasiswa gratis : p ). Makanya saya mulai memperkaya kemampuan saya untuk menguasai setidaknya dua bahasa asing selain Bahasa Inggris (yang masih pas-pasan ini).

3. Kamuflase. Kenapa saya bilang kamuflase? Bahasa asing ini sebenarnya ibarat penyamaran. Saya pernah sangat kesal pada someone (eheemm..) dan nyindir dia lewat Twitter. Hahahaa..typical sekali ya. Kalau ditulis pakai bahasa Indonesia, pasti si doi ngerti dong. Pakai bahasa Inggris juga pasti si doi bakalan ngerti. Akhirnya saya nyindir alias ngatain dia pake bahasa Spanyol! Hahahaa.. Untungnya dia bukan termasuk orang yang kepo-an (kopi terus tempel di Google Translate) untuk tahu apa yang sedang saya tulis.

4. Tebar pesona sama bule atau orang asing. Eh ini serius, waktu di bandara saya tidak sengaja bertemu dengan cowok dari Taiwan yang mau ke Bali. Gara-gara dulunya sering nonton film Meteor Garden jadinya saya spontan langsung ngomong ni hao ma (apa kabar?) saat tahu dia dari Taiwan. Tahu reaksi dia? Wah, dia surprise dan berbinar banget (asli, hiperbolik!). Saya sampai ditepok-tepokin segala lagi. Dari situ akhirnya dia jadi welcome dan friendly banget, padahal sebelumnya agak-agak 'males' gitu. Tuh kan, cuma gara-gara 'apa kabar?' doang?!

5. Meningkatkan rasa percaya diri. Tahu dong kalau sekarang lagi masa-masanya globalisasi. Jadi mau tidak mau kita juga sebenarnya 'harus' ikut globalisasi ini. Kecuali kalau kita mau menetapkan diri sebagai makhluk 'tertinggal' selama-lamanya. Dalam era globalisasi ini, tentunya persaingan bakalan semakin ketat dan kita juga mesti meningkatkan kemampuan agar bisa bersaing. Kalau kamu merasa tidak berbakat di dunia tarik suara ataupun bisnis, sebenarnya menguasai setidaknya dua bahasa asing bisa meningkatkan rasa percaya diri. Saya merasa kemampuan desain dan sains saya biasa-biasa saja, nyanyi tidak bisa, musik apalagi, ya sudah saya harus percaya pada kemampuan diri di bidang lain.

6. Bisa ngajarin orang lain dan dapet duit saku. Haha.. Asli, tiba-tiba otak bisnis saya berjalan gara-gara melihat peluang bagus. Di kota saya, sulit sekali mencari mentor yang bisa berbahasa asing dengan baik. Sialnya kalaupun mau belajar bahasa, saya harus otodidak dan bolak-balik cari ilmu di Youtube. Memang sih otodidak kesannya lebih 'rajin', tapi tetap saja dong, saya butuh seseorang yang mampu menjadi guide saya disaat saya salah ataupun perlu bantuan (muka miris). Makanya saya niat banget belajar bahasa asing terus nantinya mau diajarin ke orang-orang di kota saya yang membutuhkan mentor privat. Memang sih, level bahasa asing saya masih basic, tapi suatu hari nanti saya percaya kok dimanapun dan kapanpun ada saja orang yang butuh. Makanya dari sekarang banting tulang membuat si lidah ini terbiasa ngomong dengan bahasa alien. Hehe..

Nah, itulah alasan kenapa akhirnya saya punya passion untuk belajar bahasa asing dan merasa kalau mempelajarinya perlu. Kalau kamu juga punya passion yang sama, ayo mulai belajar bahasa asing dari sekarang! Yakinlah, tidak akan rugi mempelajari bahasa asing manapun.