9 Cara Hidup Super Hemat di Oslo

Tuesday, 28 July 2020



Menurut laporan dari majalah CEOWORLD tahun 2020, Norwegia berada di urutan kedua sebagai negara paling mahal untuk ditinggali di dunia setelah Swiss. Sementara data dari Cost of Living Index City yang dipublikasi oleh Expatistan, Oslo berada di urutan ketujuh sebagai kota paling mahal di Eropa setelah beberapa kota di Swiss dan London.

Bagi orang Indonesia yang baru tiba atau berkunjung di Norwegia, kebiasaan membandingkan harga dengan kota tempat tinggal pasti seringkali meringis saat tahu biaya hidup di Norwegia begitu mahal. Apalagi untuk ibukota seperti Oslo, dimana letak pemerintahan, bisnis, serta perdagangan berada di satu poin, pastinya menarik minat banyak imigran untuk datang dan menetap. Lalu sama seperti ibukota lainnya di dunia, harga biaya akomodasi sampai transportasi di Oslo lebih mahal ketimbang kota-kota kecil.

Tapi meskipun Oslo selalu dijuluki sebagai kota mahal, selalu ada cara bagaimana hidup hemat di tempat ini. Bagi kalian yang tertarik atau sebentar lagi akan pindah ke Oslo, intip tips berikut untuk merencanakan hidup frugal tanpa mesti kelaparan!

Mari Menjelekkan Norwegia!

Tuesday, 21 July 2020



Dua tahun lebih tinggal di Norwegia, membuat saya tak berhenti belajar banyak hal tentang negara ini. Menjadi au pair di 3 negara yang berbeda, saya akui bahwa gaya hidup di Norwegia memang berbeda dari Belgia dan banyak tradisinya pun lebih menarik untuk diikuti ketimbang Denmark. Kehidupan yang nyaman, kesetaraan gender yang sangat solid, sistem kesehatan dan pendidikan yang merata, serta alamnya yang luar biasa indah, adalah beberapa alasan yang membuat Norwegia menjadi salah satu tempat terbaik untuk hidup. Apalagi selama beberapa tahun ke belakang, negara-negara di Eropa Utara termasuk Norwegia, selalu memegang peringkat teratas sebagai negara terbahagia di dunia. 

Tapi dari hal yang selalu terlihat indah di foto, belum tentu membuat Norwegia sesempurna yang orang-orang bayangkan. Negara ini tentunya memiliki banyak kekurangan yang kadang menyebalkan bagi para imigran. Tak adil juga kalau setiap waktu harus membandingkan Indonesia dan Norwegia karena populasi di Norwegia pun sudah kalah jauh dari Indonesia. Kalau memang ingin membandingkan Indonesia, mungkin lebih tepat disandingkan dengan Pakistan atau Brazil yang jumlah penduduknya sama-sama lebih dari 200 juta jiwa. Makanya di tulisan kali ini saya hanya akan membandingkan Norwegia dengan beberapa negara di Eropa saja, agar lebih adil ðŸ˜‹.

Saya juga tidak akan menjelekkan Norwegia hanya karena mahal dan dinginnya negara ini. Lama-lama kita juga akan terbiasa dengan harga yang tinggi, saat sadar bahwa penghasilan yang kita dapatkan juga sama besarnya. Lambat laun, akan ada rasa kebahagiaan tersendiri juga saat ketemu gundukan salju yang tebal karena hal tersebut justru membuat pemandangan Norwegia semakin magis. Jadi apa duka laranya tinggal di Norwegia, berdasarkan pengalaman saya?

Camping Date di Finnemarka: Seru Tapi Menggigil!

Wednesday, 15 July 2020



Tiga minggu di awal musim panas, Norwegia bisa jadi adalah tempat terbaik menikmati liburan musim panas tahun ini. Temperatur terus stabil di angka 25-29 derajat Celcius hingga membuat sebagian besar warga Norwegia lupa akan protokol keamanan Korona yang masih harus terus dijalani. Nyaris semua orang bersuka cita gelar tikar di taman, memenuhi kursi restoran dan kafe yang mulai dibuka kembali, berenang menikmati air laut yang menghangat, serta antusias merencanakan trip ke beberapa tempat karena tak harus terus-terusan menghabiskan waktu di rumah.

Apalagi pemerintah setempat sudah dari awal mengkampanyekan Sommer i Norge yang artinya liburan musim panas di Norwegia saja tahun ini ketika ancaman Korona masih membuat negara lockdown. Sebelum pandemi, kebanyakan orang Norwegia memang lebih memilih berlibur ke Eropa Selatan yang hangat. Tapi karena tahun ini 'dikurung' dulu di negara sendiri, tak heran banyak kabin dan penginapan fully-booked! Hal ini tentu saja jadi berita gembira bagi sektor pariwisata yang sempat mati beberapa waktu, akhirnya bisa bernapas kembali.

Tak terkecuali bagi saya dan Mumu yang memang sudah punya rencana untuk liburan sebentar tahun ini. Karena saya sudah pernah ke utara, barat, dan timur Norwegia, sempat terpikir untuk road trip ke Sørlandet, daerah bagian selatan Norwegia yang terkenal dengan pantai dan rumah putihnya. Namun karena saya masih harus cari summer job demi menghidupi diri sebagai mahasiswa, jadinya tahun ini summer getaway tak perlu super fancy dan cukup camping date ke hutan di Finnemarka yang tak terlalu jauh dari Oslo.

Kampus Terbaik di Norwegia: NTNU? UiB? NMBU? UiO?

Tuesday, 7 July 2020



Norwegia, negara dengan penduduk hanya 5 juta jiwa di utara Eropa ini mungkin lebih dikenal dengan keindahan alamnya yang luar biasa ketimbang kualitas pendidikannya. Namun di antara tahun 2000-2015, terjadi kenaikkan jumlah pelajar internasional yang cukup besar di Norwegia dibandingkan negara lain. Hal ini seperti paradoks mengingat sedikitnya kampus terkenal di Norwegia, tingginya biaya hidup, hingga letak geografis di ujung utara Eropa yang mungkin sama sekali tak menarik untuk ditinggali.

Menurut artikel dari sebuah jurnal berjudul Journal of Studies in International Education yang ditulis oleh Jannecke Wiers-Jenssen, meningkatnya jumlah mahasiswa asing ke Norwegia terbantu dengan adanya perkembangan di bidang pendidikan yang luar biasa. Beberapa di antaranya adalah kelas bahasa Inggris yang meluas, kerja sama dengan banyak kampus lain di luar negeri, kebijakan EU yang mendorong banyak mahasiswa ingin ke Norwegia, serta yang paling utama, gratisnya biaya pendidikan di negara ini. (Baca juga: Pendidikan di Negara Nordik: Jangan Kuliah Karena Gratis!)

Di dalam artikel tersebut juga dijelaskan berbagai motivasi banyak mahasiswa asing belajar di Norwegia terkesan sangat pragmatis, ketimbang tujuan utamanya untuk mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi. Alasan utama mereka datang ke Norwegia didominasi oleh bebasnya biaya pendidikan, nyamannya ketahanan dan stabilitas hidup, serta peluang karir yang cukup luas.

Semakin Banyak yang Ingin Jadi Au Pair, Semakin Sedikit Keluarga yang Butuh

Wednesday, 1 July 2020



Meskipun sudah selesai jadi au pair sejak Desember tahun lalu (setelah 5 tahun lamanya!), tapi cerita tentang au pair selalu saja ada untuk dibahas. Apalagi belakangan ini, saya sering kali dapat keluhan dari para calon au pair Indonesia yang merasa kesulitan mendapatkan keluarga, terutama di saat krisis Korona masih belum pulih sepenuhnya.

Dulu, mungkin hanya anak sastra atau para polyglot saja yang lebih tahu au pair. Sekarang, karena informasi tentang dunia au pair sudah bertebaran di internet dan media sosial, semakin banyak orang Indonesia yang tergiur untuk segera ringkas koper bermigrasi ke negara lain. No wonder, au pair dianggap bisa menjadi batu loncatan untuk tinggal lebih lama di Eropa dengan bonus dapat pasangan Kaukasia, lanjut kuliah, sampai punya pekerjaan dengan gaji lumayan. 

Tapi sebelum berandai-andai bisa segera menapakkan kaki ke negara impian, kamu harus disadarkan dulu kalau yang ingin jadi au pair semakin banyak dan persyaratan dari calon keluarga pun semakin demanding! Namun apakah kesempatan kamu masih ada? Tentu saja!