The Bunad Dreams

Friday, 22 May 2020



Mei adalah bulan paling spesial dan bersejarah bagi warga Norwegia. Tujuh belas Mei atau dalam bahasa lokal disebut Syttende Mai, adalah Hari Nasional atau Hari Konsititusional yang dirayakan sebagai rasa kebanggaan dan nasionalis bangsa setelah lepas dari Kesatuan Swedia di tahun 1905. Bisa dibilang, Syttende Mai ini adalah perayaan terbesar tiap tahun selain Natal di Norwegia.

Sama halnya dengan 17 Agustus di Indonesia, 17 Mei juga dirayakan dengan suka cita. Meskipun di tahun ini euforianya tidaklah sama karena krisis Korona, namun esensi perayaan dibuat semaksimal mungkin meskipun setengah penduduk Norwegia merayakan dari rumah. Semua bersuka cita dengan menaikkan bendera dari beberapa hari sebelumnya, membeli buket bunga segar didominasi warna merah, masak makanan khas untuk lunch dan dinner, serta ikut membuat video kereta anak (barnetog) di sekolah meskipun harusnya parade kereta ini diadakan langsung di tengah kota.

Yang paling berkesan dan menarik saat perayaan adalah para warga Norwegia yang kompak berdandan secara tradisional menggunakan pakaian nasional mereka, Bunad. Ohh, I have a lot to tell you, tapi kekaguman tentang Bunad sampai membuat saya bermimpi punya Bunad sendiri suatu hari nanti! Bahkan saat presentasi di kelas Norwegia, saya memilih topik "Bunad" karena uniknya sejarah di balik pakaian nasional ini. Jadi sebetulnya apa yang menarik dari Bunad?

Ke Norwegia, Wajib Coba Menginap di Rorbu, Kabin Nelayan!

Friday, 8 May 2020



Kalau selama ini kamu hanya tahu Norwegia karena keindahan alam di sisi Timur dan Baratnya yang luar biasa, cobalah sekalian mampir ke Norwegia Utara. Tidak sama seperti kawasan lain yang penuh pepohonan, fjord, dan taman nasional, kawasan di Utara lebih terkenal sebagai daerah perairan dan ladang-ladang kecil yang menawarkan pemandangan sama spektakulernya! Bahkan menurut saya, lebih indah dan 'hangat' dari Norwegia Selatan. I cannot tell you how much I miss to be back to the North, terutama ke Lofoten!

The modest feeling in Lofoten Island membuat saya dan Mumu selalu rindu ingin kembali. Selain karena kesederhaannya, ada pengalaman menarik lain yang bisa kamu coba selama mengunjungi desa nelayan ini; menginap di kabin nelayan! Rorbu atau kabin nelayan, berasal dari kata-kata "ro" yang berarti mendayung, dan "bu" berarti rumah kecil berhubungan erat dengan kata "bo" yang juga berarti tinggal. Dulunya, banyak nelayan yang mengjangkau sisi pantai hanya dengan memakai perahu dayung hingga akhirnya di abad ke-19 perahu bermotor pun mulai diperkenalkan.

Rorbu sendiri sebetulnya hanyalah kabin musiman yang dipakai oleh para nelayan selama musim panen ikan. Bangunan ini berupa rumah tinggal sementara yang berisi dua ruangan, satu sebagai tempat penyimpanan alat dan ikan hasil tangkapan serta satu ruangan lagi adalah ruang tamu merangkap ruang tidur. Rorbu dibangun dengan tiang-tiang kayu layaknya rumah panggung di pinggir laut, yang memungkinkan para nelayan menaruh perahu mereka tepat di samping bangunan. 

7 Alasan Mengapa Sebaiknya Kamu Jadi Au Pair di Kawasan Eropa

Thursday, 30 April 2020



Sekitar 6 atau 7 tahun lalu saat saya pertama kali tahu au pair, negara paling populer bagi au pair Indonesia masih ditempati oleh Jerman, Belanda, dan Prancis. Negara terakhir biasanya dipilih karena banyak mahasiswa Sastra Prancis yang berniat mengasah bahasa asing mereka di negaranya langsung. Sementara Jerman populer hingga sekarang karena menawarkan kesempatan tinggal lebih luas dari negara lainnya  meskipun uang sakunya kecil. Lalu Belanda, karena mungkin punya sejarah panjang dengan Indonesia dan populasi orang Indonesianya juga lebih banyak ketimbang kawasan lain di Eropa, makanya dipilih karena ingin tetap "feel at home".

Saat ini dengan semakin mudahnya informasi didapat, perlahan au pair juga tertarik ke negara lainnya selain 3 daftar negara mainstream di atas. Yang saya dengar, sekarang Denmark dan Belgia malah jadi negara favorit menggantikan Prancis! Bahkan saya juga banyak menerima pesan dari blog readers yang tertarik ke Jepang, Turki, atau Inggris untuk jadi au pair. Kalau kamu baru pertama kali au pair, coba buka postingan saya di sini sebagai referensi negara mana yang saya rekomendasikan bagi first timer.

Namun dari semua negara yang memungkinkan, saya tetap merekomendasikan kawasan Eropa sebagai tempat terbaik bagi program au pair ini. Mengapa?

8 Cara Menikmati Masa Au Pair Mu

Thursday, 23 April 2020



More than what you see on social media, jadi au pair itu berat! Bahkan Dilan pun tak sanggup, saya rasa :)

Selain jauh dari keluarga dan teman terdekat, kamu harus menggadaikan semua privasi dan kenyamanan demi merealisasikan salah satu mimpi; tinggal di luar negeri. Tidak sendirian, namun di satu atap dengan keluarga angkat yang juga merangkap sebagai employer a.k.a bos.

I have been on your feet; merasa kesepian, stres berat, hingga akhirnya berkali-kali bertanya ke diri sendiri, what am I doing here?! Ditambah lagi tak mudah percaya dengan orang, saya juga memilah-milih teman karena tidak semua yang kita kenal bisa cocok. Karena merasa berjuang sendiri di tanah orang, saya kadang lupa bagaimana caranya menikmati hidup. Tapi daripada merenungi nasib dan menyesal sudah mengambil langkah sejauh ini, lebih baik mengimbangi rasa kesendirian tersebut agar masa au pair kita yang hanya 12-24 bulan ini berlalu dengan penuh memori — bukan penyesalan dan sakit hati.

Pendidikan di Negara Nordik: Jangan Kuliah Karena Gratis!

Thursday, 16 April 2020



Well, siapa yang tak ingin mendapatkan pendidikan gratis?! Apalagi kalau bisa belajar hingga ke luar negeri, tanpa perlu mengeluarkan kocek berlebih untuk menikmati fasilitas pendidikan kelas dunia. Tapi jangan sampai terlalu jujur kalau niat kamu kuliah hanya karena privilege 'gratisan' dari negara tertentu, setidaknya di Norwegia.

I am gonna tell you the truth; most local students are quite fed up listening to foreign students coming to their country just for free education! Bukan, saya bukan bicara tentang para mahasiswa internasional yang beruntung bisa kuliah di Norwegia karena dana hibah atau beasiswa. Tapi soal betapa jujurnya para mahasiswa asing yang hanya sekolah di Norwegia untuk menikmati fasilitas 'bebas uang kuliah' yang masih diberikan oleh pemerintah setempat.

Di negara Nordik, sampai sekarang hanya Norwegia yang masih membebaskan uang kuliah di kampus negeri bagi mahasiswa lokal dan internasional. Denmark (2006) dan Swedia (2011) sudah menutup peluang free tuition fee bagi mahasiswa internasional, selain warga Uni Eropa. Sementara Finlandia yang dulunya masih royal membebaskan uang kuliah bagi semua mahasiswa di penjuru dunia, di semester musim gugur 2017 ikut menutup kesempatan ini juga bagi semua warga di luar Uni Eropa & Swiss.