Serendipity

Monday, 23 November 2020



Kata 'serendipity' sepertinya jadi kata yang paling banyak diucapkan semester lalu, ketika kami mengikuti mata kuliah Managing the Venture Growth. Yet, it is one of most beautiful English words I have ever heard. Pada topik tersebut, profesor saya di kelas menjelaskan bahwa dalam dunia kewirausahaan, pebisnis biasanya sering kali berhadapan dengan ketidakpastian yang kadang akan membawa mereka ke arus lain yang justru membawa kesuksesan yang tak pernah dicari.

Saya dan tim memutuskan membawa kisah kesuksesan tak terduga Instagram untuk bahan presentasi di kelas sebagai contoh the role of serendipity di dunia kewirausahaan. Mungkin banyak dari kalian yang belum tahu, bahwa sebelum Instagram sukses seperti sekarang, social networking service ini dulunya bernama Burbn. Burbn adalah aplikasi iPhone berbasis lokasi terinspirasi dari Foursquare, memiliki fitur yang memungkinkan pengguna untuk check-in di sebuah lokasi, mendapatkan poin dari hasil nongkrong dengan teman di aplikasi yang sama, serta mempublikasikan foto-foto hasil tongkrongan.

Namun karena terlalu berantakan dan penuh fitur, aplikasi ini kurang sukses di pasaran. Systrom, salah satu pendiri Burbn, kala itu kebetulan mendapatkan inspirasi dari Quora bahwa fitur berbagi foto adalah fitur yang paling trendy dan futuristik. Tak patah semangat, pendiri Burbn mempelajari banyak aplikasi foto dan mengerucutkan Hipstamatic dan Facebook sebagai dua kompetitor terberat. Hipstamatic adalah aplikasi keren dengan banyak filter foto, namun sangat sulit untuk berbagi ke orang banyak. Sementara Facebook yang saat itu adalah rajanya media sosial, memiliki kekurangan pada aplikasi iPhone yang tak memungkinkan penggunanya berbagi foto. Karena kedua platform ini memiliki minus masing-masing, pendiri Burbn mencari kesempatan untuk menyelinap di antara kekurangan tersebut dan mengganti ide awal Burbn menjadi photo sharing networking.

Semester Tiga: Kuliah, Magang, Kerja Sambilan

Sunday, 8 November 2020



Awal tahun ini, kami angkatan 2019, sudah diwanti-wanti oleh kakak tingkat bahwa semester tiga akan jadi semester paling sibuk sepanjang studi. Selain kuliah dan wajib kumpul tugas tiap minggu, kami juga dibekali kesempatan magang selama satu semester di salah satu perusahaan teknologi besar di Norwegia. Good chance to prettify the CV!

Masalahnya, tanggung jawab saya di Norwegia tidak hanya belajar tapi juga bekerja menafkahi diri sendiri. Setelah berjuang kesana kemari cari kerja sambilan (silakan intip kisahnya di sini!), perjuangan saya di awal semester ini sebetulnya sedikit membuahkan hasil. Saya diterima bekerja sebagai pelayan paruh waktu di sebuah restoran, jadi babysitter mingguan, serta tergabung sebagai jurnalis lepas di koran kampus. Itu yang berbayar. Tanggung jawab lainnya ada lagi, magang di kantor startup sebagai unpaid intern di departemen Komunikasi!


Kalau dibayangkan hidup saya awal semester ini, semuanya tampak mustahil. Punya dua posisi magang tak dibayar, kerja sambilan di tiga tempat, plus memenuhi tanggung jawab utama sebagai mahasiswa. Teman sekelas saya sampai geleng-geleng kepala dengan apa yang saya lakukan, "how could you manage your time, Nin?!" Karena bagi mereka, kuliah saja sudah menguras energi dan tenaga, apalagi mesti kerja sambilan di tempat lain.

Jadi Au Pair Tidak Gratis: Siap-siap Modal!

Sunday, 25 October 2020



Beragam postingan dan artikel yang saya baca di luar sana, selalu memotivasi anak muda Indonesia untuk jadi au pair dengan embel-embel bisa jalan-jalan dan kuliah gratis di luar negeri. Dipadu dengan gaya tulisan yang meyakinkan di depan, ujung tulisan tersebut sebetulnya tidak menunjukkan fakta bahwa kamu memang langsung bisa kuliah gratis hanya karena jadi au pair. Banyak yang memotivasi, namun lupa bahwa sesungguhnya tidak ada yang gratis di dunia ini. Termasuk jadi au pair yang selalu dideskripsikan sebagai program pertukaran budaya ke luar negeri dengan berbagai fasilitas gratisan.

First of all, jadi au pair itu tidak gratis ya! Ada biaya dan waktu yang harus kamu keluarkan sebelum bisa pindah ke negara tujuan dan menikmati hidup di negara orang. Biaya dan waktu ini juga tidak sama untuk semua orang. It sounds so stupid kalau kamu hanya percaya satu orang yang mengatakan au pair itu gratis, padahal kenyatannya tidak demikian.

Sebelum memutuskan jadi au pair, cek dulu biaya apa saja yang harus kamu persiapkan! 

Stop Susah, Ada Beasiswa!

Sunday, 18 October 2020



Awal tahun lalu saat pulang ke Palembang, saya bertemu dengan om ipar yang dulu sempat menyelesaikan S2 dan S3-nya dengan beasiswa DAAD dari pemerintah Jerman. Si om ini memang tipikal orang yang mengedepankan pendidikan tinggi sampai anaknya pun didorong mati-matian agar nanti dewasanya bisa jadi 'orang'. Dari sebelum lulus skripsi sampai sekarang, saya akui, beliau punya perhatian yang cukup tulus dengan perkembangan pendidikan saya. He cares more than my mom! Sebetulnya kadang segan (baca: malas) kalau sudah bertemu beliau, karena orangnya cenderung idealis dan pushy.

Dari sebelum lulus kuliah S1, saya terus dirayu untuk mendaftar beasiswa LPDP. Tapi apa daya, saat itu saya belum cukup mental dan uang untuk tes IELTS/TOEFL. Pilihan jadi au pair ke Belgia pun saya pilih karena ingin istirahat dulu selepas lulus S1. Tak berhenti sampai di situ, si om yang tahu saya akan ke Belgia lagi-lagi menyarankan mencari beasiswa Master dari pemerintah setempat, semisal VLIR-UOS. Untungnya saya masih punya alasan untuk tak ingin lanjut S2 dulu, karena program dari beasiswa tersebut juga tak ada yang cocok dengan minat saya.

Mendengar saya akhirnya lanjut S2 di Norwegia dengan biaya sendiri sekarang, beliau menyayangkan keputusan tersebut. Beliau kembali menyarankan untuk mengecek program dari LPDP yang mungkin saja tersedia untuk mahasiswa yang sudah on-going kuliah. Yang tentu saja, tidak ada.

Program Au Pair Selama Pandemi

Monday, 5 October 2020



Tidak hanya satu dua orang pembaca blog yang tiba-tiba DM dan mengeluh betapa susahnya kesempatan mereka jadi au pair di kala pandemi ini. Ada juga yang bertanya apakah karena Korona, program au pair dihilangkan untuk sementara waktu. Satu orang calon au pair yang harusnya berangkat ke Eropa tahun ini, saya dengar aplikasi visanya masih tertahan di Indonesia karena kantor penyedia servis belum buka.

First of all, I feel sorry for them. Karena pandemi global yang sampai detik ini belum menemukan titik terang, kita harus dihadapkan dengan new normal yang sebetulnya juga tak normal. Kegiatan di luar rumah dibatasi, perbatasan imigrasi tertutup untuk orang Indonesia, serta banyaknya penundaan aktifitas fisik di sana-sini demi mengurangi penyebaran infeksi. Tentunya karena perubahan peraturan di semua wilayah di dunia, imbas paling besar terjadi di pintu perbatasan antara negara. Kita tidak bisa seenaknya jalan-jalan ke luar negeri seperti dulu apalagi ke negara bervisa seperti Eropa.

Lalu apa yang terjadi dengan program au pair?