Tentang Nilai dan Perayaan

Monday, July 12, 2021



I have just defended my thesis and had my commencement almost a month ago, but people have not stopped talking about that. Yet.

Sebelumnya, saya sangat berterima kasih untuk semua ucapan selamat yang tertulis di kolom komentar akun media sosial maupun direct message atas kelulusan saya. Bahagia sekali ketika tahu tulisan dan foto saya memberikan inspirasi baru ke banyak orang sampai menimbulkan efek positif untuk mengajak mereka berbahagia pula. 

Ketika saya mengambil foto tersebut, ditaruh di media sosial, sampai menuliskan keterangan yang cukup panjang, I truly just wanted to share my happiness. Ingin memberikan kabar terbaru, "halo, finally saya sudah lulus nih". Tapi ternyata saya tidak bisa bohong, it was uncomfortable. Meski sering menuliskan banyak hal di blog ini, namun saya sebetulnya adalah orang yang cukup tertutup apalagi yang bersifat euforia, seperti halnya kabar kelulusan kemarin. Bagi saya, semakin sedikit orang tahu pencapaian hidup saya malah semakin baik. Namun kali ini saya tetap harus go public mengingat gol yang sudah saya raih tak hanya penghargaan luar biasa bagi saya dan keluarga, tapi juga cerita yang layak dipublikasikan sebagai sumber motivasi bagi orang lain. Apalagi karena dari dulu sudah cerita A-Z mengenai perjalanan hidup sebagai au pair, akan lebih memuaskan jika disuguhi cerita bahagia di akhir.

I Made It: Dari Au Pair Sampai WISUDA S2!!!

Friday, June 25, 2021


LinkedIn is interesting. Gambar di bawah adalah hasil berbagi yang lewat di feed LinkedIn saya tentang jalan karir seseorang mulai dari awal sekolah.

Sangat apik menggambarkan tentang pandangan naif kita yang ingin semuanya berjalan mulus: lulus kuliah kalau bisa langsung cari kerja, posisi bagus, kerja yang rajin, lalu dipromosikan jadi manager. Tapi faktanya, tidak semua orang terlahir jadi pekerja kantoran dengan tangga karir demikian. Ada yang setelah lulus kuliah malah pindah bidang dan mengulang kuliah lagi. Ada juga yang ganti haluan dan sadar bahwa jadi pengusaha lebih menantang. Ada juga yang masih kesulitan menemukan apa yang mereka mau sampai usia di usia 30-an.

Selalu ada cerita dan usaha yang berbeda dari semua orang untuk menuju suatu titik. Inilah cerita yang ingin saya kenang dan bagikan kembali dari pertengahan 2013 sampai sekarang, hasil proses yang panjang hingga mencapai satu titik besar.

Welcoming My Baby

Thursday, June 3, 2021




...and it's June again!

Sebetulnya sudah dari seminggu lalu ingin menulis dan mencurahkan kabar bahagia ini. Tapi apa daya, saya sudah cukup muak duduk di depan laptop hampir tiap hari. Baru saat ini punya waktu santai untuk menulis lagi dan berbagi cerita kalau tugas akhir saya sudah rampung. 🎉

Cerita soal pengerjaan tesis, setelah deadline ditunda 11 hari, saya (dan semua teman sekelas) ujungnya tetap mengerjakan draf akhir di mepet sisa waktu pengumpulan. Tipikal! Saya memutuskan untuk mengerjakan tesis sendiri ketimbang dengan grup karena jenuh terus-terusan kerja kelompok dari semester satu. Untuk program studi saya, pengerjaan tesis boleh dikerjakan secara berkelompok maksimal 3 orang dan bedanya hanya di halaman. Karena semester ini kami menulis tesis pendek (30 ECTS), jumlah maksimal untuk 1 orang hanya 40-60 halaman dan maksimal 80 halaman bagi yang mengerjakan berkelompok. Jadi tidak ada perlombaan ala kuliah di Indonesia, semakin tebal semakin bagus. Jumlah halaman ini pun cukup strict, karena seorang melampaui 60 halaman saja sudah disuruh hapus yang tidak perlu.

The Art of Multitasking: Antara Tesis, Kerja, dan Kursus Bahasa

Sunday, May 16, 2021




Finally, bisa duduk mantap dan mengisi konten di blog yang sekarang hanya bisa terisi satu bulan sekali because I am seriously dying! Dipikir semester 4 akan terasa lebih indah dan santai dari tiga sebelumnya, namun ternyata saya salah. Semester ini mood saya ibarat roller coaster dengan tekanan dari kanan-kiri-atas-bawah. Tekanan hidup ini tak hanya karena was-was memikirkan study permit ditolak, namun perjuangan untuk lulus kuliah ternyata ombaknya luar biasa! Sejauh ini April adalah bulan tergila yang pernah saya lalui. Bersyukur sudah berakhir dan saya masih bisa melaluinya dengan sehat walafiat. 

Sedikit cerita soal pengerjaan tesis, tenggat waktu yang diberikan untuk pengumpulan draf akhir adalah pertengahan bulan Mei. Sebelumnya, dua supervisor saya memang sudah menyarankan untuk mengumpulkan draf pertama ke mereka setidaknya 2-3 minggu sebelum tenggat waktu. Artinya, di minggu akhir April draf pertama sudah harus selesai. Namun yang jadi masalah, untuk menuju tahap selesai ini tak mudah karena mengumpulkan motivasi menulis itu sulit sekali. Prioritas saya saat itu bukan ke tesis, tapi malah keasilkan kerja.

Sebuah Privilese: Kursus Bahasa Gratis

Monday, April 12, 2021




Menghitung privilese, tak harus selalu berhubungan dengan harta kekayaan orang tua ataupun networking orang dalam. Jadi au pair pun juga banyak perks dan privilesenya. Tak perlu jadi Raffi Ahmad dulu untuk bisa diajak ski ke Zermatt. Tak perlu jadi selebgram dulu untuk bisa mengunjungi kebun anggur di Eropa Selatan sambil berpose minum wine ala model. Juga tak perlu jadi anak sultan dulu untuk punya kamar luas bak hotel bintang lima. Kalau kebetulan dapat host family kaya raya, itulah beberapa dari banyak privilese yang bisa au pair dapatkan!

Tapi saya tak ingin membahas soal enaknya jadi au pair karena kemewahan tersebut. Banyak juga au pair yang tinggal dengan keluarga pas-pasan dan tak pernah mencicipi kehidupan mentereng, tapi tetap bahagia. Salah satu hal yang membuat saya bahagia selama jadi au pair justru adalah bisa kursus bahasa gratis! Bagi saya, jadi au pair itu tak selalu menyangkut jaga anak, beres-beres rumah, jalan-jalan keliling Eropa, have fun dengan geng teman bule, ataupun dating dengan para cowok Kaukasia. Tapi juga belajar, entah itu kebudayaan ataupun bahasa baru.


Meskipun tak bisa disandingkan dengan para mahasiswa yang menempuh pendidikan bergelar, namun kesempatan belajar bahasa asing langsung di negaranya merupakan hal yang tak boleh dilewatkan selama jadi au pair. Tak dapat gelar, setidaknya kita bisa menyelesaikan kontrak dengan memegang sertifikat bahasa yang juga punya power untuk mempercantik CV