Kuliah Biaya Sendiri: Uang Dari Mana?

Tuesday, 17 September 2019



Meskipun niat saya di awal tidak berminat lanjut kuliah lagi, nyatanya saya pun berbelok arah untuk mencoba peruntungan daftar kuliah S-2 di beberapa kampus di Norwegia. Alasan utama saya memilih Norwegia tentu saja karena negara ini masih membebaskan uang kuliah bagi mahasiswa lokal dan internasional. Kesempatan ini tentu saja saya manfaatkan sebelum regulasi tersebut diubah menjadi 'berbayar' seperti halnya Finlandia per Autumn semester 2017 lalu. Tapi meskipun biaya kuliah gratis, mahasiswa tetap harus membayar iuran semester sebesar NOK 680-840 (€68-84).

Luckily, saya diterima di program studi Entrepreneurship di Universitas Oslo semester musim gugur tahun ini. Karena biaya kuliahnya sudah gratis, artinya saya hanya perlu menyiapkan biaya hidup untuk 2 tahun ke depan. Saya tidak pakai beasiswa, tidak minta support dari keluarga, ataupun berhutang ke pemerintah Norwegia. Biaya hidup ini murni saya akan tanggung sendiri.

Minggu-minggu Awal Kuliah di Universitas Oslo

Tuesday, 10 September 2019



Setelah membayar uang semester dan registrasi ulang lewat Studentweb, saya 100% resmi menjadi mahasiswi S-2 di Universitas Oslo. Untuk kalian yang belum tahu, tidak ada biaya kuliah yang dibebankan bagi mahasiswa lokal dan internasional di Norwegia, kecuali kampus swasta. Mahasiswa hanya diwajibkan membayar uang semesteran yang besarannya tergantung kampus masing-masing.

Untuk Universitas Oslo (UiO), biaya yang saya bayar tiap semester sebesar NOK 600 plus uang fotokopi program studi NOK 200. Ada juga biaya organisasi sebesar NOK 40 yang tidak diwajibkan. Kalau mau dikonversi, total persemester yang saya bayar hanya sekitar Rp1,3 juta atau €84. Jumlah ini tentu saja berbeda tiap kampusnya, bahkan ada yang lebih murah.

Untuk musim gugur 2019, semester dimulai di minggu ketiga bulan Agustus dengan menghadiri Welcome Ceremony di pelataran universitas di Karl Johans gate. Perayaan tradisional ini sudah dimulai sejak tahun 1929 untuk menandai dimulainya semester baru. Acaranya juga tidak lama karena prosesi intinya hanya berupa pidato dari petinggi kampus untuk menyambut mahasiswa baru diselingi dengan nyanyian tradisional oleh grup paduan suara kampus.

Anak Daerah Mustahil ke Luar Negeri

Wednesday, 4 September 2019



Saat liburan ke Finlandia dua tahun lalu, saya bertemu abang-abang dari Jakarta yang sudah 13 tahun tinggal di Helsinki dan punya bisnis disana. Di pertemuan singkat itu juga, saya diajak mampir ke apartemennya sekalian menyapa istri dan si anak. Sebetulnya abang ini baik dan ramah, tapi mungkin pertanyaannya terkesan nosy untuk saya.

Saat tahu saya asli Palembang, si abang ini menanyakan ulang keabsahan tempat asal saya.

“Serius Palembang? Palembang mananya? Palembang kota apa luarnya?” tanyanya.

“Palembang kota. Di kota banget.

“Ini benaran terbang langsung dari Palembang ke Eropa kemaren?”


Mencoba Hyttetur: Rekreasi Tradisional ke Kabin A la Orang Norwegia

Tuesday, 27 August 2019



Yang saya suka tinggal di Norwegia, meskipun negaranya sudah modern dan kaya raya, namun orang lokalnya tak pernah melupakan sisi tradisional mereka. Gaya hidup  friluftsliv yang berarti outdoor life atau menyatu dengan alam, membuat orang Norwegia sangat mencintai, merawat, serta menikmati alam mereka yang luar biasa indah dengan semaksimal mungkin.

Salah satu kebiasaan alami orang Norwegia adalah melakukan hyttetur atau cabin tour sepanjang tahun. Kalau orang lain biasanya ingin menghabiskan akhir pekan di mol atau keluar negeri demi weekend break, orang Norwegia justru melipir dari hiruk pikuk kota menuju hutan atau gunung yang tenang bersama keluarga atau handai taulan. Di tempat yang jauh dari kebisingan ini, mereka akan tinggal di kabin kayu sederhana hanya untuk rehat dari modernisasi sekalian bercengkrama dengan alam. Kalau di Indonesia, hyttetur mirip perjalanan dari Jakarta atau Bandung menuju villa di puncak. Bedanya di Norwegia, kegiatan ini tak hanya milik orang Oslo, tapi sudah jadi kultur lokal.

FYI, orang-orang yang memiliki finansial berlebih biasanya menjadikan kabin sebagai rumah kedua. Tak heran mengapa memiliki kabin sendiri di Norwegia ibarat mimpi bagi sebagian orang. Apalagi membangun kabin from the scratch butuh persiapan keuangan yang matang mengingat harga tanah di Norwegia semakin mahal. Makanya kebanyakan keluarga yang memiliki kabin in the middle of nowhere dan jauh dari kota besar memang keluarga menengah ke atas.

Tentang Jurusan Kuliah dan Mengapa

Wednesday, 21 August 2019



Selain berstatus sebagai au pair di Norwegia, saya baru saja tercatat sebagai mahasiswi S-2 di Universitas Oslo untuk program studi Entrepreneurship. Bagi yang terpikir dengan program studi ini, pasti mengira saya kuliah bisnis, padahal S-1 saya kemarin dari Fisika.

Di Universitas Oslo, Entrepreneurship justru bukan masuk Departemen Ekonomi dan Bisnis, melainkan Departemen Informatika, di bawah naungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Program studi ini unik karena menjembatani ilmu pengetahuan alam dan bisnis yang diharapkan mahasiswanya bisa berinovasi memulai dan mengembangkan startup baru yang berhubungan dengan sains dan teknologi. Makanya tak heran kalau saingan masuk program ini cukup banyak karena pendaftar yang diterima mencakup semua lulusan sains, dari ilmu kedokteran sampai ilmu teknik.

Saya beruntung diterima di program studi ini karena memang sangat tertarik dengan kurikulum kuliahnya. Selain teori, mahasiswa juga diwajibkan untuk lebih banyak kerja kelompok sebagai nilai tambah dan mengikuti program magang di tahun kedua. Bagi saya yang suka kerja di dalam tim, berpikir ide baru, tertarik dengan teknologi, serta bosan dengan kuliah yang hanya bersifat teori, program ini seperti wadah yang memang saya cari. Apalagi sebetulnya saya memang sudah terpikir untuk membuka bisnis di Palembang, lama sebelum saya diterima masuk di kampus ini. Hanya saja, saya sadar bahwa bakat marketing saya sangatlah tidak bagus, mirip seperti ibu saya yang maju mundur kalau berdagang.