Masuk Kuliah di Eropa Itu Mudah! Ini Buktinya!

Saturday, April 9, 2022



Sekitar enam atau lima tahun lalu, saya mengobrol dengan salah satu teman sekelas yang baru masuk ke kelas bahasa Denmark kami. Cowok muda asal Islandia yang pindah ke Denmark untuk mengubah nasib ini sebetulnya ramah dan good looking, tapi mulutnya cukup sadis. Kalimatnya yang paling saya ingat sampai sekarang, "hanya ada dua tipe anak muda Asia yang bisa sampai Eropa. Yang suuuuper kaya sekali atau yang suuuuper pintar sekali! Kaya karena dibiayai orang tua atau pintar karena dapat beasiswa."

Bodohnya, meskipun tahu itu salah namun saya iyakan pernyataan tersebut. Well, dia juga tak sepenuhnya salah sebetulnya. Namun yang saya ingat, dia tidak menanyakan mengapa saya ada di Denmark saat itu dan hanya nyerocos membicarakan hal lain setelahnya. If only he knew saya di Denmark jadi 'babu' alias au pair, mungkin akan menepis semua stereotipe dia sebelumnya tentang orang Asia di Eropa. Lambat laun, saya baru tahu bahwa si cowok ini bisa berkata demikian karena punya role model seorang teman cewek yang juga berasal dari Indonesia. Si teman ini dapat beasiswa kuliah di Denmark, super aktif berorganisasi dan berprestasi, sampai akhirnya bisa bekerja di UN Denmark. What a lucky (yet smart) girl!

Ketika Nasib Membawa Mu Pulang

Thursday, March 31, 2022



Kutipan tak bertuan berbahasa Norwegia di atas berarti, kebahagiaan itu tak selalu naik ke puncak tangga, tapi berhenti pada tahap dimana seseorang berkembang.

Seringkali saya membaca dan mendengar kata-kata motivasi dari para imigran Indonesia yang tinggal di luar negeri atas nama perjuangan. Salah satunya, "anak rantau pantang pulang" atau yang sebetulnya lebih menggambarkan tak boleh pulang sebelum berhasil di negara orang. Meski tak semua berpendapat sama, namun keberhasilan ini lebih erat kaitannya dengan materi. Jujur, saya mungkin salah satu yang kurang setuju dengan kata-kata motivasi ini setelah merasakan langsung bahwa realita seringkali memaksa kita untuk jadi realistis. Tak selamanya usaha mendukung hasil.

6 Persepsi Keliru Tentang Au Pair

Wednesday, February 23, 2022



Semakin banyak yang membagikan cerita kehidupan mereka sebagai au pair, semakin banyak juga anak muda Indonesia yang tertarik ingin mengikuti jejak. Cerita dibuat semotivatif dan semenarik mungkin agar interaksi dengan para pengikut terus berjalan. Dari mulai cerita betapa mudahnya pindah ke negara-negara di Eropa, bisa dapat pacar bule yang seru dijadikan konten, hingga kesempatan melanjutkan sekolah atau berkarir di luar negeri.

Gaya orang bercerita memang berbeda. Namun bagi kalian yang tertarik jadi au pair, saya sarankan tetap harus banyak mencari info dari kanan kiri sebelum cepat menarik kesimpulan dari satu pernyataan. Jangan sampai mimpi terkalahkan ekspektasi yang melambung tinggi. Au pair bukanlah program yang 'too good to be true'. Berikut 6 persepsi keliru yang sering saya dengar:

Kuliah Mandiri di Luar Negeri, Keberuntungan atau Kerja Keras?

Saturday, January 8, 2022



"Menurut kamu ya, Nin, apakah memungkinkan kuliah di luar negeri pakai biaya sendiri, tanpa bantuan teman, pacar, saudara, atau host family saat lagi pandemi seperti ini?" tanya seorang rekan au pair di akhir tahun 2020 saat kami nongkrong di pusat kota Oslo.

Tulisan ini semestinya dirilis lebih awal, ketika cerita hidup saya yang nelangsa sebagai mahasiswi di Norwegia lebih relevan. Pertanyaan tersebut muncul tanpa sebab. Teman saya ini tahu betul bagaimana terpuruknya saya saat menjalani semester dua dengan tertatih karena sempat kehilangan pekerjaan. Di saat genting ini, uang tabungan saya semasa au pair terkuras dan cari kerja lagi juga tak mudah. Keluarga di Indonesia tak bisa banyak membantu secara materi. Pun teman sejawat hanya bisa menolong dari segi moril.

Berandai-andai, teman saya tersebut hanya ingin tahu apakah mungkin mantan au pair yang lanjut kuliah mandiri semasa pandemi bisa hidup nyaman? Jika waktu bisa diputar kembali, mungkinkah kemarin saya bisa menabung lebih banyak untuk dana emergency? Atau jika tak punya pilihan, apakah memang sesulit itu cari kerja lagi  padahal bisa jadi cleaning lady atau babysitter?

Au Pair: Dulu dan Sekarang

Tuesday, December 28, 2021



Belum masuk 2022 dan saya baru tahu au pair pun sekitar 9 tahun lalu. Rasanya terlalu cepat membahas apa yang terjadi di dunia peraupairan dari tahun ke tahun dan membandingkannya dengan apa yang terjadi sekarang. Namun yang menarik, sudah banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari satu dekade ini.

Bagi yang baru mengikuti blog ini dan belum tahu apa yang saya lakukan di Eropa, bisa mampir ke postingan saya ketika pertama kali mendarat di Belgia. Di tahun 2014, langkah besar saya ke Eropa dimulai dengan menjadi au pair. Yang belum tahu, au pair adalah program pertukaran budaya dimana kita  anak muda di bawah usia 30 tahun  bisa tinggal dengan keluarga angkat (host family) di luar negeri dan menghasilkan uang dari membantu mengurus anak serta bersih-bersih di rumah mereka. Selain dapat uang saku, kita juga difasilitasi kamar pribadi, makanan, serta dibayari kursus bahasa oleh keluarga tersebut. We definitely do NOT live for free karena kita bekerja untuk ditukar dengan semua fasilitas tersebut. Sounds like a maid?