Welcoming My Baby

Thursday, June 3, 2021




...and it's June again!

Sebetulnya sudah dari seminggu lalu ingin menulis dan mencurahkan kabar bahagia ini. Tapi apa daya, saya sudah cukup muak duduk di depan laptop hampir tiap hari. Baru saat ini punya waktu santai untuk menulis lagi dan berbagi cerita kalau tugas akhir saya sudah rampung. 🎉

Cerita soal pengerjaan tesis, setelah deadline ditunda 11 hari, saya (dan semua teman sekelas) ujungnya tetap mengerjakan draf akhir di mepet sisa waktu pengumpulan. Tipikal! Saya memutuskan untuk mengerjakan tesis sendiri ketimbang dengan grup karena jenuh terus-terusan kerja kelompok dari semester satu. Untuk program studi saya, pengerjaan tesis boleh dikerjakan secara berkelompok maksimal 3 orang dan bedanya hanya di halaman. Karena semester ini kami menulis tesis pendek (30 ECTS), jumlah maksimal untuk 1 orang hanya 40-60 halaman dan maksimal 80 halaman bagi yang mengerjakan berkelompok. Jadi tidak ada perlombaan ala kuliah di Indonesia, semakin tebal semakin bagus. Jumlah halaman ini pun cukup strict, karena seorang melampaui 60 halaman saja sudah disuruh hapus yang tidak perlu.

The Art of Multitasking: Antara Tesis, Kerja, dan Kursus Bahasa

Sunday, May 16, 2021




Finally, bisa duduk mantap dan mengisi konten di blog yang sekarang hanya bisa terisi satu bulan sekali because I am seriously dying! Dipikir semester 4 akan terasa lebih indah dan santai dari tiga sebelumnya, namun ternyata saya salah. Semester ini mood saya ibarat roller coaster dengan tekanan dari kanan-kiri-atas-bawah. Tekanan hidup ini tak hanya karena was-was memikirkan study permit ditolak, namun perjuangan untuk lulus kuliah ternyata ombaknya luar biasa! Sejauh ini April adalah bulan tergila yang pernah saya lalui. Bersyukur sudah berakhir dan saya masih bisa melaluinya dengan sehat walafiat. 

Sedikit cerita soal pengerjaan tesis, tenggat waktu yang diberikan untuk pengumpulan draf akhir adalah pertengahan bulan Mei. Sebelumnya, dua supervisor saya memang sudah menyarankan untuk mengumpulkan draf pertama ke mereka setidaknya 2-3 minggu sebelum tenggat waktu. Artinya, di minggu akhir April draf pertama sudah harus selesai. Namun yang jadi masalah, untuk menuju tahap selesai ini tak mudah karena mengumpulkan motivasi menulis itu sulit sekali. Prioritas saya saat itu bukan ke tesis, tapi malah keasilkan kerja.

Sebuah Privilese: Kursus Bahasa Gratis

Monday, April 12, 2021




Menghitung privilese, tak harus selalu berhubungan dengan harta kekayaan orang tua ataupun networking orang dalam. Jadi au pair pun juga banyak perks dan privilesenya. Tak perlu jadi Raffi Ahmad dulu untuk bisa diajak ski ke Zermatt. Tak perlu jadi selebgram dulu untuk bisa mengunjungi kebun anggur di Eropa Selatan sambil berpose minum wine ala model. Juga tak perlu jadi anak sultan dulu untuk punya kamar luas bak hotel bintang lima. Kalau kebetulan dapat host family kaya raya, itulah beberapa dari banyak privilese yang bisa au pair dapatkan!

Tapi saya tak ingin membahas soal enaknya jadi au pair karena kemewahan tersebut. Banyak juga au pair yang tinggal dengan keluarga pas-pasan dan tak pernah mencicipi kehidupan mentereng, tapi tetap bahagia. Salah satu hal yang membuat saya bahagia selama jadi au pair justru adalah bisa kursus bahasa gratis! Bagi saya, jadi au pair itu tak selalu menyangkut jaga anak, beres-beres rumah, jalan-jalan keliling Eropa, have fun dengan geng teman bule, ataupun dating dengan para cowok Kaukasia. Tapi juga belajar, entah itu kebudayaan ataupun bahasa baru.


Meskipun tak bisa disandingkan dengan para mahasiswa yang menempuh pendidikan bergelar, namun kesempatan belajar bahasa asing langsung di negaranya merupakan hal yang tak boleh dilewatkan selama jadi au pair. Tak dapat gelar, setidaknya kita bisa menyelesaikan kontrak dengan memegang sertifikat bahasa yang juga punya power untuk mempercantik CV

Permit Ditolak, Pulang ke Indonesia!

Sunday, March 21, 2021



February was the worst month ever di pengawal 2021! Dari mulai tesis, proyek startup, kerja, kursus Norwegia, sampai terkena job offer anxiety, semuanya menumpuk jadi satu! Setelah sukses membuat mood naik turun, perasaan saya dibuat kalut lagi dengan status izin tinggal di Norwegia. Karena banyak hal yang harus dipikirkan inilah, saya memutuskan menarik diri dulu dari semua update di Instagram & blog. Biasanya cuap-cuap tak henti berbagi cerita, tapi kali ini ada banyak hal lain yang harus diprioritaskan. 

Yang pertama, karena job offer anxiety. Awal Februari, saya menerima email dari salah satu perusahaan bahwa saya berhasil maju ke tahap wawancara. Terlalu sering menerima email penolakan, makanya ketika dapat email positif seperti iniapalagi dari perusahaan besar, rasanya senang sekali. Super girang juga karena posisinya bisa dibilang adalah dream job. Satu minggu sebelum wawancara saya sudah riset semua tentang perusahaan tersebut dan membuat sendiri poin yang kemungkinan akan ditanyakan. Mumu adalah saksi hidup dimana setiap hari mulut saya selalu praktek menjawab pertanyaan seperti jampi-jampian. Saking seringnya, Mumu sampai bosan tiap kali saya latihan!

Belajar Fesyen dari Ibu-ibu Eropa

Saturday, February 13, 2021


Meskipun tak pernah merasa jadi cewek stylish, namun saya termasuk orang yang cukup peduli dengan penampilan. Ke kampus, ke mol, kondangan, sebisa mungkin pakaian disesuaikan dengan acara. Gaya saya zaman sekolah dan kuliah dulu bisa dikatakan semi-vintage dan sedikit terpengaruh preppy look ala drama Asia. Kebanyakkan isi lemari hasil perburuan dari pasar pakaian bekas imporan Asia Timur yang menurut saya, modelnya lebih unik dan retro. Sepatu yang saya pakai juga bukan dari merek ternama, karena harganya cuma 40-50 ribuan. Seseru itu belanja di Palembang karena 100 ribu Rupiah pun sudah bisa dapat setelan lengkap dari atas sampai bawah! Walaupun, gaya belanja seperti ini cukup sering ditentang oleh ibu saya sendiri.

"Kalau Mama, daripada beli barang murahan tapi mudah rusak, lebih baik langsung beli barang mahal tapi awet," kata beliau saat itu.

"Ya enak kalau ada uangnya. Bagaimana kalau belum ada, tapi ingin sepatu baru?" kilah saya.

"Ya menabung dong!"