Langsung ke konten utama

Postingan

Obrolan Para Diaspora Tentang Izin Tinggal

Suatu hari, lima orang imigran yang punya latar belakang berbeda berkumpul di satu meja membahas politik Norwegia. Empat dari mereka sebut saja Ana, Bao, Choi, dan Dee. Percakapan ini diawali dari sebuah pertanyaan tentang " apa fungsi ganti WN Norwegia? " ketika jawaban yang selalu dilontarkan hanyalah " ohh, kamu bisa dapat hak suara saat pemilu " atau " ohh, kamu bisa jalan-jalan ke banyak negara tanpa mengajukan visa "   —  visa ke Amerika maksudnya. Lama-kelamaan topik tak menarik lagi, obrolan berganti tentang status izin tinggal masing-masing. Ana sedang proses memperbarui izin tinggal keluarga ( reunification family ) karena menikah dengan warga lokal. Bao sedang riset tentang job seeker permit  karena masa studinya akan segera berakhir. Choi sedang berbahagia akan segera mengajukan izin tinggal permanen. Dee sudah cukup secured di Norwegia namun masih pusing akan mendaftarkan anak ke penitipan yang mana, mengingat antrian selalu panjang. Lalu yan
Postingan terbaru

Sah: Program Au Pair di Norwegia Resmi Dihentikan!

Setelah melalui proses persidangan yang dimulai 29 Maret 2023, keputusan pemerintah Norwegia untuk menghentikan program au pair nyatanya terealisasikan. Per 15 Maret 2024, UDI ( Utlendingsdirektoratet ) atau imigrasi Norwegia sudah tak lagi menerima aplikasi baru au pair ( first time application ) dan terakhir menerima aplikasi baru hingga tanggal tersebut mengikuti persyaratan yang berlaku. Imigrasi juga tetap melayani para au pair yang sekarang sudah tinggal di Norwegia dan berniat memperbarui izin tinggal maksimum hingga 24 bulan selama kontrak berlaku. Pun bagi yang masih tinggal di Norwegia, tetap bisa melanjutkan kontrak mereka hingga selesai tanpa terganggu keputusan tersebut.  Keputusan ini pun disambut bahagia oleh LO Norge ( Landsorganisasjon ), serikat pekerja nasional, yang sudah 12 tahun menyuarakan gagasan untuk menutup program au pair di Norwegia. LO menganggap bahwa program au pair yang tadinya bertujuan untuk cultural exchange sudah berubah fungsi menjadi praktek pe

Au Pair: Diskriminasi Usia?

Setidaknya selama 3 bulan ke belakang, saya sudah beberapa kali menyimak kericuhan jagad Twitter tentang diskriminasi usia yang masih membebani masyarakat Indonesia saat cari kerja dan daftar beasiswa. Baru-baru ini, karena pendaftaran beasiswa LPDP dibuka kembali, kericuhan terjadi lantaran batas usia pendaftar dianggap tak masuk akal dan sangat diskriminatif. Maksimal 35 tahun bagi pendaftar Master, serta 40 tahun bagi pendaftar Doktoral. Padahal membatasi usia hingga 35 tahun bagi yang ingin dapat beasiswa S2 membutakan apa yang terjadi di realita. Faktanya, justru malah banyak yang ingin lanjut kuliah di akhir 30 tahunan dan tetap layak dapat beasiswa. Sebetulnya batasan usia sebagai syarat administrasi bukan hal baru lagi dan sudah lama prakteknya. Tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara di Asia Timur. Saya ingat betul beberapa tahun lalu berniat cari beasiswa di Asia, batasan usia sebagai persyaratannya pun nyaris serupa. Karena adanya batasan umur inilah, akhirnya saya b

Cara Terbaik Menikmati Makanan (dan Nongkrong) di Norwegia

Setelah misuh-misuh perkara restoran di Norwegia yang seringkali tak memenuhi ekspektasi , ada baiknya saya berbagi dari sudut pandang orang lokal bagaimana cara mereka bersosialisasi dan menikmati makanan. Biar adil. Betul, Norwegia bukan tempat yang tepat berwisata kuliner layaknya Denmark. Betul juga, Norwegia tak punya tempat nongkrong asik di ibukota dan kehidupan malamnya cenderung pasif, tak serupa Swedia. Kehidupan di Norwegia sesungguhnya sederhana. Kuncinya, memanfaatkan sumber daya alam yang tak dimiliki Denmark dan Swedia. Sesimpel itu, karena memang tak ada yang lagi bisa disyukuri orang lokal selain keindahan alamnya yang fantastis. Baca juga: 10 Alasan Norwegia Tak Cocok Untuk Destinasi Liburan Orang Indonesia God is kind. Meskipun negara ini lebih dekat dengan kutub utara dan punya musim dingin mencekam, namun habitat alam Norwegia cenderung aman. Norwegia tak punya banyak hewan buas seperti di negara-negara tropis, kecuali beruang yang lebih sering dijumpai di utara s

Melarikan Diri, Perbaikan Gizi

Dari pertengahan tahun lalu, saya sudah visioner untuk tak ingin menghabiskan liburan Natal dan Tahun Baru 2024 di Eropa. Sekali ini Eropa tak masuk dalam daftar rencana tahunan. Apalagi mengingat pengalaman di Paris awal tahun lalu membuat saya trauma dan merasa Eropa jadi tak menarik lagi. Sombong sekali, tapi perasaan tak ada yang abadi. Kemarin happy , bisa jadi hari ini sedih.  Secara impulsif, rencana liburan akhir tahun berdua dengan adik pun dibuat spontan tanpa berpikir apakah finansial siap. Haha! Ini adalah kali ke-4 saya reuni dengan si adik dalam setahun. Sebetulnya ada keinginan pulang sejenak ke Indonesia, tapi tiket cukup mahal dan liburan kurang dari 2 minggu rasanya terlalu tanggung. Ingin ke Taipei, tiketnya juga masih mahal di akhir tahun apalagi untuk dua orang. Lucunya, mendadak terpikir Cina karena baca berita negara ini sudah mulai buka normal lagi pasca Korona dan harga tiketnya terbilang murah dari Oslo. Tanpa pikir dua kali, booked ! No lie, the more I live i

Derita Jajan di Norwegia: Banyak Restoran Zonk!

Mungkin banyak yang belum cerita, tapi salah satu duka tinggal di Norwegia adalah sulitnya menemukan tempat makan yang kualitas dan standarnya sebanding dengan kantong. Meski sudah terucap berulang kali lewat Instagram pribadi, namun kali ini saya ingin berbagi lagi derita jajan di utara Eropa yang standar makanannya sukar cocok dengan lidah. Tapi kali ini mari fokus ke Norwegia, salah satu negara terindah yang dicanang banyak orang sebagai one of the perfect places to live in.  Penafian: saya bukanlah seorang  gastronom  atau  connoisseur , tapi hanya  seasonal foodie  yang kebetulan punya kesempatan mencicipi  gourmet  hingga  street food  di beberapa negara saat  travelling . Selain hobi nonton acara masak-masak, saya juga sedikit tahu tentang beberapa olahan dan teknik masak dari keluarga  –  meskipun saya sendiri kurang pandai mengaplikasikannya di dapur. Masalah rasa pun sangat subjektif dan cerita yang ada di sini murni opini pribadi hasil dari kegelisahan seorang pendatang terh

Luar Negeri Itu Bukan Kemauan, Tapi Kesempatan

Another day, another story. Seorang kenalan dekat, sebut saja D, yang sudah memegang kontrak kerja dari sebuah grup hotel besar di Kanada mendadak membatalkan rencana dan tak jadi berangkat. Entah apa penyebabnya, namun kabar tersebut cukup membuat saya tercengang. D yang saya tahu, tak hanya sekali ini saja beruntung mendapatkan kesempatan kerja ke luar negeri. Dari awal lulus sekolah, D sudah diterima bekerja di sebuah hotel besar di Palembang. Setelahnya, dikabarkan D mendapatkan tawaran di Qatar dan hanya bertahan 6 bulan. Dari Qatar, eksplorasinya berlanjut ke Australia sebelum akhirnya berlabuh di Bali. Dari Bali inilah, D mendapatkan informasi pekerjaan di Kanada dan berhasil lolos di semua tahap wawancara. Sayang, sudah keliling kerja di berbagai belahan dunia, D tak jadi mengurus visa Kanada dan dikabarkan akan kembali lagi ke Palembang karena ditawari posisi baru. Fiuuhh.. Sebuah unfair advantage yang sungguh nyata! Sampai sini, apa yang terlintas di benak kalian? D tak tah