Sekeluarga Jadi Au Pair

Monday, September 6, 2021



Ketika memutuskan jadi au pair dan tahu beratnya mengarungi hidup di negara orang, di detik itu juga saya bersumpah tak akan pernah membiarkan keluarga saya mengikuti jejak ini. Bukan karena au pair program yang buruk, tapi karena saya tak ingin mereka juga merasakan apa yang pernah saya alami. Tinggal bersama orang asing, mengganti popok bayi, mengurus dokumen imigrasi, serta adaptasi cepat dengan cuaca itu tidak mudah bagi semua orang. 

Betul memang, jadi au pair bisa membentuk mental juang mu lebih kuat. Tinggal di negara baru sungguh menantang dan bisa berkesan jika kita memanfaatkannya dengan baik. Tapi untuk menawarkan kesempatan ini apalagi mewariskan host family kepada keluarga di Indonesia, saya enggan. Tanpa banyak orang tahu, cerita au pair saya kenyataannya lebih dramatis dari yang pernah saya ceritakan ke siapa pun.

Tentang Nilai dan Perayaan

Monday, July 12, 2021



I have just defended my thesis and had my commencement almost a month ago, but people have not stopped talking about that. Yet.

Sebelumnya, saya sangat berterima kasih untuk semua ucapan selamat yang tertulis di kolom komentar akun media sosial maupun direct message atas kelulusan saya. Bahagia sekali ketika tahu tulisan dan foto saya memberikan inspirasi baru ke banyak orang sampai menimbulkan efek positif untuk mengajak mereka berbahagia pula. 

Ketika saya mengambil foto tersebut, ditaruh di media sosial, sampai menuliskan keterangan yang cukup panjang, I truly just wanted to share my happiness. Ingin memberikan kabar terbaru, "halo, finally saya sudah lulus nih". Tapi ternyata saya tidak bisa bohong, it was uncomfortable. Meski sering menuliskan banyak hal di blog ini, namun saya sebetulnya adalah orang yang cukup tertutup apalagi yang bersifat euforia, seperti halnya kabar kelulusan kemarin. Bagi saya, semakin sedikit orang tahu pencapaian hidup saya malah semakin baik. Namun kali ini saya tetap harus go public mengingat gol yang sudah saya raih tak hanya penghargaan luar biasa bagi saya dan keluarga, tapi juga cerita yang layak dipublikasikan sebagai sumber motivasi bagi orang lain. Apalagi karena dari dulu sudah cerita A-Z mengenai perjalanan hidup sebagai au pair, akan lebih memuaskan jika disuguhi cerita bahagia di akhir.

I Made It: Dari Au Pair Sampai WISUDA S2!!!

Friday, June 25, 2021


LinkedIn is interesting. Gambar di bawah adalah hasil berbagi yang lewat di feed LinkedIn saya tentang jalan karir seseorang mulai dari awal sekolah.

Sangat apik menggambarkan tentang pandangan naif kita yang ingin semuanya berjalan mulus: lulus kuliah kalau bisa langsung cari kerja, posisi bagus, kerja yang rajin, lalu dipromosikan jadi manager. Tapi faktanya, tidak semua orang terlahir jadi pekerja kantoran dengan tangga karir demikian. Ada yang setelah lulus kuliah malah pindah bidang dan mengulang kuliah lagi. Ada juga yang ganti haluan dan sadar bahwa jadi pengusaha lebih menantang. Ada juga yang masih kesulitan menemukan apa yang mereka mau sampai usia di usia 30-an.

Selalu ada cerita dan usaha yang berbeda dari semua orang untuk menuju suatu titik. Inilah cerita yang ingin saya kenang dan bagikan kembali dari pertengahan 2013 sampai sekarang, hasil proses yang panjang hingga mencapai satu titik besar.

Welcoming My Baby

Thursday, June 3, 2021




...and it's June again!

Sebetulnya sudah dari seminggu lalu ingin menulis dan mencurahkan kabar bahagia ini. Tapi apa daya, saya sudah cukup muak duduk di depan laptop hampir tiap hari. Baru saat ini punya waktu santai untuk menulis lagi dan berbagi cerita kalau tugas akhir saya sudah rampung. 🎉

Cerita soal pengerjaan tesis, setelah deadline ditunda 11 hari, saya (dan semua teman sekelas) ujungnya tetap mengerjakan draf akhir di mepet sisa waktu pengumpulan. Tipikal! Saya memutuskan untuk mengerjakan tesis sendiri ketimbang dengan grup karena jenuh terus-terusan kerja kelompok dari semester satu. Untuk program studi saya, pengerjaan tesis boleh dikerjakan secara berkelompok maksimal 3 orang dan bedanya hanya di halaman. Karena semester ini kami menulis tesis pendek (30 ECTS), jumlah maksimal untuk 1 orang hanya 40-60 halaman dan maksimal 80 halaman bagi yang mengerjakan berkelompok. Jadi tidak ada perlombaan ala kuliah di Indonesia, semakin tebal semakin bagus. Jumlah halaman ini pun cukup strict, karena seorang melampaui 60 halaman saja sudah disuruh hapus yang tidak perlu.

The Art of Multitasking: Antara Tesis, Kerja, dan Kursus Bahasa

Sunday, May 16, 2021




Finally, bisa duduk mantap dan mengisi konten di blog yang sekarang hanya bisa terisi satu bulan sekali because I am seriously dying! Dipikir semester 4 akan terasa lebih indah dan santai dari tiga sebelumnya, namun ternyata saya salah. Semester ini mood saya ibarat roller coaster dengan tekanan dari kanan-kiri-atas-bawah. Tekanan hidup ini tak hanya karena was-was memikirkan study permit ditolak, namun perjuangan untuk lulus kuliah ternyata ombaknya luar biasa! Sejauh ini April adalah bulan tergila yang pernah saya lalui. Bersyukur sudah berakhir dan saya masih bisa melaluinya dengan sehat walafiat. 

Sedikit cerita soal pengerjaan tesis, tenggat waktu yang diberikan untuk pengumpulan draf akhir adalah pertengahan bulan Mei. Sebelumnya, dua supervisor saya memang sudah menyarankan untuk mengumpulkan draf pertama ke mereka setidaknya 2-3 minggu sebelum tenggat waktu. Artinya, di minggu akhir April draf pertama sudah harus selesai. Namun yang jadi masalah, untuk menuju tahap selesai ini tak mudah karena mengumpulkan motivasi menulis itu sulit sekali. Prioritas saya saat itu bukan ke tesis, tapi malah keasilkan kerja.