Pengumuman Pemenang Kompetisi “My Final Year”

Sunday, 29 December 2019



2020 is just around the corner!

Tapi sebelum 2019 usai, saya ingin menutup postingan terakhir tahun ini dengan pengumuman pemenang Kompetisi "My Final Year" yang diadakan sejak bulan September lalu. Sedikit pesimis kalau ada yang ingin berpartisipasi, tapi nyatanya, di akhir-akhir submission justru semakin banyak yang mengirimkan karya! Saya juga banyak membaca, mendapatkan inspirasi dan gambaran tentang negara mana saja yang ingin kalian tinggali jika diberi kesempatan 1-2 tahun. Ternyata, tiga negara terfavorit adalah Britania Raya, Jepang, dan Prancis!

To be honest, I was so baffled!!! Semua karya, baik dalam bentuk tulisan dan ilustrasi, keren-keren dan personal sekali! Saya yang tadinya akan jadi juri tunggal untuk menilai tulisan, mesti menarik seorang teman yang pandai literatur demi memutuskan siapa yang paling paling paling baik diantara yang ter-terbaik! Mumu was in charge to be the only judge of your illustrations!

Berapa Sebetulnya Gaji Nanny dan Cleaning Lady di Norwegia?

Monday, 23 December 2019



Di postingan sebelumnya, saya membahas soal uang saku au pair versus gaji mahasiswa asing dari hasil kerja paruh waktu atau uang bulanan dari dana beasiswa atau hibah pemerintah Norwegia. Meskipun, masih dinilai kurang relevan karena gol au pair dan mahasiswa asing tentu saja berbeda. Au pair komitmen utamanya adalah sebagai pengasuh anak dan asisten rumah tangga, sementara pelajar punya komitmen yang besar terhadap studi. Tapi intinya, uang saku au pair sudah didesain sedemikian rupa mengikuti kisaran rata-rata uang saku anak sekolahan di Eropa.

Karena mungkin kurang apple to apple, kali ini saya coba beri gambaran berapa besar sebetulnya gaji seorang nanny atau cleaning lady lepas di Norwegia. Anyway, meskipun saya beri contoh Norwegia, namun gambaran kasar ini bisa juga diterapkan di hampir semua negara Eropa. Dari sini kalian bisa compare sendiri apakah uang saku yang sudah ditakar oleh imigrasi negara setempat cukup adil atau belum.

Sebelumnya, saya ingin jelaskan dulu bahwa babysitter, nanny, atau cleaning lady adalah jenis pekerjaan low-skilled di Norwegia yang artinya tidak perlu skill khusus. Selain cleaning lady, dua pekerjaan lainnya hanya bersifat freelance alias kita sendiri yang mencari employer dan menentukan sendiri kapan ingin bekerja. Sementara untuk jadi cleaning lady, kita bisa daftar lewat agensi atau memilih bekerja sendiri. Kerja di agensi tentunya punya pemasukan lebih besar, minimal NOK 180-190 per jam, tapi dalam sehari setidaknya bisa kerja di dua tempat berbeda maksimal selama 8 jam.

This is My Final Au Pair Year!!

Tuesday, 17 December 2019



It is soooo close to an end!!!!

Ngomong-ngomong, saat menulis tulisan ini, saya masih ada di Zermatt, Swiss, dalam rangka 'business trip'. Host family saya memutuskan pindah ke tempat impian di Pegunungan Alpen, untuk bermukim dan meneruskan hidup dengan meninggalkan semua kehidupan sosial mereka di Norwegia. Pegunungan Alpen yang membentang di Swiss tentu saja jadi pilihan utama karena Zermatt adalah tempat spesial yang selalu jadi area favorit ber-ski bagi orang-orang berduit. Tak heran juga mengapa Swiss, karena negaranya sama-sama makmur dan semahal Norwegia, namun dengan pajak penghasilan yang lebih rendah.

I am one of the luckiest au pairs yang bisa terbang dengan gratis ke tempat ini tanpa perlu merogoh kocek teramat dalam untuk menemukan the real winter wonderland di Eropa. Zermatt is AWESOME! Kanan kiri membentang pepohonan pinus berselimut salju, perumahan berkayu oak yang hampir semuanya adalah tempat penginapan, serta cuitan burung yang menambah tenangnya desa ini dengan tingkat polusi hampir zero! Zermatt bisa jadi adalah tempat terakhir yang saya singgahi dalam rangka "kunjungan kerja" sebagai au pair.

Menghitung Uang Saku Pelajar vs Au Pair di Norwegia

Sunday, 8 December 2019



Banyak orang awam yang mengutuki sistem kerja au pair karena dianggap abusive dan tak sesuai dengan ketentuan seharusnya. Dengan gaji NOK 5900 per bulan di Norwegia contohnya, au pair hanya terlihat sebagai praktek perbudakan semata yang berkedok pertukaran budaya. Belum lagi adanya budaya overworking, diperlakukan tak adil dan abusive oleh para host family. Tapi meskipun banyak cerita buruk berkembang di luaran, toh masih banyak saja anak-anak muda Indonesia yang ingin jadi au pair. Karena kebanyakan yang dicari memang bukan uang, tapi kesempatan tinggal, belajar, dan jalan-jalan.

Entah adil atau tidak menurut masyarakat awam, sebetulnya uang saku yang diterima oleh au pair di tiap negara itu sudah diatur sedemikian rupa mencocokkan uang saku pelajar setelah dipangkas kebutuhan primer lainnya. Saya sudah pernah bercerita sedikit soal uang saku au pair di sini. Silakan dipahami terlebih dahulu, lalu pikirkan kembali, apakah menurut kalian adil atau tidak. Semakin tinggi biaya hidup, semakin besar pula uang saku yang au pair tersebut dapatkan.

Sebagai seorang au pair yang juga merangkap mahasiswa S-2 di salah satu perguruan tinggi di Norwegia, kali ini saya ingin sharing lebih banyak soal uang saku yang seringkali jadi perdebatan ini. Saya contohkan saja perbandingannya dengan uang saku para pelajar asing yang bekerja paruh waktu di luar, sedang belajar menggunakan dana beasiswa, atau dapat hibah dan pinjaman pemerintah dari Lånekassen.