10 Alasan Kenapa Kamu Harus Jadi Au Pair di Usia 20-an

Thursday, 18 June 2015




Jauh dari rumah, keluarga dan teman dekat, bukanlah hal yang menyenangkan. Belum lagi tugas harian yang cukup menjenuhkan; bangun pagi menyiapkan sarapan, bersih-bersih rumah, hingga mesti menjaga anak orang di malam minggu. Tapi hey, bukankah jalan-jalan ke Eropa adalah impian banyak orang di dunia? Apa saja jalan mu menuju Eropa kalau bukan karena sekolah, bekerja, ikut keluarga, jalan-jalan, volunteering, dan...menjadi au pair?

Seperti penjelasan dari Wikipedia, au pair adalah asisten rumah tangga dari negara asing yang bekerja dan tinggal di rumah keluarga angkat. Normalnya, au pair berbagi tanggung jawab keluarga dengan menjaga anak-anak mereka, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan memperoleh uang saku setiap bulannya.

Salah satu syarat menjadi au pair sendiri adalah anak-anak muda berusia 18-30 tahun. Walaupun au pair adalah pekerjaan yang tidak cocok untuk semua orang, namun menjadi au pair adalah pengalaman yang harus kamu coba di usia 20-an mu.

1. Saat kita belum punya cukup uang travelling ke Eropa, au pair membuka jalan ke banyak tempat disana

Jiwa eksplorasi kita biasanya akan selalu mencari tempat petualangan selanjutnya saat masih muda. Selain Indonesia, impian kita menjelajah ke banyak negara demi melihat tanah Tuhan yang lain selalu menggebu-gebu. Namun dari Indonesia (dilihat dari peta mini pun), Eropa begitu jauhnya.

Belum lagi jumlah tabungan yang jauh dari kata cukup untuk membeli tiket, penginapan, dan belanja-belinji disana. Jika persoalan visa dan izin cuti kerja ditolak, hal tersebut juga membuat kita harus menunda dulu keinginan pergi melihat Menara Eiffel di Paris atau Sagrada Familia di Barcelona.

Saat kamu jadi au pair, travelling ke beberapa tempat di Eropa bukanlah hal yang jauh dari kata mustahil lagi. Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan soal visa dan izin cuti kerja, karena hal tersebut sudah menjadi bagian dari regulasi au pair. Visa jangka panjang au pair bisa digunakan untuk menjelajahi banyak negara Schengen yang berjumlah 26.

Kita juga tidak perlu takut izin cuti kerja tidak disetujui bos karena seorang au pair akan dapat jatah liburan 14-30 hari selama setahun. Belum lagi bonus libur Natal dan hari libur nasional lainnya. Jangan juga khawatir karena liburan ini pun uang saku tetap akan dibayar penuh oleh keluarga angkat.

Akhir pekan juga tidak melulu harus jalan ke mall, tapi bisa saja mengunjungi tempat seru di negara lain. Seperti Brussels ke Paris yang hanya bisa ditempuh selama 1 jam naik kereta cepat atau 4 jam naik bus. Atau bisa juga mengunjungi Reykjavik dari Oslo yang harga tiket sekali jalannya sekitar 700ribu dengan menggunakan low budget airlines.

Bayangkan kalau kita melihat Reykjavik yang begitu jauhnya dari Indonesia! Ongkos pesawat sekitar 700ribuan saja bahkan hanya cukup mengunjungi satu kota di Indonesia sekali jalan.

2. Saat merasa tidak cukup pintar meraih beasiswa di Eropa, au pair adalah pilihan lain belajar disana

Di usia produktif, semangat belajar dan rasa ingin tahu kita pasti lebih besar. Apalagi banyak lulusan S1 yang mempunyai keinginan bisa melanjutkan gelar masternya keluar negeri dengan jalan beasiswa. Namun persyaratan dan seleksi demi masuk kampus idaman pun tidak mudah. Selain kemampuan Bahasa Inggris dan IPK yang bagus, kita juga harus mampu berkompetisi dengan para kandidat lain yang juga sama bagus dan pintarnya.
 
Walaupun au pair tidak menjanjikan gelar di belakang nama, namun au pair juga membuat kita bisa belajar banyak hal dari negaranya langsung. Salah satu kewajiban utama au pair adalah belajar bahasa lokal yang bertujuan memudahkan komunikasi sehari-hari.

Selain kursus bahasa, kita juga bisa sekalian kursus dansa, masak masakan lokal, atau desain dari para masternya. Kebanyakan kursus resmi tersebut biasanya juga memberikan sertifikat selepas masa belajar yang berguna nantinya. Di luar sertifikat itu pun, sebenarnya kita sudah menambah bekal ilmu yang memang harus giat dicari di usia 20-an.

3. Au pair membuat kita berpikiran lebih terbuka terhadap perbedaan dan budaya baru 

Di Indonesia, makan tidak makan yang penting kumpul. Malam minggu pun biasanya kita habiskan bersama teman hanya sekedar ngobrol atau kongkow minum bandrek. Berbeda dengan budaya orang Barat yang saat kumpul-kumpul biasanya harus ditemani bir atau gin.


Kalau makan di luar kita cenderung memilih air putih atau jus jeruk sebagai minuman, mereka lebih senang memilih bir atau wine sebagai teman makan. Bagi mereka, minum alkohol memang lebih pas saat bersama teman. Mungkin maksudnya kalau sampai mabuk ada yang menggotong begitu ya? :p

Belum lagi saat di Indonesia kita merasa jijik mendapati pasangan bermesraan di tempat umum, namun di negara Barat kita akan lebih sering melihat pasangan muda bercumbu di tengah jalan. Perbedaan budaya seperti ini biasanya akan membuat kita culture shock di awal karena menemukan banyak hal diluar kebiasaan kita sehari-hari. Namun dengan seringnya travelling dan secepatnya beradaptasi dengan lingkungan baru, kita lebih memandang perbedaan tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperdebatkan. 

Kita justru lebih menghargai perbedaan yang ada dan cenderung lebih berpikiran terbuka belajar tentang budaya mereka. Jika di Indonesia kita lebih mengutamakan agama dan budaya sebagai tumpuan bertindak dan tingkah laku, masyarakat Barat tidak terlalu suka membicarakan soal agama yang membuat hidup mereka seperti terblok-blok. Masyarakat Eropa yang juga didominasi oleh atheis, biasanya lebih suka menyangkut pautkan banyak hal dengan sains dan kejadian yang bisa diterima oleh akal sehat.

Bukannya mereka salah, namun dari pandangan mereka yang kritis seperti itu, membuat kita bisa tahu lebih banyak hal tentang dunia ini dari sudut pandang yang berbeda. Pola pikir dan kebiasaan mereka yang sangat menghargai waktu luang juga membuat kita belajar bagaimana memanfaatkan akhir pekan bukan hanya untuk terus-terusan bekerja, namun lebih ke quality time bersama keluarga atau diri sendiri.

4. Menjadi seorang au pair memaksa kita harus menyantap makanan kontinental setiap hari 

Di Indonesia, nasi adalah makanan pokok yang harus dimakan minimal sehari sekali. Tidak makan nasi sekali, kita merasa "belum makan", "belum kenyang", bahkan "belum bergizi". Beda halnya saat di luar negeri, pola makan kita pun harus secepatnya beradaptasi dengan kebiasaan makan orang sana. Orang Barat menganut pola makan 2+1; dua kali makan roti, dan sekali makanan hangat. Kalau siangnya sudah makan makanan hangat (berat), malamnya mereka hanya minum kopi dan makan roti. Begitupun sebaliknya, kalau siang hanya makan sandwich, malamnya mereka akan makan besar.

Makanan hangat dan besar ini pun bukanlah nasi plus banyak lauk pauk seperti di Indonesia. Namun biasanya karbohidrat lain seperti pasta atau kentang. Sementara mereka hanya menyediakan satu macam sumber protein seperti daging atau ikan ditambah sayuran mentah sebagai salad. No sambal, no kerupuk.

Sewaktu di Indonesia kita merasa keren makan di restoran Barat dengan menu spaghetti atau steak, tapi banyak au pair yang tinggal di Eropa justru merindukan masakan Indonesia dengan cita rasa bumbunya yang khas. Jangan salah, makanan kontinental di Eropa tidaklah seenak olahan di Indonesia. Orang Barat cenderung tidak terlalu suka makanan terlalu asin, berminyak, berlemak, apalagi pedas. Makanan mereka lebih sering mentah, hambar, dan lebih segar.

Namun bukankah makanan seperti ini lebih cocok dimakan saat usia kita masih 20-an? Bukankah hidup sehat memang harus selalu dimulai dari muda? So, tidak ada lagi saling keren-kerenan makan di restoran Barat karena sejujurnya kita malah sering rindu masakan rumahan dan gerobakan ala Indonesia.

5. Bertemu teman dan orang-orang baru membuat jaringan pertemanan kita makin internasional

Saat menjadi au pair, jaringan pertemanan kita biasanya dimulai dari teman sebaya yang sama-sama menjadi au pair di negara tersebut. Setelah masuk kursus bahasa, kita juga biasanya akan berkenalan dengan banyak imigran yang umurnya berbeda-beda. Kebanyakan dari mereka belajar bahasa tersebut bertujuan untuk syarat melamar pekerjaan. Lewat mereka, kita biasanya banyak mendapatkan cerita seru tentang banyak hal yang tidak pernah didengar dari teman sebangsa.

Untuk mencari teman-teman sesama au pair, biasanya saya memanfaatkan Facebook. Kita bisa dengan mudah menemukan mereka di grup-grup au pair dan biasanya anggota grup tersebut juga mengadakan gathering sekedar untuk minum kopi atau jalan di akhir pekan. Para au pair yang kebanyakan 20-26 tahun ini punya semangat anak muda yang kronis, sehingga kita pun tidak akan pernah merasa bosan menikmati festival atau nongkrong seru bersama mereka.

Aplikasi sosial media seperti Meetup juga merupakan wadah asik untuk bertemu orang baru dengan hobi yang sama seperti kita. Selain bisa ketemuan dan mengobrol asik seputar minat, kita juga bisa belajar banyak hal dari gathering yang diadakan oleh para host grup. Saya yang tidak pernah tahu cara menghias cupcake, sampai akhirnya mendapatkan kesempatan belajar menghias cupcake dari seorang host.

Saat ada kesempatan, kita juga biasanya masih suka flirting ke bule. Aplikasi semacam Tinder yang begitu populer di Amerika, juga ikut populer di Eropa. Walaupun aplikasi ini menjadi salah satu dating purpose, tapi tak jarang yang diajak ketemuan juga sama-sama mencari teman, bukan pacar. Saya sudah bertemu beberapa cowok bule dengan hobi keren.

Suatu kali saya sempat diajak mengunjungi studio seninya demi sekedar "pamer" karya pahatnya. Karena saya juga suka seni, kunjungan ke studionya pun jadi pengalaman yang langka. Ada lagi seorang guru musik yang mau datang ke Laarne malam-malam hanya demi segelas air putih dan sebelum pulang pun masih mau dipaksa memainkan piano untuk saya.

Banyak hal seru dan tentunya cerita baru yang bisa kita dapatkan seandainya kita mau membuka diri bertemu dengan orang-orang ini. Karena siapa tahu lewat mereka, kita makin bisa melihat dunia dan berwawasan luas. Oh ya, tak jarang juga orang-orang tersebut bisa jadi teman baik bahkan ehemmm..pacar!

6. Kita semakin menyadari teman sebangsa sudah jadi keluarga dan tiada matinya ketika di negeri orang

Di usia 20-an biasanya semangat muda kita semakin berkobar demi menemukan jati diri dan teman sejati. Walaupun tidak menutup diri untuk bertemu teman-teman baru dari negara lain, namun ada kalanya juga kita muak harus bicara bahasa asing. Apalagi saat curhat soal pacar dan keluarga, biasanya pola pikir antara yang sebangsa dan yang bukan sebangsa sedikit berbeda.

Orang Barat lebih suka bicara apa adanya dan jujur, sementara orang Indonesia lebih mengedepankan suasana hati dan perasaan senasib. Terkadang saat curhat, kita tidak butuh saran melainkan rasa iba dan telinga saja untuk mendengarkan. Bukannya minta digurui, namun kita hanya ingin dibela.

Di satu waktu, kita juga merasa teman sebangsa sangat jarang ditemukan di negara tujuan. Perasaan rindu bergosip ria tanpa alkohol, ketawa keras-keras saat di kafe, ataupun selfie tanpa malu, maunya dilakukan dengan teman sebangsa. Kita juga merasa kalau jaringan pertemanan dengan teman sebangsa bukanlah sebuah gengsi. Justru teman sebangsa adalah keluarga saat di negeri orang, teman yang bisa diandalkan saat kita kesepian dan sakit.

Bukankah kita juga selalu rindu makanan Indonesia selama berada di luar negeri? Berkumpul bersama mereka membuat kita bisa berbagi peran di dapur saat ingin makan bakso atau nasi goreng. Tapi awas masuk zona nyaman! Karena keseringan berkumpul dengan teman sebangsa ini, banyak juga au pair yang jadi malas bertemu dengan teman baru dan akhirnya teman nongkrongnya hanya yang sebangsa saja.

7. Bekerja paruh waktu sebagai au pair membuat kita bisa menabung mata uang asing

Walaupun konsep au pair di beberapa negara sedikit berbeda; bisa bekerja atau pertukaran budaya, namun setiap au pair pasti mendapatkan uang saku setiap bulannya. Jumlah uang saku ini pun jumlahnya berbeda di tiap negara. Banyak juga anak muda yang mengandalkan au pair sebagai proses mencari uang, namun banyak juga yang memanfaatkan program ini sebagai proses belajar.

Di Eropa sendiri, uang saku yang diberikan kepada au pair berkisar antara €260 hingga €700 tergantung negara tujuan. Uang saku yang diberikan biasanya disetarakan dengan biaya hidup negara tersebut. Negara mahal seperti Swiss memberikan uang saku maksimum CHF800 (sekitar €760) kepada au pair yang tinggal di kanton tertentu. Berbeda halnya dengan Jerman yang memberikan uang saku minimal €260 karena biaya hidup di Jerman yang relatif lebih rendah.

Jika ingin dikonversikan ke rupiah, gaji seorang au pair di Swiss hampir sama dengan gaji seorang manajer di Indonesia. Kalau gaya hidup kita lebih mau sederhana dan sedikit bisa direm, kita pasti menabung uang saku yang diperoleh untuk dibawa ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia, selain bisa ditukar ke rupiah, kita juga bisa menyisihkannya untuk ditabung. Kalau tidak begini, kapan lagi kita bisa punya tabungan mata uang asing kan?

8. Au pair menuntut kita untuk lebih bersih dan bertanggung jawab

Sempat berpikir kalau jadi au pair cukup gampang mengingat tugas yang dilakukan hanya bersih-bersih rumah dan masak. Kita memang tidak perlu pegang sapu setiap hari, kita juga tidak perlu takut tangan kering karena keseringan bersentuhan dengan sabun cuci piring. Namun yakinlah, pekerjaan rumah tangga memang tidak akan pernah cocok untuk semua orang apalagi kalau ketemu host family yang agak cerewet dan perfeksionis, bisa jadi hasil kerja kita selalu kurang di mata mereka.

Kita yang tadinya di rumah bisa santai karena ada si Mbak yang mencucikan baju dan menyetrika, saat di rumah host family, justru pekerjaan itulah yang akan kita kerjakan sendiri. Bukan hanya baju kita seorang, tapi juga baju anggota host family! Masih enak kalau keluarga angkat kita punya cleaning lady yang datang seminggu sekali, karena setidaknya tugas mencuci dan menyetrika bisa berbagi dengannya.

Tapi sesungguhnya pekerjaan apapun memang dibutuhkan rasa tanggung jawab yang besar. Tinggal di rumah orang juga menyuruh kita untuk selalu merapihkan kamar dan menjaga kebersihan toilet. Hal ini bersifat positif karena kebanyakan anak muda di zaman sekarang justru sudah malas berkenalan dengan tugas rumah tangga seperti memasak dan bersih-bersih rumah. Padahal dengan melakukan hal seperti itu, kita juga akan terbiasa menjadi anak muda yang perhatian dengan kebersihan rumah dan perabotnya.

9. Tidak dimanjakan dengan kemudahan transportasi saat di Indonesia, kita diajarkan untuk menghargai waktu dan lebih sering berolahraga

Saya sempat mengutuki sistem transportasi di Belgia yang terlalu on time dan tiba-tiba sering mogok jalan karena sering demo. Hal ini cukup membuat saya mengutuki Belgia habis-habisan hingga merindukan kemudahan transportasi umum di Indonesia. Kita tadinya dimanjakan oleh kehadiran ojek yang bisa mengantar sampai depan rumah, angkot yang bisa stop dimanapun kita mau, ataupun kakak atau adik yang siap antar-jemput saat kita telepon, tapi sesampainya di Eropa harus lebih mandiri.

Transportasi dalam kota yang super tepat waktu kadang membuat kita harus lebih menghargai setiap detik yang berjalan. Belum lagi jarak halte bus yang kadang cukup jauh, memaksa kita mesti lari-larian agar sampai tepat waktu. Ketinggalan satu menit saja, harus menunggu satu jam berikutnya. 

Kejadian paling tragis adalah ketika ketinggalan bus terakhir hanya kurang 2 menit saja. Resikonya kita jadi harus menelpon keluarga angkat untuk direpotkan menjemput, atau bersedia jalan kaki dari stasiun ke rumah. Saya pernah 4 kali ketinggalan bus terakhir di Belgia, yang membuat saya harus berjalan kaki selama 3 jam saat hujan di musim dingin!

Jika memang temperatur cukup baik terhadap tubuh, sepeda adalah moda transportasi yang bisa digunakan saat bus bukanlah pilihan. Tapi menggunakan sepeda saat bersalju atau angin kencang juga bukanlah jalan terbaik. Kalaupun memang kepepet, bersikap tidak manja, selalu berpikiran positif, dan mencoba untuk menikmati tiap kayuhan sepeda demi mencapai tempat tujuan adalah hal yang bisa kita lakukan.

10. Karena keluarga angkat yang baik akan selalu bisa menghadiahi kita pengalaman baru dan seru

Keluarga angkat yang berani meng-hire au pair rata-rata adalah keluarga kaya yang biasanya hobi jalan-jalan saat liburan, ataupun punya kondomium pribadi di dekat pantai. Karena sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, kita pun biasanya akan diajak liburan bersama mereka. Liburannya pun tidak main-main, ada yang keluar negeri dengan jet pribadi, hingga berski ria di utaranya Finlandia yang kalau sendirian pun kita pasti malas kesana.

Meskipun beberapa keluarga angkat ada yang membawa au pair mereka hanya sebagai embel-embel untuk menjaga anak saat liburan, namun kesempatan liburan gratis ke banyak tempat adalah kesempatan yang oke. Beberapa teman au pair yang saya kenal juga memiliki pengalaman seru bersama keluarga angkat mereka. Ada yang setiap bulan selalu diajak keluarga angkatnya ke Amerika, ada juga yang sudah naik jet pribadi keluarga angkatnya hingga ke Spanyol, ada juga yang bisa skydiving gratis karena ayah angkatnya, atau pun au pair yang dihadiahi laptop saat Natal.

Memang kita tidak boleh terlalu berekspektasi tinggi dengan semua keluarga angkat. Walau mereka belum bisa menghadiahi kita liburan atau gadget terbaru, namun setidaknya penerimaan baik dari keluarga mereka cukup membuat masa au pair kita kaya akan pengalaman. Lagipula, bertahun-tahun duduk di meja kantoran belum tentu juga bisa mencicipi serunya membuat boneka salju di halaman belakang rumah saat salju.

Au pair memang tidak menjanjikan kita jenjang pendidikan atau pun jenjang kerja seperti pegawai kantoran. Namun kesempatan belajar, melihat dunia, dan bertemu orang-orang baru adalah hal yang seharusnya kita lakukan di usia 20-an.

Bagi saya pribadi, au pair bukan hanya tinggal dan bekerja di Eropa. Tapi juga kombinasi antara tinggal, belajar, bekerja, dan liburan. Justru saat di usia produktif seperti inilah harusnya kita mampu menggunakan masa muda dengan lebih bijak dan bermanfaat.


Pencarian Keluarga Angkat Au Pair Tahun Kedua

Tuesday, 2 June 2015




Empat bulan sebelum masa kontrak kerja di Belgia habis, saya memang 70% sudah yakin akan mencari keluarga baru di negara lain lagi. Setelah Belgia, saya sudah berniat sekali melanjutkan program au pair ke Prancis di tahun kedua. Bahkan saya juga sudah menghubungi keluarga di Indonesia untuk segera mengirimkan ijazah dan akte kelahiran ke Belgia karena rencananya saya tidak akan pulang dulu ke Indonesia.

Walaupun 70% sudah yakin akan jadi au pair lagi, namun sejujurnya saya belum yakin apakah akan langsung pindah dari Belgia, ataukah pulang dulu ke Indonesia lalu mengurus visa baru disana. Yang saya malas kalau pulang dulu ke Indonesia, tentunya proses mengurus visa yang agak bertele-tele karena mesti ke Jakarta dulu dari Palembang.

Berbeda halnya jika saya mengurus visa langsung dari Belgia yang jarak kota ke kotanya tidaklah terlalu jauh dan lama. Tinggal naik kereta dan metro yang hanya menghabiskan ongkos €15, saya sudah sampai di Brussels untuk mengantarkan aplikasi dan pulang di hari yang sama. Sementara dari Palembang, paling murah tentunya dengan naik bus ke Jakarta yang waktu di jalannya sangat panjang. Belum lagi mesti menginap karena saya juga akan mengurus beberapa berkas lagi di Jakarta. Wahh..makan waktu dan biaya.

Singkat cerita, setelah akhirnya mendengar saran dari teman, keluarga, dan kata hati, akhirnya saya memutuskan untuk tetap pulang ke Indonesia dulu baru lanjut au pairing lagi. Sambil menunggu waktu pulang, tentunya saya semakin gencar mencari keluarga angkat baru karena siapa tahu saya bisa langsung mengurus visa di Belgia saja jika memang sudah ada keluarga yang deal.  

Dan petualangan mencari keluarga baru (lagi) akhirnya dimulai....

Go go go French!

Sebelum memutuskan mencari keluarga ke Prancis, teman-teman au pair lainnya sempat menyarankan saya mencoba au pairing di Belanda. Berdasarkan pengalaman mereka yang pernah jadi au pair disana, Belanda lebih hidup dan seru dibandingkan Belgia. Orang-orangnya juga lebih bersahabat dan terbuka. Selain itu, tidak ada perbedaan bahasa karena walaupun punya aksen yang berbeda, namun level bahasa Belanda saya bisa naik kalau belajar lagi disana.

Namun karena sejak awal saya sudah terlalu sering mendengar cerita buruk soal keluarga angkat Belanda yang suka semena-mena dengan au pair Indonesia, saya akhirnya sama sekali tidak berminat kesana. Lagipula saya lebih cenderung ingin mempelajari bahasa Prancis ketimbang bahasa Belanda. Walaupun sudah terkenal orang Prancis banyak yang tidak bisa bahasa Inggris dan sangat sombong dengan bahasa mereka, namun karena saya juga suka seni dan desain, akhirnya semua terasa matching dan yakin Prancis sudah sepaket dengan hal yang saya suka.

Saya mengaktifkan kembali profil pencarian keluarga angkat di AuPair World, Aupairnet24, Great Aupair, dan Energy Au Pair. Oh ya, website terakhir sebenarnya adalah agensi sekitar negara Skandinavia saja. Namun saya tidak menutup kemungkinan untuk mencari keluarga angkat dari negara-negara tersebut.

Selain itu, saya juga menghubungi agensi au pair di Swiss untuk dicarikan keluarga angkat yang bicara bahasa Prancis ketimbang bahasa Jerman. Namun karena pemerintah Swiss sedang menekan angka au pair non-EU di banyak kanton, saya pasrah saja aplikasi permohonan saya ke Swiss ditunda dulu. Saya juga berupaya mengirimkan aplikasi au pair ke beberapa keluarga di Luksemburg yang juga menggunakan bahasa Perancis di rumah. Well, it's all about French!

Sekali lagi saya mengalami masa-masa krisis menemukan keluarga angkat yang sesuai dengan ekspektasi. Walaupun sudah beberapa kali mengirimkan aplikasi, tetap saja saya ujung-ujungnya digantung atau ditolak. Berpengalaman jadi au pair sebelumnya memang belum jadi jaminan apakah si keluarga mau menerima kita jadi au pair mereka atau tidak.

Namun memang, kalau kita sudah pernah jadi au pair di negara Eropa lainnya, aplikasi kita ke mereka cukup diperhitungkan. Apalagi di Prancis sendiri kebanyakan keluarga mau menerima au pair yang bukan hanya menguasai bahasa Prancis dasar (baca: bahasa bayi) saja, namun setidaknya mampu berkomunikasi dengan si anak dengan cukup baik. Tuh, proses cari keluarga hampir sama sulitnya dengan seleksi beasiswa studi keluar negeri atau melamar kerja yang oke kan? 

Setelah beberapa kali dapat email balasan dari keluarga, kita juga belum bisa senang karena mereka tetap akan mewawancarai kita terlebih dulu via Skype. Empat bulan proses pencarian, saya sudah 7 kali diwawancarai oleh para keluarga. Walaupun tidak seketat wawancara seleksi beasiswa atau panggilan kerja, namun tetap saja kadang ada keluarga yang menanyakan kesiapan kita soal tugas-tugas au pair nantinya. Seperti; apakah kita mampu mengatasi keributan anak-anak di rumah? Lalu, bagaimana sikap kita saat ada dua anak yang bertengkar, dua-duanya menangis minta perhatian, dan sama-sama ingin dibela? Waduh! Lalu bagaimana hasil wawancara Skype saya tersebut? Sayangnya semuanya ditolak!

Sebenarnya saya sudah mempunyai calon keluarga angkat yang lumayan cocok dan mereka juga menyatakan ketertarikannya dengan profil saya. Yang satu, orang Maroko (lagi!) yang tinggal di Denmark. Si ibu adalah guru bahasa Prancis dan kelihatannya sangat welcome di beberapa kali obrolan. Namun beberapa minggu kemudian si ibu mengirimkan saya email untuk membatalkan proses pencarian au pair karena mereka lebih memilih babysitter saja. Keluarga ini mengirimkan saya email melalui Great Aupair.

Sementara yang kedua adalah keluarga asli Perancis yang mengirimkan email ketertarikannya pada saya melalui Aupairnet24. Dari awal sampai akhir, si ibu yang namanya Sabrine ini hanya bicara bahasa Prancis sampai saya harus bolak-balik copy-paste omongannya ke Google Translate. Selain email, kita juga sempat SMSan beberapa kali sampai akhirnya si ibu langsung meminta dokumen saya seperti terjemahan ijazah dan akte kelahiran untuk segera dibuatkan surat keterangan au pair di Prancis.

Agak aneh juga karena saya tidak pernah melihat muka si ibu dan anaknya, hanya berdiskusi beberapa kali, si ibu langsung main terima saya begitu saja. Untungnya si ibu punya WhatsApp yang memajang fotonya saat naik mobil sport. Ternyata Sabrine adalah ibu muda yang sangat cantik dan French-looks sekali! Saya malah sudah sempat berpikir kalau keluarga ini palsu dan tidak jelas maunya apa.

Keluarga Prancis ini sebenarnya sudah cukup memenuhi ekspektasi saya; bersedia membayar asuransi, kursus bahasa Prancis, dan uang saku €400 per bulan. Padahal untuk tahun ini, uang saku au pair di Prancis paling tinggi hanya €315 per bulan. Karena saya sudah terlanjur membeli tiket pulang ke Indonesia, saya bertanya apakah si ibu bersedia juga menanggung ongkos pesawat dari Indonesia ke Perancis. Namun si ibu hanya bisa menanggung €150 dari semua total biaya pesawat. Walaupun sudah dibujuk dan dirayu tetap saja si ibu belum bisa menanggung semua biaya transportasi dari Indonesia ke Perancis.

Sebenarnya saat berdiskusi dengan keluarga ini, saya masih di Belgia dan memang sudah terlanjur membeli tiket pulang ke Indonesia. Saya sudah sempat berpikir untuk menunda jadwal kepulangan saya dan langsung berangkat ke Prancis saja. Namun karena saya membatalkan kiriman ijazah dan akte kelahiran asli dari Indonesia, akhirnya saya berpikir dua kali untuk membuat visa au pair di Belgia. Selain itu, saya juga belum mempunyai bukti bahwa saya PERNAH belajar bahasa Prancis.

Saat ini, pengurusan aplikasi visa au pair ke Prancis tidak lagi melalui Campus France di Jakarta. Si pemohon bisa langsung menyerahkan aplikasi visanya ke Kedutaan Prancis langsung. Selain itu, kalau dulu kita harus menyertakan sertifikat keahlian bahasa Prancis minimal level A2 sebagai syarat, sekarang sudah tidak perlu lagi. Walaupun kita belum memiliki sertifikat sampai level A2, namun kita tetap bisa menyerahkan bukti bahwa pernah belajar bahasa Prancis sebelumnya. Bukti tersebut bisa berupa daftar hadir di kelas (jika dulu pernah belajar bahasa Prancis di sekolah atau kuliah).

Sayangnya saya tidak memiliki bukti kuat kalau saya pernah hadir di kelas bahasa Prancis sebelumnya. Padahal hal ini sangat penting sebagai salah satu syarat pengajuan aplikasi visa. Selama ini saya hanya belajar bahasa Prancis otodidak atau belajar langsung dari keluarga Maroko di Londerzeel. Namun semenjak saya pindah ke Laarne, saya tidak bisa mengikuti kursus bahasa Prancis yang kebanyakan diadakan sore hari.

Di Laarne saya juga bicara bahasa Inggris setiap hari ketimbang bahasa Belandanya sendiri. Cukup menyesal juga tidak mengambil kursus bahasa Prancis super intensif di Ghent University yang biayanya saat itu €250. Mahal memang, namun demi ilmu, sebenarnya harga segitu masih cukup affordable bagi saya.

Walaupun ragu untuk tetap melanjutkan mencari keluarga di Prancis, tapi saya masih berdiskusi dengan beberapa keluarga Prancis lain selain Sabrine. Sayangnya beberapa dari mereka tidak mau menanggung biaya kursus atau pesawat, dan uang sakunya juga mengikuti batas maksimum dari regulasi. Karena yakin uang yang nanti saya bawa pulang ke Indonesia hanya cukup untuk bertahan hidup sebulan, pastinya saya mencari keluarga yang bersedia membiayai tiket pesawat. Setelah pertimbangan ini itu, akhirnya saya batalkan tawar-menawar dari keluarga Prancis tersebut. Saya juga akhirnya mencoret Prancis dari daftar pertama.

Always look for the chance everywhere!

Keinginan kuat tinggal sebagai au pair di Prancis sepertinya harus saya hilangkan dan fokus untuk pulang dulu ke Indonesia. Saya juga sudah mulai banyak berekspektasi mencari keluarga baru di negara Skandinavia seperti Denmark, Norwegia, dan Swedia lewat Energy Au Pair.

Sempat juga saya berdiskusi dengan satu keluarga yang cukup oke di Swedia, namun lagi-lagi regulasinya membuat saya mundur perlahan. Calon au pair yang sudah pernah menjadi au pair di negara lain sebelumnya, kemungkinan kesempatan dapat visa Swedia-nya kecil. Tahun kedua menjadi au pair di Swedia dianggap bukan lagi sebagai kesempatan pertukaran budaya dan belajar bahasa, namun lebih ke making money. Kabar terakhir yang saya dengar, permohonan visa au pair ke Swedia membutuhkan waktu yang sangat lama, dari 3 hingga 5 bulan.

Sejujurnya, saya juga sedikit skeptis dengan Denmark dan Norwegia. Bahkan Alin, teman au pair dari Bogor, juga sempat bercanda jangan pernah ke Denmark atau Norwegia sebagai au pair karena negara itu sudah jadi lapaknya orang Filipina. Memang benar, sekitar 70-80% au pair yang datang ke kedua negara tersebut memang berasal dari Filipina.

Sayangnya, para gadis Filipina ini sengaja datang ke Eropa bukan untuk belajar atau pertukaran budaya seperti konteks au pair sebenarnya. Mereka benar-benar datang untuk bekerja dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk dikirimkan ke keluarga di kampung halaman. Attitude gadis Filipina ini akhirnya membuat pola pikir keluarga di Denmark ikut berubah sejak tahun 60an. Mereka berpikir dengan mempekerjakan gadis-gadis dari Filipina, mereka bisa "untung" dengan membayar uang saku au pair sesuai regulasi, namun bisa tetap menyuruh mereka bekerja fleksibel hingga berjam-jam perhari.

Gadis Filipina yang kalem dan malas berkonfrontasi, mau saja dipekerjakan keluarga sampai 10 jam sehari. Mereka juga rela bekerja di hari libur demi mendapatkan uang lebih untuk dikirim walaupun hal itu ilegal. Hal inilah yang membuat kebanyakan au pair dari Filipina diperlakukan tidak baik karena menurut beberapa keluarga di Skandinavia, para gadis-gadis ini datang ke Eropa hanyalah untuk bekerja dan mengumpulkan uang.

Bahkan sempat juga ada cerita bahwa gadis-gadis ini sangat menjatuhkan diri mereka walau jadi tukang bersih-bersih asal dibayar lebih. Mereka juga bisa melakukan apa saja agar mendapatkan kesempatan tinggal yang lama di Eropa, salah satunya dengan cara menikahi lelaki WNA.

Cerita-cerita buruk soal au pair di Skandinavia ini sebenarnya sangat mengusik niat saya kesana. Sama halnya dengan cerita buruk au pair Indonesia di Belanda, pengalaman tidak mengenakkan yang dialami au pair di negara Skandinavia pun membuat saya down. Nyaris 95% profil keluarga angkat di Energy Au Pair memang mencari gadis-gadis Filipina yang sangat terkenal di negara mereka sebagai pekerja keras demi membantu perekonomian keluarga. Hal ini sebenarnya cukup memberikan implikasi yang sangat buruk bagi gadis Asia lainnya karena pola pikir keluarga Skandinavia yang menganggap gadis-gadis Asia semuanya memiliki attitude seperti gadis Filipina.

Tapi meskipun begitu, saya memilih beberapa keluarga angkat di Denmark atau Norwegia yang profilnya cukup oke untuk diajak diskusi. Berbeda dengan website lainnya, di Energy Au Pair kita bisa memilih keluarga angkat hanya dengan mengklik tombol "I'm interested" atau "I'm not interested" di profil mereka.

Jika kita tertarik pada profil mereka, secara otomatis Energy Au Pair akan mengirimkan profil kita ke keluarga tersebut. Kalau keluarga tersebut juga tertarik dengan kita, mereka akan menghubungi kita dan biasanya juga mengajak mengobrol via Skype. Setiap satu atau dua kali seminggu biasanya Energy Au Pair akan memberikan notifikasi lewat email kalau ada profil keluarga baru yang cocok dengan ekspektasi kita.

Sialnya, karena saya sudah sering menolak banyak keluarga angkat dalam kurun waktu 2 bulan terakhir, entah kenapa pihak Energy Au Pair tidak pernah lagi mengirimkan saya profil keluarga baru. Sudah ditunggu 3 minggu, tetap saja daftar keluarga baru di profil saya kosong. Sedikit patah semangat, iseng-iseng saya juga mencari keluarga baru di Belanda via AuPair World. Walaupun negara di Skandinavia dan Belanda sudah sama-sama punya reputasi buruk di mata saya, tetap saja ujung-ujungnya cari blessing in hatred. 

Dua minggu setelah pulang ke Indonesia, Alhamdulillah ada beberapa keluarga angkat di Belanda yang tertarik pada saya. Ada juga satu keluarga di Denmark yang mengirimkan saya email untuk wawancara Skype. Keluarga di Denmark ini adalah keluarga terakhir yang pernah saya "like" profil-nya lewat Energy Au Pair sebelum akhirnya tidak ada notifikasi keluarga baru lagi dari pihak agensi. Bisa dikatakan, mereka adalah keluarga harapan terakhir saya dalam proses pencarian lewat Energy Au Pair.

Ada juga satu keluarga di Belanda yang benar-benar sudah menyatakan rasa ketertarikannya pada saya. Karena saat itu saya sudah pulang ke Indonesia, mereka mengusulkan untuk berdiskusi via Skype saja. Padahal kalau saya masih di Belgia, datang ke Belanda untuk bertemu langsung dengan keluarga tersebut bukanlah hal yang sulit. Si ibu juga sangat positif, fast reply, dan sepertinya benar-benar tipikal easy going person. Si ibu ini keturunan Italia dan si bapak keturunan Namibia. Sejujurnya, sedikit narrow minded juga dengan si bapak yang keturunan kulit hitam. Tapi saya buang perasaan itu jauh-jauh dan mencoba berdiskusi dulu dengan si keluarga di Denmark.

Louise, si ibu Denmark yang saya ajak mengobrol saat itu mengatakan kalau ini adalah pengalaman pertama mereka punya au pair. Mereka punya satu anak cewek umur 4 tahun dan sekarang si ibu juga sedang mengandung anak kembar yang akan lahir awal bulan Juni ini. Kita juga membahas tentang tugas-tugas di rumah dan apa saja ekspektasi saya di tahun kedua. Louise sepertinya tipikal orang yang sangat berhati-hati dalam berdiskusi namun ekspresinya jelas sekali menunjukkan kalau ia cukup yakin dengan saya. Di hari berikutnya, Louise mengirimkan email tentang daftar tugas utama dan biaya-biaya yang bersedia mereka tanggung.

Di hari yang sama, satu keluarga lain dari Belanda juga mengirimkan email yang cukup oke untuk berdiskusi dengan saya. Si ibu ini keturunan asli Indonesia, namun tidak terlalu fasih bicara bahasa Indonesia. Si bapak keturunan asli Belanda dan mereka punya 3 orang anak cowok yang sangat aktif. Mereka juga sudah berpengalaman memiliki au pair sebelumnya dan cenderung mencari calon au pair baru yang bisa bahasa Belanda. Dari beberapa kali bertukar email, si ibu memang sangat terbuka dan bersahabat. Dia juga sebenarnya bisa sangat senang kalau punya au pair orang Indonesia yang cukup bisa bahasa Belanda, bisa sekalian ngerumpi katanya.

Sekian kalinya saya ditolak setelah wawancara via Skype, akhirnya ketiga keluarga di atas berhasil menemukan faktor X di profil saya yang membuat mereka sangat tertarik dan yakin. Lucunya saya malah mendapatkan banyak tawaran jadi au pair yang negaranya malah ingin dihindari. Kalau sudah begini, saya cenderung lebih mengikuti kata hati dan apa tujuan awal saya jadi au pair di tahun kedua.