Rasanya Jadi Mahasiswa Lagi

Wednesday, 23 October 2019


Seorang teman au pair yang saya kenal berpendapat bahwa saya cukup beruntung bisa lanjut kuliah lagi setelah au pair ini. Lebih tepatnya, beruntung urusan saya sekarang tak hanya soal pekerjaan rumah tangga setiap hari. Beruntung juga karena dinilai status saya sudah sama dengan para anak muda Indonesia yang sering datang ke luar negeri untuk sekolah. Tak perlu minder lagi kalau ditanya orang sedang di luar negeri, asumsinya.

Tapi, apakah jadi mahasiswa lagi memang seberuntung itu? Makanya kali ini saya akan cerita pengalaman rasanya bisa kuliah lagi di Norwegia setelah 5 tahun jadi au pair. Perlu dicatat juga bahwa pengalaman ini murni personal dan tidak sama bagi setiap orang. Karena sedang kuliah Master program studi Entrepreneurship di Universitas Oslo (UiO), maka isi konten tidak berlaku bagi semua jurusan dan kampus yang ada di Norwegia.

So, bagaimana rasanya jadi mahasiswa lagi?

Autumn Vibes di Norwegia

Thursday, 17 October 2019



Selepas kontrak dengan host family di Denmark, saya pikir 2017 adalah tahun terakhir merasakan musim gugur di Eropa. Namun ternyata saya salah, masih ada 4 tahun berikutnya lagi menikmati musim paling berwarna sepanjang tahun ini, karena saya memutuskan jadi au pair lagi dan lanjut kuliah di Norwegia. FYI, musim gugur adalah musim terfavorit saya dan ada beberapa alasan yang kamu juga harus menyukainya

Beberapa tahun terakhir ini musim panas di Eropa sedang tidak bersahabat alias abnormal. Norwegia contohnya, dari yang biasanya stabil di angka 25 derajat paling tinggi, bisa tembus hingga  28-31 derajat sampai satu minggu penuh. Di bagian Barat Eropa lebih sadis, berminggu-minggu di angka 33-40 derajat! Orang tua profesor saya yang asli orang Italia sampai hijrah dulu ke Norwegia istirahat dari panasnya musim panas di Barat.

Musim gugur bisa jadi dirindukan karena transisi dari panasnya musim panas sebelum berperang melawan salju di akhir tahun. But hey, it's autumn again in Norway! 

Cara Mencantumkan Pengalaman Au Pair di Resume Kerja

Friday, 11 October 2019



Tahun ini adalah tahun paling produktif untuk saya karena banyaknya langkah dan perubahan yang terjadi sampai penghujung 2019. Saya yang dari dulu sadar bahwa au pair bukanlah kesempatan abadi sebagai pengganti karir, tentu saja selalu mencari peluang baru yang lebih baik. Dari coba-coba ikut tes pramugari Emirates hingga mendaftar kuliah lagi.

I did write and update my CV a looot this year! Tidak hanya untuk mendaftar kerja dan kuliah, tapi resume kerja adalah cermin bagi saya untuk mengukur diri, how far I have stepped by now. Lima tahun jadi au pair bukanlah waktu yang sebentar. Saat teman-teman saya di Indonesia sudah menapaki karir yang stabil, saya di sini masih saja berkutat dengan popok bayi dan vacuum cleaner setiap hari. Di satu sisi, saya bersyukur bisa mendapatkan pengalaman priceless yang belum tentu semua teman saya dapatkan. Tapi di sisi lain, saya bingung, apa hal yang bisa dijual ke employer selama 5 tahun ini?! Dibandingkan dengan rata-rata orang-orang Eropa, I have no enough education and skills!

Setelah 2 tahunan ini mencoba selalu memperbarui CV, saya sadar sebetulnya pengalaman jadi au pair itu cukup menjual, lho! Bagi kalian yang sekarang jadi/akan jadi au pair, jangan malu mencantumkan pengalaman ini di resume kerja. Tapi, jangan juga sampai salah langkah karena bisa jadi poin minus bagi employer!

Apply 'Study Permit' Tanpa Uang Jaminan Penuh

Friday, 4 October 2019



Bagi yang belum tahu, saya sekarang sedang melanjutkan kuliah Master di Norwegia dengan biaya sendiri. Tidak seperti teman-teman pelajar lain yang mungkin baru akan mengajukan visa dan study permit Norwegia dari Indonesia, saya sudah duluan tinggal disini sebagai au pair dan minggu lalu mengajukan aplikasi untuk studi lewat kantor polisi di Oslo.

Tapi meskipun sudah tinggal disini, tapi syarat yang berlaku saat mengajukan study permit sama saja seperti mahasiswa internasional lainnya. Salah satu syarat kelengkapan dokumen yang paling berat bagi saya adalah menyertakan bukti finansial minimal sebesar NOK 121.200 (2019) ke UDI, pihak imigrasi Norwegia. Kalau dikonversi, besarnya sekitar Rp200 juta atau €12.120

Uang tersebut wajib ada di rekening bank Norwegia atas nama sendiri atau mesti didepositkan ke rekening kampus. Bagi yang tanya fungsi uang ini untuk apa, gunanya untuk menutupi biaya hidup kita selama 1 tahun di sini. Meskipun bebas uang kuliah, tapi biaya hidup di Norwegia sangat tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Makanya pemerintah Norwegia tidak ingin mahasiswa asing terlunta-lunta di negara mereka hanya karena tidak memiliki cukup uang selama studi di sini. Make sense?