Pencarian Keluarga Angkat Au Pair Tahun Kedua

Tuesday, 2 June 2015




Empat bulan sebelum masa kontrak kerja di Belgia habis, saya memang 70% sudah yakin akan mencari keluarga baru di negara lain lagi. Setelah Belgia, saya sudah berniat sekali melanjutkan program au pair ke Prancis di tahun kedua. Bahkan saya juga sudah menghubungi keluarga di Indonesia untuk segera mengirimkan ijazah dan akte kelahiran ke Belgia karena rencananya saya tidak akan pulang dulu ke Indonesia.

Walaupun 70% sudah yakin akan jadi au pair lagi, namun sejujurnya saya belum yakin apakah akan langsung pindah dari Belgia, ataukah pulang dulu ke Indonesia lalu mengurus visa baru disana. Yang saya malas kalau pulang dulu ke Indonesia, tentunya proses mengurus visa yang agak bertele-tele karena mesti ke Jakarta dulu dari Palembang.

Berbeda halnya jika saya mengurus visa langsung dari Belgia yang jarak kota ke kotanya tidaklah terlalu jauh dan lama. Tinggal naik kereta dan metro yang hanya menghabiskan ongkos €15, saya sudah sampai di Brussels untuk mengantarkan aplikasi dan pulang di hari yang sama. Sementara dari Palembang, paling murah tentunya dengan naik bus ke Jakarta yang waktu di jalannya sangat panjang. Belum lagi mesti menginap karena saya juga akan mengurus beberapa berkas lagi di Jakarta. Wahh..makan waktu dan biaya.

Singkat cerita, setelah akhirnya mendengar saran dari teman, keluarga, dan kata hati, akhirnya saya memutuskan untuk tetap pulang ke Indonesia dulu baru lanjut au pairing lagi. Sambil menunggu waktu pulang, tentunya saya semakin gencar mencari keluarga angkat baru karena siapa tahu saya bisa langsung mengurus visa di Belgia saja jika memang sudah ada keluarga yang deal.  

Dan petualangan mencari keluarga baru (lagi) akhirnya dimulai....

Go go go French!

Sebelum memutuskan mencari keluarga ke Prancis, teman-teman au pair lainnya sempat menyarankan saya mencoba au pairing di Belanda. Berdasarkan pengalaman mereka yang pernah jadi au pair disana, Belanda lebih hidup dan seru dibandingkan Belgia. Orang-orangnya juga lebih bersahabat dan terbuka. Selain itu, tidak ada perbedaan bahasa karena walaupun punya aksen yang berbeda, namun level bahasa Belanda saya bisa naik kalau belajar lagi disana.

Namun karena sejak awal saya sudah terlalu sering mendengar cerita buruk soal keluarga angkat Belanda yang suka semena-mena dengan au pair Indonesia, saya akhirnya sama sekali tidak berminat kesana. Lagipula saya lebih cenderung ingin mempelajari bahasa Prancis ketimbang bahasa Belanda. Walaupun sudah terkenal orang Prancis banyak yang tidak bisa bahasa Inggris dan sangat sombong dengan bahasa mereka, namun karena saya juga suka seni dan desain, akhirnya semua terasa matching dan yakin Prancis sudah sepaket dengan hal yang saya suka.

Saya mengaktifkan kembali profil pencarian keluarga angkat di AuPair World, Aupairnet24, Great Aupair, dan Energy Au Pair. Oh ya, website terakhir sebenarnya adalah agensi sekitar negara Skandinavia saja. Namun saya tidak menutup kemungkinan untuk mencari keluarga angkat dari negara-negara tersebut.

Selain itu, saya juga menghubungi agensi au pair di Swiss untuk dicarikan keluarga angkat yang bicara bahasa Prancis ketimbang bahasa Jerman. Namun karena pemerintah Swiss sedang menekan angka au pair non-EU di banyak kanton, saya pasrah saja aplikasi permohonan saya ke Swiss ditunda dulu. Saya juga berupaya mengirimkan aplikasi au pair ke beberapa keluarga di Luksemburg yang juga menggunakan bahasa Perancis di rumah. Well, it's all about French!

Sekali lagi saya mengalami masa-masa krisis menemukan keluarga angkat yang sesuai dengan ekspektasi. Walaupun sudah beberapa kali mengirimkan aplikasi, tetap saja saya ujung-ujungnya digantung atau ditolak. Berpengalaman jadi au pair sebelumnya memang belum jadi jaminan apakah si keluarga mau menerima kita jadi au pair mereka atau tidak.

Namun memang, kalau kita sudah pernah jadi au pair di negara Eropa lainnya, aplikasi kita ke mereka cukup diperhitungkan. Apalagi di Prancis sendiri kebanyakan keluarga mau menerima au pair yang bukan hanya menguasai bahasa Prancis dasar (baca: bahasa bayi) saja, namun setidaknya mampu berkomunikasi dengan si anak dengan cukup baik. Tuh, proses cari keluarga hampir sama sulitnya dengan seleksi beasiswa studi keluar negeri atau melamar kerja yang oke kan? 

Setelah beberapa kali dapat email balasan dari keluarga, kita juga belum bisa senang karena mereka tetap akan mewawancarai kita terlebih dulu via Skype. Empat bulan proses pencarian, saya sudah 7 kali diwawancarai oleh para keluarga. Walaupun tidak seketat wawancara seleksi beasiswa atau panggilan kerja, namun tetap saja kadang ada keluarga yang menanyakan kesiapan kita soal tugas-tugas au pair nantinya. Seperti; apakah kita mampu mengatasi keributan anak-anak di rumah? Lalu, bagaimana sikap kita saat ada dua anak yang bertengkar, dua-duanya menangis minta perhatian, dan sama-sama ingin dibela? Waduh! Lalu bagaimana hasil wawancara Skype saya tersebut? Sayangnya semuanya ditolak!

Sebenarnya saya sudah mempunyai calon keluarga angkat yang lumayan cocok dan mereka juga menyatakan ketertarikannya dengan profil saya. Yang satu, orang Maroko (lagi!) yang tinggal di Denmark. Si ibu adalah guru bahasa Prancis dan kelihatannya sangat welcome di beberapa kali obrolan. Namun beberapa minggu kemudian si ibu mengirimkan saya email untuk membatalkan proses pencarian au pair karena mereka lebih memilih babysitter saja. Keluarga ini mengirimkan saya email melalui Great Aupair.

Sementara yang kedua adalah keluarga asli Perancis yang mengirimkan email ketertarikannya pada saya melalui Aupairnet24. Dari awal sampai akhir, si ibu yang namanya Sabrine ini hanya bicara bahasa Prancis sampai saya harus bolak-balik copy-paste omongannya ke Google Translate. Selain email, kita juga sempat SMSan beberapa kali sampai akhirnya si ibu langsung meminta dokumen saya seperti terjemahan ijazah dan akte kelahiran untuk segera dibuatkan surat keterangan au pair di Prancis.

Agak aneh juga karena saya tidak pernah melihat muka si ibu dan anaknya, hanya berdiskusi beberapa kali, si ibu langsung main terima saya begitu saja. Untungnya si ibu punya WhatsApp yang memajang fotonya saat naik mobil sport. Ternyata Sabrine adalah ibu muda yang sangat cantik dan French-looks sekali! Saya malah sudah sempat berpikir kalau keluarga ini palsu dan tidak jelas maunya apa.

Keluarga Prancis ini sebenarnya sudah cukup memenuhi ekspektasi saya; bersedia membayar asuransi, kursus bahasa Prancis, dan uang saku €400 per bulan. Padahal untuk tahun ini, uang saku au pair di Prancis paling tinggi hanya €315 per bulan. Karena saya sudah terlanjur membeli tiket pulang ke Indonesia, saya bertanya apakah si ibu bersedia juga menanggung ongkos pesawat dari Indonesia ke Perancis. Namun si ibu hanya bisa menanggung €150 dari semua total biaya pesawat. Walaupun sudah dibujuk dan dirayu tetap saja si ibu belum bisa menanggung semua biaya transportasi dari Indonesia ke Perancis.

Sebenarnya saat berdiskusi dengan keluarga ini, saya masih di Belgia dan memang sudah terlanjur membeli tiket pulang ke Indonesia. Saya sudah sempat berpikir untuk menunda jadwal kepulangan saya dan langsung berangkat ke Prancis saja. Namun karena saya membatalkan kiriman ijazah dan akte kelahiran asli dari Indonesia, akhirnya saya berpikir dua kali untuk membuat visa au pair di Belgia. Selain itu, saya juga belum mempunyai bukti bahwa saya PERNAH belajar bahasa Prancis.

Saat ini, pengurusan aplikasi visa au pair ke Prancis tidak lagi melalui Campus France di Jakarta. Si pemohon bisa langsung menyerahkan aplikasi visanya ke Kedutaan Prancis langsung. Selain itu, kalau dulu kita harus menyertakan sertifikat keahlian bahasa Prancis minimal level A2 sebagai syarat, sekarang sudah tidak perlu lagi. Walaupun kita belum memiliki sertifikat sampai level A2, namun kita tetap bisa menyerahkan bukti bahwa pernah belajar bahasa Prancis sebelumnya. Bukti tersebut bisa berupa daftar hadir di kelas (jika dulu pernah belajar bahasa Prancis di sekolah atau kuliah).

Sayangnya saya tidak memiliki bukti kuat kalau saya pernah hadir di kelas bahasa Prancis sebelumnya. Padahal hal ini sangat penting sebagai salah satu syarat pengajuan aplikasi visa. Selama ini saya hanya belajar bahasa Prancis otodidak atau belajar langsung dari keluarga Maroko di Londerzeel. Namun semenjak saya pindah ke Laarne, saya tidak bisa mengikuti kursus bahasa Prancis yang kebanyakan diadakan sore hari.

Di Laarne saya juga bicara bahasa Inggris setiap hari ketimbang bahasa Belandanya sendiri. Cukup menyesal juga tidak mengambil kursus bahasa Prancis super intensif di Ghent University yang biayanya saat itu €250. Mahal memang, namun demi ilmu, sebenarnya harga segitu masih cukup affordable bagi saya.

Walaupun ragu untuk tetap melanjutkan mencari keluarga di Prancis, tapi saya masih berdiskusi dengan beberapa keluarga Prancis lain selain Sabrine. Sayangnya beberapa dari mereka tidak mau menanggung biaya kursus atau pesawat, dan uang sakunya juga mengikuti batas maksimum dari regulasi. Karena yakin uang yang nanti saya bawa pulang ke Indonesia hanya cukup untuk bertahan hidup sebulan, pastinya saya mencari keluarga yang bersedia membiayai tiket pesawat. Setelah pertimbangan ini itu, akhirnya saya batalkan tawar-menawar dari keluarga Prancis tersebut. Saya juga akhirnya mencoret Prancis dari daftar pertama.

Always look for the chance everywhere!

Keinginan kuat tinggal sebagai au pair di Prancis sepertinya harus saya hilangkan dan fokus untuk pulang dulu ke Indonesia. Saya juga sudah mulai banyak berekspektasi mencari keluarga baru di negara Skandinavia seperti Denmark, Norwegia, dan Swedia lewat Energy Au Pair.

Sempat juga saya berdiskusi dengan satu keluarga yang cukup oke di Swedia, namun lagi-lagi regulasinya membuat saya mundur perlahan. Calon au pair yang sudah pernah menjadi au pair di negara lain sebelumnya, kemungkinan kesempatan dapat visa Swedia-nya kecil. Tahun kedua menjadi au pair di Swedia dianggap bukan lagi sebagai kesempatan pertukaran budaya dan belajar bahasa, namun lebih ke making money. Kabar terakhir yang saya dengar, permohonan visa au pair ke Swedia membutuhkan waktu yang sangat lama, dari 3 hingga 5 bulan.

Sejujurnya, saya juga sedikit skeptis dengan Denmark dan Norwegia. Bahkan Alin, teman au pair dari Bogor, juga sempat bercanda jangan pernah ke Denmark atau Norwegia sebagai au pair karena negara itu sudah jadi lapaknya orang Filipina. Memang benar, sekitar 70-80% au pair yang datang ke kedua negara tersebut memang berasal dari Filipina.

Sayangnya, para gadis Filipina ini sengaja datang ke Eropa bukan untuk belajar atau pertukaran budaya seperti konteks au pair sebenarnya. Mereka benar-benar datang untuk bekerja dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk dikirimkan ke keluarga di kampung halaman. Attitude gadis Filipina ini akhirnya membuat pola pikir keluarga di Denmark ikut berubah sejak tahun 60an. Mereka berpikir dengan mempekerjakan gadis-gadis dari Filipina, mereka bisa "untung" dengan membayar uang saku au pair sesuai regulasi, namun bisa tetap menyuruh mereka bekerja fleksibel hingga berjam-jam perhari.

Gadis Filipina yang kalem dan malas berkonfrontasi, mau saja dipekerjakan keluarga sampai 10 jam sehari. Mereka juga rela bekerja di hari libur demi mendapatkan uang lebih untuk dikirim walaupun hal itu ilegal. Hal inilah yang membuat kebanyakan au pair dari Filipina diperlakukan tidak baik karena menurut beberapa keluarga di Skandinavia, para gadis-gadis ini datang ke Eropa hanyalah untuk bekerja dan mengumpulkan uang.

Bahkan sempat juga ada cerita bahwa gadis-gadis ini sangat menjatuhkan diri mereka walau jadi tukang bersih-bersih asal dibayar lebih. Mereka juga bisa melakukan apa saja agar mendapatkan kesempatan tinggal yang lama di Eropa, salah satunya dengan cara menikahi lelaki WNA.

Cerita-cerita buruk soal au pair di Skandinavia ini sebenarnya sangat mengusik niat saya kesana. Sama halnya dengan cerita buruk au pair Indonesia di Belanda, pengalaman tidak mengenakkan yang dialami au pair di negara Skandinavia pun membuat saya down. Nyaris 95% profil keluarga angkat di Energy Au Pair memang mencari gadis-gadis Filipina yang sangat terkenal di negara mereka sebagai pekerja keras demi membantu perekonomian keluarga. Hal ini sebenarnya cukup memberikan implikasi yang sangat buruk bagi gadis Asia lainnya karena pola pikir keluarga Skandinavia yang menganggap gadis-gadis Asia semuanya memiliki attitude seperti gadis Filipina.

Tapi meskipun begitu, saya memilih beberapa keluarga angkat di Denmark atau Norwegia yang profilnya cukup oke untuk diajak diskusi. Berbeda dengan website lainnya, di Energy Au Pair kita bisa memilih keluarga angkat hanya dengan mengklik tombol "I'm interested" atau "I'm not interested" di profil mereka.

Jika kita tertarik pada profil mereka, secara otomatis Energy Au Pair akan mengirimkan profil kita ke keluarga tersebut. Kalau keluarga tersebut juga tertarik dengan kita, mereka akan menghubungi kita dan biasanya juga mengajak mengobrol via Skype. Setiap satu atau dua kali seminggu biasanya Energy Au Pair akan memberikan notifikasi lewat email kalau ada profil keluarga baru yang cocok dengan ekspektasi kita.

Sialnya, karena saya sudah sering menolak banyak keluarga angkat dalam kurun waktu 2 bulan terakhir, entah kenapa pihak Energy Au Pair tidak pernah lagi mengirimkan saya profil keluarga baru. Sudah ditunggu 3 minggu, tetap saja daftar keluarga baru di profil saya kosong. Sedikit patah semangat, iseng-iseng saya juga mencari keluarga baru di Belanda via AuPair World. Walaupun negara di Skandinavia dan Belanda sudah sama-sama punya reputasi buruk di mata saya, tetap saja ujung-ujungnya cari blessing in hatred. 

Dua minggu setelah pulang ke Indonesia, Alhamdulillah ada beberapa keluarga angkat di Belanda yang tertarik pada saya. Ada juga satu keluarga di Denmark yang mengirimkan saya email untuk wawancara Skype. Keluarga di Denmark ini adalah keluarga terakhir yang pernah saya "like" profil-nya lewat Energy Au Pair sebelum akhirnya tidak ada notifikasi keluarga baru lagi dari pihak agensi. Bisa dikatakan, mereka adalah keluarga harapan terakhir saya dalam proses pencarian lewat Energy Au Pair.

Ada juga satu keluarga di Belanda yang benar-benar sudah menyatakan rasa ketertarikannya pada saya. Karena saat itu saya sudah pulang ke Indonesia, mereka mengusulkan untuk berdiskusi via Skype saja. Padahal kalau saya masih di Belgia, datang ke Belanda untuk bertemu langsung dengan keluarga tersebut bukanlah hal yang sulit. Si ibu juga sangat positif, fast reply, dan sepertinya benar-benar tipikal easy going person. Si ibu ini keturunan Italia dan si bapak keturunan Namibia. Sejujurnya, sedikit narrow minded juga dengan si bapak yang keturunan kulit hitam. Tapi saya buang perasaan itu jauh-jauh dan mencoba berdiskusi dulu dengan si keluarga di Denmark.

Louise, si ibu Denmark yang saya ajak mengobrol saat itu mengatakan kalau ini adalah pengalaman pertama mereka punya au pair. Mereka punya satu anak cewek umur 4 tahun dan sekarang si ibu juga sedang mengandung anak kembar yang akan lahir awal bulan Juni ini. Kita juga membahas tentang tugas-tugas di rumah dan apa saja ekspektasi saya di tahun kedua. Louise sepertinya tipikal orang yang sangat berhati-hati dalam berdiskusi namun ekspresinya jelas sekali menunjukkan kalau ia cukup yakin dengan saya. Di hari berikutnya, Louise mengirimkan email tentang daftar tugas utama dan biaya-biaya yang bersedia mereka tanggung.

Di hari yang sama, satu keluarga lain dari Belanda juga mengirimkan email yang cukup oke untuk berdiskusi dengan saya. Si ibu ini keturunan asli Indonesia, namun tidak terlalu fasih bicara bahasa Indonesia. Si bapak keturunan asli Belanda dan mereka punya 3 orang anak cowok yang sangat aktif. Mereka juga sudah berpengalaman memiliki au pair sebelumnya dan cenderung mencari calon au pair baru yang bisa bahasa Belanda. Dari beberapa kali bertukar email, si ibu memang sangat terbuka dan bersahabat. Dia juga sebenarnya bisa sangat senang kalau punya au pair orang Indonesia yang cukup bisa bahasa Belanda, bisa sekalian ngerumpi katanya.

Sekian kalinya saya ditolak setelah wawancara via Skype, akhirnya ketiga keluarga di atas berhasil menemukan faktor X di profil saya yang membuat mereka sangat tertarik dan yakin. Lucunya saya malah mendapatkan banyak tawaran jadi au pair yang negaranya malah ingin dihindari. Kalau sudah begini, saya cenderung lebih mengikuti kata hati dan apa tujuan awal saya jadi au pair di tahun kedua.


6 comments:

  1. Haloo mbak, saya tertarik dengan program AU PAIR ini, boleh minta alamat email/whatsapp nya? saya mau nanya nanya :)

    ReplyDelete
  2. Hi, aku suka sekali tulisanmu. kalo boleh sharing aku mau tnya2 sdkit tntang pengalaman jd au pair dan syaratnya apa saja? kebetulan aku pertengahan tahun ini akan ke Lux.
    Boleh tau alamat emailnya apa? biar aku bisa leluasa sharing diemail saja.
    Cheers,
    Alfie.

    ReplyDelete
  3. Haii makasih yaa udah berbagi pengalaman aupairnya, aku juga pingin banget nih dapet keluarga asuh di prancis, masih berjuang nyari famille d'accueil wkwkwk belum dapet kabar baik diterima.. semoga bisa nyusul seperti kamu yaa:) aamiiinnn

    kalau boleh, pingin tau dong keluarga kamu di sana mungkin kontaknya, apakah mereka masih nyari aupair atau engga sekarang? hehehe

    ini kontak aku yunisaw@gmail.com
    makasih yaaa!:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Wini,
      Sukses ya pencariannya! Semoga bisa secepetnya ketemu hf dan nyusul ke Eropa. Aku udah lama gak kontakan sama hf lama karena udah 4 tahun yang lalu ;>

      Delete
  4. Halo kak, boleh minta emailnya ga? Mau nanya2 nih

    ReplyDelete
  5. kak boleh minta email atau whatsappnya ga? pengen tanya" kak.
    kebetulan aku jg lg coba jd au pair tp selalu dpt penolakan huhu

    ReplyDelete