Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2023

Derita Jajan di Norwegia: Banyak Restoran Zonk!

Mungkin banyak yang belum cerita, tapi salah satu duka tinggal di Norwegia adalah sulitnya menemukan tempat makan yang kualitas dan standarnya sebanding dengan kantong. Meski sudah terucap berulang kali lewat Instagram pribadi, namun kali ini saya ingin berbagi lagi derita jajan di utara Eropa yang standar makanannya sukar cocok dengan lidah. Tapi kali ini mari fokus ke Norwegia, salah satu negara terindah yang dicanang banyak orang sebagai one of the perfect places to live in.  Penafian: saya bukanlah seorang  gastronom  atau  connoisseur , tapi hanya  seasonal foodie  yang kebetulan punya kesempatan mencicipi  gourmet  hingga  street food  di beberapa negara saat  travelling . Selain hobi nonton acara masak-masak, saya juga sedikit tahu tentang beberapa olahan dan teknik masak dari keluarga  –  meskipun saya sendiri kurang pandai mengaplikasikannya di dapur. Masalah rasa pun sangat subjektif dan cerita yang ada di sini murni opini pribadi hasil dari kegelisahan seorang pendatang terh

Luar Negeri Itu Bukan Kemauan, Tapi Kesempatan

Another day, another story. Seorang kenalan dekat, sebut saja D, yang sudah memegang kontrak kerja dari sebuah grup hotel besar di Kanada mendadak membatalkan rencana dan tak jadi berangkat. Entah apa penyebabnya, namun kabar tersebut cukup membuat saya tercengang. D yang saya tahu, tak hanya sekali ini saja beruntung mendapatkan kesempatan kerja ke luar negeri. Dari awal lulus sekolah, D sudah diterima bekerja di sebuah hotel besar di Palembang. Setelahnya, dikabarkan D mendapatkan tawaran di Qatar dan hanya bertahan 6 bulan. Dari Qatar, eksplorasinya berlanjut ke Australia sebelum akhirnya berlabuh di Bali. Dari Bali inilah, D mendapatkan informasi pekerjaan di Kanada dan berhasil lolos di semua tahap wawancara. Sayang, sudah keliling kerja di berbagai belahan dunia, D tak jadi mengurus visa Kanada dan dikabarkan akan kembali lagi ke Palembang karena ditawari posisi baru. Fiuuhh.. Sebuah unfair advantage yang sungguh nyata! Sampai sini, apa yang terlintas di benak kalian? D tak tah

6 Alasan Tak Pulang Juga ke Indonesia

Awal tahun depan genap sudah saya 10 tahun tinggal di Eropa, tepatnya mondar-mandir di 3 negara. Harusnya sudah bisa ganti kewarganegaraan atau jadi penduduk tetap kalau saya fokus membangun nasib di satu tempat. Tapi karena izin tinggal juga "kontrakan" alias masih tak tentu, maka sampai sekarang nasib saya belum stabil di tanah orang. Namun siapa sangka sudah selama itu, padahal yang paling teringat baru 2 tahun lalu saya lulus kuliah . Yang terasa kalau baru lulus, masih fresh from the oven . Pengalaman masih seusia jagung. Baru lahir, baru berkembang, baru ketemu dunia sesungguhnya. Yang harusnya dari kecil asa saya cuma ingin lanjut kuliah di luar negeri, jadi punya kesempatan tinggal selama ini. Satu dekade bukan waktu yang sebentar menghabiskan usia 20-an di negara orang. Apa tak ada niat untuk pulang? Oh, jelas saja, ADA! Sering malah. Yang menyuruh saya pulang juga banyak. Tapi, kenapa masih di sini? 1. Ketagihan au pair Belgia, 2014. Membuka kembali album foto saat

Stop Menyuruh Orang ke Luar Negeri!

Dari media sosial, kita jadi tahu sekarang banyak sekali orang Indonesia yang berdomisili di luar negeri. Entah karena ikut pasangan, sekolah, bekerja, ataupun program lain semisal au pair . Informasi semakin masif dan sudah banyak celah mewujudkan mimpi ke berbagai negara di dunia. Apalagi tak jarang juga para diaspora ini menceritakan pengalamannya lewat sebuah tulisan ataupun video untuk dikonsumsi banyak orang. Ada informasi cari kerja di luar negeri, cari jodoh via online dating , cara ampuh memperebutkan beasiswa bergengsi, hingga flexing enaknya hidup di tanah orang. Semua konten bisa ditemukan dengan mudah dan selalu disambut baik oleh para audience yang memiliki cita-cita serupa; hijrah ke negara orang. Kalau sudah begini, lambat laun keinginan untuk pindah ke luar negeri dan ganti kewarganegaraan berubah jadi  new modern lifestyle . Siapa yang tidak ingin pindah ke luar negeri, ganti paspor, lalu bisa jalan-jalan keliling dunia dengan mudah?! - kata si A. Kayaknya kalau dit

Status Terakhir: Penutupan Program Au Pair di Norwegia

Sudah hampir dua tahun lalu saya menulis postingan tentang upaya pemerintah Norwegia menutup program au pair , tapi sampai sekarang belum ada keputusan pasti apakah rencana tersebut akan jadi kenyataan. Isunya, musim gugur tahun lalu adalah akhir program au pair. Tapi karena dari tahun kemarin isu penerapan biaya kuliah sangat masif dan menarik lebih banyak minat internasional, kabar au pair pun perlahan tenggelam. Hingga akhirnya, thanks to Peggy Hessen FĂžlsvik , kepala serikat pekerja Norwegia, yang awal tahun tadi mendesak pemerintah untuk kembali tegas menutup program au pair sesegera mungkin. Karena memang sudah jadi agenda awal sejak dilantiknya pemerintahan yang baru, maka dari 3 bulan lalu pengadilan secara umum membuka kolom untuk kritik, saran, serta solusi bagi siapapun yang ingin suaranya berpengaruh di persidangan. Meski tak ikut menyumbang suara, tapi saya giat mengikuti perkembangan terkini serta membaca satu per satu surat yang masuk. Tentu saja, setiap usulan akan meni