Rencana Eks-Au Pair Setelah Au Pairing

Saturday, 23 May 2015




Satu atau dua tahun bukanlah waktu yang lama jika masa au pairing mu sangat menyenangkan. Terlebih lagi biasanya beberapa bulan sebelum kepulangan ke Indonesia, kita sudah punya banyak teman akrab atau someone special yang rasanya sedih sekali untuk ditinggal. Tapi tiket pulang sudah di tangan dan waktu kepulangan ke Indonesia tinggal sebentar lagi.

Lalu apa yang akan dilakukan eks-au pair ini setelah masa au pairing mereka di Eropa? Beberapa teman au pair biasanya sudah memiliki beberapa rencana yang akan mereka lakukan selepas belajar dan bertukar budaya selama setahun disana.

1. Kembali ke Indonesia dan melanjutkan kuliah yang tertunda

Beberapa eks-au pair yang tujuannya mendalami bahasa asing, biasanya sengaja stop out dulu dari kuliah demi jadi au pair. Selepas masa au pair mereka selama satu tahun di Eropa, tentunya sudah berbekal pengalaman dan juga kemampuan bahasa asing yang lebih baik. Hal ini pastinya akan dilakukan para eks-au pair yang masih berstatus mahasiswa.

2. Kembali ke Indonesia dan mencari pekerjaan di tanah air

Au pair merupakan salah satu kesempatan yang luar biasa menyenangkan karena bisa tinggal di luar negeri dan bertukar budaya dengan keluarga angkat. Pengalaman berharga yang dirasakan akan terus membuka pikiran kita untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Namun cukup untuk satu atau dua tahun menjadi au pair, beberapa eks-au pair memutuskan untuk mencari pekerjaan di Indonesia saja. Berbekal bahasa asing selain bahasa Inggris, skill ini dapat mereka 'jual' ke perusahaan atau masyarakat nantinya. Banyak juga eks-au pair yang bahkan menjadi guru les bahasa asing atau membuka usaha bisnis sendiri bermodalkan tabungan sewaktu menjadi au pair.

3. Kembali ke Indonesia dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi

Saya banyak bertemu dengan teman-teman au pair yang mulai mendapatkan residence atau work permit pertama mereka tepat setelah lulus sekolah menengah. Ada juga teman au pair yang sudah sempat bekerja di Indonesia, namun belum menyandang gelar sarjana. Semangat teman-teman eks-au pair ini untuk sekolah lagi patut diacungi jempol karena biasanya mereka akan menabung selama di Eropa untuk bekal melanjutkan S1 atau S2 di Indonesia.

4. Kembali ke Indonesia untuk mengurus berkas-berkas sekolah di luar negeri

Beberapa teman saya yang dulunya juga pernah jadi au pair di Belanda, memang sengaja jadi au pair lagi di Belgia untuk sekolah disana. Ada juga eks-au pair yang pindah negara dari Jerman ke Austria karena memang berkeinginan melanjutkan kuliah di salah satu negara tersebut setelah masa au pair mereka. Hal ini biasanya akan direncanakan oleh beberapa eks-au pair yang sudah pernah jadi au pair lebih dari satu kali.

Sekilas info, biaya kuliah S1 di KU Leuven (Belgia) untuk kelas bahasa Belanda hanya €800-1900 pertahun. Sementara untuk universitas lain di Belgia biayanya ada yang lebih mahal. Teman saya yang akan melanjutkan sekolah di Belgia tahun ini, memang juga mengatakan kalau dibandingkan Belanda, biaya kuliah di Belgia jauh lebih murah. Karena kelas bahasa lokal biaya kuliahnya memang lebih murah, kemampuan bahasa Belanda level B2 (upper-intermediate) harus sudah dikuasai. Seorang teman yang baru tahun kemarin jadi au pair, akhirnya masuk kelas bahasa Belanda intensif agar cepat naik level. Sementara untuk kelas pengantar bahasa Inggris sendiri harganya bisa €3500 pertahun.

Sama halnya juga dengan biaya kuliah di Jerman yang terkenal murah se-Eropa Barat. Teman saya ini sengaja mati-matian belajar bahasa Jerman agar bisa melanjutkan studi S2-nya disana. Namun semua teman eks-au pair ini memang bukan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya. Mereka harus membayar sendiri semua biaya selama mereka berada disana. Salah satu syarat merepotkan bagi siswa internasional yaitu mereka harus memiliki jaminan sekitar €8600 pertahun yang akan diendapkan sebagai deposit. Deposit ini untuk memastikan bahwa mereka bisa tinggal, menyewa kamar, dan makan selama masa studi mereka.

Uang deposit ini bisa dihilangkan dari salah satu syarat mendaftar kalau ada sponsor yang bersedia menjamin kita selama disana. Seorang eks-au pair pernah mendapatkan sponsor dari keluarga angkatnya di Denmark untuk melanjutkan studi S2-nya. Teman-teman saya lainnya juga pernah mencoba 'merayu' keluarga angkat mereka untuk memberikan surat sponsor ini. Namun sayangnya hal tersebut tidak mudah karena sangat sedikit sekali keluarga yang mau direpotkan soal surat jaminan ini.

4. Kembali ke Indonesia dan mengurus visa baru ke negara lain

Saya pernah bertemu dengan dua orang au pair asal Filipina yang ternyata ini adalah tahun keempat mereka menjadi au pair. Sebelumnya mereka pernah menjadi pengasuh anak di Belanda selama setahun, dua tahun berikutnya di Denmark, lalu tahun ini di Belgia. Bahkan mereka juga berkeinginan jadi au pair lagi di Norwegia, Perancis, bahkan Amerika nantinya!

Lalu apa yang benar-benar mereka cari selama proses au pairing ini sendiri? Kenapa begitu seringnya berpindah-pindah tempat demi jadi au pair? Bukankah itu sama saja 'merendahkan' konteks au pair itu sendiri ya?

Namun berbeda dengan para TKW dari Indonesia yang kebanyakan sekolah menengah, biasanya au pair dari Filipina ini justru lulusan S1 bahkan S2 lho! Intinya mereka adalah orang-orang yang well educated. Lalu apa motivasi mereka datang jauh-jauh ke Eropa hanya jadi tukang bersih-bersih? Yang saya tahu, mereka sangat sadar negara mereka masih berkembang dan kesempatan bekerja dengan gaji yang layak sangatlah terbatas. Untuk itulah mereka datang ke negara-negara maju untuk mengubah nasib, walaupun itu hanya sebagai tukang bersih-bersih atau pengasuh anak. Dilihat dari sini, tentu saja alasan mereka adalah uang.

Bukannya ingin menjelek-jelekkan salah satu bangsa, namun faktanya orang Filipina yang jadi au pair memang merupakan orang yang sangat giat bekerja. Dibandingkan orang Indonesia yang lebih suka menghabiskan days off berkumpul bersama teman atau belanja-belanja cantik di chain stores, para au pair Filipina biasanya tetap bekerja di tempat lain saat hari libur walaupun sudah tahu hal itu ilegal. Oh ya, para au pair ini pun hampir sama dengan orang Indonesia yang akan mengirimkan uang hasil kerja keras mereka ke kampung halaman. Walau sudah melanggar konteks au pair sebenarnya, namun au pair yang pindah-pindah negara ini tujuannya memang untuk membantu perekonomian keluarga di rumah.

Lalu bagaimana dengan au pair dari Indonesia sendiri? Seperti yang saya jelaskan di atas, au pair dari Indonesia yang memutuskan untuk jadi au pair lagi biasanya memiliki keinginan untuk mendalami bahasa asing demi meneruskan studinya di negara tersebut. Atau bisa jadi memang salah satu tujuannya adalah making money dan belajar. Kehadiran someone special juga bisa jadi salah satu faktor mengapa setahun dirasa belum cukup sehingga tetap harus kembali mengejar cinta. Hasseekkk..

5. Memperbarui visa living together

Tanpa pulang ke Indonesia, biasanya eks-au pair akan mengupayakan memperbarui visa ini di negara au pairing mereka. Mereka yang akan mengupayakan mendapatkan visa living together biasanya dibarengi dengan hadirnya seorang pacar berkewarganegaraan negara tersebut. Saya mengenal dua orang eks-au pair yang berhasil mendapatkan visa living together sehingga bisa tinggal lebih lama di Eropa. Tentunya syarat utamanya adalah kalian punya pacar berkebangsaan negara tersebut, sudah kenal cukup lama (minimal 2 tahun), dan tentunya berkeinginan tinggal bersama di satu atap tanpa ikatan pernikahan (visa yang diperbarui akan berbeda jika tujuannya menikah). Mendapatkan visa ini juga tidak mudah, karena seorang teman asli Belgia pernah mengaku kalau permohonan visa si pacar sempat ditolak.

Itulah rencana-rencana yang biasanya eks-au pair akan lakukan selepas masa au pairing mereka. Walaupun kampung halaman menyimpan sejuta kenangan dan lapangan pekerjaan, keinginan untuk sekolah atau menetap luar negeri merupakan salah satu keinginan terbesar eks-au pair setelah berhasil menginjakkan kaki di Eropa. Masalah di Indonesia yang cukup pelik, moda transportasi yang belum semaju negara-negara di Eropa, bahkan bagusnya kurikulum perkuliahan di Eropa merupakan salah satu alasan-alasan klasik mengapa biasanya eks-au pair belum bisa meninggalkan benua biru ini.

Namun banyak juga eks-au pair yang cukup yakin dengan tanah air sehingga lebih memilih pulang dan berkarya di Indonesia. Pengalaman berharga selama di Eropa tentunya akan menjadi salah satu pelajaran terbaik yang dapat mengembangkan potensi serta memperkuat mental mereka untuk terjun di masyarakat.


1 comment:

  1. Bagus banget artikelnya mbak. Jadi terinspirasi untuk menjadi Au Pair setelah lulus kuliah nanti untuk menambah pengalaman dan wawasan tentang negara-negara di Eropa

    ReplyDelete