Saatnya Au Pair Travelling!

Saturday, 23 May 2015




Dalam satu tahun, seorang au pair akan mendapatkan liburan yang masanya dari dua minggu hingga satu bulan tergantung regulasi negara atau tawar-menawar dengan keluarga angkat. Liburan ini sifatnya pribadi dan gaji kita tetap akan dibayar penuh walau mengambil masa 'cuti' hingga satu bulan. Masa-masa ini biasanya digunakan seorang au pair untuk travelling ke tempat baru di negara yang sama, ataupun hijrah ke luar negeri.

Biasanya dari Indonesia kita sudah punya beberapa tempat yang akan dikunjungi, alias dream places atau wishlist, kalau sudah sampai Eropa. Apalagi negara-negara Eropa begitu banyak jumlahnya untuk dikunjungi dan yang pasti setiap tempat memiliki kecantikannya sendiri. Beberapa au pair ada yang sengaja menyempatkan travelling di akhir pekan ke negara tetangga yang cukup dekat, lalu ke negara-negara yang agak jauh saat liburan panjang.

Sama seperti teman-teman au pair lainnya, saya juga sempat menuliskan beberapa tempat dan kota-kota rekomendasi yang sepertinya akan saya kunjungi saat di Eropa. Namun, karena keterbatasan waktu, uang, dan banyak rencana-rencana baru, akhirnya banyak kota yang harus saya coret dahulu. Di Belgia, masa liburan pribadi untuk au pair adalah 2 minggu dalam satu tahun. Sayangnya karena saya sempat pindah keluarga, akhirnya liburan ini baru bisa saya lakukan sebulan sebelum kepulangan saya ke Indonesia dan tentunya totalnya tidak lagi 14 hari.

Karena Belgia adalah sentralnya Eropa, jalan-jalan ke kota besar seperti Paris dan Amsterdam bisa dilakukan saat akhir pekan saja. Jarak Brussels-Paris tidak terlalu jauh dan hanya berkisar sekitar 4 atau 5 jam dengan naik bus, atau 1.5 jam dengan naik kereta cepat.

Sementara untuk Amsterdam sendiri, bisa dicapai dengan naik kereta cepat atau mobil yang hanya 2.5 jam saja. Kesempatan untuk travelling akan jauh lebih murah jika moda transportasi kesana kebetulan sedang mengadakan promo. Suatu kali, Megabus pernah mengadakan promo hanya €1 untuk jurusan Brussels-Paris (one way). Lumayan kan?

Setelah tawar-menawar dengan keluarga angkat yang baru, akhirnya sudah ditetapkan jatah liburan saya adalah 9 hari. Negara mana yang harus saya kunjungi selama 9 hari ini? Bagaimana keuangan saya saat itu? Mesti tinggal dimanakah saya? Bagaimana saya bisa kesana, naik transportasi darat atau udara kah?

Awalnya, saya ingin pergi travelling sendiri ke negara-negara lain. Namun karena teman dekat saya, Anggi, yang juga seorang au pair ingin ikut serta, saya justru sangat welcome. Karena ada dua orang disini, tentunya ada dua pendapat yang berbeda dalam memilih tempat liburan.

Semenjak dari Indonesia saya memang ingin sekali ke Turki demi menuntaskan salah satu daftar "what should I do before I die", yaitu naik balon udara di Cappadocia. Selain Turki, negara selanjutnya adalah Rusia atau Swiss. Namun Anggi ingin sekali ke negara mahal seperti Norwegia demi melihat Aurora Borealis yang memang cuma bisa dilihat saat winter. Kebetulan saat itu bulan Februari dan masih puncak musim dingin di Eropa.

Pertimbangan seperti ini biasanya memang akan mempengaruhi rencana travelling kita. Saya dan Anggi akhirnya bisa mengatasi masalah ini dengan beberapa cara. Cara berikut bisa kalian jadikan referensi untuk merencanakan liburan au pair kalian nantinya.

1. Pergi sendirian lebih bebas, namun pergi bersama teman justru lebih seru! 

Saya yakin, kebanyakan au pair akan memilih pergi liburan bersama teman au pair lainnya. Pergi untuk jangka waktu sehari hingga empat hari mungkin masih bisa kita atasi sendirian, namun kalau sudah dua minggu, saya rasa bepergian bersama teman malah lebih seru. Kita bisa saling gantian memotret atau bisa juga jadi partner of crime yang dapat diandalkan saat ragu dalam memilih keputusan. Tapi pastikan memilih teman jalan yang benar-benar bisa diandalkan, tidak suka borong belanjaan, dan yang pasti tidak suka mengeluh!

2. Pilih-pilih tempat tujuan lalu berdiskusilah dengan bijak bersama teman seperjalanan

Bagi yang berencana pergi sendiri dari hari pertama sampai hari terakhir, tidak akan ada masalah dalam memilih tempat tujuan karena biasanya mereka akan pergi berdasarkan apa yang sudah mereka tetapkan tanpa ada yang interupsi. Berbeda halnya dengan teman seperjalanan yang juga punya keinginan mengunjungi negara lain di Eropa.

Saya dan Anggi yang tadinya memiliki keinginan mengunjungi negara yang berbeda-beda tentunya sempat berdebat kecil. Saya tadinya tetap nekad ingin ke Turki, si Anggi juga bersikeras ke Norwegia. Saat RyanAir sedang promo (winter sale), akhirnya saya langsung memesan tiket pulang jurusan Athena-Brussels. Iya, hanya tiket pulang. Sementara untuk tiket perginya sendiri saya dan Anggi masih menunggu promo lainnya. Kenapa Athena, karena menurut saya negara ini sudah bertetangga dengan Turki dan tinggal mencari alternatif bagaimana rutenya nanti.

Sebenarnya saya dan Anggi berencana pergi ke tempat-tempat awal yang memang ingin kami kunjungi, lalu bertemu di Athena saja. Namun karena tiket dari Brussel ke Turki saat itu sudah melambung tinggi, saya batalkan dulu niat kesana. Sementara untuk Anggi sendiri, terhalang masalah dana karena biaya hidup di Norwegia yang sama tingginya. Padahal saat itu tiket one way dari Brussels ke Oslo Rygge hanya €22 saja.

Akhirnya, kita sama-sama membatalkan untuk pergi ke Turki dan Norwegia hingga memutuskan ke Italia. Berangkat dari Brussels ke Pisa-Florence-Roma, lalu Athena sebagai kota terakhir yang akan kami kunjungi. Memilih Italia ketimbang negara lainnya pun juga penuh pertimbangan. Kenapa harus Italia, kenapa bukan Spanyol atau Jerman? Kenapa tidak ke negara-negara Eropa lainnya yang lebih murah kalau memang terhambat dana?

Well, memilih negara yang akan dikunjungi dalam waktu 9 hari tentunya membuat saya cukup pusing. Apalagi awalnya saya sudah mengatur jadwal perjalanan ke Turki dengan sedemikian rupa. Namun akhirnya saya memilih ke Italia atas rekomendasi seorang teman. Lagipula menurut saya Italia dan Yunani itu memiliki keunikan sendiri.

Kali ini saya memang cenderung memilih tempat yang kalau di foto, sudah terkenal tanpa perlu orang menebak dimana saya berada. Sama halnya dengan Menara Eiffel yang semua orang pasti tahu ada di Paris tanpa perlu bertanya dulu ke saya. Lagipula saya menilai, Italia dan Yunani tidak "terlalu mainstream Eropa" yang artinya tiap tempat di negara tersebut tidak sama dengan negara-negara Eropa lainnya. Contohnya saja bangunan kuno di Italia seperti Menara Pisa, Vatikan, dan Colosseum, atau Acropolis dan pelabuhan cantik dengan rumah bersusun di Athena.

Intinya, saya memilih tempat dengan acuan "seandainya saya tidak akan kembali ke Eropa lagi". Nah itulah mengapa menurut saya Italia dan Yunani sudah mewakili Eropa sebenarnya. Lagipula waktu itu tiket paling murah dari Brussels di akhir pekan adalah ke Pisa. Lalu saya juga berasumsi, biaya akomodasi dan makan di kedua negara tersebut masih sehitungan dengan isi tabungan kami.

3. Faktor yang sangat krusial tentunya adalah masalah keuangan

Menentukan negara tujuan baiknya juga diawali dengan seberapa siapnya keuangan seorang au pair ke negara tersebut. Beberapa teman saya memilih mengunjungi ibukota negara-negara Eropa Timur seperti Budapest, Praha, atau Wina yang tidak hanya terkenal cantik namun juga biaya hidupnya yang murah. Biaya travelling kali ini, karena saya dan Anggi tidak punya uang tabungan khusus untuk jalan-jalan, jadinya kita terpaksa mengambil dari uang gaji bulan itu.

Untuk moda transportasi sendiri, kita lebih sering menggunakan pesawat terbang dan bus saat di dalam kota. Teman-teman saya yang mengunjungi Eropa Timur, memadukan pesawat terbang, Blablacar, hitchhiking, dan bus di dalam kota. Untuk pesawat terbang, kami sering mengecek website-nya maskapai low cost carrier seperti RyanAir atau EasyJet. Kedua maskapai tersebut biasanya akan memberikan promo sangat lumayan yang harganya lebih murah ketimbang bus dan kereta.

Sementara Blablacar, saya menggunakannya saat menempuh perjalanan dari Florence ke Roma. Mengingat harga tiket kereta yang sangat mahal di Italia, melalui Blablacar kami hanya membayar €15/orang dibandingkan kereta yang saat itu €54 sekali jalan.

Blablacar ini adalah sebuah aplikasi yang bisa di-download lewat Android atau iOS yang fungsinya sebagai wadah untuk sharing a ride. Karena mahalnya bensin dan biasanya si sopir hanya pergi sendirian ke suatu tempat, untuk itulah mereka menawarkan kursi-kursi kosong di mobil untuk ditawarkan ke orang yang akan pergi ke tempat yang sama.

Dengan aplikasi ini, kita bisa mengecek apakah ada pengendara yang akan pergi ke tempat yang akan kita kunjungi. Berbeda dengan hitchhiking yang konsepnya menumpang gratisan, pengendara mobil biasanya akan mengepos tarif Blablacar mereka berdasarkan waktu keberangkatan.

Blablacar bisa jadi alternatif transportasi darat yang bisa kita gunakan untuk menghemat biaya. Namun perlu juga diperhatikan, kadang menggunakan bus atau kereta justru lebih murah ketimbang naik Blablacar sendiri. Enaknya sih naik Blablacar yang pengendaranya muda, ganteng, mobilnya bagus, musiknya asik, penghangat atau AC-nya kenceng, ramah, dan senang mengobrol. Waahh serasa roadtrip dan flirting bareng kan ya? Hihihi.. :p

Selain transportasi, selanjutnya adalah akomodasi. Di Eropa Utara tentunya harga penginapan sangat mahal dibandingkan Eropa Timur. Teman saya menginap di salah satu hostel di Budapest dengan tarif hanya €7/malam sudah termasuk sarapan, teh atau kopi gratis, dan acara party bersama. Teman saya ini juga sempat couchsurfing di Praha untuk menghemat pengeluaran selama disana.

Berbeda dengan saya dan Anggi yang kurang nyaman tinggal di rumah orang, kami lebih memilih tinggal di hostel yang harganya masih lumayan di kantong dan tempatnya strategis. Kami tahu hostel-hostel di Italia memang masih mahal dibandingkan di Hungaria atau Republik Ceko, namun hostel yang kami tempati Alhamdulillah semuanya tidak mengecewakan dan sangat bersih. Apalagi hostel-hostel di Athena kebanyakan berdekatan dengan Acropolis yang saat malam hari bisa terlihat sangat cantik dari lantai atas.

Selanjutnya adalah soal makanan yang juga masuk hitungan kesiapan finansial saat travelling. Di Italia sendiri saya dan Anggi memang sangat tidak pelit untuk urusan perut. Bahkan kami tidak pernah berpikir dua kali untuk fine dining di tiap kota yang kami kunjungi. Makan malam terkeren kami adalah sewaktu di Athena, di salah satu restoran cantik di bukit Acropolis. Kerennya lagi karena makan malam ini gratis.

Seorang teman sekamar kami, McKenzie, memang sudah niat membayari saat tahu kami sedang bokek. Sementara di Italia, banyak jebakan maut yang membuat kami harus membayar sangat mahal untuk satu gelas coke raksasa yang harganya €9! Gelato atau es krim yang normalnya hanya €5 untuk 4 rasa, kami harus membayar €8 hanya untuk 3 rasa. Pfffttt..
 
Pertimbangan-pertimbangan di atas biasanya akan mempengaruhi keuangan au pair. Apalagi biasanya tabungan au pair tidak jelas setiap bulannya. Ada baiknya memang memiliki manajemen keuangan dengan sangat baik. Apalagi mengingat liburan ini ada yang satu bulan lamanya. Wah, dipuas-puasin tuh keliling Eropa on (au pair) budget

Oh ya, pemilihan musim saat travelling juga mesti diperhatikan. Harga penginapan dan transportasi udara biasanya akan lebih murah di pertengahan dan akhir musim dingin. Namun suhu yang masih cukup ekstrim biasanya sangat tidak nyaman untuk berjalan kaki. Banyak juga tempat-tempat wisata yang tidak dibuka di musim ini. Untungnya saat saya dan Anggi ke Italia dan Yunani, suhu musim dingin disana lebih hangat, sekitar 15-18 derajat, dibandingkan Belgia sendiri yang masih 3-7 derajat Celcius di siang hari.

Sementara saat summer, tempat-tempat wisata akan sangat ramai oleh turis karena memang sedang masa liburan. Harga akomodasi dan transportasi akan melambung saat peak season. Namun karena matahari lebih panjang bersinar, waktu untuk mengeksplorasi tempat baru atau sekedar minum coke di bangku-bangku taman akan sangat mengasyikkan.

Menurut orang Eropa sendiri, awal-awal musim gugur (September-Oktober) dan pertengahan musim semi (April-Mei) adalah waktu terbaik mengunjungi tempat-tempat cantik di Eropa bagian manapun. Selain curah hujan yang tidak terlalu banyak, biasanya suhu 9-12 derajat Celcius masih cukup nyaman untuk berjalan kaki di siang hari saat musim ini. Selain itu harga pesawat dan akomodasi cenderung stabil dan masih cukup affordable.


5 comments:

  1. Hello. Aku syifa. Aku aur pair di Norwey. Aku mau tanya. Aku ada rencana mau ke indonesia tahun depan dan rencana di Indonesia itu 1 bulan. Aku sudah tanya dengan family disini di perolehkan. Cuma yang aku bingung. Aku ke inIndonesia perlu visa gak ya? Dan saat balik ke Norwey lagi. Aku perlu visa lagi buat ke Norwey atau pakai kartu aur pair? Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa kamu harus pake visa ke Indo? Kan kamu warga negara Indonesia.

      Lalu, gak perlu juga apply visa lagi ke Norwegia. Kamu bisa tunjukkin visa lama di bandara Soetta PLUS kartu penduduk sementara di Norwegia.

      Selamat mudik ke Indonesia ya! ;)

      Delete
  2. Mau tanya mbak, jadi AuPair di Italia untuk orang Indonesia bisa nggak ya?

    Terima kasih!

    ReplyDelete
  3. Siang kak mau nanya kmrn jadi Au pair pake agent atau apply sendiri di Au pair world? Terima kasih 😊

    ReplyDelete