Pengalaman Pertama Ikut Emirates Open Day di Norwegia

Wednesday, 10 October 2018



Meneruskan postingan bulan lalu, Sabtu pagi, jam 5.45 saya sudah bangun dan segera menyiapkan diri. Make up mesti on, rambut harus klimis dan rapih, serta tidak lupa membawa stocking cadangan dan pump shoes ke dalam tas. Sengaja sepatu ditaruh di dalam tas, karena kebesaran dan kurang nyaman dipakai menuju ke lokasi. Hari itu saya harus segera berangkat jam 7 pagi karena Open Day akan dimulai jam 8 tepat. Lalu betul saja, membawa stocking cadangan memang ide yang baik karena stocking yang saya pakai entah mengapa robek saat menunggu bus di halte.

Open Day diadakan di Radisson Blu Plaza Hotel yang hanya 4 menit jalan kaki dari stasiun utama Oslo. Saya sampai jam 7.40 lalu segera mengganti sepatu sesaat sebelum masuk hotel. Masuk ke lobi, saya mencari toilet untuk langsung mengganti stocking dan mengecek penampilan sebelum menuju ruangan rekrutmen yang berada di lantai 33.

Tiba di lokasi, saya langsung pasang senyum cemerlang dan menyapa beberapa orang yang sudah datang duluan. Seorang cowok menyarankan saya mengambil selembar kertas di atas meja yang berisi informasi mengenai pekerjaan sebagai pramugari Emirates. Empat menit sebelum acara dimulai, beberapa orang kembali berdatangan dan mulai bertegur sapa. Ada yang penampilannya all-out dan sangat formal, ada yang sangat casual, ada juga yang cuek memakai jeans dengan rambut terurai.

Jam 8 teng, kami dipersilakan masuk ke ruangan dan bertemu dengan satu ibu-ibu perekrut mantan pramugari Emirates yang sekarang tinggal di Dubai. Ternyata sampai akhir acara, hanya ibu tersebut yang akan menyeleksi pelamar. Dia menjelaskan hari itu akan jadi hari yang panjang karena Open Day dilaksanakan bersamaan dengan Assesment Day. Kalau lolos sampai tahap akhir, kandidat akan menjalani final interview yang sifatnya fleksibel karena dilakukan via online.

Setelah itu, kami ditunjukkan video cukup panjang tentang kehidupan di Dubai serta deskripsi pekerjaan sebagai pramugari Emirates. Si ibu juga mempersilakan kami bertanya berhubungan dengan isi video. Beberapa pertanyaan cukup banyak dilontarkan dan beruntungnya tidak ada yang menanyakan masalah gaji karena katanya bisa jadi red flag.

Berikut proses Open Day dan Assesment Day yang saya ikuti di Oslo.

CV Drop

Karena event yang diadakan adalah Open Day, maka semua pelamar hanya perlu datang tanpa harus register dulu di situs Emirates. Namun bagi pelamar yang pernah mengirimkan CV lewat OSM Aviation (agensi penerbangan di Norwegia) dan jadi shortlisted, akan dipanggil namanya terlebih dahulu untuk menyerahkan CV. Anehnya, meskipun sudah jelas di situs Emirates pelamar harus membawa CV dan 1 lembar foto, ibu perekrut tidak mempermasalahkan jika pelamar tidak membawa foto hari itu.

"Because you are here after all. So, I can see you," katanya.

Setelah semua nama yang jadi shortlisted dipanggil, kami yang belum pre-registered diizinkan mengantri untuk menyerahkan CV dan foto. Saat itu saya membawa foto full badan dan ukuran paspor, tapi saya hanya melampirkan foto ukuran paspor yang diselip dengan paper clip.

Tiba giliran saya, saya maju ke meja perekrut, tersenyum lebar, serta menyapanya "hi how are you?". Si ibu tersenyum ramah, melepaskan paper clip, dan menjepit si foto dengan staples. Lalu saya diberikan nomor urut berupa stiker yang harus dilekatkan di dada.

Dari CV drop inilah, saya tahu kalau peserta yang hadir saat itu ada 58 orang. Ada sekitar 6 pria yang datang, lalu sisanya semua pelamar wanita. Mereka juga tidak hanya asli Norwegia, tapi juga Korea, Cina, Filipina, Polandia, Lithuania, bahkan Pakistan. Dari hasil kenalan dengan beberapa orang, saya juga tahu kalau yang ikut Open Day saat itu banyak juga yang sedang berprofesi sebagai pramugari.

Group activity 1

Untuk proses yang pertama ini, kami dibagi menjadi 2 grup. Grup pertama dimulai jam 10 pagi, sementara grup kedua jam 11 pagi. Saya dapat grup kedua, sehingga masih punya spare time mengobrol dengan pelamar lainnya. Saat itu saya berkenalan dengan 2 cewek dari Korea Selatan serta 1 cewek dari Meksiko.

Karena giliran masih panjang, kami sepakat menuju kedai kopi dulu sambil mengobrol sebentar. Satu cewek Korea yang saya kenal, Kim, ternyata sudah 5 tahun kerja di Qatar Airways dan sekarang sudah menikah dan tinggal di Lysaker. Satu cewek Korea lain, Lee Lee, hanya datang ke Oslo khusus untuk ikut Open Day sebelum mengunjungi temannya di Islandia. Satu lagi, si cewek Meksiko, Sabrina, juga seorang pramugari dari maskapai penerbangan pribadi di Meksiko.

Mereka semua tipikal orang yang super menyenangkan dan ramah. Banyak muka-muka jutek dan serius yang saya temui saat Open Day dan kelihatan sekali seperti tidak butuh teman bicara.

Tiba giliran di tes grup yang pertama, kami semua disuruh kembali masuk ke ruangan dan duduk secara melingkar. Tiap grup yang berisi 2 orang akan diberikan kertas bergambar satu benda lalu disuruh memikirkan, bagaimana benda tersebut dapat digunakan di dalam kabin. Saat itu tiap grup hanya memiliki waktu diskusi 3 menit saja. Think creatively yet cohesively!

Beruntungnya saya satu grup dengan Sabrina dan saat itu kami mendapatkan kertas bergambar BALON! Saya menyarankan menggunakan balon sebagai pengganti kertas atau plastik yang bisa digunakan untuk menaruh permen-permen kecil, lalu diberikan kepada anak-anak di dalam pesawat. Sementara Sabrina menyarankan kalau balon tersebut digunakan untuk menaruh permen lalu ditiup saja. Setelah berpikir sejenak 5 detik, dia mengubah pikirannya dan menyetujui kami memakai ide saya saja.

Tiap grup dipersilakan mempresentasikan hasil diskusinya selama 1 menit dan sebisa mungkin tetap bersikap kooperatif tanpa harus mendominasi satu sama lain. Tiap grup juga disarankan untuk menggambarkan satu ide saja agar presentasi tidak menjabar kemana-mana. Sabrina mengawali grup diskusi kami, lalu saya yang menambahi. Kami merasa melakukan a great job di putaran pertama karena terlihat kompak.

Selanjutnya, perekrut kembali memberikan kami satu kertas tambahan yang berisi nama-nama profesi. Tugas kami kembali mendiskusikan bagaimana orang di profesi tersebut dapat menggunakan benda yang sebelumnya sudah kami presentasikan dalam pekerjaan mereka.

Oh no, we got an 'Architect'! Saya dan Sabrina sempat blank selama beberapa detik memikirkan apa yang bisa arsitek lakukan dengan si balon. Lalu tiba-tiba saya berpikir menggunakan si balon untuk mengganjal kertas gambar si arsitek agar tetap terbuka lebar.

"Kita tahu kalau arsitek butuh kertas gambar yang besar saat menggambar. Tapi ada suatu ketika si arsitek tidak berada di kantornya dan menggambar di atas meja gambar. Makanya kita bisa menggunakan balon ini sebagai pengganjal di sisi kertas agar memudahkan si arsitek menggambar. Kita isi bebatuan ke dalam balon, lalu gunakan balon pemberat ini agar si kertas tetap bersih," kata kami.

Ffiiuuhh.. whatever the ideas were, we felt so happy because we were a team and did a great job! 

CV Review

Selesai mempresentasikan ide per grup, masih dalam posisi duduk melingkar, kami dipanggil satu-satu ke depan untuk ditanyai tentang isi CV kami.

Si ibu menyapa saya dan menanyakan tentang gelar sarjana dari Indonesia serta apa yang saya lakukan saat ini. Sambil bertanya, si ibu menconteng kertas saya, "so, you are an au pair now?"

"Yes. That is a culture exchanging," kata saya mengganti perumpamaan kalau saja si ibu tidak tahu apa itu au pair.

"Wow! That is so interesting," katanya lagi.

Lima menit kemudian, setelah semua CV kami selesai di-review, si ibu menaruh kertas di atas meja untuk langsung kami lihat siapa saja yang lolos. Bagi yang nomor urutnya tertulis di kertas tersebut, harus menunggu di luar untuk mengikuti tes berikuntya.

Hanya ada 6 orang yang lolos dan nomor saya termasuk! Yeeesss!!!

Lee Lee juga lolos dan kami saling berpelukan. It felt like I found a friend in a sudden. Sayangnya Kim dan Sabrina tidak lolos grup putaran pertama ini dan kami tentu saja sangat kecewa. Yang membuat saya paling kecewa lagi, ada cewek Pakistan yang hanya menggunakan jeans dan sandal wedges ternyata lolos! So weird!

Group Activity 2

Dari 58 orang, hanya 12 orang yang lolos ke putaran kedua ini. Kami kembali disuruh masuk ke ruangan dan duduk secara melingkar. Si ibu memberikan kami selembar kertas pernyataan tidak ada tanda lahir dan tato yang terlihat di wilayah yang tergambar di kertas.

Lalu si ibu memanggil kami secara bergantian, menyuruh berjinjit dan menyentuh dinding yang tingginya 212 cm, serta mengukur tinggi badan. Setelahnya kami menuju meja si ibu lalu mengisi dan menandatangani lembar pernyataan tentang tato dan tanda lahir.

Untuk tes grup kedua ini mirip seperti role play. Kami diberikan kertas yang mendeskripsikan tentang posisi kami sebagai manager hotel yang bertanggung jawab dengan 6 pelanggan yang sudah menunggu di lobi. Karena semua kamar hotel di kota penuh, hanya ada 2 kamar kosong lagi di hotel kami dan kamar tersebut hanya boleh diberikan kepada 2 pelanggan yang menurut kami paling membutuhkan.

Ada 6 tipe pelanggan saat itu; The loyal customer, Fashion blogger, New-couple honeymoon, Politician, The exist customer yang kamarnya kebanjiran dan butuh kamar baru, serta Satu keluarga kecil yang anaknya rutin medical check-up di rumah sakit terdekat dari hotel tersebut. Kami diberikan waktu 10 menit untuk berdiskusi dan 1 menit presentasi. Si ibu perekrut berkeliling dan memperhatikan kami satu per satu untuk dinilai.

Saya menyarankan untuk memberikan kepada pengantin baru yang sedang honeymoon, karena ini akan jadi honeymoon pertama dan terakhir mereka. Mereka tidak akan mengulang honeymoon untuk kedua kalinya, jadi mereka harus diprioritaskan. Tidak ada yang setuju dengan saran saya, karena kebanyakan memilih si keluarga dengan anak kecil serta si pelanggan yang sudah menginap duluan di hotel tersebut.

Masing-masing orang kebagian waktu berbicara dan mengutarakan pendapat. Ada yang beberapa kali mengutarakan pendapatnya dan terlihat dominan, ada juga yang hanya sesekali berbicara sampai tidak terlalu diperhatikan. Tapi intinya kami berusaha sebaik mungkin mendengarkan satu per satu ide dan berusaha saling mengimbangi. Time is up! Selanjutnya kami diberikan waktu 1 menit mempresentasikan hasil diskusi.

Setelah selesai, kami disuruh keluar dan menunggu kembali karena hasil tes akan diumumkan dalam waktu 5 menit. Kabar yang saya dengar dari pelamar yang sudah pulang, hanya ada 3 orang yang akan lolos sampai final interview. Artinya, hanya akan ada peluang 1% untuk lolos. It was so tough indeed! Seorang pelamar pria memberikan kami semangat dan mengatakan kalau semua jawaban tidak ada yang benar atau salah.

"It is all up to them. If Emirates like you, they would hire you. That is all," katanya.

Lima menit kemudian si ibu perekrut keluar dan membawa hasil tes. Si ibu mengucapkan terima kasih atas kedatangan kami kesana dan menyuruh kandidat yang lolos tes untuk mengikuti tes selanjutnya. Benar saja, hanya ada 3 dari 12 orang yang lolos dan nomor saya tidak ada disana. It's a bit sad, but I was happy because at least I have tried.

Tiga orang yang lolos mukanya semua bule dan berambut pirang. Entahlah, mungkin karena tes di Norwegia, si ibu ingin mengambil kandidat yang mukanya mewakili Skandinavia. Tapi sebetulnya hanya satu cewek yang berasal dari Norwegia asli karena dua lainnya berasal dari Polandia dan Lithuania. Saya juga tidak kecewa karena penampilan 3 orang tersebut juga mewakili pramugari Emirates yang rapih dan konservatif. Yang saya ingat, mereka bertiga memang terlihat vokal dan straight to the point dalam menyampaikan opininya saat tes grup.

Lee Lee terlihat sangat kecewa dan tidak bisa menyembunyikan perasaan galaunya. Tapi saya tetap memberikannya semangat karena siapa tahu, suatu hari nanti, kami bisa bertemu kembali di kesempatan lain. She is a cute, gentle, and very nice girl! Kami juga sama-sama bangga, karena meskipun ini pengalaman pertama, tapi kami bisa sampai sejauh ini.

Sebelum Open Day, saya sudah mempersiapkan diri menonton YouTube dan membaca tips dan trik tentang pengalaman orang bagaimana bisa lolos saat Assesment Day. Saya sebetulnya sudah sedikit membayangkan bagaimana prosesnya nanti. Namun ternyata ada banyak keanehan yang terjadi di Oslo dan berbeda dari apa yang orang-orang sudah ceritakan!

1. Dari pengalaman orang, katanya salah satu peluang agar bisa lolos adalah dengan tersenyum lebar tanpa henti dari mulai hingga akhir acara. I have done it, but the fact spoke differently! Tiga orang peserta yang lolos, saya perhatikan wajahnya terlihat kaku dan biasa saja. Mereka juga tidak melemparkan senyuman sepanjang Assesment Day hanya untuk dilirik perekrut.

2. Kita tidak perlu sok sosial dan bertegur sapa dengan banyak orang karena ternyata the recruiter won't care. Apalagi kemarin hanya ada 1 perekrut yang selalu berada di dalam ruangan. Si ibu tidak tahu apa yang terjadi di luar ruangan dan tidak terlalu peduli apakah saya aktif atau pasif mengobrol dengan pelamar lainnya.

3. Jeans and sandals are totally 'ALLOWED'!! To be honest, it was a pretty weird experience for me! Sudah jelas bahwa pakaian yang harus digunakan saat Assesment Day haruslah konservatif dan formal. Pelamar wanita harus memakai business attire dan sepatu yang menutupi jari-jari. Yang saya perhatikan, ada dua cewek Pakistan dengan percaya dirinya melenggang dengan blus dan jeans biru serta setelan merah dari atas ke bawah. Anehnya lagi, mereka bisa lolos di tahap pertama. Padahal banyak cewek lainnya yang lebih rapih dan all-out. Katanya, pelamar yang tidak berpakaian sesuai dengan standar pramugari Emirates akan segera tersingkir saat CV Drop, namun kenyataannya tidak.

4. No bun is 'acceptable'! Selain pakaian harus konservatif, Emirates juga menginginkan pelamar wanita menyanggul rambut mereka dengan rapih saat Assesment Day. Faktanya, seorang cewek berkuncir acak-acakan bisa lolos juga di tahap pertama.

5. Ketika terlambat, pintu terbuka lebar dan pelamar tetap diizinkan masuk. Ada sekitar 6 cewek lain yang saya lihat terlambat dan datang duduk di kursi paling belakang. Mereka percaya diri saja mengikuti rekrutmen dan tetap memiliki kesempatan menyerahkan CV. Dari pengalaman orang yang saya baca, pelamar yang terlambat datang tidak diizinkan masuk ke ruangan dan dipersilakan pulang.

What a weird Open Day in Oslo! Mungkin dua cewek Pakistan yang sempat diloloskan memiliki pengalaman sebagai pramugari di maskapai nasional Pakistan. Padahal yang saya perhatikan, penampilan mereka sangat casual dan attitude mereka juga sedikit angkuh. 

Yang jelas, tiap negara memiliki sistem Open Day yang berbeda dan tergantung pula bagaimana perekrut melihat performa tiap pelamar. Saya bersyukur bisa ikut Open Day dan tahu bagaimana proses perekrutannya berjalan. Saya juga bahagia bisa bertemu kenalan baru yang sama-sama memberikan performa terbaik saat tes grup. Tahun depan, kalau Emirates kembali membuka Open Day di Oslo dan kebetulan saat itu saya libur, I don't mind to give a try one more time.

Till then, life must still go on!


No comments:

Care to leave your comments?