Autumn Vibes di Norwegia

Thursday, 17 October 2019



Selepas kontrak dengan host family di Denmark, saya pikir 2017 adalah tahun terakhir merasakan musim gugur di Eropa. Namun ternyata saya salah, masih ada 4 tahun berikutnya lagi menikmati musim paling berwarna sepanjang tahun ini, karena saya memutuskan jadi au pair lagi dan lanjut kuliah di Norwegia. FYI, musim gugur adalah musim terfavorit saya dan ada beberapa alasan yang kamu juga harus menyukainya

Beberapa tahun terakhir ini musim panas di Eropa sedang tidak bersahabat alias abnormal. Norwegia contohnya, dari yang biasanya stabil di angka 25 derajat paling tinggi, bisa tembus hingga  28-31 derajat sampai satu minggu penuh. Di bagian Barat Eropa lebih sadis, berminggu-minggu di angka 33-40 derajat! Orang tua profesor saya yang asli orang Italia sampai hijrah dulu ke Norwegia istirahat dari panasnya musim panas di Barat.

Musim gugur bisa jadi dirindukan karena transisi dari panasnya musim panas sebelum berperang melawan salju di akhir tahun. But hey, it's autumn again in Norway! 


Tidak seperti tahun lalu saat daun-daun sudah mulai berguguran di awal Oktober, tahun ini sepertinya sedikit lambat di Norwegia. Tipikal musim gugur, hujan biasanya terus turun sepanjang hari membuat temperatur lembab dan lebih dingin. Meskipun begitu, pergantian warna dedaunan yang apik di sepanjang hutan membuat Norwegia menjadi salah satu negara yang tepat menikmati musim gugur di Eropa.

Musim gugur di sini juga mengawali semester baru bagi anak sekolahan, musim berburu burung liar dan mengumpulkan jamur-jamur di hutan, serta saatnya mengeluarkan pakaian hangat lagi! Apel di pepohonan juga sudah mulai memerah dan waktunya membuat apple cake.


Berbeda dengan Denmark yang identik dengan sup labu, di Norwegia lebih identik dengan sup jamur. Anak-anak kecil maupun orang dewasa biasanya pergi ke hutan untuk 'memanen' jamur liar, Kantereller, yang berwarna kekuningan. Padahal jamur ini juga tersebar di Denmark, tapi mungkin karena tak banyak hutan di Denmark, makanya berburu Kantereller lebih sering dilakukan oleh orang Norwegia.

Meskipun jamur liar ini tersebar dimana-mana, tetap disarankan untuk riset lebih dahulu jenis jamurnya seperti apa atau pergi bersama orang lokal untuk memberi tahu mana jamur yang tepat. Banyak sekali jenis jamur beracun di hutan yang kalau sampai termakan akibatnya bisa sangat fatal. Di awal musim gugur tahun ini, sudah ada 5 orang masuk rumah sakit karena mengkonsumsi jamur beracun.

FYI, Kantereller ini harganya juga mahal kalau sudah dijual di supermarket. Jadi kalau ada kesempatan 'memanen' langsung dari hutan, silakan ambil sebanyak-banyaknya. Orang-orang Norwegia biasanya mengeringkannya terlebih dahulu sebelum diolah menjadi sup jamur. Beberapa orang juga membuat mushroom sauce sebagai teman makan steak.



Seperti tahun sebelumnya, tahun ini saya berkesempatan lagi ikut host family berburu ke gunung. Sebetulnya saya tidak ikut memegang senapan, tapi lebih ke post-hunting. Sedihnya lagi, perburuan kali ini bisa jadi momen terakhir saya di Hemsedal karena host family akan pindah ke Swiss. Tak semua orang Norwegia jago hunting, lho, karena berburu pun harus punya izin memiliki senapan.

Walaupun sedikit sedih, tapi akhirnya saya bisa mencicipi blueberry liar langsung dari hutan! Dibandingkan blueberry yang dijual di supermarket, blueberry liar ini bentuknya lebih kecil. Organik, karena langsung dipetik dari alam. Karena warnanya juga lebih pekat, kebanyakan makan blueberry bisa membuat lidah jadi biru. Sama seperti Kantareller, kalau berkesempatan menemukan blueberry di hutan, jangan lupa petik yang banyak dan bawa pulang. Lumayan, bisa dijadikan selai atau teman makan oatmeal.




Di Oslo sendiri, kita bisa jalan-jalan ke hutan di daerah Holmenkollen atau menikmati dedaunan yang mulai menguning di sepanjang jalan. Bagi yang tertarik menjadikan musim gugur di Oslo jadi objek foto, saya sarankan datang ke Frognerparken untuk 'bermain' dengan tumpukan dedaunan kering, National Library kalau tertarik melihat dedaunan merah yang menjalar di sepanjang bangunan, Oslomarka kalau ingin mencicipi blueberry liar di hutan, ataupun berjalan santai di Damstredet menikmati rumah-rumah antik khas Norwegia ala abad ke-19.

Datang ke Eropa saat musim gugur dan berniat memberi oleh-oleh ke kerabat di Indonesia tanpa perlu merogoh kocek? Ambilah dedaunan yang mulai berguguran tapi batangnya masih segar dan warnanya masih cerah. Lalu simpan di dalam lembaran buku untuk mempertahankan bentuk aslinya. Jika disimpan 2-3 minggu berikutnya tanpa terkena sinar matahari, warna dan bentuk asli daun akan tetap terlihat cantik. Kalau mau, kita juga bisa menuliskan nama kota serta tahun musim tersebut di atas daun, lalu menuliskan pesan kecil bagi teman atau keluarga sebagai hadiah. Isn't it more personal and authentic? Dedaunan ini juga bisa dipajang atau dijadikan pembatas buku, lho!



Autumn in Europe is definitely amazing! Setiap tempat di Eropa tentu saja punya pemandangan unik tersendiri yang bisa dinikmati sepanjang musim gugur. Tapi karena musim ini memang sangat identik dengan dedaunan yang berwarna-warni, area yang banyak hutan dan pepohonan mapelnya masih menjadi tempat terbaik menikmati musim gugur, Norwegia salah satunya.

Musim gugur juga erat kaitannya dengan kenyamanan dan perasaan mellow. Cokelat hangat, selimut lembut, sweater wol, serta mild temperature yang membuat kita malas keluar rumah. Satu lagi, Oktober juga sangat identik dengan Oktoberfest atau pesta bir serta Halloween! Just be ready to get hammered and 'trick or treat?'!



2 comments:

  1. i love all your blog ka :)) keep it up for always writing. i always waiting xx

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyaaakk ♥️ ♥️
      Really appreciate that.

      Delete