Bahasa, Tantangan Terbesar Hidup di Norwegia

Monday, 7 December 2020



Minggu-minggu terberat semester tiga hampir berakhir, sampai saya punya jeda meluangkan waktu menulis lagi di blog. Proyek kami magang di perusahaan ditutup dengan presentasi dan laporan besar yang proses pembuatannya saja memakan waktu tiga minggu. Belum lagi ada tiga tugas individu lain yang tenggat waktunya saling berdekatan. Semuanya menggunakan bahasa Inggris yang memang jadi bahasa pengantar kelas Master di banyak universitas di dunia. Tapi semakin sering menulis laporan dan presentasi, ada hal yang akhirnya saya sadari; whatever I say or write in English, it doesn't come out right! Nilai bahasa Inggris saya saat mendaftar S2 dulu sebetulnya tak terlalu jelek, namun lama-lama perkembangan bahasa Inggris saya justru semakin menurun!

Why is my English getting worse?!

Call me arrogant, tapi dulunya saya memang pernah dikira orang Amerika karena aksen Inggris saya terdengar seperti nativesetidaknya saat berbicara. Delapan bulan tinggal di Denmark, saya sudah bisa mengopi aksen orang lokal sampai guru bahasa Denmark saya dibuat terkekeh dengan gaya bicara saya. Banyak tugas grammar di satu bab juga saya lalap habis hanya dalam hitungan menit. "Saya sangat yakin, kamu sudah bisa bicara sangat fasih dalam waktu 2 tahun saja!" katanya saat itu. Tidak hanya sampai disitu, pertama kali belajar bahasa Belanda di Belgia, saya sudah bisa lompat level dari A1 ke B1, tanpa perlu belajar A2 lagi. Secepat itu!

Sayangnya, karena terlalu sering pindah-pindah negara dan banyak belajar bahasa baru tanpa menyentuh level "fasih sekali", otak saya dibuat bingung! Untuk bahasa Inggris, tak perlu harus terdengar seperti native, asal orang lain mengerti saja saya sudah syukur. Apalagi sejak pindah ke Norwegia, diharuskan belajar baru lagi yang malah membuat saya kehilangan kemampuan di bahasa lain karena memang kurang praktik. R.I.P bahasa asing lain yang pernah saya pelajari saat masih jadi au pair. Kadang campur-campur Norwegia-Inggris karena otak saya harus menukar dari satu bahasa ke bahasa lain secepat kilat. Kadang bahasa Inggrisnya lupa, tapi bahasa Norwegianya tahu. 

Saya akui bahwa akar bahasa Norwegia sebetulnya memang diambil dari bahasa Denmark. Saya juga banyak terbantu dengan tata bahasa dan kata-kata dalam bahasa Denmark yang sangat mirip bahasa Norwegia dalam segi tulisan. But, life doesn't mean easy. Ibaratnya bahasa Indonesia dan bahasa Melayu, ada banyak frase lain yang super berbeda dan tidak bisa diaplikasikan satu sama lain. It makes my brain works so damn harder everyday!


Tapi karena Norwegia adalah negara terlama yang saya pernah tinggali di Eropa, ada banyak hal yang terus memotivasi saya untuk mempelajari bahasanya sebaik dan sefasih mungkin. Salah satunya, mencari kerja di sini selepas lulus kuliah. Karena job market di negara ini sangat kecil bagi orang asing, menguasai bahasa lokal adalah jalan utama jika ingin mendapatkan fast track. Saya pernah membandingkan dua lowongan kerja di posisi yang sama dan dipublikasikan menggunakan bahasa Norwegia versus bahasa Inggris. Di lowongan berbahasa Norwegia, yang melamar hanya sekitar 30 orang, namun yang berbahasa Inggris mencapai 200 orang! Tak heran, karena orang asing super skillful yang cari kerja dan ingin tinggal lama di Norwegia sangat banyak. Yang membedakan, semuanya bisa bahasa Inggris, namun tak semuanya menguasai bahasa Norwegia.

Terus memperbaiki bahasa lokal ini sebetulnya tak hanya berguna untuk cari kerja, tapi juga bersosialisasi. Pertama kali kenalan dengan keluarga Mumu di awal tahun 2019, saya terpaksa harus praktik bahasa Norwegia lebih sering karena orang tua Mumu tidak terlalu fasih berbahasa Inggris. Kadang rasanya ingin sekali mengobrol banyak dengan orang tua Mumu, namun tidak tahu bagaimana mengatur kata-katanya. Keluarga Mumu juga termasuk orang yang sangat chatty dan suka mengobrol panjang di meja makan. Makanya saya selalu mengutuki diri mengapa belum juga lancar bahasa lokal karena kurang bisa ikut ngerumpi. Meskipun, Mumu berkali-kali menyadarkan saya bahwa keluarganya juga tahu kalau saya bukan native speaker dan tak mewajibkan saya buka mulut setiap kali mereka mengobrol. Belum lagi kemampuan berbahasa tiap orang berbeda dan tak seharusnya saya terlalu keras terhadap diri sendiri.

He is right. Meskipun, saya tetap saja mengutuki diri yang tak kunjung lancar sampai harus menolak banyak tawaran kerja di Upwork. Ketika saya mati-matian cari kerja saat pandemi dan terus-terusan ditolak, sebetulnya ada sekitar 3-4 tawaran wawancara di Upwork yang bisa saya pertimbangkan kalau bahasa Norwegia saya saat itu sudah cukup baik. Salah satu tawaran kerjanya bahkan berasal dari seorang fotografer terkenal di Norwegia! Sayang sekali, kan?!


Mungkin inilah satu dari banyak kerugian belajar bahasa dari buku ketika dewasa; kita terlalu fokus dengan tata bahasa yang tercetak sampai akhirnya takut salah. Berbeda dengan anak kecil yang belajar bicara dengan cara mengopi dan mendengar langsung dari lingkungan. Speaking-nya terus meningkat, meskipun mereka sendiri belum tahu bagaimana cara menulisnya.

Hampir tiga tahun tinggal di Norwegia, saya masih berjuang agar tak hanya bisa naik level tapi juga mampu berbicara dengan baik. Banyak sekali, lho, orang-orang yang sudah sampai Level 3 atau C-advanced namun bicara masih terbata-bata dan artikulasinya tak jelas! Salah satunya teman sekelas saya sendiri yang sudah dua kali lulus Level 3, namun mengucapkan satu kata dalam bahasa Norwegia pun masih takut-takut. No wonder, belajar lewat teks itu mudah. Mendapatkan skor 100 untuk Level 3 itu juga memungkinkan, yang susah justru real practice-nya. Apalagi Norwegia punya dua bahasa resmi, Bokmål & Nynorsk, dan setiap tempat punya dialek berbeda-beda.

Dua bahasa resmi Norwegia, Bokmål lebih ke bahasa rutinitas sehari-hari, sementara Nynorsk lebih ke bahasa tulisan yang punya pelajarannya sendiri. Perbedaan dialek juga semakin menantang kita yang hanya belajar di satu kota saja. Contohnya, dialek Oslo dan Tromsø itu tak sama dan bagi kita yang baru belajar, memahami banyak dialek ini adalah PR lain lagi.

Oslo adalah ibukota Norwegia dengan dialek lokal yang punya artikulasi paling jelas dan tata bahasa sangat tepat dengan yang ada di buku. Oslo Barat atau Vestkanten adalah kawasan elit di Oslo yang orang-orangnya kebanyakan menggunakan bahasa paling elegan dengan irama terbagus se-Norwegia. Menurut sejarah, dulunya orang-orang yang tinggal di daerah Vestkanten ini berasal dari kalangan kelas pekerja profesional yang banyak menyerap kata-kata dari bahasa Denmark. Sementara Oslo Timur atau Østkanten adalah wilayah dimana banyak buruh pabrik dan kelas menengah ke bawah tinggal, sehingga lingkungannya pun mempengaruhi dialek yang mereka pakai sehari-hari.


Karena belajar bahasa Norwegia di Oslo, tinggal dengan keluarga yang menggunakan dialek Oslo, serta sudah terbiasa mendengar dialek Norwegia Timur atau Østlandet, travelling ke kawasan lain adalah tantangan besar untuk saya. Mungkin kita merasa sudah bisa berbahasa Norwegia dengan sangat baik di Oslo. Tapi sekalinya ke Trondheim, tetap akan dibuat bingung dengan dialek lokal yang kadang punya kata-kata jauh berbeda dengan ada yang ada di buku pelajaran! Mungkin mirip jika kita baru bisa bahasa Inggris ala-ala Amerika, lalu bingung saat awal-awal mendengar orang Skotlandia atau Irlandia bicara. That's how it is for new learners!

Sama juga dengan bahasa Indonesia yang serumpun dengan bahasa Melayu, orang Swedia yang bahasanya mirip bahasa Norwegia juga akan berekspektasi kita mengerti bahasa mereka. Saya pernah diajak kolega orang Swedia berlatih bahasa Norwegia, namun doi tetap menggunakan bahasa Swedia. Aduh, sungguh tantangan baru lagi ini! Bahasa Norwegia saja belum lancar, lalu dipaksa harus mengerti bahasa Swedia pula. Walaupun secara pengucapan, orang Norwegia memang lebih mengerti bahasa Swedia sementara secara penulisan lebih mengerti bahasa Denmark. 

"It goes by alone," kata seorang teman lokal yang saya tanya bagaimana saya harus mengerti dan belajar banyak hal dalam satu waktu.

Kalau ada yang penasaran sudah sefasih apa saya sekarang, jawabannya tentu saja far from fluent! Masih ada banyak sekali hal yang harus yang perbaiki dan pelajari. Secara peningkatan, saya memang sudah lulus Level 2 atau B-intermediate. Namun secara praktik, mungkin masih berkutat di Level A2-B1. Terus terang, kerja di restoran juga tak selamanya buruk karena saya punya banyak kesempatan berbicara bahasa lokal dan tahu banyak kosakata baru. Saya dan Mumu juga setiap hari menggunakan bahasa Norwegia untuk percakapan sederhana, namun tetap menggunakan bahasa Inggris kalau membahas hal-hal berat yang bahasa Norwegianya belum saya mengerti.


I gave up my Norwegian course this semester due to a tight schedule. Tapi semester depan saya lanjut ke Level 3 yang kalau lulus, sertifikatnya bisa dipakai untuk mendaftar ke kampus berbahasa pengantar Norwegia. Selain itu, saya juga mengambil kelas fonetis dengan tujuan belajar pengucapan dan intonasi agar semakin terdengar lebih baik dan close to the natives. Kapan lagi belajar bahasa Norwegia gratis di kampus, makanya saya paksakan untuk mengambil kelas sebanyak mungkin. 

Jadi, bukan cuaca yang ekstrim, bukan juga biaya hidup yang mahal, tapi tantangan terbesar saya hidup di Norwegia justru adalah bahasa! I can tackle this.. I can tackle this.. I can tackle this, as a mantra.

Bagaimana dengan kalian? Lebih pilih menguasai satu bahasa asing saja tapi super fasih, atau bisa banyak bahasa tapi hanya basic?



17 comments:

  1. Hang on there. Soal bahasa memang awalnya suka kurang sabar, but you'll get there.

    Buat aku pribadi, bahasa itu emang penting banget dikuasai, walau punya kerjaan dalam bahasa Inggris pun. Gimana bisa menjadi "warga" yang baik jika ngga tau situasi dan berita lokal, ngga aware sama lingkungan karena ngga ngeh bahasa lokal?

    Aku sendiri sudah kerja dalam bahasa Danish hampir 10 tahun lebih. Malah sekarang kalau disuruh bekerja dalam bahasa Inggris suka kagok, karena banyak istilah2 teknis yang lebih faham dalam bahasa Danish daripada bahasa Inggris.

    Soal bahasa lainnya, Norwegia aku masih mengerti banget, jauh lebih baik daripada bahasa Swedia walaupun suami sendiri orang Swedia hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Cece!! 😇😇 Makasih banyak. Emang suka gak sabaran karena mau gimana lagi, kalo bisa bahasa lokal, nyari kerjaan & bersosialisasi pun lebih mudah.

      Aku suka iri bacain postingan Cece di blog (ini beneran gak boong!), “kapan ya bisa nulis bagus kayak gini?” 😆 Jadi aku yakin, even bahasa Inggris Cece mulai nurun, tapi nurunnya paling dikit doang.

      Delete
  2. Rencana sehabis lulus kuliah gimana nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya orang kuliah, setelah lulus pastinya pengen nyari kerja dong 😇 yang pasti gak lewat Ph.D.

      Delete
  3. Bukannya sudah kerja dan di promote di perusahaan start up?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. 😇😇

      Dipromosi itu maksudnya, dari yang kemaren aku posisi magang tak berbayar terus langsung dipromosiin ke posisi leader & dibayar. Tapi karena aku masih studi, ya kerjanya hanya part-time. Kalo kamu baca lagi poin aku di postingan soal “kerja, magang, kerja sambilan” itu, aku juga bilang bahwa namanya juga kerja di start-up, gaji pasti di bawah standar karena kan perusahaan belom punya banyak duit.

      Sementara di Norwegia, kalo kamu apply permit untuk pekerja, kerjaannya mesti full-time, high-skilled, dan gajinya WAJIB memenuhi minimal standar yang udah ditetapkan :)

      Delete
  4. Hi mba Nin, aku yakin mba pasti bisa, semangat terus mba belajar bahasanya.

    Baca ini aku juga ingat diriku yang Inggrisnya susah banget lancarnya sampai sekarang, diajak ngomong sih bisa, tapi kalau udah masuk ke bahasa formal which is itu written word aku nggak bisa, bisa tapi dikit.

    Senang rasanya mendngar mba bisa melalui akhir semester tiga dengan baik, udah semester barukah atau masih akhir semester tiga mba Nin?

    Apapun itu tetap semangat mba Nin, thank you udah mau update disela-sela waktu hectic-nya. Happy weekdays mba, stay healthy and sane.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak ya :)

      Sebetulnya gak sabaran ini karena aku belajarnya udah pas dewasa. Jadi ekspektasi bisa cepet lancar makin menggebu. Beda banget sama kita dulu yang belajar bahasa Inggris dari SD, bener2 ngikutin prosesnya aja sampe bisa. Meskipun aku juga baru berani ngobrol sama bule tuh pas udah 20-an. Hihi ;)

      Semester tiga di kampus ku berakhir tanggal 18 nanti. Jadi sebetulnya aku belom kelar sih ini. Masih ada 3 tugas lagi yang mesti dikumpulin ;D

      Kamu juga yaaaa!! Semoga bahasa Inggris makin aktif dan lancar. Kalo soal nulis mah, yang penting bisa ngerti aja udah lumayan. Kecuali kamu ada niat lanjut kuliah di LN dan butuh syarat minimum, jadi tantangan lain lagi tuh.

      Delete
  5. Kalau aku malah aneh Nin, tertarik pengen ngerti beberapa bahasa (dutch & norsk) tapi bahasa inggris aja belum lancar-lancar juga. Mana setahun ini ga bisa praktek samsek sama bule gara-gara covid, tau deh ntar gimana kalau dapet kenalan pas travel (keknya logat udah acak adut lagi).

    Jadi tu kadang pengen belajar bahasa baru, tapi takut bahasa inggris yang belum lancar ini malah tambah nyungsep gitu. Sekarang aja udah ke-mix juga bahasa Indonesia sama Inggris huhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa COVID jadi masalah? Banyak banget online learning yang tetep bisa ngelatih kamu ngomong Inggris kok :) Apalagi kalo tujuannya cuma buat latihan, gak perlu sampe harus nemu native speakers dulu. Sekarang belajar gak perlu on campus lagi, digital aja bisa. Jangan patah semangat ya!

      Ini tuh persis banget kayak aku dulu beberapa tahun lalu; Pengen banget fasih banyak bahasa, kalo perlu sampe 8! Haha.. Sayangnya aku nyadar kalo itu tuh butuh kerja keras dan gak semudah yang dibayangkan. Jadi kalo kamu mau belajar Inggris, Belanda, dan Norwegia barengan, ya bisa2 aja. Cuma tetep set goal dulu, yang mana yang betul2 diprioritaskan dan harus level fasih, lumayan, atau tau basic doang :>

      Delete
  6. Di Norwegia lulus umur 29 emg masih bisa dapet kerja klo utk posisi junior?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangankan umur 29, kamu lulus umur 35 aja kalo kualifikasi kamu masih junior, ya masih tetep boleh apply. Di sini gak kayak di Indonesia yang membatasi usia produktif hanya sampe maksimal 25-27 tahun aja 😇

      Delete
  7. Bukan usia produktif sih tapi lebih tepatnya persyaratan usia maksimum utk posisi entry level, makanya banyak dari anak muda indo yg udah berasa ketuaan utk belajar kemahiran baru setelah diatas 25 :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi kamu tau gak kenapa dimaksimumin umur segitu? Karena memang di Indonesia usia produktif anak2 muda ya umur segitu. Kalo udah lebih dari 27 tahun, yang cewek dan cowok biasanya udah pada nikah dan punya anak. Kerjaan jadinya suka kecampur2 sama masalah keluarga. Anak sakitlah, berantem sampe minta cerailah, hamil lah, dst.

      Di sisi lain, anak2 kuliahan di Indonesia kelar S1 usia 22-23 tahunan. Di usia ini biasanya anak2 muda lebih enak disuruh2 karena kan junior dan idealis. Kalo udah ketuaan, mereka udah merasa paling senior, banyak pengalaman, dan gak mau disuruh2 lagi, apalagi kalo modelannya kerjaan kantor. Gitu ;D

      Delete
  8. Tau lah ya udah emang rata2 org Indo kan udah nikah in their mid to late 20s. Selain itu perusahaan jg lebih hire anak2 muda fresh graduate buat posisi junior demi "menghemat cost" buat bayar tunjangan lebih spti tunjangan anak, cuti hamil, dst

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul :)
      Beda negara, pastinya juga beda budaya kerja.

      Delete
    2. Coba deh bahas perbandingan "age discrimination" ini dari perspective pelajar dan pencari kerja di Eropa dan di indo, pasti menarik

      Delete