Sebuah Privilese: Kursus Bahasa Gratis

Monday, 12 April 2021



Menghitung privilese, tak harus selalu berhubungan dengan harta kekayaan orang tua ataupun networking orang dalam. Jadi au pair pun juga banyak perks dan privilesenya. Tak perlu jadi Raffi Ahmad dulu untuk bisa diajak ski ke Zermatt. Tak perlu jadi selebgram dulu untuk bisa mengunjungi kebun anggur di Eropa Selatan sambil berpose minum wine ala model. Juga tak perlu jadi anak sultan dulu untuk punya kamar luas bak hotel bintang lima. Kalau kebetulan dapat host family kaya raya, itulah beberapa dari banyak privilese yang bisa au pair dapatkan!

Tapi saya tak ingin membahas soal enaknya jadi au pair karena kemewahan tersebut. Banyak juga au pair yang tinggal dengan keluarga pas-pasan dan tak pernah mencicipi kehidupan mentereng, tapi tetap bahagia. Salah satu hal yang membuat saya bahagia selama jadi au pair justru adalah bisa kursus bahasa gratis! Bagi saya, jadi au pair itu tak selalu menyangkut jaga anak, beres-beres rumah, jalan-jalan keliling Eropa, have fun dengan geng teman bule, ataupun dating dengan para cowok Kaukasia. Tapi juga belajar, entah itu kebudayaan ataupun bahasa baru.


Meskipun tak bisa disandingkan dengan para mahasiswa yang menempuh pendidikan bergelar, namun kesempatan belajar bahasa asing langsung di negaranya merupakan hal yang tak boleh dilewatkan selama jadi au pair. Tak dapat gelar, setidaknya kita bisa menyelesaikan kontrak dengan memegang sertifikat bahasa yang juga punya power untuk mempercantik CV

Permit Ditolak, Pulang ke Indonesia!

Sunday, 21 March 2021



February was the worst month ever di pengawal 2021! Dari mulai tesis, proyek startup, kerja, kursus Norwegia, sampai terkena job offer anxiety, semuanya menumpuk jadi satu! Setelah sukses membuat mood naik turun, perasaan saya dibuat kalut lagi dengan status izin tinggal di Norwegia. Karena banyak hal yang harus dipikirkan inilah, saya memutuskan menarik diri dulu dari semua update di Instagram & blog. Biasanya cuap-cuap tak henti berbagi cerita, tapi kali ini ada banyak hal lain yang harus diprioritaskan. 

Yang pertama, karena job offer anxiety. Awal Februari, saya menerima email dari salah satu perusahaan bahwa saya berhasil maju ke tahap wawancara. Terlalu sering menerima email penolakan, makanya ketika dapat email positif seperti iniapalagi dari perusahaan besar, rasanya senang sekali. Super girang juga karena posisinya bisa dibilang adalah dream job. Satu minggu sebelum wawancara saya sudah riset semua tentang perusahaan tersebut dan membuat sendiri poin yang kemungkinan akan ditanyakan. Mumu adalah saksi hidup dimana setiap hari mulut saya selalu praktek menjawab pertanyaan seperti jampi-jampian. Saking seringnya, Mumu sampai bosan tiap kali saya latihan!

Belajar Fesyen dari Ibu-ibu Eropa

Saturday, 13 February 2021


Meskipun tak pernah merasa jadi cewek stylish, namun saya termasuk orang yang cukup peduli dengan penampilan. Ke kampus, ke mol, kondangan, sebisa mungkin pakaian disesuaikan dengan acara. Gaya saya zaman sekolah dan kuliah dulu bisa dikatakan semi-vintage dan sedikit terpengaruh preppy look ala drama Asia. Kebanyakkan isi lemari hasil perburuan dari pasar pakaian bekas imporan Asia Timur yang menurut saya, modelnya lebih unik dan retro. Sepatu yang saya pakai juga bukan dari merek ternama, karena harganya cuma 40-50 ribuan. Seseru itu belanja di Palembang karena 100 ribu Rupiah pun sudah bisa dapat setelan lengkap dari atas sampai bawah! Walaupun, gaya belanja seperti ini cukup sering ditentang oleh ibu saya sendiri.

"Kalau Mama, daripada beli barang murahan tapi mudah rusak, lebih baik langsung beli barang mahal tapi awet," kata beliau saat itu.

"Ya enak kalau ada uangnya. Bagaimana kalau belum ada, tapi ingin sepatu baru?" kilah saya.

"Ya menabung dong!"

My Home, My Rules

Monday, 25 January 2021



Mungkin bagi orang awam yang tak tahu regulasi resmi au pair, uang saku €450 di Belgia atau NOK 5900 di Norwegia per bulan itu terlalu sedikit. Jauh dari upah minimum pegawai lainnya yang diwajibkan pemerintah setempat. Tapi mereka tak paham, bahwa uang saku yang diberikan ini adalah upah bersih yang diterima au pair tanpa harus bayar akomodasi dan makan setiap bulannya. 

Sekarang, banyak yang ketagihan jadi au pair tidak hanya karena embel-embel pertukaran budaya. Tapi kegirangan, bisa tinggal di luar negeri dengan jaminan dari host family plus dapat gaji. Sebagai orang yang mengundang au pair ke rumah mereka, host family wajib menyediakan fasilitas kamar yang baik dan bahan makanan yang cukup, ditambah dengan uang saku yang sudah ditetapkan pemerintah untuk mencukupi kebutuhan tersier au pair. Sebagai timbal balik, au pair hanya perlu membantu urusan rumah tangga dan menjaga anak dari si keluarga saat dibutuhkan. Win-win solution demi kehidupan yang nyaman antara kedua belah pihak.


Ada banyak sekali au pair beruntung yang mendapatkan studio, apartemen, atau kamar mewah sendiri dengan fasilitas lengkap layaknya hotel bintang lima. Saking baiknya, host family yang punya kolam renang pribadi bahkan memperbolehkan au pair mereka mengundang teman untuk pool party. Saya akui, kehidupan au pair yang penuh fasilitas seperti ini memang bisa membuat kita manja. Hanya saja, semua kemewahan yang didapatkan sebetulnya fana. Mengapa, karena kita hanyalah tamu dan sesungguhnya posisi kita tetaplah menumpang di rumah orang! 

Aturan Nama Anak di Wilayah Nordik

Monday, 18 January 2021



Zaman sekarang, nama-nama anak Indonesia entah kenapa semakin panjang, sulit ditulis, serta dibuat super kreatif anti-mainstream. Ada yang dikutip dari bahasa lain, singkatan dari gabungan kata, ataupun hanya karena tersadar akan sesuatu, nama tersebut akhirnya tercipta. Di Indonesia, kebanyakan nama diberikan orang tua karena mengandung doa di dalamnya. Tak ada aturan baku yang mewajibkan harus menamai anak apa, hingga akhirnya orang tua boleh sekreatif mungkin merangkai nama agar tak pasaran dan termakan zaman. Ada juga artis yang mati-matian memikirkan nama anak sampai tak boleh dicontek oleh orang lain hanya karena nama tersebut dinilai begitu spesial.

Tapi tahu kah kalian bahwa 5 negara di wilayah Nordik, Eropa Utara, punya aturan tertulis tentang penamaan yang diakui hukum negara? Bagi kita, aturan tertulis seperti ini mungkin terkesan konyol dan melampaui hak asasi sebagai orang tua. Negara harusnya menghukum para koruptor, bukan mengatur-atur nama masyarakatnya! Kurang kerjaan!, mungkin begitu komentar banyak orang. Betul memang, anak itu milik orang tuanya dan hak orang tuanya juga ingin memberi nama apa. Hanya saja, peraturan pasti dibuat dengan alasan tertentu.


Di Nordik, aturan tentang penamaan ini disahkan karena negara ingin melindungi para anak dari nama-nama tak layak pakai. Nama dibawa sampai mati dan jangan sampai si anak ini di-bully kemudian hari hanya karena namanya bermakna buruk, aneh, serta terlalu sulit diucapkan. Tak percaya? Buka tautan ini bagaimana sembarangannya orang tua Indonesia memberikan nama anak saat lahir! Bukannya mengandung doa, nama-nama tersebut justru nonsense dan bisa jadi bahan candaan yang harus diterima sampai tua. Makanya ada aturan baku di Nordik untuk menghindari hal seperti ini.

5 Sumber Gratis Belajar Bahasa Norwegia Secara Mandiri

Monday, 11 January 2021



Tidak seperti bahasa Jerman, Prancis, atau Belanda yang lebih terkenal, saya cukup amazed saat tahu ada beberapa orang di Indonesia tertarik belajar bahasa Norwegia. Beberapa dari mereka bahkan bertanya ke saya sumber belajar yang bisa digunakan mengingat tak ada yang menyelenggarakan kursusnya di Indonesia.

Hanya dituturkan oleh 5,5 juta orang di Eropa Utara, bahasa Norwegia yang merupakan rumpun akar bahasa Jermanik sebetulnya bukanlah bahasa populer untuk dipelajari. Rasanya tak ada alasan yang kuat mempelajari bahasa ini jika kamu tak punya niat tinggal di negaranya langsung. Kebanyakan imigran yang tinggal di Norwegia pun sebetulnya hanya belajar mati-matian karena dua hal, syarat dapat pekerjaan dan sedang proses ingin mendapatkan PR (Permanent Residence) serta ganti kewarganegaraan. Di samping itu, masih banyak yang malas belajar karena mayoritas orang Norwegia lancar berbahasa Inggris.

Tapi berita baiknya, Norwegia masuk ke dalam negara Skandinavia yang memiliki bahasa serumpun dengan dua negara tetangganya, Swedia dan Denmark. Secara lisan, bahasa Norwegia sangat mirip dengan bahasa Swedia dan mereka biasanya bisa mengerti satu sama lain. Sementara tulisan, kita bisa lebih mudah memahami bahasa Denmark karena alfabet yang dipakai sama. Nilai plusnya, kita punya kelebihan menguasai bahasa asing lain selain bahasa Inggris. Karena kenapa, English is boring :b

Berhutang Demi ke Luar Negeri

Saturday, 2 January 2021



Awal tahun 2021 akan dibuka dengan cerita saya melangkahkan kaki ke luar negeri pertama kali hingga masih berada disini, dibiayai dari hasil hutang. Kamu mulai skeptis dengan semua hal yang berhubungan dengan hutang piutang? Baca sampai akhir agar tahu bahwa tidak semua hutang itu identik dengan hal-hal negatif!

Saat backpacking mulai booming di Indonesia awal tahun 2007-an, saya termasuk salah satu orang yang mengamini bahwa jalan-jalan ke luar negeri itu bukan hanya milik orang kaya lagi. Apalagi ketika low-cost carrier (LCC) milik Malaysia berinovasi menjual murah harga tiket pesawat keliling Asia hingga Prancis, semakin membuat mimpi orang Indonesia keliling dunia lebih dekat dengan kenyataan. Beberapa orang mulai mencoba jalan-jalan mandiri dengan modal backpack dan menginap di tempat murah, lalu membukukan kisah perjalanan tersebut. Mereka membuktikan bahwa modal keluar negeri itu memang tidak perlu sampai ratusan juta. Yang penting tujuannya bisa jalan-jalan murah meriah ke banyak negara meskipun harus menanggalkan kemewahan untuk sementara waktu.

Saya sangat tertarik dengan kisah perjalanan murah seperti ini, hingga membeli banyak buku backpacking dari berbagai penulis. Salah satu penulis favorit saya kala itu bahkan sudah mengeluarkan banyak buku travelling dengan judul-judul menggugah, seperti contohnya bisa ke Singapura dengan modal 500 ribu Rupiah saja. Meskipun hampir semua penulis berdomisili di ibukota, namun tak mengubur motivasi saya sebagai anak daerah untuk berpetualang keluar Indonesia.