Program Au Pair di Norwegia Akan Dihentikan???

Monday, November 1, 2021



Membuka bulan yang baru dengan berita tentang skema au pair di Norwegia yang semakin kencang wacananya akan dihentikan. But, is it for real?

Bagi saya, wacana tentang penghentian program au pair di Skandinavia ini bukan hal baru lagi. Lama ketika saya masih jadi au pair di Belgia, wacana tersebut di Denmark sudah berhembus kencang. Saya yang kala itu bingung apakah hal ini akan benar terjadi sudah harap-harap cemas mengingat Denmark adalah salah satu negara tujuan au pair. Beruntung, program au pair tidak dihapuskan namun strateginya diubah; dari mulai gaji au pair yang dinaikkan tiap tahun sampai les bahasa yang sekarang wajib dibayarkan sepenuhnya oleh host family — bukan lagi kommune.


Tak hanya sekali itu saja wacana penghentian au pair ini terus digaungkan. Setiap tahun selalu saja ada cerita baru tentang au pair yang dieksploitasi oleh keluaga, yang mana sebetulnya juga merupakan cerita lama. Sekitar 3-4 tahun lalu, wacana ini muncul lagi di Denmark. Ada kasus baru yang membuat pemerintah kembali membuka mata dan menilik ulang drama eksploitasi au pair di Denmark yang sejujurnya sudah jadi hal biasa. Meskipun ada banyak orang yang pro untuk menutup sepenuhnya skema au pair, namun orang-orang kaya penyumbang pajak terbesar di Denmark kabarnya juga punya andil dengan keputusan tersebut. Hampir semua dari mereka yang memiliki au pair adalah para keluarga kaya yang jelas saja tak menyetujui jika program au pair dihentikan sepenuhnya. Apalagi demand yang butuh dan ingin jadi au pair masih saja laris manis di Denmark terlepas dari betapa lemahnya penanganan kasus buruk au pair di negara tersebut.

Lalu bagaimana dengan negara tetangganya, Norwegia?

Tak berbeda jauh dari Denmark, kasus eksploitasi au pair di Norwegia pun sebetulnya sudah diawasi sejak lama oleh para dewan yang menduduki kursi pemerintahan. Labour Party (Ap) dan Centre Party (Sp) adalah dua partai politik yang terus-terusan mendesak Stortinget (lembaga legalislatif tertinggi Norwegia) untuk menutup sepenuhnya skema au pair sejak lama. Hampir setiap tahun, dua partai ini selalu menyuarakan fakta tentang pergeseran program au pair yang tadinya bertujuan untuk pertukaran budaya lalu hanya dimanfaatkan untuk mencari tenaga kerja murah. 

Di tahun 2015, salah satu perwakilan Centre Party (Sp) sebetulnya sudah mengajukan proposal dihentikannya program au pair ini ke Stortinget. Sayangnya Sp kalah suara dari 4 partai lainnya yang tak menyetujui ide tersebut. Namun empat tahun kemudian, setelah semakin naiknya kasus au pair yang juga melibatkan orang-orang penting di Norwegia, Labour Party (Ap) dan Socialist Left (SV) pun ikut pro penghentian program ini.

Dari data keimigrasian, setidaknya sepuluh tahun terakhir Norwegia sudah mengesahkan lebih dari 12.000 au pair permit yang lebih dari 10.000 diantaranya merupakan warga negara Filipina yang didominasi oleh wanita. Dalam laporan kepolisian di tahun 2020, lebih dari 1890 kasus diterima dengan dasar ekspoitasi program au pair yang naik lebih dari 700 kasus dibandingkan tahun 2019. Caritas Norway, organisasi sosial gereja Katolik, dalam dua terakhir ini pun ikut membantu 60 au pair yang bermasalah dengan host family mereka. 


Ketimbang Denmark, Norwegia sebetulnya lebih transparan mengungkap kasus-kasus baru tentang penyalahgunaan au pair. Meskipun kasus tersebut juga merupakan cerita lama tentang para au pair yang lebih dimanfaatkan sebagai pembantu ketimbang kakak asuh, namun media Norwegia tak malu untuk mengungkap bahwa program au pair di negaranya hanyalah perbudakan modern semata. NRK, perusahaan penyiaran publik radio dan televisi milik pemerintah Norwegia, sendiri pernah membuat gelar wicara tentang au pair yang bisa kalian tonton di sini (dalam bahasa Norwegia).

Tak hanya sampai di situ, topik tentang au pair ini juga seringkali dijadikan dark jokes dan bahan sarkasme untuk menyindir para orang-orang kaya Norwegia yang hanya memperlakukan au pair seperti budak. Grup penyanyi duo, Karpe, merilis lagu berjudul Au Pair yang menggambarkan bahwa au pair hanyalah ibu pengganti bagi anak-anak sultan. Di sitkom Førstegangstjenesten, digambarkan pula seorang remaja manja yang baru masuk militer hanya memanfaatkan au pair innocent mereka yang berasal Thailand untuk bantu-bantu mengangkati koper saat si manja ini baru masuk asrama. Meski hanya dipakai sebagai bahan sindiran, tapi jangan heran jika sampai sekarang masih ada yang skeptis dan close-minded dengan penggunaan kata 'au pair'. Some people still think we are just 'stylish' slaves coming from poor countries.

Saya sendiri pernah dihubungi langsung oleh salah satu jurnalis dari NRK via Messenger tiga tahun lalu. Komentar yang saya tinggalkan di grup Facebook au pair rupanya terlihat oleh si jurnalis untuk segera menghubungi saya. Saya juga baru tahu kalau mereka sedang mencari narasumber yang mau ceritanya dimuat di dalam surat kabar. Saat itu tak ada cerita buruk yang menimpa saya dan sayangnya saya juga tak berminat menjawab terlalu rinci pertanyaan si jurnalis. Intinya, saya hanya menekankan bahwa kesalahan eksploitasi ini juga tak bisa dilimpahkan sepenuhnya ke keluarga. Ada banyak au pair di luar sana yang sebetulnya hanya terlalu naif dan membiarkan dirinya sendiri diperbudak oleh host family. Keluarga tak akan bertindak semau mereka jika kitanya sendiri berani bicara dan menentang apa yang seharusnya tak kita lakukan. Tak cocok, harusnya segera mungkin mencari keluarga baru, bukan bertahan berharap si keluarga berubah.

Di Norwegia, program au pair sebetulnya tidak hanya dianggap program pertukaran budaya yang bisa menguntungkan kedua belah pihak. Energy Au Pair sebagai agensi au pair terbesar di Skandinavia melihat program ini sebagai program kemanusiaan yang juga dapat membantu mengangkat derajat kemiskinan di negara ketiga, semisal Filipina. Meski yang jadi au pair di Norwegia tak hanya dari negara ketiga, namun populasi Filipina yang mendominasi menjadikan pekerjaan ini erat kaitannya dengan negara tersebut. Para au pair Filipina yang berminat jadi au pair ke luar negeri juga kebanyakan bukanlah dari keluarga mampu yang dapat memenuhi kehidupan yang layak di negara mereka. Uang saku yang didapat dari au pair keseringan dikirim kembali ke rumah dengan harapan dapat membantu perekonomian keluarga. It's totally not a bad thing namun akan jadi a big thing kalau nantinya program ini betul-betul akan dihentikan.


Meskipun kasus buruk yang menimpa au pair di Norwegia selalu saja ada setiap tahun dan berkali-kali perwakilan partai mengupayakan penghentian program ini, namun kenyataannya, Stortinget belum juga mengetok palu memberikan persetujuan. Selain kursi perwakilan pemerintahan diisi oleh orang-orang kaya yang punya au pair, survey dari pemerintahan juga menemukan fakta bahwa 4 dari 10 keluarga Norwegia masih berharap untuk mempertahankan program ini ke depannya. Yang saya dengar dari mantan pacar di Denmark dulu, orang kaya di Skandinavia punya suara gaib (ghost voting) yang tentu saja bisa ikut mempengaruhi keputusan. Di Norwegia, kebanyakan orang kaya yang punya au pair adalah orang-orang golongan kelas atas yang tinggal di Oslo Barat. Di daerah ini, tak hanya politisi, dokter, atau pengacara yang tinggal, tapi juga pengusaha yang pajaknya bergerak aktif bagi negara.

Banyak yang mengatakan, wacana ini bisa jadi juga hanyalah gertakan. Wacana tersebut naik kembali ke publik setelah pemilu nasional 2021 berakhir yang dimenangkan oleh Labour Party (Ap), Conservative Party (H), dan Centre Party (Sp); dua partai yang sebelumnya juga pro dengan penutupan program au pair ini. Setelah memenangkan kursi pemerintahan, proposal kerja mereka yang kontra dengan program au pair tentunya punya efek suara lebih besar untuk disetujui oleh Stortinget.


Entahlah betul akan kejadian atau tidak, tapi kalaupun akan kejadian, kalian juga tak perlu sedih tak bisa lagi jadi au pair di Norwegia. Kabarnya, pemerintah juga akan menemukan program alternatif lain yang tetap bisa membawa orang asing bekerja di sini. Dengan berhentinya program au pair di Norwegia secara keseluruhan, program alternatif baru yang akan ditwarkan justru terlihat semakin pro imigran. Salah satu perwakilan dari Labour Party (Ap) bahkan memprediksi bahwa program au pair ini nantinya bisa saja berubah menjadi "seasonal/ocassional job" yang punya standar gaji perjam, jam kerja yang layak, serta perlindungan hukum yang lebih jelas. Au pair yang sebelumnya hanya mendapatkan upah NOK 5900 per bulan, bisa saja mendapatkan upah lebih besar tanpa harus tinggal di rumah host family yang jam kerjanya tak terbatas.

Bagi saya yang sudah seringkali mendengar wacana seperti ini, saya menilai proposal dari Ap dan Sp kali ini bukanlah gertakan semata. Beberapa orang yang duduk di kursi pemerintahan sejatinya betul-betul peduli dengan kasus buruk yang selalu menimpa au pair. Tapi apakah ke depannya proposal ini akan disetujui oleh Stortinget atau tidak, itu yang masih membuat saya skeptis. Untuk mendapatkan persetujuan dewan tertinggi tentunya tidak cukup dengan suara dari 3 partai saja. Terlebih lagi, Stortinget harus mengaji ulang proposal alternatif baru yang harus Labour Party (Ap) ajukan untuk mengganti program au pair ini. Yang pasti, wacana ini sudah dari dulu disemarakkan tapi nol aksi. Berbeda dengan Swiss yang sejak dari 2015 lalu betul-betul tegas membatasi jumlah au pair non-EU untuk bisa masuk ke negaranya. Keputusan tak dibebankan ke suara partai, tapi canton masing-masing. Tak heran, beberapa canton memperbolehkan non-EU au pair untuk tinggal di wilayah tersebut namun per tahun dibatasi hanya 50 orang saja. Tapi Skandinavia malah sebaliknya; meski kasus eksploitasi sudah terkuak dimana-mana, tak ada gebrakan juga untuk memperbagus sistem. Oke, saya mencium bau-bau politik di sini alias keputusan pun harus menguntungkan satu pihak 😛

Sebetulnya beberapa perubahan sudah bisa kita lihat dari kenaikkan gaji yang terjadi di Denmark setiap tahun, serta naiknya biaya aplikasi izin tinggal au pair Norwegia menjadi lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2020. Diharapkan, kenaikan biaya ini dapat membatasi keluarga untuk memiliki au pair dan berpikir ulang tidak mengeksploitasi au pair mereka. Sayangnya, besarnya jumlah biaya yang dikeluarkan keluarga bisa jadi bumerang bagi au pair sendiri. Ada banyak sekali keluarga yang menggunakan alasan 'sudah bayar mahal, tak mau rugi' untuk memanfaatkan au pair secara berlebihan.

Bagaimana menurut kalian, apakah wacana ini lagi-lagi hanya gertakan atau akan terealisasi sepenuhnya? Kalian lebih pro yang mana, mempertahankan program all-in au pair atau mengganti sepenuhnya skema ini seperti halnya live-out babysitter yang dibayar gaji normal, namun harus bayar sewa dan beli makanan sendiri?



1 comment:

  1. Sebetulnya ini masalah klasik karena demand dan supplynya juga ada.Berhubung supply nya terlalu banyak juga mungkin ya jadi cenderung diremehkan bukan dihargai.
    Padahal di negara yang sangat maju. Mungkin opsi live-out baby sitter yg paling aman. Still "perbudakan" akn tetap ada karena kebutuhan dan memang orangnya tdk protes 😅 contoh budak korporat wkwk..

    ReplyDelete