7 Fakta Cari Kerja di Norwegia Selulus Kuliah

Friday, October 8, 2021



Kontrak magang saya baru diperpanjang untuk 6 bulan ke depan, so I think I am quite ready to tell you this!

Sama seperti para lulusan baru pada umumnya, tujuan utama saya setelah diwisuda adalah mencari pekerjaan tetap. Frankly, I am seriously done with any internships or freelancing. Mungkin akan berbeda jika saya masih tinggal di Indonesia dan butuh pengalaman kerja. Namun karena berpengaruh terhadap izin tinggal yang harus terus diperbarui, maka mendapatkan pekerjaan tetap dengan benefit pegawai adalah motivasi saya saat ini. 

Norwegia nyatanya adalah negara impian bagi banyak orang. Siapa yang tak menginginkan kehidupan personal dan karir yang seimbang? No more job calls di atas jam 5 sore dan tak akan ada yang mengganggu di hari libur. Belum lagi jaminan hidup yang layak, alam yang indah, flat hierarchy, libur sampai 5 minggu per tahun, cuti untuk melahirkan bagi ibu dan ayah, gaji yang tinggi, serta perks menggiurkan lainnya, menjadikan banyak imigran berniat untuk meniti karir dan menetap di negara ini.

Namun sebelum berkhayal terlalu jauh, faktanya mencari pekerjaan setelah lulus kuliah itu tak pernah mudah - meski merasa kita sudah mengantongi ijazah S2! Sure, we are all happy akhirnya lulus dari perguruan tinggi. Tapi tak berbeda jauh dari Indonesia, kita tetap harus berjuang mencari kerja dan berhadapan dengan proses rekrutmen yang melelahkan. Belum lagi tantangannya lebih berat karena harus beradaptasi dengan budaya kerja yang berbeda serta praktik rasisme yang masih terjadi dimana-mana.


Tak ada tips khusus bagaimana memenangkan hati rekruter ataupun perusahaan. Namun, ada beberapa pola yang saya pelajari selama mencari pekerjaan di negara ini. I really wish somebody told me these earlier. And no, it's NOT all about mastering the language or networking  seperti yang sering saya baca dan dengar selama ini!
 
1. Be as smart as you can!

Corporates love smart graduates! Meskipun katanya transkrip nilai kita tak terlalu berguna setelah lulus kuliah, namun kenyataannya masih banyak perusahaan di Norwegia yang mewajibkan syarat transkrip nilai saat melamar kerja. Program khusus semisal Graduate Program, Summer Internship, Traineeship, ataupun Associate khusus untuk para lulusan baru, akan menyortir banyak pelamar dengan standar nilai yang perusahaan tentukan. Di lowongan kerja juga pun sudah tertera jelas salah satu syarat untuk melamar adalah nilai akademik yang bagus. Mudah sekali menyingkirkan pelamar dengan rata-rata nilai C, jika standar yang mereka tetapkan minimal B.

Meski super kompetitif harus bersaing dengan banyak lulusan baru, namun hampir 10 orang yang saya kenal berhasil mendapatkan pekerjaan di perusahaan ternama semisal Equinor, YARA, Schibsted, atau Orkla. Selain karena faktor wawancara yang bagus, salah satu alasan CV mereka lolos screening juga dikarenakan orang-orang ini hampir semuanya straight As-students alias super jenius. Terkadang, kurangnya pengalaman kerja bisa dikompensasi dengan nilai bagus yang juga menambah ekstra poin. 

Tak niat bekerja di perusahaan dan jadi budak korporat? Nilai bagus juga diperlukan kalau kita berniat ingin lanjut S3 di Norwegia. Beberapa jurusan bahkan menyaratkan rata-rata nilai keseluruhan B dengan nilai tesis minimal B jika ingin melamar ke program mereka. Di sini, para kandidat Doktoral sifatnya hampir sama seperti pegawai kantoran yang digaji lumayan besar dengan masa kontrak 3-4 tahun.

Jadi tidak ada salahnya fokus belajar dan meraih nilai sesempurna mungkin karena akan selalu ada tempat bagi para lulusan pintar!


2. Magang dari semester pertama

Kalau nilai bukan prioritas saat kuliah dan malas bersaing dengan para lulusan pandai lainnya, cara yang bisa kita lakukan adalah dengan menambah atau mencari pengalaman kerja sebelum lulus. Seriously, menurut saya magang bisa jadi fast track mendapatkan pekerjaan tetap di suatu perusahaan. Saya sangat menyarankan, ketimbang fokus menjadi pelayan restoran, cleaning lady, atau penjaga toko saat kuliah, lebih baik kombinasikan dengan pengalaman magang di perusahaan yang lebih punya jenjang karir.

Minusnya, kita harus rela bekerja hampir sukarela karena masih banyak perusahaan kecil yang enggan membayar upah para anak magang. Sementara untuk mendapatkan posisi paid internship saingannya juga bejibun. I've been there, 6 bulan terpaksa magang tak dibayar hanya karena ingin memperluas koneksi dan mencari pengalaman kerja. Luar biasa sekali perjuangannya karena selain magang di sini, saya juga mesti menyokong hidup dengan bekerja sebagai pelayan restoran di luar. Capek memang. Namun setelah berhasil membuktikan ke atasan ketika sukses mencapai gol, akhirnya saya dipromosikan menjadi kepala divisi dengan kontrak berbayar meskipun gajinya tak seberapa. Positifnya, pengalaman yang saya dapatkan sangat berguna untuk dilampirkan di CV dan menyisipkan referensi.


Sama seperti pekerjaan yang saya lakoni sekarang. Meski statusnya masih magang, namun sifatnya paid internship yang gajinya lumayan kompetitif. Setelah 6 bulan bekerja dan menunjukkan hasil yang optimal, saya ditawari perpanjangan kontrak untuk second tier internship dengan penawaran gaji yang jauh lebih tinggi. Honestly, it was not what I wanted. Sebelumnya, saya juga sudah menanyakan ke mereka jika ada open position yang sifatnya permanen. But sadly, no. Meskipun lelah juga magang terus, namun saya belum punya pilihan lain karena cari kerja di luar susah sekali. Tawaran tersebut setidaknya lebih baik, ketimbang saya harus kembali ke restoran dan bekerja sebagai pelayan penuh waktu. Ending dari magang setahun ini kabarnya juga bisa berbuah manis dengan kontrak kerja permanen di perusahaan mereka. Meskipun saya lelah terus berharap, namun bukan ide yang buruk untuk tetap bertahan di sini selagi terus mencari pekerjaan yang lebih baik.

No, it's not solely my experience. Yang saya observasi, banyak perusahaan Norwegia, terutama startup, merekrut pegawai tetap tidak hanya berdasarkan pengalaman, namun juga trust. Ada banyak orang yang saya kenal bahkan memulai pengalaman mereka dengan menjadi anak magang atau vikariat (replacement) sebelum akhirnya bisa berlabuh menjadi pegawai tetap. Adik tingkat saya di kampus juga harus magang dulu selama 11 bulan di perusahaan IT, sebelum akhirnya ditawari posisi sebagai pegawai tetap. Mengapa, karena sudah terbangunnya trust di perusahaan tersebut. Jadi ketimbang merekrut orang lain yang prosesnya melelahkan dan belum tentu juga cocok dengan budaya kantor, perusahaan ini tentunya lebih memprioritaskan para anak magang atau vikariat untuk dipromosikan. 


Mungkin saya (dan beberapa orang lainnya) harus magang setahun dulu sebelum dapat jabatan tetap, tapi banyak juga, lho, perusahaan yang tak perlu waktu selama itu untuk menawari kalian posisi yang lebih baik. Kuncinya, cari perusahaan yang punya banyak ruang untuk belajar dan berkembang. Kalau pun mesti magang di perusahaan kecil, sebisa mungkin pilihlah perusahaan scale up (setingkat di atas startup) ataupun hyper-growth startup yang punya budget berlebih untuk menjadikan mu pegawai mereka nantinya. Kalau pun tidak berakhir di perusahaan yang sama, setidaknya kita sudah punya pengalaman kerja 1,5-2 tahun yang sesuai dengan field untuk ditulis di CV selulus kuliah. Trust me, it really works! 

One more note on this, banyak sekali perusahaan besar di Norwegia yang masih old-school dalam melihat pengalaman kerja kita di CV. Meaning, nama perusahaan besar selalu menjadi magnet bagi perusahaan lainnya. Jadi bagi kalian yang bisa magang di perusahaan ternama, beruntunglah. Karena kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar lain tentunya akan semakin luas. 


3. Belajar bahasa karena butuh, bukan terpaksa

Dari dulu, setiap kali membaca pengalaman imigran cari kerja di Norwegia, embel-embelnya selalu saja dibumbui tentang 'belajar bahasa Norwegia' agar nantinya lebih mudah dapat kerja. Bahasa selalu menjadi halangan utama imigran agar bisa bersaing dengan orang lokal. Hampir semua lowongan kerja yang ditulis memakai bahasa Norwegia pun masih menuliskan "Wajib berbahasa Norwegia fasih, baik lisan maupun tulisan" untuk menyortir para imigran yang asal apply. Biasanya ada tingkatan seperti "bisa berbahasa Norwegia dengan baik/sangat baik/fasih/sangat fasih".


It's such a hard truth, tapi ada banyak lowongan pekerjaan yang menuliskan deskripsi berbeda ketika ditulis memakai bahasa Inggris versus bahasa lokal. Deskripsi akan ditulis super detail dan panjang jika tercantum dalam bahasa Inggris, sementara tak terlalu banyak ekspektasi dan straightforward jika ditulis menggunakan bahasa Norwegia. Terlihat jelas, perusahaan tahu bahwa akan ada yang banyak melamar jika lowongan ditulis menggunakan bahasa Inggris dan ekspektasi pun semakin ditinggikan untuk mencari kandidat terbaik. Meskipun, tetap ada kewajiban menguasai bahasa lokal walau lowongan ditulis menggunakan bahasa Inggris. Pernah juga saya melihat dua lowongan magang di perusahaan yang sama dengan posisi tak dibayar saat ditulis dalam bahasa Inggris, namun berbayar saat lowongan ditulis dalam bahasa Norwegia. It seems like Norwegian skill is "so rare" and more valuable to be paid.  

Atas dasar inilah, saya mati-matian belajar bahasa Norwegia sampai Level 3 agar nantinya memudahkan cari kerja kemana-mana. Saya tahu kursus di luar super mahal. Makanya selagi ada yang gratis seperti yang disediakan di kampus, saya gunakan kesempatan ini sebaik mungkin meski sangat keteteran. Wait, tapi ini pemikiran saya dulu. Setelah semua pengalaman yang saya alami, I would say, belajar bahasa hanya karena ingin dapat kerja adalah omong kosong!


Ketika lowongan kerja mencantumkan syarat kelancaran bahasa lokal (lisan dan tulisan), di situ jugalah sebetulnya perusahaan sedang mengeluarkan seribu alasan untuk tak berniat merekrut imigran. Kecuali kamu dihibahkan kemampuan linguistik yang luar biasa, how on earth, kita yang baru kuliah atau tinggal 2 tahun di Norwegia lalu setelah lulus langsung bisa lancar bahasa lokal?! Okay, let me finish this! Bedakan antara lancar bicara dan lancar menulis. Anak umur 4 tahun sudah sangat lancar bicara namun bisa jadi tak mengenal satu abjad pun. Penggunaan grammar salah saat bicara is not a big deal. Tapi sebaliknya, typo saat mengetik dan tak mahir merangkai kata bisa membuat semua kerjasama batal. Saat ujian bahasa lokal, nilai speaking saya lebih bagus dari nilai writing. Mengapa, karena bicara yang lepas nyatanya lebih mudah daripada menulis dengan tata bahasa yang baik. Tiga tahun di Norwegia belum ada apa-apanya untuk menjadikan saya penulis handal, and I still need more time to polish my writing skill.

Selain itu, tak ada satu tempat kursus pun di Norwegia yang akan mengajari kita bahasa bisnis. Namun di kantor, penggunaan bahasa profesional adalah yang utama. Di kelas bahasa, kita tak akan pernah belajar istilah semacam due diligence, closed offer, analisa bisnis, ataupun tata kelola taman. Semua materi di kelas hanyalah pondasi yang bisa kita gunakan untuk melancarkan penguasaan bahasa percakapan sehari-hari ataupun bekal sertifikat persiapan untuk kuliah.


Saran saya, stop belajar bahasa hanya karena berniat cari kerja. Belajarlah bahasa Norwegia karena kita mau dan merasa butuh. Butuh untuk lebih dekat dengan society. Butuh karena kita ingin lebih cepat beradaptasi dengan budaya Norwegia. Butuh karena sadar bahwa bahasa Inggris tak pernah cukup. And no, we don't have be fluent in writing - yet. Jika dipanggil wawancara dan dirasa bahasa akan jadi penghambat, berusahalah dulu meyakinkan perusahaan bahwa kita sedang belajar dan terus berusaha memperbaiki kemampuan bahasa lokal. Ada kalanya, mereka cenderung luluh dan mau menerima kita. Tak jarang, perusahaan menawarkan kursus bahasa gratis bagi para pekerja imigran yang serius ingin belajar.


4. On-demand jobs bagi para lulusan Teknik

Sama seperti di negara lainnya, para lulusan Teknik selalu menang banyak dibandingkan dengan lulusan dari jurusan lain - semisal Politik. Teknik Informatika contohnya, punya skala perbandingan lowongan kerja yang tersedia setiap hari dan sifatnya selalu on-demand. Banyak perusahaan startup di Norwegia yang lebih butuh Full-Stack Developer atau UI/UX Designer, ketimbang Marketing. Untuk syarat pun, perusahaan cenderung lebih toleran untuk tak mewajibkan penguasaan bahasa saat merekrut banyak teknisi. Maka jangan heran jika kalian menemukan fakta bahwa lulusan IT lebih cepat mendapatkan pekerjaan ketimbang lulusan Soshum. Sudah sangat lazim terdengar bahwa para lulusan IT/Teknik ini selalu di atas awan karena tak usah repot-repot lagi belajar bahasa, asal punya kemampuan mumpuni.

Lalu bagaimana dengan lulusan lainnya? Tak usah sedih hanya gara-gara kita bukan anak IT. Kembali ke saran saya nomor dua; carilah tempat magang yang sesuai dengan bidang yang kamu tekuni! Meskipun, beberapa pekerjaan ada yang sifatnya terlalu niche dan tak mudah bagi imigran yang hanya berbekal ijazah S2 contohnya pengacara atau dokter.


5. Koneksi bukan segalanya

Setiap kali membaca artikel, mengikuti workshop, ataupun mengobrol dengan beberapa orang tentang caranya mendapatkan kerja di Norwegia, hampir semua dari mereka mengatakan bahwa networking alias koneksi alias orang dalam adalah kunci utama. Jangan lupa networking, networking, networking! Apalagi kabarnya 40% lowongan kerja di Norwegia nyatanya tak dipublikasikan, tapi hanya informasi internal. Di situasi ini, networking rasanya bisa juga jadi fast track untuk mendapatkan pekerjaan. 

Namun setelah dua tahun berburu kerja, perlu saya garis bawahi bahwa mencari orang dalam itu sulit  tak hanya bagi para lulusan baru tapi juga orang lokal sendiri! Tak hanya satu dua kali memang saya dengar cerita bahwa beberapa imigran berhasil mendapatkan pekerjaan dari kenalan yang ditemui di sebuah organisasi, kegiatan sukarelawan, ataupun event. Namun yang saya perhatikan, hal tersebut juga cenderung hoki-hokian. Buktinya banyak juga yang sudah berusaha memperluas koneksi, tapi tak terlalu membantu.


Ada juga yang benisiatif aktif di LinkedIn, lalu mulai mengikuti beberapa pegawai di perusahaan tertentu agar nantinya siapa tahu bisa bertemu lewat coffee chat lalu berujung ke job contract. Betul memang, Norwegia punya sistem trust dalam proses rekrutmen kepegawaian. Jika kita punya rekomendasi dari orang dalam yang sudah atau pernah bekerja di perusahaan tersebut, kesempatan untuk dipanggil wawancara tentunya lebih besar. But unfortunately, this case does not apply to everyone. Sadly, not every person you follow on Linkedin and have a coffee chat is interested to assist. 

So, no, jangan pernah merasa rendah diri dan mengutuki jiwa introvert hanya gara-gara kita tak punya banyak kenalan dan orang dalam di Norwegia. Keseringan, kita malah baru bisa menemukan koneksi jika sudah memiliki pekerjaan di satu tempat. Membangun network juga perlu strategi, bukan dengan hanya modal cari muka ke semua orang. Setelah menyadari bahwa tak ada yang bisa saya lakukan untuk membangun banyak jaringan orang dalam, saya hanya berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan koneksi yang sudah ada tanpa ekspektasi mereka bisa membantu mencarikan pekerjaan. 


6. Maksimalkan Job Seeking Visa

Sebagai lulusan perguruan tinggi di Norwegia, imigrasi menawarkan opsi job seeking permit selagi mencari pekerjaan high-skill dan tidak termasuk asisten di TK ataupun pelayan restoran. Antara pekerjaan dan pengalaman kerja ataupun pendidikan sebelumnya juga harus relevan. Kalau memang lulusan Pedagogik atau Pendidikan, jangan melamar jadi asisten guru TK, tapi leader-nya langsung. Kecuali jika posisi asisten tersebut juga menyaratkan gelar pendidikan dan menawarkan gaji di atas minimum.

Baiknya, di Norwegia ini kita tak perlu sponsor dari perusahaan hanya untuk dapat working permit. Asal berkualifikasi dan pekerjaan yang kita dapatkan itu sifatnya high-skill, kita sebagai pelamar bisa mendaftar sendiri ke imigrasi dengan menyertakan kontrak kerja yang posisi dan gajinya sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan. 


Kembali ke job seeking permit, kita bisa mendapatkan visa tipe ini maksimal hanya 12 bulan dan parahnya, tetap harus menyertakan jaminan hidup yang jumlahnya 2x lipat dari syarat study permit! Again, such a hard truth! Ketika baru lulus kuliah dan berniat cari kerja, kita malah disuruh melengkapi syarat jaminan hidup yang jumlahnya minimal 22.165 NOK/bulan (sekitar 37 juta Rupiah) atau sekitar 400-an juta Rupiah selama 12 bulan. Jumlah ini tak harus berupa uang yang tersimpan di tabungan, tapi bisa juga uang bulanan dari keluarga atau gaji dari tempat lain. Gaji ini ditetapkan mengacu ke gaji minimum full-time tiap bulan untuk low-skill worker; semisal pegawai restoran atau cleaning lady. Jadi kalau hanya bisa bekerja paruh waktu di restoran saat masa studi, selulusnya kuliah kita bisa mengajukan posisi penuh waktu agar gajinya mampu memenuhi syarat ini.

Saya juga sedang dalam proses mendaftarkan aplikasi job seeking permit dan beruntung gaji yang saya dapat dari magang jumlahnya mampu menutupi biaya jaminan. Ada banyak sekali lulusan baru yang menggunakan visa tipe ini. Namun karena sudah kelelahan bekerja di restoran demi menutupi biaya hidup, akhirnya lupa tujuan utama untuk mencari pekerjaan high-skill. Nobody says it would be easy karena banyak juga yang struggling satu tahun belum juga dapat kerja. It definitely takes time, namun jangan sampai lupa memanfaatkan waktu 12 bulan yang ditawarkan.


7. Bangun usaha sendiri jika mampu

Malas apply kerja kanan kiri dan jadi budak perusahaan  tapi di satu sisi belum ingin meninggalkan Norwegia? Kalau memang punya modal, mengapa tidak coba buka usaha di negara orang? Yes, it's possible! Untuk syarat lebih lengkapnya, silakan baca di sini.


Minusnya jadi self-employed adalah kita hanya diberikan jaminan izin tinggal tiap satu tahun saja. Untuk tinggal lebih lama, kita harus mampu menunjukkan omzet usaha minimal setiap tahun yang jumlahnya tidak kurang dari yang sudah ditetapkan imigrasi. They're freaking strict karena kurang NOK 200 saja, aplikasi bisa ditolak mentah-mentah. Kalau memang punya privilege sumber keuangan dan kebetulan sudah merintis startup atau kafe bersama rekan lainnya, menurut saya, punya bisnis di negara orang sangat bisa dicoba. Semoga saja, nantinya kalian malah bisa membuka lowongan untuk membantu para lulusan baru yang sedang struggle saat cari kerja :)

*

Jika hanya gara-gara punya gelar Master dari kampus top membuat kita tinggi hati, sebaiknya rendahkan ekspektasi. Di negara ini, punya gelar bukanlah trofi. Ada banyak sekali tempat kursus, sekolah vokasi (fagskole), dan juga sekolah informal yang mencetak banyak lulusan siap kerja karena sistem belajarnya cenderung lebih hands-on. Tak punya gelar sarjana tak masalah karena masih bisa dikompensasi jika punya pengalaman kerja yang panjang. Keseringan, perusahaan cenderung lebih melihat pengalaman kerja ketimbang dimana almamater kita. Apalagi jika yang disandingkan adalah orang lokal lulusan sekolah vokasi tapi berpengalaman versus imigran yang baru saja lulus S2 dari kampus top. You know whom they'd definitely hire!


Ending-nya, jika ditanya apakah saya berniat membangun karir di Norwegia, jawabannya iya. Tapi bisa jadi tidak, mengingat hidup saya di sini juga sangat tertekan selalu bergantung dengan izin tinggal. Kalau memang tempat ini bukan tempat yang tepat, saya merasa kembali ke Indonesia juga bukan pilihan yang buruk. 😌

Good luck with your job hunting!



3 comments:

  1. May we jnow what kind of job you are doing?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena aku lulusan Entrepreneurship, jadinya gawean aku juga nyasarnya ke startup :) Bagian kreatif; either ngurusin konten, marketing, atau desainer.

      Delete
  2. Keren Nin, semoga karirnya makin baik kedepannya :)

    ReplyDelete