Langsung ke konten utama

Berhutang Demi ke Luar Negeri


Awal tahun 2021 akan dibuka dengan cerita saya melangkahkan kaki ke luar negeri pertama kali hingga masih berada disini, dibiayai dari hasil hutang. Kamu mulai skeptis dengan semua hal yang berhubungan dengan hutang piutang? Baca sampai akhir agar tahu bahwa tidak semua hutang itu identik dengan hal-hal negatif!

Saat backpacking mulai booming di Indonesia awal tahun 2007-an, saya termasuk salah satu orang yang mengamini bahwa jalan-jalan ke luar negeri itu bukan hanya milik orang kaya lagi. Apalagi ketika low-cost carrier (LCC) milik Malaysia berinovasi menjual murah harga tiket pesawat keliling Asia hingga Prancis, semakin membuat mimpi orang Indonesia keliling dunia lebih dekat dengan kenyataan. Beberapa orang mulai mencoba jalan-jalan mandiri dengan modal backpack dan menginap di tempat murah, lalu membukukan kisah perjalanan tersebut. Mereka membuktikan bahwa modal keluar negeri itu memang tidak perlu sampai ratusan juta. Yang penting tujuannya bisa jalan-jalan murah meriah ke banyak negara meskipun harus menanggalkan kemewahan untuk sementara waktu.

Saya sangat tertarik dengan kisah perjalanan murah seperti ini, hingga membeli banyak buku backpacking dari berbagai penulis. Salah satu penulis favorit saya kala itu bahkan sudah mengeluarkan banyak buku travelling dengan judul-judul menggugah, seperti contohnya bisa ke Singapura dengan modal 500 ribu Rupiah saja. Meskipun hampir semua penulis berdomisili di ibukota, namun tak mengubur motivasi saya sebagai anak daerah untuk berpetualang keluar Indonesia.

Hingga tahun 2012, ketika LCC milik Malaysia menawarkan tiket super murah hanya 50 ribu Rupiah dari Palembang ke Kuala Lumpur, hal tersebut semakin melebarkan langkah saya bepergian ke luar negeri. Jadi bisa dikatakan, Malaysia adalah negara pertama yang saya kunjungi dengan tujuan awal sebetulnya ingin menonton konser Maroon 5. Namun karena tidak punya cukup uang, saya hanya menemani teman sekalian jalan-jalan. Saat itu saya hanya membawa 500 ribu Rupiah yang sudah sangat pas-pasan untuk penginapan dan makan selama 3 hari 2 malam. Tapi karena mengalami sendiri bahwa ke luar negeri memang tak butuh modal puluhan juta, saya jadi ketagihan! 

Dua bulan kemudian, rasa percaya diri saya terbangun dan nekad ke Thailand sendirian selama 10 hari! Dari Kuala Lumpur, saya memberanikan diri naik bus ke Hat Yai, lanjut menuju Bangkok dan jalan-jalan sampai Phuket hanya via darat. Senekad itu karena terlanjur sudah beli tiket PP Palembang-Kuala Lumpur, meskipun totalnya hanya 300 ribu Rupiah. Semua rute hanya dibuat berdasarkan hasil contekan dari banyak buku backpacking yang saya punya. Tersasar itu sudah biasa. Dari sini juga saya sadar bahwa orang Thailand itu nyatanya ramah-ramah dan mudah menolong meskipun kami tak mengerti satu sama lain. Saking sukanya dengan Bangkok, saya malah merasa kota ini cenderung lebih aman dan nyaman ketimbang Jakarta. 


Dari awal, sebetulnya saya juga tidak jujur ke keluarga kalau pergi sendirian ke Thailand. Tidak, sampai saya tiba di rumah. Zaman dulu memang masih tabu mendengar perempuan jalan-jalan sendirian ke negara orang dalam waktu yang cukup lama. Saya cukup takut bahwa langkah saya harus terhenti hanya karena orang tua tak merestui. Apalagi uang yang saya bawa totalnya hanya 1,3 juta Rupiah hasil tabungan dan pinjaman teman. Yes, you got it right! Saya memulai solo backpacking ke Thailand dimodali hutangan dari teman sebesar 500 ribu Rupiah. Semiskin itu, haha!

Padahal, salah satu penulis buku backpacking seringkali mengatakan bahwa jangan pernah berhutang hanya demi jalan-jalan ke luar negeri! Apalagi kala itu backpacking mulai jadi lifestyle anak-anak muda Indonesia dan rasanya belum keren kalau belum pernah ke 3 negara tetangga; Malaysia, Singapura, dan Thailand. But, don't get me wrong! Saya memulai backpacking bukan karena ikut-ikutan tren sampai harus dijadikan konten. Dulu saya tidak punya Facebook dan Instagram yang mesti di-update hanya karena sedang berada di negara baru. Saya hanya berpikir, this is the time! Mumpung masih jadi anak kuliahan dan belum disibukkan dengan pekerjaan (karena susah cutinya), inilah waktu yang tepat ngebolang meskipun harus tidur di emperan.

Tapi malu kah saya berhutang hanya demi ke Thailand?

Tidak sama sekali! Kita semua tahu, hutang itu adalah hal yang kita pinjam sekarang, lalu wajib dikembalikan dikemudian hari. Dalam dunia keuangan, hutang memiliki konsekuensi positif dan negatif yang bermakna good debt atau bad debt. Simpelnya, good debt itu memiliki value di masa mendatang baik dari segi kekayaan atau investasi diri. Sementara kebalikannya, jika tidak memiliki value tersebut dan kita kesulitan membayarnya, then it's bad debt. 

Travelling ke luar negeri membuka jalan saya melihat dunia berbeda dan sangat bermanfaat dalam pengembangan diri. Saya jadi lebih mengenali diri sendiri dan sadar bahwa saya sebetulnya sangat pelit dengan makanan. Solo backpacking kadang membuat saya seperti anak jalanan yang jarang makan dan puas hanya menyantap mie seduh. Sepuluh hari menjelajah Thailand, berat badan saya turun drastis 5 kg saking malas makan! Karena travelling juga saya belajar banyak hal tentang negara orang lain, punya media untuk mengasah kemampuan komunikasi antar budaya, serta lebih familiar dengan geografi karena sering melihat peta. Ujungnya, saya jadi ketagihan berburu tiket murah, tak berhenti belanja buku-buku backpacking lain, dan terus menabung dari gaji freelance semasa kuliah demi bisa jalan-jalan. Makanya pada konteks ini, saya merasa hutangan ke Thailand saat itu merupakan good debt. Apalagi sejak dari Malaysia dan Thailand, rute main saya semakin jauh sampai ke Eropa.

Hingga memutuskan untuk lanjut kuliah lagi di Norwegia, uang jaminan sebesar 123.000 NOK yang harus saya lampirkan demi persyaratan study permit pun sebetulnya hasil pinjaman kanan kiri. Sempat diumpat orang karena merasa saya tak siap finansial tapi nekad kuliah, lalu dicurigai melakukan tindak kriminal hanya gara-gara ingin pinjam uang, tak membuat saya berhenti tetap lanjut sekolah. Jangan salah, meminjam uang demi pendidikan sebetulnya dikategorikan good debt karena pendidikan merupakan investasi penting. Bedanya, saya bukan au pair beruntung yang kuliahnya disponsori host family dan tak punya akses student loan di Norwegia hingga harus memutar otak pinjam uang dulu ke teman. Sekali lagi, saya tidak malu dan merasa langkah yang saya lakukan sudah tepat.


Hutang memang amat memberatkan, namun terkadang banyak orang tak punya pilihan. Yang  terpenting bagi saya, jangan sampai berhutang melebihi kemampuan. Saat berhutang demi ke Thailand, saya langsung mengembalikan uang tersebut setelah menerima gaji freelance sepulangnya dari jalan-jalan. Sementara pinjaman uang jaminan kuliah, langsung saya kembalikan maksimal 3 minggu kemudian. Risih sekali rasanya masih menyimpan uang yang bukan milik pribadi.

Ngomong-ngomong, meskipun di postingan ini saya terdengar seperti melegalkan hutang demi ke luar negeri, namun good debt could go bad. Misalnya, kita sengaja meminjam dana puluhan juta untuk naik pesawat kelas Bisnis ke Jepang, menginap di ryokan, lalu makan di restoran sushi mewah hanya demi konten Instagram tanpa menghasilkan value apa-apa, justru ini yang salah. Ingat sekali lagi, good debt itu adalah hutang yang nantinya punya hasil jangka panjang! You take money to earn money!


In the end, saya tak pernah skeptis dengan hutang atau cicilan selama hal tersebut mempunyai value di masa depan dan tak memberatkan si peminjam. Good debt sebetulnya memungkinkan kita mengatur keuangan lebih efektif, meningkatkan kekayaan, dan membeli barang penting yang memang sangat kita butuhkan. Belum gajian au pair, tapi mesti beli boot salju karena cuaca akan terus memburuk beberapa hari ke depan? It's okay to borrow someone's money atau ambil cicilan pendek! Boot salju bisa jadi investasi penting untuk melindungi kaki agar tak kedinginan dan basah. Jadi jangan anggap semua hutang itu buruk karena setibanya gajian, bisa langsung dibayar, kan?

Bisa kamu sebutkan lagi contoh good debt yang bisa dimanfaatkan anak muda?


*P.S: Rusia adalah negara ke-30 yang saya kunjungi sebelum genap 30 tahun! Tentunya bukan hasil berhutang ya 😛



Komentar

  1. ah kak!! ya allah! niat banget yak xd baiklah selama itu hal positif harus dicoba dan di niatkan kak ya! gemezz banget baca ceritanya pokoknya!!

    selamat ya kak udah kunjungin 30 negara sebelum 30 tahun! it's a good thing to live!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... ceritanya bikin gemezzz ya? 🤭
      Aku anaknya emang nekad ya dari dulu. Sampe rela berhutang gini xD

      Makasih banyak ya ;) Semoga kamu juga banyak hal yg bisa dicoret dari daftar wishlist!

      Hapus
  2. Aduuuhhh mbaa, bacanya aku jadi mikir apa aku punya keberanian kayak gini, sometimes aku minder juga jadi pribadi tergolong manja. Even dari tamat SD aku udah jauh dari orangtua, karena sekolahnya udah ngekos dan sampai sekarang jauh dari orangtua tapi aku merasa nggak punya keberanian itu. Sometimes pernah kepikiran, apa saya pergi aja kali ya, tapi takut huaaaa mbaaaa, aku jadi merasa cemen baca tulisan ini😂😂😂.

    Dear mba Nin, semoga lebih banyak lagi menjelajahi negara luar dan jangan lupa tuliskan, hehehe. Aku senang baca tulisan ini, meski bukan diriku tapi aku bahagia mba menemukan diri mba saat traveling💕💕

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naaahh!!! Ini juga yang dibilang sama kakak aku. Aku duit 1,3 juta aja nekad sendirian ke Thailand. Dia, even dikasih duit 5 juta pun, kayaknya gak bakalan berani sendirian ke negara orang! 😅
      Udah, kamu jangan ikut2an kayak aku. Aku mah anaknya nekad, tapi well-planned kok :) Kalo kamu asal kabur doang, takutnya malah berhenti di tengah jalan. Emang bikin takut.

      Terima kasih banyak ya 😇 Aammmiinn..
      Kamu juga deh, cobain; travelling ke negara orang beberapa hari aja. Sama temen juga gak masalah. Ntar baru ketahuan tuh karakter masing2 😀

      Hapus
  3. Hi Nin,
    Salam kenal ya, senang baca blog mu! Jalan2 jd backpacker selagi muda itu bakal jadi kenangan tak terlupakan. Kalau sudah lebih tua gk kuat lagi deh. Saya backpacking dulu waktu jd mahasiswa di Belanda, uang jajan bulanan dr beasiswa byk kepake untuk jalan2 tapi itu saya anggap investasi. Salam hangat dari Swiss ya. Malikah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak udah mampir, Malikah 😇

      Iya. Aku juga setuju! Banyak yg masih suka skeptis kalo pelajar di LN suka pajang foto jalan2 di medsos. Padahal pelajar juga butuh refreshing & piknik. Mereka kadang gak tau aja travelling di Eropa bisa murah meriah & puas cuma modal backpackeran ;)

      Salam dari Norwegia! ♥️

      Hapus
  4. mbakk nin, mau tanya ini gimana caranya dapat tiket super duper murah ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Caranya.. mesti rajin ngecek! ;D

      Gak ada cara lain sih. Coba cek di Skyscanner atau berlangganan email maskapai low-cost :)

      Hapus
  5. wow waah keren banget Kak Nin, nekad banget bisa kepikiran backpacker sendiri ke Thailand jaman dulu, aku yang sekarang semester tua aja masih takut wkwk apa lagi kepikiran mau Aupairing abis kuliah karna udah muak di indonesia mulu wkwk, aku setuju kak kalau mau ke LN kurang asik kalau gak kunjungi negara tetangga dulu, iya bener mumpung masih muda juga, kak kalau boleh tau dulu freelance apa ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi jangan nekad tanpa planning dan strategi ya! :D
      Karena luar negeri itu tidak untuk semua orang dan nyatanya banyak yang ketakutan cuma gara2 kesasar. Hihi.. Padahal kesasar itu seninya travelling.

      Aku dulu freelance-nya serabutan, macem2 dari guru privat, buka kursus, jualan baju bekas online, pokoknya apa aja yang penting ngasilin selama masih jadi mahasiswa.

      Hapus
  6. Halooo, Kak Niiiiin. Gegara pengen tau cerita2 orang kuliah di Norway gimana, aku sampe klik beberapa judul yg ada di blog ini sampe nyasar ke cerita ini. Wuiiii seru banget. Kyknya karakter org tua kita mirip2... wkwkwk. Nekadnya juga mirip2 walau aku belum pernah solo travelling ya hehehe. Sehat2 selalu, Kak Nin. Salam kenal dari Jeddah. Fitriyah.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa