Langsung ke konten utama

Kerja Sampingan Au Pair


Sejak di Belgia, sebetulnya saya sudah mendengar cerita dari seorang teman kalau para au pair Filipina terkenal sangat pintar cari uang di Eropa. Cari uang ini maksudnya adalah cari kerja tambahan di sela-sela waktu au pair dengan menjadi cleaning lady. Pekerjaan ini biasanya didapat lewat mulut ke mulut, situs pencarian kerja, atau turun temurun dari teman.

Di Belgia dulu praktik blackwork seperti ini sangat tidak lazim karena adanya pengawasan yang ketat dari pihak kepolisian Belgia serta minimnya niat au pair lain untuk cari uang tambahan. Namun setelah sampai Denmark, saya baru sadar bahwa blackwork di kalangan au pair memang benar adanya. Tidak hanya satu dua orang, tapi banyak!

Tidak ingin munafik, saya dulu juga sempat kerja tambahan dengan bantu bersih-bersih bed & breakfast (B&B) kakaknya host mom di Belgia. Sebetulnya pekerjaan itu bukan saya cari, tapi ditawari. Kebetulan yang sering bantu-bantu disitu saya kenal dan doi langsung menawari kalau saya sedang free. Kerjaannya membersihkan B&B sekitar 4 kamar dan dibayar €10 per jam. Lumayan kan?

Tapi setelah dua kali kerja disana, saya menyerah. Mengapa, karena standar kebersihannya tinggi sekali. Maklum, yang dibersihkan memang B&B berstandar hampir sama dengan hotel berbintang. Tiap sudut harus dibersihkan secara detail dan kinclong. Belum lagi sabun dan lap yang digunakan berbeda-beda untuk setiap perabotan. Makin pusinglah saya sampai harus 3-4 kali bolak-balik membersihkan kaca yang tidak pernah shiny. Di Indonesia biasanya hanya pakai 1 lap dan sabun cair, beres. To be noted, saya bukan cewek manja dan pemalas yang tidak pernah bersih-bersih di rumah.

Meskipun awalnya bangga juga bisa pulang mengantongi €30-50 sekali kerja, namun saya putuskan untuk tidak akan pernah lagi kerja tambahan begini. Saya datang ke Eropa jauh-jauh bukan untuk cari uang sampai harus bersih-bersih selevel ini. Tenaga saya juga sudah digunakan untuk mengurus anak-anak dan rumah 1 keluarga, jadi tidak berminat untuk kerja yang sama di tempat lain lagi. Lagipula kerjaan ini sebetulnya ilegal, karena au pair memang dilarang bekerja tambahan di luar rumah host family.

Jadi apakah cari uang seperti ini salah?

Tidak juga. Sebetulnya ada beberapa teman au pair saya yang cari uang saku tambahan dengan membantu babysitting anak kenalan atau yang memang sengaja sekali minta dicarikan kerjaan sebagai cleaning lady. Tidak main-main, seorang teman ada yang bisa mengumpulkan uang sampai 4000 SEK per bulan hanya dengan jadi cleaning lady. Ada juga cerita lain yang katanya, kakaknya dulu bisa mengumpulkan sampai €500 per bulan di Belanda diluar tambahan uang saku au pairnya. Motifnya pun tidak hanya mencari uang semata, tapi juga karena justru tidak ada kerjaan di rumah.

Seorang teman dari Thailand mengaku hanya bekerja 2 minggu per bulan di keluarganya yang single dad. Wajar jika dia mengisi waktu dengan nyambi sebagai cleaning lady di Denmark lalu uangnya digunakan untuk foya-foya. Disisi lain, ada juga teman saya yang memang niat mencari banyak keluarga yang rumahnya ingin dibersihkan karena tujuannya ingin mengumpulkan uang. Tabungannya bukan digunakan untuk foya-foya tapi ke bayar hutang, tambahan uang kuliah, ataupun hanya tidak puas dengan pocket money yang diberikan host family.

That's their choice and they have accepted their own risks. Tapi menurut saya, harus diingat lagi kemarin jadi au pair untuk apa. Hanya untuk earning money kah di negara orang? Kalau iya, berarti au pair bukan jalan yang tepat karena pocket money memang bukanlah gaji yang harus kita terima. Uang tersebut hanya berupa uang saku yang sudah distandarisasi setiap negara setara dengan uang jajan anak sekolah di negara tersebut. Ingat lagi kalau kita dapat tempat tinggal, akomodasi, uang kursus, serta fasilitas lain yang sebetulnya host family sudah mengeluarkan biaya lebih banyak. Coba baca postingan saya tentang uang saku au pair untuk tahu apakah sesungguhnya uang yang kita terima itu betul-betul sedikit atau justru cukup! Atau jangan-jangan justru kita sendiri yang tidak bisa mengatur keuangan karena gaya hidup yang salah.

Again ya, that's totally "not" wrong kalau kalian ingin cari blackwork. Silakan saja, apalagi di Skandinavia yang orang-orangnya kebanyakan malas bersih-bersih. Yang salah menurut saya, kalau kita terlalu bangga dengan cara tersebut hingga terkesan jadi money-oriented. Bear in mind that people would see you differently. Beberapa keluarga angkat berpendapat bahwa au pair Asia yang datang ke negaranya bertujuan hanya untuk cari uang, bukan pengalaman. Jangan sampai karena asik kerja dan dapat uang lebih banyak, kita jadi lupa travelling dan bersenang-senang.

Kalau memang harus cari blackwork, please do it stealthy. Jika diperlukan, silakan juga diskusi dengan keluarga angkat lebih dulu apakah mereka tidak keberatan kalau kita cari paid job di luar. Tidak lucu kalau kita dideportasi hanya karena ketahuan kerja ilegal di luar kontrak au pair dan host family harus didenda karena membiarkan hal tersebut.



Komentar

  1. I'm extremely impressed together with your writing abilities as
    smartly as with the layout to your blog. Is that this a paid
    topic or did you modify it your self? Anyway keep up the nice high quality writing, it is uncommon to
    look a nice blog like this one today..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa