Menghitung Uang Saku Pelajar vs Au Pair di Norwegia

Sunday, 8 December 2019



Banyak orang awam yang mengutuki sistem kerja au pair karena dianggap abusive dan tak sesuai dengan ketentuan seharusnya. Dengan gaji NOK 5900 per bulan di Norwegia contohnya, au pair hanya terlihat sebagai praktek perbudakan semata yang berkedok pertukaran budaya. Belum lagi adanya budaya overworking, diperlakukan tak adil dan abusive oleh para host family. Tapi meskipun banyak cerita buruk berkembang di luaran, toh masih banyak saja anak-anak muda Indonesia yang ingin jadi au pair. Karena kebanyakan yang dicari memang bukan uang, tapi kesempatan tinggal, belajar, dan jalan-jalan.

Entah adil atau tidak menurut masyarakat awam, sebetulnya uang saku yang diterima oleh au pair di tiap negara itu sudah diatur sedemikian rupa mencocokkan uang saku pelajar setelah dipangkas kebutuhan primer lainnya. Saya sudah pernah bercerita sedikit soal uang saku au pair di sini. Silakan dipahami terlebih dahulu, lalu pikirkan kembali, apakah menurut kalian adil atau tidak. Semakin tinggi biaya hidup, semakin besar pula uang saku yang au pair tersebut dapatkan.

Sebagai seorang au pair yang juga merangkap mahasiswa S-2 di salah satu perguruan tinggi di Norwegia, kali ini saya ingin sharing lebih banyak soal uang saku yang seringkali jadi perdebatan ini. Saya contohkan saja perbandingannya dengan uang saku para pelajar asing yang bekerja paruh waktu di luar, sedang belajar menggunakan dana beasiswa, atau dapat hibah dan pinjaman pemerintah dari Lånekassen.

1. Jam kerja dan upah


Mari kita mulai dari sini dulu, jam kerja serta upah minimum yang diterima. Di Norwegia, jam kerja au pair normalnya 30 jam per minggu, sementara mahasiswa asing hanya diperbolehkan bekerja 20 jam per minggu di tahun pertama, namun diizinkan bekerja full time saat sedang libur.

Upah minimum untuk pekerjaan paruh waktu juga diatur sesuai dengan usia, jam kerja, serta jenis pekerjaan yang kita lakukan. Sementara au pair tidak punya upah kerja baku karena sudah dijatah NOK 5900 (2019) setiap bulannya. Normalnya, pekerja paruh waktu di Norwegia diupah NOK 140-200 per jam. Usia di atas 27 tahun wajib diupah minimal NOK 180 per jam meskipun jenis pekerjaannya hanya sebagai pelayan restoran. Kerja di atas pukul 9 malam dan akhir pekan/libur, gaji per jamnya naik jadi 160%. Sementara kalau ingin cari kerja serabutan di luar seperti tukang bersih-bersih atau babysitter lepas, upah diatur dengan kesepakatan antara kita dan employer.

Let's say saya bekerja jadi pelayan restoran dengan upah NOK 180 per jam. Dalam seminggu, saya bisa mengantongi sekitar NOK 3600. Dengan 80 jam kerja dalam sebulan, saya bisa mendapat gaji bruto sebesar NOK 14.400.

Gaji bruto;
Au pair: 120 jam kerja per bulan = NOK 5900
Mahasiswa yang bekerja paruh waktu: 80 jam kerja = NOK 14.400

Oke, sampai sini semuanya hanya berupa gaji bruto yang belum dipotong pajak. Di Norwegia semua yang berpenghasilan wajib bayar pajak, meski au pair sekalipun. Untuk pekerja biasa, pajak biasanya dikenakan sekitar 30-35% dari penghasilan. Sementara au pair, pajaknya tak tetap karena bisa berpengaruh pada banyak hal, tapi kita asumsikan saja 15% (meskipun ada juga yang 6 atau 35 persen!)

Setelah pajak;
Uang saku au pair: NOK 5015
Gaji paruh waktu (pajak 30%): NOK 10.080

Anyway, untuk mahasiswa yang dapat beasiswa atau dana hibah, jumlah per bulannya untuk yang masing single sekitar NOK 11.000 tanpa dipotong pajak.


2. Akomodasi


Setelah upah, lanjut lagi ke biaya akomodasi. Sebagai mahasiswa asing, tentunya place to stay and sleep adalah yang paling banyak menyita biaya bulanan. Sama seperti banyak negara lainnya, tentu saja biaya sewa bulanan di ibukota tak akan sama dengan kota kecil.

Di Oslo, biaya sewa kamar sepetak seluas 8 sqm di apartemen berbagi saja dipatok antara NOK 3500-5000 tergantung dari berapa banyak penghuni rumah, berperabot atau kosong, serta kemudahan akses transportasi ke tengah kota. Pilihan lainnya adalah menyewa kamar di student housing yang harganya juga bervariasi tergantung kelengkapan kamar tersebut. Yang pasti kita bisa memilih apakah ingin berbagi fasilitas dengan orang lain atau semuanya ada di satu kamar pribadi. Semakin lengkap kamar, semakin mahal. Katakan saja kamar  bermebel berukuran 11 sqm dengan sharing toilet & kitchen di student housing berharga NOK 4200 sebulan.

Biaya sewa kamar;
Au pair: GRATIS! Kamar biasanya cukup luas, berperabotan sendiri, punya kamar mandi pribadi bahkan dapur sendiri! Ilustrasi kamar di atas adalah yang biasanya paling banyak au pair punya.
Mahasiswa asing: NOK 4200 sebesar 11 sqm dengan kamar mandi dan fasilitas dapur yang harus berbagi dengan 6-8 mahasiswa lainnya


3. Makan


Setelah tempat tinggal, biaya primer lain yang harus dipikirkan adalah biaya makan setiap hari. Jadi mahasiswa asing harus pintar-pintar berhemat karena biaya hidup Norwegia sangat mahal. Masak sendiri adalah cara paling ampuh untuk menghindari pengeluaran membengkak. Rajin mencari informasi barang diskonan di situs toko sayuran juga bisa dicoba jika ingin mendapatkan produk dengan harga miring.

Setiap orang tentunya punya kebutuhan pokok yang tak sama. Tapi kalau ingin dihitung, biaya beli bahan makanan ini bisa kita bulatkan NOK 500 per minggu. Jadi dalam satu bulan, mahasiswa asing setidaknya mengeluarkan sekitar NOK 2000. Biaya ini belum ditambah jika kita ingin jajan di luar atau makan di kantin kampus.

Kebutuhan pangan sebulan;
Au pair: GRATIS! Join makan dengan host family atau kalau pun harus jajan mie atau sayuran sendiri, semaksimalnya NOK 500
Mahasiswa asing: Sekitar NOK 2000-2500


4. Tiket transportasi


Setiap daerah di Norwegia punya sistem transportasi sedikit berbeda, termasuk soal harga. Di beberapa wilayah, ada tiket khusus anak muda sampai usia 29 yang harga perbulannya hampir setengah harga normal. Sementara di Oslo, tak ada yang membedakan anak muda kecuali status full-time student- atau trainee-nya atau usia di bawah 19 tahun.

Ongkos bulanan;
Au pair: Di Oslo, harga tiket perbulan untuk tahun 2019 adalah NOK 746
Mahasiswa asing: Diskon sampai 40% atau NOK 450


KESIMPULAN:


Sehemat-hematnya mahasiswa yang tinggal di Norwegia, uang saku bulannya tetap akan kalah dengan 'penghasilan' au pair. Biaya di atas juga belum termasuk paket telpon dan internet yang kebanyakan au pair dibiayai oleh host family. Tapi mengapa uang saku au pair malah yang paling cepat ludes? Kembali lagi ke gaya hidup "tanpa absen nongkrong dan jalan-jalan". Travelling penting, namun menabung juga penting, but what should you prioritise?

Makanya tak heran seorang teman saya rela jadi serial au pair hanya karena kehidupannya yang nyaman, makan-minum-tidur sudah ditanggung. Buka pintu kamar, langsung kerja tanpa harus berjibaku dengan dinginnya salju di musim dingin. Belum lagi adanya fasilitas mewah lainnya seperti diajak travelling bersama, tiket PP gratis, sampai kamar yang mirip hotel bintang lima. Enak kan (sebetulnya) jadi au pair?

Now, tell me what you think! Menurut kalian, uang saku au pair itu sebetulnya sudah cukup adil belum sih?



8 comments:

  1. Iya sih kalau dibandingkan ternyata ga jauh beda ya.

    Tapi karna aku belum pernah jadi au pair, aku mikirnya cuman klo jadi aupair, karna apa2 tergantung host family, klo ada konflik lebih parah, karna tergantung banget, termasuk au pair yang di "abuse" sama host familynya, mo nolak kek gimana kadang, klo ga mau diputus kontrak etc etc, sementara mahasiswa asing kan palingan share sama mahasiswa lain di kolegium,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Tapi itu perspektifnya udah keluar dari konten sih. Udah berhubungan sama kontrak kerja & profesional. Sementara mahasiswa asing kan cuma belajar di sini, au pair kerja.

      Soalnya uang saku au pair ini sering banget didebatin. Sampa ada beberapa yg nanya, “kok mau sih jadi au pair duit segitu doang?” Atau statement “ihh gue mah mana mau repot2 jadi au pair gaji segitu bersih2 rumah orang”. Padahal orang2 ini belom tau aja perks-nya au pair ;)

      Makanya di sini aku hanya membahas urusan uang saku & dimana paling banyak abisnya. Kenapa au pair tidak sama dengan kerjaan full-time, karena di sini au pair dianggap bukan pekerja 😀

      Delete
  2. Klo dilihat dr saving per bulan (dr kterangan diatas), au pair bs save sdikit lebih banyak dibanding pelajar (kurang lebih 800 NOK), tp dgn jumlahnya jam kerja yg jauh lebih banyak dibanding pelajar, 40 jam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pelajar kan kerja utamanya memang belajar, makanya cuma dibolehin kerja 20 jam doang/minggu biar gak ganggu sekolah. Kerja cuma buat mencukupi kehidupan sederhana aja.

      Sementara au pair emang tugas utamanya kerja & selingannya ya sekolah bahasa. Anyway, di sini au pair kerja 30 jam/minggu 😇

      Delete
    2. Sorry, mksud aku td klo dijumlahkan jam kerja au pair lbih bnyak 40 jam sebulannya dibandingkan pelajar (artinya bekerja lbih keras sbnyak 40 jam sebulan), dgn saving kurleb 800 NOK lebih banyak dibanding pelajar..
      Ini utk mnjawab prtanyaan km diakhir tulisan, apakah uang saku au pair itu cukup adil?

      Mnurut aku, klo kita cuman menghitung uang nya aja, maka msih kurang adil (dgn perbandingan kelebihan jam kerja 40 jam sebulan td dibanding pelajar, dgn income yg ga trlalu jauh beda).

      Tp km jg udh jelasin dibnyak tulisan lain, klo jd au pair memang bukan semata krn uangnya. Yg lbih penting adl kesempatannya, lbih bgus lg klo bs jd batu loncatan ky km yg akhirnya bs membuka peluang utk jd pelajar beneran..

      Delete
    3. Aahhh iya.. ngerti2. Terima kasih ya sudah sharing :D

      Sayangnya memang di Eropa begitu. Au pair bukan dianggap pekerjaan yang mesti digaji per jam. Gajinya udah fixed karena memang keluarga juga mesti make sure bayarin tiket pesawat, kursus bahasa, dll ☺️

      Tapi meskipun mahasiswa dibolehin kerja cuma 20 jam/minggu, jadi mahasiswa juga anjaylah. Capek beneuuur, mesti komit 100% — at least di jurusan aku sekarang ya.

      Delete
  3. Haii kak nin, maaf aku mau nanya.. Itu kan ada fasilitas sendiri buat place to stay gratis dari aupair itu berupa kamar sendiri buat kita? Beda tempat sama di rumah host family atau gimana ya? Dan selama daprt fasilitas itu, ttp bekerja kan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Au pair itu; program pertukaran budaya (layaknya homestay) yang memungkinkan kamu bekerja sebagai personal assistant in exchanged of free food & accommodation. Jadi biar bisa tinggal & makan gratis (plus dibayar), kamu di situ ya harus kerja juga.

      Soal kamar, tergantung ke host family-nya. Ada yang tinggal di satu atap (dapet kamar sendiri), di apartemen sendiri (beda apartemen sama hf), atau bahkan dapet rumah sendiri (karena hf punya banyak rumah).

      Delete