Cerita di Thailand: Tersiksa di Kereta

Friday, 31 May 2013



Saya sedih mesti meninggalkan Bangkok pagi-pagi dan mesti berada di Phuket keesokan harinya. Sambil mencangklong travel bag saya yang rusak di hari pertama backpacking, saya memasuki stasiun kereta api Hua Lamphong. Sebelum memesan tiket kereta api ke Surat Thani, saya menitipkan travel bag dulu. Agak sedikit kaget tiket yang dibeli cuma 217B untuk kereta api kelas 3. Padahal di buku panduan jalan-jalan yang sedang saya bawa, si penulis mendapatkan tiket 60B lebih mahal dari saya. Hehe. Rencananya sebelum ke Surat Thani, saya ingin menyempatkan diri membeli tas di Chatuchak Weekend Market.

Jam 3 sore, saya sudah tiba di stasiun lagi. Naik ke lantai atas dan menyempatkan ibadah dulu. Dari atas saya bisa melihat aktifitas calon penumpang di ruang tunggu yang tadi pagi saya lihat masih sepi, ternyata semakin sore malah semakin ramai. Bahkan ada bapak-ibu bule yang langsung membuka dua koper mereka di tengah-tengah ruang tunggu. Koper mereka itu bukan yang ukuran mini ya, sodara-sodara. Tapi yang guede itu, yang kira-kira muat buat backpacking-an 6 bulan. Hihi. Mereka dengan santainya merapihkan isi koper sambil menyusun barang belanjaan yang sepertinya baru sudah dibeli. Seru sekali melihat aktifitas di staisun Hua Lamphong di sore hari.

Dari lantai atas di ruang shalat, saya bisa melihat jadwal keberangkatan kereta. Waktu sudah menunjukkan pukul 5, tapi saat saya coba mengecek di papan jadwal, rute Bangkok-Surat Thani mengalami keterlambatan hingga satu jam. Akhirnya saya menyempatkan shalat Maghrib dulu sekalian menunggu kereta datang.

Satu jam kemudian, kok tidak ada tanda-tanda kereta akan datang ya? Di papan jadwal masih tertulis delay dan saya sendiri masih membeku di ruang shalat. Saya melihat ke bawah, di ruang tunggu bule-bule dengan ransel bagong semakin rame saja. Kereta memang menjadi salah satu transportasi murah yang sering dijadikan alternatif mengunjungi tempat-tempat di Thailand selatan.

Jam setengah 7 nih, kok perasaan saya makin tidak enak ya? Saya turun dan mencoba bertanya ke salah seorang om-om yang sedang berdiri memandang papan jadwal. Bodohnya, bukannya langsung cari kereta ke gerbong, saya tetap yakin kalau kereta mungkin saja telat lebih lama. Sialnya, om-om yang ditanya sama sekali tidak bisa bahasa Inggris. Malah sok-sokan mengerti lagi, saya makin bingung nih. Saya tinggalkan dia dan langsung bertanya ke polisi jaga yang berdiri di dekat gerbang (dari tadi kek!). Gila, saya rasanya mau melompat saat dia bilang kereta menuju Surat Thani sudah mulai meninggalkan stasiun. Si pak polisi langsung menyuruh saya lari-lari dan menunjuk kereta di gerbong sekian (lupa, jekk) yang memang sedang berjalan pelan. Mammaaakkk..traveling bag saya berat sekaleee. *Maklum, ditambahin barang belanjaan dari Chatuchak :p*

Setelah memastikan kembali apakah itu benar kereta menuju Surat Thani dengan kondektur yang lagi berdiri di pintu, saat dia bilang iya, saya beneran langsung melompat ke kereta yang sedang berjalan pelan itu. Sesaat sebelum masuk kereta, saya melirik sebentar ke pak polisi yang tadi mengantar saya ke gerbong, dia melambaikan tangan dan air mukanya berubah jadi lega. Saya lebih lega, Pak, terima kasih.

Baiklah, tapi penderitaan belum berakhir. Kereta sudah mulai berjalan lebih cepat dan sekarang waktunya saya mencari tempat duduk. Jujur, ini pengalaman pertama saya naik kereta antar kota setelah sejak belasan tahun lalu. Saya naik kereta terakhir kali ke kampus, dengan kondisi kereta yang nyaman dan tidak pernah nyaris ketinggalan. Saya mulai celingukkan mencari tempat duduk, kira-kira saya bakalan duduk dimana nih. Dan saya mau teriak, pas salah seorang kondektur bilang tempat duduk saya ada di gerbong 1 dan saya sekarang ada di gerbong 12. Artinya? Artinyaaa...??

Cukup. Saya sudah mulai kehabisan napas melewati 11 gerbong di belakang dengan mengangkat tas yang berat dan keadaan kereta yang oleng kesana kemari saat berjalan. Baiklah, saya sudah berada di bangku, menarik napas, dan mulai memperhatikan sekeliling. Saya lupa kalau sekarang saya naik kereta api kelas 3, bergabung dengan warga lokal, lalu akan menghabiskan malam di kursi keras ini. Betapa bodohnya saya yang sudah menyamakan tingkat kenyaman saya dengan tingkat kenyaman penulis di salah satu buku backpacking itu! Saya mulai berpikir rasional dan ingat kata-kata teman saya waktu kami nyasar di Kuala Lumpur dulu, tidak semuanya yang di buku panduan itu bakal memandu! Tidak semuanya yang terlihat mudah dan gampang buat si penulis juga bakalan mudah untuk kita. Kenyataannya selalu berbeda.

Benar saja, 'penyiksaan' ini dimulai dengan pakaian saya yang tidak siap perang melawan malam. Saya cuma pakai jaket tipis dan sandal jepit. Semakin malam, udara malam semakin menusuk. Memang, jendela di dekat saya sudah ditutup, tapi jendela di bangku penumpang di barisan kiri rata-rata terbuka lebar. Saya benar-benar tidak bisa tidur dan berulang kali terbangun. Akhirnya saya mengambil kaus kaki wool di dalam tas dan berusaha menyelamatkan kaki. Kaki saya rasanya sudah beku saat itu. Saya benar-benar mengutuki diri saya yang ingin hemat, tapi seperti menyiksa diri. Telinga dan wajah saya juga sudah beku dan mati rasa. Topi yang saya kenakan ternyata tidak mampu menahan hawa dingin udara malam yang membuat telinga ikutan membeku. Saya memang tidak bawa topi wool, ya lagian buat apaan? Thailand kan panas. :(

Jam 3 pagi saya terbangun dan bersumpah tidak mau tidur lagi. Rasanya seperti mimpi buruk berada di kereta ini! Kenapa nggak pesen sleeper aja tadi?!, gerutu saya saat itu. Untungnya saya sebangku dengan ibu-ibu lokal yang lumayan ramah walaupun tidak bisa sedikitpun bahasa Inggris. Dia selalu berusaha mengajak saya berbicara walaupun di antara kami terdapat batasan bahasa. Yasudahlah, setidaknya saya masih bisa berpikiran positif di saat kondisi menyiksa seperti ini.

Tapi lagi-lagi pikiran negatif saya kambuh, duh..mana yang katanya naik kereta api kelas 3 nyaman? Mana yang katanya bisa tidur nyenyak? Penipu! Saya kok malah berulang kali menggerutui pengalaman penulis yang bukunya sedang saya jadikan panduan ini ya? Haha. Ternyata memang benar kata teman saya, apa yang dirasakan penulis di buku panduan jalan-jalan bisa saja selalu berbeda dengan apa yang kita rasakan. Kita tidak harus selalu menjadi 'kere' untuk berhemat, tapi setidaknya kita juga harus bisa memastikan apakah akomodasi/transportasi yang dianjurkan penulis sesuai dengan kita. Bisa saja rate atau kenyamanan yang ada dirasakan penulis berbeda dengan yang ada di lapangan.

Jam setengah 5 pagi, ibu-ibu ramah tadi turun di stasiun yang jaraknya kurang lebih 3 stasiun sebelum Surat Thani. Dia tersenyum ramah dan mendoakan saya selamat sampai tujuan. Khob khun mak kha, Bu.. (terima kasih banyak). Tapi mata saya kok merem melek begini? Saya malah mengantuk diterpa angin Subuh yang mulai menyejukkan, bukan menusuk kulit! Di sepanjang perjalanan mulai terlihat pohon kelapa khas wilayah pantai dan katanya sudah mulai dekat dengan stasiun Surat Thani.

Tidak terasa saya menempuh perjalanan hampir 12 jam hingga sampailah saya di stasiun Surat Thani dan selanjutnya akan meneruskan perjalanan ke Phuket dengan bus. Betapa kagetnya saya saat mendapati jemari kaki yang terbungkus kaus kaki sudah membengkak. Benar-benar bengkak dengan jemarinya yang membesar. Hiks... Saya buru-buru membersihkan muka, membungkus kaki dengan sepatu kets, dan bersiap menuju Phuket dengan mata panda.


No comments:

Care to leave your comments?