Belajar Bahasa Denmark: Simpel tapi Menantang

Thursday, 24 December 2015



"I hate Danish!"

"When I heard Danes speak their own language, it's like they eat potatoes at the same time."

"I've been here for 5 years, but I cannot speak Danish yet even though I understand mostly all of part."

"Meskipun sudah 3 tahun di Denmark, saya pun masih harus struggle sama pronunciation-nya."


Itulah beberapa komentar yang sering saya dengar dari para ekspat tentang bahasa Denmark. Mereka tidak suka dengan bahasa ini, tidak bisa bicara walaupun sudah cukup lama tinggal disini, bahkan malas belajar. Cukup beralasan memang, mengingat Kopenhagen adalah kota internasional dengan penduduk yang kebanyakan warga pendatang dari negara lain. Berbeda dengan ibukota negara lain yang pernah dikunjungi, saya rasanya sedang berada di UK ketika hampir setiap sudut Kopenhagen dipenuhi oleh para pendatang yang berbicara bahasa Inggris.

Orang asli Denmark dari penjuru utara sampai selatan pun sebenarnya sangat fasih bicara bahasa Inggris, kecuali para generasi tua yang tidak terlalu percaya diri dengan kemampuan bahasa mereka. Anak-anak muda dari usia 14 tahun sudah mampu berdialog dengan baik, walaupun kadang mereka masih rendah hati mengakui bahasa Inggris mereka tidak sempurna.

Saat berbelanja atau di kafe, jika pelanggan tidak bisa bicara bahasa Denmark, kasir ataupun pelayan secepatnya langsung berganti ke bahasa Inggris. Di Kopenhagen sendiri pun, kebanyakan orang Denmark akan sangat bangga jika bisa show off tentang Bahasa Inggris mereka ke orang asing. Mereka cenderung lebih nyaman bicara bahasa Inggris ketimbang mendengar orang asing berusaha bicara bahasa mereka dengan pengucapan yang super kacau.

Hampir semua penduduk Denmark bisa bahasa Inggris, lalu kenapa juga mesti belajar bahasa ini? Sayangnya, karena banyak warga pendatang yang memenuhi negara mereka, pemerintah akhirnya "mewajibkan" kursus bahasa Denmark bagi setiap pendatang yang sudah memiliki nomor CPR dengan tujuan pekerjaan ataupun studi. Namun karena biasanya masa studi program Master hanya sekitar 2 tahun, kebanyakan mahasiswa program ini menjadikan kursus bahasa Denmark sebagai opsional.

Di kelas saya, banyak sekali para pencari kerja yang mesti ekstra sabar belajar bahasa ini sampai mereka mampu melamar ke beberapa tempat kerja. Mereka sebenarnya sedikit berjudi dengan keadaan karena ikut suami atau pacar ke Denmark, mengungsi dari daerah perang, ataupun ingin mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik. Walaupun hampir semua orang di Denmark bisa berbahasa Inggris, namun lapangan pekerjaan akan terbuka lebih lebar bagi para pendatang jika mampu berbicara bahasa lokal. 

Pelajaran bahasa memang tidak untuk semua orang, terutama mempelajari bahasa baru yang jauh dari bahasa ibu. Selain antusiasme dan motivasi, nilai fungsional sebuah bahasa juga berperan untuk menentukan suka tidaknya kita dengan bahasa tersebut. Bagi pendatang yang bekerja di sektor IT, mungkin saja mereka tidak perlu belajar bahasa Denmark terutama jika lingkungan pekerjaan tersebut lebih mengedepankan bahasa Inggris. Para mahasiswa juga tidak perlu juga repot-repot mengikuti kelas bahasa Denmark di malam hari karena kelas pun kebanyakan internasional dan memakai bahasa Inggris. 

Setelah dua bulan mengikuti kelas bahasa di Ballerup, saya cukup mengerti tentang masalah bahasa di Denmark. Selain karena kebanyakan penduduk di Denmark bisa berbahasa Inggris dengan baik, bahasa Denmark sendiri memang terdengar sangat aneh bagi semua orang. Apalagi kelas Modul 1, dimana semua orang baru berkenalan dengan alfabet dan kata-kata baru, pasti menjadikan bahasa ini sebagai ajang lucu-lucuan. Saya pun merasa kalau mereka bicara dengan lidah yang terbelit-belit dulu hingga bisa menjadikan banyak kata menjadi satu kalimat. Intinya, banyak anggapan tentang betapa anehnya bahasa ini makanya banyak yang malas belajar.

Menurut saya, bahasa Denmark memang cukup aneh di awal-awal. Saya sendiri masih cukup sulit berhadapan dengan pelafalan kata-kata yang tidak punya aturan. Bunyi kata-kata itu sendiri bisa berubah sesuai padanan alfabet. Belum lagi saya masih harus belajar ekstra keras untuk membedakan æ dan e, ø dan y, atau å dan o. Walaupun orang Denmark mengakui pelafalan adalah hal tersulit dari bahasa mereka, namun saya sedikit diuntungkan karena gramatikanya cukup mirip dengan bahasa Belanda. Struktur kalimatnya juga lebih simpel ketimbang bahasa Inggris dan tidak "kesana-kemari" seperti bahasa Belanda.

Kesimpelan bahasa Denmark juga sebenarnya terlihat dari ketiadaan "please", "Madam/Sir", atau "smakkelijk!" yang berarti "selamat menikmati (makanan)!" dalam bahasa Belanda. Karena terlalu kasual, para siswa juga tidak memanggil guru mereka dengan "sopan". Mereka lebih senang jika guru dan siswa seperti teman dengan hanya memanggil nama depan agar terkesan akrab.

Generasi muda Denmark yang juga cuek, tidak peduli apakah harus memanggil "Madam/Sir" saat percakapan formal. Bahkan anak-anak pun bisa memanggil orang tua mereka hanya dengan nama. Dari sini, saya merasa bahwa orang Denmark tidak terlalu suka hal-hal yang bersifat terlalu formal dan serius.

Bagi saya, mempelajari bahasa lokal merupakan proper manner sebagai pendatang. Saya lebih bangga jika mampu berkomunikasi dalam bahasa Denmark dengan pelayan di toko atau kafe meskipun tahu muka saya sangat-sangat Asia. Lagipula sebagai au pair, datang ke sekolah dan bertemu orang-orang baru yang sama struggling-nya belajar bahasa Denmark adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Saya tidak harus selalu berkutat dengan tugas rumah tangga setiap hari sehingga lupa bertemu teman baru. Flot! 


Masyarakat Kopenhagen dan Stereotipe Orang Denmark

Thursday, 29 October 2015




Lahir dan besar di Palembang membuat saya menjadi orang yang lebih menyukai suasana medium city ketimbang hiruk-pikuk di Jakarta. Menurut saya orang-orang di kota terbesar secara alami mempunyai pola hidup yang tidak rileks, cenderung kaku, dan individualis. Wajar memang, mengingat pusat negara dan kesibukan ada disana, sehingga karakter orang-orang yang bermukim pun cenderung berwarna-warni.

Sewaktu di Belgia, saya memang merasakan perbedaan besar ketika tinggal di dekat Brussels dan Ghent. Orang-orang yang ada di Brussels sangat bervariasi, tidak santai, dan sedikit emosional, terutama para imigran. Berbeda ketika berada di Ghent, saya kebanyakan bertemu dengan orang asli Belgia, sehingga atmosfer pun terasa lebih hangat dan bersahabat.

Sejujurnya saya bukannya kontra dengan para imigran, karena sebenarnya saya juga pendatang. Namun tinggal di Ghent membuat saya merasakan Belgia sebenarnya karena sering bertemu orang asli negara tersebut. *Saat menulis tulisan ini pun saya merindukan suasana Ghent lagi!*

Begitu pun dengan Indonesia, orang-orang yang ada di Jakarta tentunya sudah kebanyakan pendatang dari kota lain. Menemukan orang asli Betawinya sendiri tidak gampang. Namun cobalah ke kota besar lain seperti Medan, Yogyakarta, atau Surabaya, suasana asli yang hangat dan akrab akan lebih terasa.

Kembali ke Kopenhagen, ibukota Denmark. Kota ramah pengendara sepeda ini sama saja dengan ibukota negara lain, ramai oleh pendatang dan sibuk. Banyak juga orang Denmark asli yang bermukim di Kopenhagen, namun mereka lebih memilih tempat-tempat yang sedikit ujung wilayah Kopenhagen.

Sejauh ini, saya merasa nyaris 70% orang-orang yang ada di Kopenhagen adalah pendatang. Rata-rata mereka datang dari negara-negara Eropa Timur seperti Hungaria, Polandia, atau Turki. Sementara dari Asia sendiri, saya lebih sering bertemu dengan orang China, Filipina, dan Thailand. Banyak juga yang berasal dari Jerman atau Swedia datang ke Kopenhagen untuk sekolah gratis di CBS (Copenhagen Business School), DTU (Technical University of Denmark), atau KU (Københavns Universitet). Kabarnya sekolah bisnis di Kopenhagen adalah salah satu terbaik di Eropa.

Walaupun banyak kampus oke di Kopenhagen, kota pelajar sebenarnya adalah Aarhus. Sama seperti di Belgia, kebanyakan pelajar dari kota-kota lain akan bermuara di Ghent. Makanya kota ini pun terkesan lebih youthful dan bersahabat. Satu lagi, kota pelajar ini juga biasanya akan sedikit sepi di hari Sabtu karena kebanyakan pelajar akan pulang ke rumah orang tuanya dan kembali di Minggu sore.

Sebenarnya tinggal di ibukota negara seperti Kopenhagen tidak merugikan juga. Selain saya bisa bertemu dengan banyak teman internasional, banyak juga acara-acara seru yang diadakan di kota ini. Sayangnya menurut saya, sekali lagi, masyarakat Kopenhagen hampir sama dengan tipe-tipe orang di ibukota negara lainnya. Terlalu sering bolak-balik Kopenhagen sebenarnya cukup bosan juga. Apalagi pada dasarnya Kopenhagen lebih terkenal sebagai tempat membuang duit saat nongkrong (baca: pesta dan mabuk) di akhir pekan.

Oh ya, bukan di Kopenhagen saja, mungkin saya harus bicara tentang masyarakat Denmark keseluruhan. Ada stereotipe yang mengatakan bahwa orang Denmark itu pada dasarnya memang sangat tertutup, sering terprovokasi media, dan berpola pikir sempit. Hal ini memang sepertinya benar karena pada kenyataannya orang Denmark yang saya tanya pun mengakui hal tersebut

Sangat sulit masuk ke lingkungan pertemanan orang asli Denmark kalau kita tidak bicara bahasa mereka. Namun jika kita sudah sangat dekat dengan mereka, "they will stick with you forever," aku salah satu orang Denmark. 

Walaupun orang-orang Barat memang tidak terlatih untuk bertutur sapa dan mengenal tetangga sekitar mereka tinggal, namun ada juga yang ramah. Di Denmark sendiri, ada juga beberapa orang yang tidak segan menyunggingkan senyuman atau sekedar say hi saat berpapasan. Namun orang yang saya temui itu tentu saja bukanlah di Kopenhagen, namun lebih di daerah pinggir kota atau pedesaan yang lebih sepi. 

Yang saya tahu, orang Barat memang tidak mengenal istilah SKSD seperti kita di Asia. Orang Asia memang terkesan lebih terbuka dan ramah walaupun baru detik itu bertemu. Kita bisa saja bicara soal masalah berita hingga keluarga ke orang yang tidak sengaja menegur di dalam bus.

Namun bagi orang sini, random conversation seperti itu tidaklah penting dan mereka hanya menilai kita sama sekali tidak peduli. Oke, satu hal yang saya tangkap, bagi kita random conversation bisa berupa awal dari bersikap ramah. Tapi bagi mereka, justru deep conversation yang carefree lebih berharga dan intim.


Kota yang Sepi, Negara yang Sepi

Wednesday, 21 October 2015




Kalau ingin menilai diri sendiri, saya termasuk orang yang introvert secara publik, namun tidak secara personal. Saya memang lebih suka tempat-tempat yang tenang demi hanya membaca buku atau berjalan menikmati alam. Tapi sesuka-sukanya saya dengan ketenangan, Denmark menurut saya terlalu kaku!

Karena tinggal hanya 11 km dari Kopenhagen, tentunya waktu luang saya sering dihabiskan di kota ini. Sama seperti Amsterdam, warga Kopenhagen juga lebih suka mengendarai sepeda ke tempat-tempat yang masih menjadi The Great Copenhagen Area. Selain harga tiket transportasi umum yang mahal, Kopenhagen hanyalah kota kecil yang jalanannya kebanyakan flat sehingga sangat nyaman bersepeda serta tidak terlalu lama menjangkau ke banyak tempat. Jalanan untuk sepeda pun dibuat serapih mungkin agar hak pengendara sepeda terjamin.

Saya memang belum pernah ke kota-kota besar lain seperti Århus atau Odense, tapi melihat Kopenhagen, cukup memberikan gambaran bagaimana suasana kota-kota lainnya. Walaupun Kopenhagen adalah kota terbesar sekaligus ibukota Denmark, tapi kota ini sungguh sepi. Jika ingin melihat banyak orang berlalu lalang, silakan saja mendatangi tempat-tempat yang sering didatangi turis di sekitar area stasiun utama Kopenhagen, Nørreport, hingga Østerport.

Daerah itu pun menjadi ramai karena memang pusat-pusat tempat wisata berada disana. Selain itu, ada juga jalan terkenal bernama Strøget (baca: Stro' el) yang kanan-kirinya kebanyakan toko-toko fashion yang nantinya jalan ini berujung di salah satu mall dan Nyhavn (baca: Nuha 'n).


Salah satu sudut keramaian di sentral Kopenhagen

Daerah pejalan kaki yang kanan kirinya pertokoan memang tidak pernah sepi

Saat naik bus dari Herlev (baca: Hearlu), suasana terasa begitu lenggang walaupun saya sudah masuk bagian utara wilayah Kopenhagen. Namun suasana berubah ramai saat bus berhenti di stasiun Nørreport. Pernah juga saya berhenti di bagian lain Denmark, Bagsværd, yang tidak jauh dari Herlev. Ketika ingin ganti bus menuju Herlev, stasiun terasa begitu sepi dan hening. Padahal hari itu Sabtu dan waktu belum menunjukkan pukul 9 malam. Saya membayangkan masih begitu hidupnya suasana di kota kecil Belgia di waktu yang sama.

Don't worry, she'll be fine in lonesome.
Salah satu sudut permukiman mahal di Hellerup

Suasana hening pun juga terasa saat naik kendaraan umum di Denmark. Di bus, metro, ataupun kereta, orang-orang sepertinya tutup mulut lalu hanya memandangi ponsel atau luar jendela. Di kereta sendiri, ada satu koridor yang khusus ditujukan untuk orang-orang anti bising. Bahkan pernah ada kejadian teman saya yang sedang main ponsel dengan earphone dan jelas-jelas tanpa suara pun, ditegur oleh nenek-nenek. "Kamu tahu tidak kalau ini ruangan anti bising?", katanya dalam bahasa Denmark.

Tapi dibalik sepi dan heningnya negara ini, sebenarnya rasa tenteram dan aman selalu dapat saya rasakan. Suatu malam, saat baru satu minggu di Denmark, saya sempat tersasar hingga dua jam. Selain ponsel mati, saya juga sulit sekali menemui orang yang sekedar lewat di jalanan demi menanyakan arah. Beruntung saya berhasil bertemu dengan dua orang pesepeda, lalu satu orang wanita yang sedang mengajak jalan anjingnya di tengah malam. Alhamdulillah dari wanita itulah saya akhirnya bisa menemukan jalan pulang ke rumah dengan aman. Sialnya, jalan yang harusnya bisa ditempuh 8 menit saja menembus hutan, terpaksa menjadi 55 menit karena saya harus berputar melewati jalanan aspal.

Jalanan sekitar stasiun utama Kopenhagen dan Tivoli di Sabtu malam

Saya jadi mengerti mengapa Denmark dijuluki sebagai salah satu kota teraman di dunia selain Selandia Baru. Jumlah populasi yang sedikit membuat tingkat kriminalitas di negara ini sangat rendah. Tidak akan ada yang merampok, membegal, ataupun menculik sekiranya kita ingin jalan kaki sendirian di tengah malam sekali pun. Saya juga pernah mendengar pengakuan seorang ekspatriat dari Amerika yang sudah tinggal lama di Kopenhagen mengatakan bahwa hanya di Denmark dia berani berjalan kaki membawa anjingnya saat jam 2 pagi. Di Washington DC, tempat dia tinggal, ada beberapa wilayah yang saat siang hari pun dia tidak berani lewati.

Selain jumlah populasinya yang sedikit, Brian, host dad saya, juga mengatakan kalau sebenarnya tidak ada yang berbahaya di Denmark. Mereka tidak punya singa, hewan berbisa, atau sesuatu yang mematikan seperti di Indonesia. Bahkan kalau bertemu laba-laba pun, tidak perlu juga dibunuh karena biasanya mereka hanya menumpang lewat. Fiuuhh..


Mengenal Sistem Transportasi Umum yang Mahal di Denmark

Wednesday, 7 October 2015




Setelah uang saku harus dipotong pajak, saya pun juga harus jadi financial manager untuk diri sendiri. Selain membagi pos-pos uang untuk belanja, jalan-jalan, dan tabungan, saya juga harus menyisihkan 25% dari uang saku untuk pos transportasi setiap bulannya.

Karena sudah jadi penduduk sementara Denmark, saya harus memikirkan betapa mahalnya uang yang harus dikeluarkan demi naik kendaraan umum disini. Sewaktu di Belgia, saya hanya perlu membeli tiket €23.60 per bulan naik bus tanpa batas ke semua daerah Flemish. Sementara disini, harus menyisihkan 655kr atau sekitar €88 per bulan untuk naik kendaraan umum (kereta, bus, dan metro) tanpa batas hanya di beberapa penjuru Denmark.

Denmark memang kota mahal. Bahkan orang Denmark sendiri mengakui kalau biaya transportasi umum di negara mereka memanglah mahal. Untuk punya mobil pribadi pun, mereka harus membayar pajak yang tinggi. Belum lagi urusan bensin dan biaya perawatannya. Transportasi umum di Denmark sendiri sebenarnya sangat nyaman dan bagus ketimbang Belgia. Terutama untuk kereta antarkota yang lebih mirip kereta antarnegara, atau betapa mudah dan cepatnya akses dari Kopenhagen ke bagian selatan Swedia, Malmö.

Sebelum berangkat ke negara tujuan, saya memang rajin mempelajari dulu tentang sistem transportasi umum dan pembelian tiket di negara tersebut. Menurut saya transportasi menjadi hal terpenting karena nyaris setiap hari saya harus berangkat ke sekolah bahasa, belum lagi hang out setiap minggunya.

Berbeda dengan Belgia yang lebih simpel, mempelajari sistem transportasi umum di Denmark cukup membuat saya pusing. Denmark memberlakukan sistem zona yang dibagi menjadi 99 bagian. Belum lagi banyak sekali pilihan tiket yang bisa dipilih berdasarkan status, umur, dan intensitas ke tempat tujuan. Sebagai au pair, berikut saya berikan gambaran tentang sistem transportasi yang ada di Denmark!

1. Pahami dulu zona transportasi umum di Denmark

Memahami pembagian zona yang ada di Denmark membuat kita terhindar dari overpaying ke tempat tujuan. Saya juga awalnya sering sekali "ketipu" hingga akhirnya harus mengeluarkan uang lebih demi sebuah single ticket. Sebelum memulai, silakan ketahui dahulu zona tempat tinggal kita lalu cek website Movia untuk menggunakan dan mengecek kalkutor zona yang ada di Denmark.

2. Rencanakan rute dan hitunglah zona yang akan dilewati

Karena saya tinggal di Herlev (baca: Hearlu), maka sesuai peta zona di bawah ini Herlev berada pada zona 31 (warna merah).



Sekolah bahasa yang akan saya datangi nyaris setiap hari berada di Ballerup, masuk ke Zona 42 (warna biru muda). Sesuai dengan peta zona, maka saya akan melintasi 2 zona jika ingin ke Ballerup. Lain halnya jika saya ingin ke Roskilde yang ada di zona 8 (warna oranye), maka harus melintasi 6 zona. Silakan lihat bagian peta di kanan bawah, tabel menerangkan tentang pembagian beberapa zona yang akan dilewati berdasarkan warna.

3. Pembelian tiket normal untuk semua moda transportasi

Di Denmark, satu tiket yang dibeli berlaku untuk semua moda transportasi seperti bus, kereta, dan metro. Waktu berlaku tiket pun berdasarkan dengan jumlah zona yang ditempuh. Tiket yang berada pada satu zona berlaku sampai 60 menit, 2 zona berlaku 75 menit, 3 zona berlaku 90 menit, dan seterusnya ditambah 15 menit.

Jika perjalanan pertama menggunakan bus, maka tiket bisa langsung dibeli di supir saat akan naik dengan uang tunai. Sementara jika perjalanan pertama dilakukan dengan kereta dan metro, tiket bisa langsung dibeli melalui mesin ataupun 7-Eleven. Pembelian tiket inipun dihitung berdasarkan zona yang akan dilewati.

Untuk pembelian tiket normal dengan uang tunai, dikenakan tarif 12kr per zona. Sementara pembelian tiket melalui SMS akan dikenakan diskon khusus. Contohnya untuk tiket ke 2 zona seharga 24kr, bisa dibeli dengan harga 15kr saja melalui SMS.

Menurut saya, membeli tiket bus langsung dengan si sopir bisa menghindarkan kita dari overpaying asalkan tahu kemana rute yang akan kita ambil dan tahu total zonanya. Contohnya saya berada di Herlev (warna merah-lihat peta) ingin ke Kopenhagen (warna kuning) yang masuk ke Zona 1, artinya saya hanya akan melintasi 3 zona. Namun karena saat itu si sopir juga tidak tahu berapa zona yang akan dilewati jadinya dia sembarang hitung hingga 4 zona. Saya pun "terdoktrin" untuk selalu membayar 96kr PP dari Herlev-Kopenhagen, padahal bisa berhemat 24kr seandainya lebih paham sejak awal.

Sopir bus biasanya lebih acuh dan hanya menuruti pembelian tiket sesuai jumlah zona yang penumpang katakan. Jadi daripada mengatakan "ke Kopenhagen", sebut saja "3 zona". Berbeda halnya jika kita membeli tiket metro atau kereta melalui mesin atau 7-Eleven, mereka biasanya akan menghitung jumlah zona berdasarkan rute kereta yang akan kita lewati. Dari Herlev menuju Hellerup yang sebenarnya hanya 2 zona, bisa menjadi 3 zona karena si kereta melintasi zona lain sebelum tiba di Hellerup.

Untuk lebih jelasnya soal jadwal kereta, jumlah zona, serta harga tiket yang harus dibayarkan silakan buka website ini.

4. Membeli tiket bulanan untuk intensitas tanpa batas

Tiket bulanan atau Periodekort ini saya pilih karena setelah dihitung-hitung, jatuhnya lebih murah ketimbang harus membeli tiket normal setiap waktu. Tiket ini juga cocok bagi au pair yang sering pulang pergi tempat kursus nyaris setiap hari menggunakan transportasi umum. Belum lagi acara nongkrong di kota besar setiap akhir pekan.

Karena kota besar yang selalu saya datangi adalah Kopenhagen, sementara saya harus ikut sekolah bahasa di Ballerup, maka saya harus membeli tiket bulanan 4 zona. Keempat zona ini pun bukan sembarangan zona yang berada di sekitar Herlev, tapi dihitung berdasarkan rute menuju Kopenhagen atau Ballerup saja. Untuk ke Kopenhagen dari Herlev, saya harus melewati Zona 31, 2, 1, sementara Ballerup sendiri berada di Zona 42 (warna biru muda-lihat peta).

Lalu bagaimana jika saya ingin ke Lyngby (warna biru muda) yang ada di Zona 41? Tiket bulanan ini tidak berlaku karena zona yang tercatat hanya Zona 31, 2, 1, 42 saja. Untuk ke zona lainnya saya tetap harus membayar tiket lagi. Untuk harga tiket bulanan di tahun 2015 ini sendiri, bisa cek disini.

Sebenarnya membeli tiket bulanan ini memanglah sangat mahal di awal. Namun cukup affordable apabila rute yang dilewati setiap minggu hanya itu-itu saja. Lagipula selama 30 hari kita dapat mengakses semua moda transportasi yang ada tanpa batas waktu, kecuali untuk night bus yang akan dikenakan harga 2 kali lipat dari harga normal.

Selain bisa dibeli melalui aplikasi DSB, tiket ini juga dapat dibeli melalui kantor DSB yang ada di stasiun kereta kota-kota besar seperti Kopenhagen, Aarhus, Odense. Bagi yang baru pertama kali membeli, harus menyertakan pas foto diri berukuran 3x4 sebagai identitas. Setelahnya, tiket ini dapat diperpanjang langsung dengan membeli Periodekort di mesin.

5. Membeli Wildcard bagi yang berusia di bawah 26 tahun

Menggunakan Wildcard akan sangat menghemat biaya jika ingin bepergian ke daerah yang lebih jauh menggunakan kereta. Wildcard sendiri dapat dibeli melalui aplikasi DSB yang dapat diunduh di Google Play atau App Store seharga 125kr atau di 7-Eleven tertentu dengan harga 150kr yang masa keanggotaannya berlaku selama satu tahun.

Memiliki kartu ini memungkinkan para muda-mudi mendapatkan diskon kereta hingga 50% di hari Sabtu, atau 20% untuk tiket menuju Malmö, serta diskon produk lainnya di 7-Eleven. Wildcard bisa sangat menguntungkan jika memang ingin mengunjungi daerah-daerah di Denmark yang cukup jauh dari tempat tinggal.

6. Berlangganan Rejsekort 

Rejsekort adalah kartu transportasi isi ulang yang juga dapat digunakan pada semua moda transportasi di Denmark. Bagi yang sudah memiliki Wildcard, bisa mendaftar langsung untuk mendapatkan Rejsekort for Young Person di kantor DSB. Dengan kartu ini, para muda-mudi bisa mendapatkan diskon transportasi umum yang sama seperti membeli tiket lewat SMS.

Kartu fisik Rejsekort didapat setelah mengisi formulir dan menyerahkan uang 50kr untuk membeli kartu di loket DSB. Jangan lupa juga untuk melakukan check in saat akan menaiki transportasi umum, lalu check out saat sampai tempat tujuan. Jangan check out setiap kali turun dari transportasi umum, namun check out hanya saat sudah benar-benar sampai di tempat yang kita tuju.

Banyak yang mengatakan Rejsekort bisa sangat hemat dibandingkan membeli tiket bulanan. Namun saat saya hitung sendiri, langganan Rejsekort juga tidak sehemat yang semua orang kira. Memang kita mendapatkan diskon harga di waktu-waktu tertentu, namun bisa juga sangat boros mengingat kita harus sering-sering juga isi ulang.

7. Naik sepeda sekalian cuci mata

Selain Amsterdam, Kopenhagen juga penuh oleh pengendara sepeda. Dibandingkan naik transportasi umum yang mahal, orang-orang yang masih tinggal di dalam area besar Kopenhagen lebih memilih sepeda sebagai transportasi mereka. Berbeda dengan Herlev yang jalanannya kebanyakan tanjakan, jalanan di kota besar seperti Kopenhagen kebanyakan datar sehingga lebih nyaman untuk bersepeda.

Bukan hanya hemat dan sehat, bersepeda juga memungkinkan kita cuci mata. Di Kopenhagen, saya sering menemui banyak cowok-cowok keren yang bersepeda sekalian konvoian bersama teman. Jadi tidak perlu takut mati gaya saat bersepeda, karena nyatanya pengendara sepeda juga banyak yang oke-oke.

Tapi yakinlah, saat cuaca buruk sepeda bukanlah transportasi yang nyaman digunakan. Saya sendiri sudah kapok bersepeda saat musim dingin, ketika wajah lebih sering kena angin hingga sepeda mudah goyah dan harus digayuh lebih kuat. Pengalaman saya berbelanja saat musim dingin di Belgia pun akhirnya benar-benar membuat saya menyerah sering-sering menggunakan sepeda di Denmark.

Namun sebenarnya, bersepeda cukup mengasyikkan juga apalagi saat cuaca sedang sempurna. Selain itu, kita juga tidak terpaku jadwal bus dan takut ketinggalan kereta terakhir karena fleksibilitas pengendara sepeda. Mungkin saat memasuki musim semi yang cukup hangat, saya akan bersepeda kembali.

Memahami sistem transportasi umum di Denmark memang cukup membingungkan di awal-awal, belum lagi soal pembagian zona yang banyak orang juga tidak mengerti. Namun ilmu matematika kita harus benar-benar diasah disini kalau tidak ingin membayar lebih.

Untuk info selengkapnya mengenai transportasi umum di Denmark serta info lain tentang Denmark, silakan cek di website ini.


Uang Saku di Denmark Naik, Pajak Menunggu!

Thursday, 1 October 2015




Hari ini saya gajian. Tapi langsung sakit hati setelah sadar uang saya harus dipotong nyaris 32% untuk bayar pajak. Hiks!

Saya mengerti kenapa orang Denmark disebut-sebut sebagai orang paling bahagia di dunia. Setelah harus "sakit" dipotong gajinya untuk membayar pajak tiap bulan, nyatanya memang warganya mendapatkan banyak fasilitas dari pemerintah. Selain mendapatkan fasilitas rumah sakit gratis, mereka juga dapat menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi tanpa dipungut biaya apapun. Lucunya, bukannya harus membayar uang kuliah, para pelajar justru mendapatkan tunjangan pendidikan yang besarnya 4000-5000kr perbulan. 

Pemotongan pajak penghasilan ini pun dihitung persenannya berdasarkan jumlah gaji yang kita terima setiap tahun. Seseorang wajib kena pajak jika penghasilannya lebih dari 42.900kr. Semakin besar penghasilan yang diterima setiap tahunnya, semakin besar pajak yang harus dibayar. Seperti Louise yang gajinya harus dipotong 37% untuk membayar pajak tiap bulan, lalu Brian yang mesti kena pajak penghasilan sampai 60%. 

Lalu kenapa au pair juga harus membayar pajak, padahal katanya au pair bukanlah dianggap sebuah pekerjaan?

Per tanggal 1 Juli 2015, diberlakukan peraturan baru soal status au pair. Salah satunya, au pair boleh mengikuti kegiatan sukarela tanpa dibayar lalu tentang kenaikan gaji yang sebelumnya 3500kr menjadi 4000kr. Senang? Tentu saja! Tapi hanya ketika saya berada di Indonesia. Setelahnya disini, saya harus dibuat pusing oleh beberapa penjabaran pajak yang intinya harus saya bayar sebelum tanggal 20 setiap bulannya.

Kalau dihitung, jumlah uang saku saya 48000kr pertahun dibandingkan au pair lama yang hanya 42000kr. Artinya, saya memang sudah wajib dikenai pajak di Denmark. Sialnya, dibandingkan au pair lama yang bisa mendapatkan uang saku 3250kr hingga 3500kr perbulan, saya hanya mendapatkan tidak sampai 3000kr setiap bulan! Aaarrgghh..

Sebenarnya saya memang sudah diberitahu Louise soal uang pajak ini sebelum saya terbang ke Denmark. Namun Louise juga tidak tahu kalau pajak yang harus dibayarkan lebih dari apa yang dia tahu. Ikhlas tidak ikhlas, ya nyatanya pajak tetaplah harus dibayarkan.

Karena status kependudukan saya sudah nyaris disamakan dengan warga Denmark, maka saya harus membayar pajak 8% untuk fasilitas kesehatan, 23.7% untuk pajak balai kota, lalu tidak sampai 1% sisanya untuk membayar pajak gereja. Tapi karena saya bukan pengikut gereja, jadinya pajak ini bisa dihapuskan dari kewajiban saya. Untuk pajak balai kota sendiri, tergantung dimana domisili au pair tersebut. Tiap balai kota menerapkan pajak yang berbeda-beda untuk setiap penduduknya.

Meski au pair bukanlah dianggap sebuah pekerjaan, namun ternyata kami juga harus membayar pajak atas fasilitas tempat tinggal dan makan gratis. Walaupun semua makanan saya di rumah dibeli oleh keluarga asuh, namun ternyata hitungan kasarnya saya "membayar" sekitar 768kr perbulan untuk makanan tersebut. 

Seseorang yang bekerja untuk usahanya sendiri, masuk ke pajak tipe B, yang artinya akan ada pembebasan pajak 2 bulan dalam satu tahun yaitu bulan Februari dan Desember. Untuk kedua bulan tersebut saya akan mendapatkan gaji penuh tanpa dipotong pajak.

Walaupun mendapatkan fasilitas rumah sakit gratis, nyatanya au pair bukanlah penduduk permanen kota Denmark. Siapa sih au pair yang ingin sakit di masa-masa kontraknya? Saya juga berharap tidak ingin sakit parah lalu "bahagia" bisa berobat gratis di rumah sakit. Meski ada juga pemeriksaan kanker rahim dan payudara yang sebenarnya beruntung juga bisa gratis disini. Sayangnya untuk dokter gigi tidak digratiskan karena klinik dokter gigi tersebut berjalan sendiri tanpa dibantu pemerintah.

Kalau dibandingkan dengan Indonesia, jangankan memutar uang pajak untuk kepentingan masyarakat umum, yang ada pajak dikorupsi. Belum lagi adanya perbedaan fasilitas yang didapat untuk orang miskin dan kaya di rumah sakit. Berbeda di Denmark, orang termiskin dan terkaya sekalipun tetap akan mendapatkan pelayanan rumah sakit yang sama. Ya sudahlah, selamat datang di salah satu negara termahal dunia dimana nyaris semua hal diberlakukan pajak yang tinggi!

**per tanggal 1 Januari 2016 uang saku au pair di Denmark menjadi 4050kr/bulan


Minggu-minggu Awal di Denmark

Monday, 28 September 2015




Sama seperti para asing yang baru tiba di Denmark dan berencana tinggal lebih dari 3 bulan, saya pun juga diwajibkan mengurus surat izin tinggal agar dianggap sah oleh pemerintahan Denmark. Karena Louise memang sedang berada di rumah, dia pun tidak segan membantu saya mengurus banyak hal hingga selesai, walaupun kadang harus membopong keranjang bayi kemana-mana. Lalu apa saja yang harus dilakukan saat awal-awal tiba di Denmark?

1. Mendapatkan CPR Number

Sama seperti nomor induk kependudukan, nomor CPR inilah yang harus saya dapatkan terlebih dahulu sesampainya di Denmark. Nomor ini menjadi begitu penting, karena semua sistem di Denmark akan merekam data diri kita sehingga saat dibutuhkan, hanya tinggal menyebutkan nomor CPR, selesai!

Saya memiliki waktu 5 hari setelah kedatangan untuk mendaftarkan diri ke balai kota terdekat. Karena saya tiba di Denmark hari Senin, besoknya Louise langsung mengajak ke balai kota Herlev (baca: Hearlu).

Banyak para warga negara asing baik yang berstatus pelajar ataupun ekspatriat mendaftarkan diri mereka di International House Copenhagen. Karena banyaknya aplikasi yang masuk, biasanya sering terjadi penundaan sehingga proses mendapatkan CPR jadi lebih lama. Jadi lebih baik mendaftarkan diri di balai kota yang akan kita tempati langsung.

Proses mengurus CPR pun sangat singkat. Setelah antri menunggu panggilan, saya dan Louise hanya perlu mengisi formulir yang diserahkan oleh petugas. Surat keterangan dari kedutaan serta paspor juga akan difotokopi langsung oleh petugas di tempat. 

Biasanya kita bisa langsung mendapatkan nomor CPR hari itu juga. Saya mendapatkan informasi ini dari seorang teman au pair Indonesia yang lebih dulu sampai di Denmark. Tapi karena saya baru tahu beberapa hari setelahnya, dua hari kemudian Louise baru menelepon pihak balai kota. Petugas menyuruh kembali ke kantor balai kota besoknya, lalu menuliskan nomor CPR saya yang sudah bisa digunakan di selembar kertas berstempel.

Tidak sampai 2 minggu kemudian, kartu asuransi berwarna putih-kuning bertuliskan nomor CPR serta kartu izin tinggal diantarkan ke rumah. Kartu berwarna putih-kuning ini adalah kartu kesehatan dan sosial yang dapat digunakan di semua rumah sakit di Denmark. Sementara kartu izin tinggal dengan logo hologram didapatkan dari kantor imigrasi. Saat ingin bepergian ke luar negeri via bandara, tunjukkanlah kartu izin tinggal ini ke pihak imigrasi, bukan kartu kesehatan berwarna putih-kuning.

Sialnya ada kesalahan nama tengah saya yang ditulis oleh pihak balai kota, sehingga saya harus kembali lagi memperbaikinya. Prosesnya juga sangat singkat. Saya hanya perlu membawa kartu putih-kuning serta paspor untuk ditunjukkan kepada mereka. Setelah mereka mengganti nama saya, tidak sampai 2 minggu kemudian katanya kartu baru akan datang. Sebelum kartu baru datang, saya masih dapat menggunakan kartu lama.

2. Membuka rekening bank

Setelah tahu nomor CPR saya, Louise langsung menghubungi bank Nykredit. Pihak bank mengatakan saya tidak perlu datang langsung ke bank, karena berkas-berkas bisa dikirim ke rumah. Kurang dari sepuluh hari kemudian, berkas-berkas dari bank sudah datang dan menandai halaman-halaman yang harus saya tanda tangani. Setelahnya, berkas tersebut harus dikirim balik ke pihak bank agar pembuatan kartu ATM dapat langsung diproses. 

3. Mendaftar kursus Bahasa Denmark

Selain membuka rekening bank, Louise juga segera menghubungi sekolah bahasa yang ada di Ballerup. Cek juga di balai kota yang akan ditinggali apakah terdapat sekolah bahasa Denmark. Beberapa daerah kadang tidak mengadakan kursus bahasa Denmark level dasar sehingga kita harus mencari sekolah bahasa di kota terdekat lainnya.

Sebelum mulai belajar, biasanya calon siswa harus membuat janji wawancara terlebih dahulu dengan pihak sekolah bahasa. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana level pendidikan calon siswa serta bahasa kedua yang mereka gunakan.

Setelah proses wawancara yang hanya memakan waktu sekitar 20 menit, staf sekolah mengatakan saya baru bisa mendaftar kalau surat pengantar dari mereka telah diantarkan ke rumah. Surat ini akan memuat level bahasa saya, waktu belajar, serta informasi lain yang berkaitan dengan sekolah bahasa tersebut.

4. Mengambil NemID

Setelah mendapatkan nomor CPR dan kartu putih-kuning, biasanya akan ada surat pengantar dari balai kota yang mengatakan kita harus datang lagi mengambil NemID. NemID ini berisi urutan angka-angka yang digunakan untuk masuk ke akun bank online atau sebagai keamanan sistem digital di internet.

Karena saya au pair, maka ada verifikasi data dari pihak balai kota yang mewajibkan Louise harus ikut datang mengambil NemID. Ada hal-hal yang harus mereka tahu dari pihak penanggung tentang keberadaan saya disini.

Begitulah tahapan-tahapan yang harus saya lakukan diawal-awal kedatangan ke Denmark. Alhamdulillah Louise sangat membantu dalam segala hal termasuk menjelaskan ini itu. Setelah semuanya selesai, selamat datang jadi salah satu penduduk sementara negara mahal ini!


Perayaan Idul Adha di Wisma Duta Denmark

Saturday, 26 September 2015


Ini yang ketiga kalinya saya ketinggalan shalat Ied di tanah rantauan. Tahun lalu, saya dan Anggi, teman au pair asal Bali, harus datang terlambat ke KBRI di Tervuren karena bangun kesiangan. Sementara saat Idul Adha, saya sudah pindah ke Laarne dan cukup jauh menuju KBRI. Tahun ini pun, lagi-lagi saya harus ketinggalan shalat Idul Adha karena salah dapat informasi.

Sehari sebelumnya saya memang sudah menghubungi pihak Kedubes RI di Denmark menanyakan perihal jam shalat. Mungkin karena si bapak yang menerima telepon saya juga lupa, jadinya beliau mengatakan kalau shalat dimulai jam 9 pagi. Beliau juga mengatakan untuk mengecek langsung ke situsnya kedubes karena sudah disebar surat undangan. Saya masuk situs KBRI, mencari-cari undangan yang dimaksud, namun tidak ketemu. Ada juga surat undangan tahun 2013 yang mengatakan shalat dimulai jam 9 pagi. Berbekal informasi yang sudah saya dapat, akhirnya saya sudah mengecek bus yang bisa sampai sebelum jam 9 pagi.

Di Denmark, shalat Ied akan dilaksanakan di Wisma Duta, tempat tinggalnya duta besar RI yang mesti ditempuh selama 55 menit dari Herlev (baca: Hearlu). Jam setengah 8, saya sudah pamit ke Brian dan Louise demi mengejar bus ke Charlottenlund. Sebenarnya saya juga yakin kalau ada beberapa masjid di daerah yang lebih dekat dari Herlev. Tapi karena saya baru di Denmark, ingin juga langsung berkenalan dengan orang Indonesia yang ada disini. Dibandingkan Belgia, peredaran orang Indonesia di Denmark menurut saya lebih sedikit.

Sempat turun kejauhan gara-gara si sopir malas mengganti pemberitahuan di bus, saya harus turun dan menunggu lagi bus yang menuju arah sebaliknya. Saya juga harus lari-larian kecil mengejar waktu yang sudah nyaris jam 9. Et voila... setelah sampai, seorang bapak yang saya temui sedang memarkir mobilnya di Wisma Duta mengatakan kalau shalat Ied-nya sudah selesai. Tuing!

"Lho, bukannya jam 9 katanya, Pak?"

"Nggak. Diundangannya jam 8, Mbak. Masuk aja tapi, masih ceramah kok di dalam."

Wahh, lagi-lagi saya telat dan melewatkan shalat Idul Adha tahun ini. Jadinya saya ikut duduk saja di shaf paling belakang sambil mendengarkan bagian akhir ceramah. Setelah mengobrol dengan salah satu mbak-mbak di Wisma Duta, saya baru tahu kalau undangan disebar melalui Facebook bukan situs KBRI. Lalu shalat yang harusnya dimulai jam 8 pun baru terlaksana setengah jam kemudian.





Setelah makan gratis, saya juga sempat berkenalan dengan para mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil gelar Master atau Doktor-nya di Denmark. Mungkin karena Idul Adha tahun ini dirayakan pada hari kerja, orang Indonesia yang datang ke Wisma Duta pun tidak terlalu ramai. Selain itu juga, kebanyakan mahasiswa kuliah di Aarhus sehingga untuk datang ke Charlottenlund pun tidak sebentar.  Lain kali mungkin saya shalat dulu saja di masjid atau Islamic Center terdekat dari Herlev, lalu setelahnya baru makan gratis di Wisma Duta. Hah!


Para Gadis Muda Itu, Apa Yang Memotivasi Mereka Jadi Au Pair?

Friday, 25 September 2015




Menyadur tulisan Celia V. Harquail tentang motivasi para gadis muda sengaja datang ke US demi jadi au pair, beberapa hal yang dikemukakannya memang benar adanya. Mengasuh anak, membersihkan rumah, atau hanya kursus bahasa, bukankah bisa saja kita lakukan di negara asal? Tidak usah repot-repot membersihkan rumah orang. Membantu membersihkan rumah orang tua ataupun mengasuh sepupu di Indonesia, bisa menghindarkan kita dari ketidakcocokan dengan host family ataupun  kesepian karena jauh dari rumah.

Tapi apa alasan "sesungguhnya" para gadis muda, dari Indonesia khususnya, datang jauh-jauh ke Eropa atau Australia demi (hanya) jadi au pair?

Melihat benua Eropa atau Australia
1. Meningkatkan kemampuan bahasa asing, seperti Jerman, Prancis, atau Belanda
2. Melihat kota-kota terkenal seperti Berlin, Amsterdam, atau Paris
3. Belajar tentang kebudayaan lokal daerah setempat

Melarikan diri dari negara asal
1. Melarikan diri dari jeleknya sistem pemerintahan
2. Melarikan diri dari buruknya kondisi ekonomi
3. Melarikan diri dari paksaan, perceraian, atau kekerasan dari orang tua
4. Melarikan diri dari buruknya kondisi sosial

Melarikan diri ke Eropa atau Australia
1. Berimigrasi secara ilegal (khususnya bagi imigran dari negara sekitar/dalam benua Eropa sendiri)
2. Berharap bertemu calon suami (bule)
3. Mendapatkan izin tinggal permanen (green card) dari si calon suami nantinya
4. Berharap dapat mengganti visa jangka panjang setelahnya disini

Tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan di negara asal
1. Tidak ada prospek kerja yang menarik
2. Tidak ada prospek hubungan asmara yang serius
3. Belum bisa memutuskan antara karir atau pendidikan
4. Setidaknya mendapatkan pengalaman setahun yang menyenangkan

Menemukan jati diri
1. Menciptkan petualangan yang menantang
2. Mengembangkan kemandirian
3. Berusaha lebih dewasa

Bersenang-senang!
1. Berpesta
2. Minum-minum alkohol
3. Jalan-jalan ke banyak tempat
4. Berkencan dengan orang yang tidak disetujui orang tua
5. Mendapatkan pengalaman dalam pergaulan yang "liar" tanpa mementingkan reputasi orang lain

Mempelajari banyak kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di negara asal
1. Meningkatkan kemampuan bahasa asing yang dapat digunakan untuk bekerja
2. Mempelajari kebudayaan Eropa atau Australia
3. Mempelajari sistem pendidikan Eropa atau Australia

Alasan-alasan lain
1. Menabung sebagian uang
2. Mengirimkan sebagian uang ke rumah
3. Belanja, belanja, belanja
4. Melihat Menara Eiffel

Saya sendiri sebenarnya pertama kali memutuskan jadi au pair karena memang sudah muak dengan aktifitas kuliah. Saya harus bangun pagi, rebut-rebutan bus ke kampus, belum lagi macet di jalanan, stress karena ketidakcocokan dengan jurusan yang saya ambil, hingga memang keinginan yang amat kuat untuk tinggal dan sekolah ke luar negeri dari dulu. 

Tapi karena rasa jenuh selepas kuliah, saya akhirnya belum berani terjun langsung ke dunia pekerjaan yang ada hubungannya dengan jurusan yang saya ambil. Masih ada perasaan belum puas terhadap apa yang saya jalani. Walaupun salah satu motivasi saya tamat kuliah karena visa au pair sudah menunggu, saya memang berharap bisa mendapatkan ilmu baru di negeri orang. Pengalaman yang tidak bisa saya dapatkan di Indonesia, maupun ilmu yang memang harusnya saya pelajari di benua lain.


Meet the Danish Family

Wednesday, 23 September 2015




Rileks. Itulah gambaran pertama yang saya dapatkan dari keluarga baru saya ini. Louise, ibu 3 anak berusia 37 tahun, yang saya lihat di foto sepertinya judes, ternyata aslinya lebih muda dan sweet. Louise benar-benar gambaran wanita Eropa Utara sesungguhnya yang berambut pirang dengan badan (mulai) ramping setelah 3 bulan melahirkan Caesar. Karena kebijakan pemerintah Denmark, Louise mendapatkan jatah cuti melahirkan satu tahun demi mengurus si bayi di rumah.

Berbeda dengan para istri di Eropa yang lebih mendominasi pada umumnya, Louise termasuk istri yang sabar, ikut kata suami, dan lebih pasif. Louise juga sering memanggil suaminya dengan sebutan skat yang artinya sayang (atau dalam bahasa Denmark yang lain, bisa berarti "pajak"). Sementara si suami, Brian, lebih sering memanggil Louise dengan panggilan baby, hunny, atau nama pribadi.

Brian, si bapak yang berusia 42 tahun, memiliki selera humor yang baik, hobi masak, dengan jam kerja yang teratur. Brian yang bekerja sebagai CEO ini, mengepalai perusahaan yang bergerak di bidang alat-alat fitness. Tidak seperti orang yang terlalu sibuk pada umumnya, Brian sudah berada di rumah sebelum pukul 6, lalu lebih memilih berleha-leha saat akhir pekan.

Anak pertama mereka, Emilia, yang tahun ini berusia 4 tahun sebenarnya sangat lucu dan manis. Tapi kalau mood-nya sedang buruk, wahh, saya bisa diteriak-teriaki hanya karena kesalahan kecil. Gadis kecil ini juga tidak anti dicuil-cuil pipinya ataupun dielus-elus rambutnya. Entah karena gengsi atau kenapa, Emilia tidak pernah memanggil nama saya. Emilia lebih sering memanggil saya dengan sebutan pige (baca: pi) atau artinya gadis muda. Bahkan saat "melaporkan" saya dengan mor (baca: moa) atau far (baca: fa)-nya pun, dia sering sekali mengucapkan "gadis ini atau gadis itu", "selamat malam, gadis!", atau "kasih tahu gadis itu ya...". Padahal pige hanya sebuah panggilan kalau kita memang tidak tahu nama orang tersebut.

Sama seperti anak seusianya, Emilia juga suka sekali diajak bermain. Tapi kalau dia lagi asik main bersama, jangan sampai saya mendadak hilang mood dan menghentikan permainan. Dia akan mengikuti saya ke kamar, naik-naik ke punggung, bahkan sampai menarik-narik baju kalau tidak diperhatikan. Sayangnya, saya hanya bisa bertemu Emilia 3 jam setiap harinya. Selain sekolah, Emilia harus tidur sebelum jam 8 malam. Jadinya saya bisa manyun-manyunan dengan gadis lucu ini saat dia bangun tidur, sarapan, dan makan malam.

Tiga bulan lalu, Louise juga melahirkan anak kembar bernama Nikolaj dan Frederik. Tapi walaupun kembar, mereka berdua benar-benar tidak mirip. Nikolaj yang bermuka bulat dan berat, lebih mirip ke Brian. Sementara Frederik yang lebih mungil dengan hidung lancip, lebih mirip ke Louise.

Sudah dua minggu lebih ini tinggal di rumah mereka, Alhamdulillah, membuat saya terus nyaman. Kesan pertama terhadap keluarga mereka yang hangat dan rileks, membuat saya benar-benar dianggap sebagai keluarga. Walaupun capnya au pair, bantu-bantu bersih rumah, tapi sikap mereka membuat saya benar-benar dihargai. Mereka juga mencetak ulang stiker baru termasuk nama lengkap saya untuk ditempelkan di kotak pos.

Kamar saya ada di basement yang berdekatan dengan toilet dan ruang nonton. Karena mereka memang baru pindah 4 bulan di rumah ini, jadinya kamar saya memang belum fully furnished. Beberapa perabotan yang dibutuhkan akan dibeli bersama untuk mencocokan dengan selera saya. Seminggu kemudian Brian akhirnya mengajak ke IKEA membeli beberapa perabotan seperti meja belajar, karpet, gambar, dan jam dinding dengan nuansa hitam putih yang saya pilih sendiri.

Mereka juga sangat respek dengan apa yang saya makan dan yakini. Karena saya tidak makan daging, mereka juga selalu memastikan salmon atau kod di freezer tersedia. Louise juga sangat menghargai jam-jam ibadah saya yang sebenarnya sangat fleksibel. Untuk urusan kerjaan pun, mereka tipikal keluarga yang tidak cerewet dan sangat santai. Kalau memang bisa dikerjakan sendiri, ya mereka lakukan tanpa harus menyuruh ini itu.


Walaupun berbeda dengan pengalaman au pair saya di Belgia yang lebih seperti guru TK dan kakak tertua, disini saya memang lebih difokuskan mengurus urusan rumah tangga. Untuk urusan Emilia, orang tuanya yang akan mengurus. Belanja bahan makanan pun tidak diberatkan ke saya lagi, hore! Sisanya, saya hanya perlu membantu Louise menenangkan si bayi atau menjaganya saat dia sedang sibuk. Itu juga terkadang ibunya Louise yang akan datang dan mengasuh cucunya. Walaupun kadang sehari saya sering di-list cukup banyak pekerjaan, namun dihari-hari berikutnya saya bisa saja sangat free

Biasanya juga sebagai orang baru, au pair akan segan atau malas keluar kamar, kalau anggota keluarga ada di rumah. Untuk mengambil makanan di dapur pun kita rasanya enggan dan memilih untuk tahan kelaparan saja di kamar. Tapi karena sikap mereka yang hangat dan netral, saya juga akhirnya tidak segan untuk keluar kamar dan membaur. Saya juga tidak terlalu canggung karena Louise ada di rumah setiap harinya. Louise bukan tipikal ibu-ibu bawel yang selalu ingin tahu apa yang saya kerjakan, makan, dan masak. Setiap berpapasan di rumah pun, dia selalu menebar senyum. What a sweet mom! 

Sewaktu di Belgia dulu, entah kenapa saya sedikit malas bergabung makan malam dengan keluarga angkat saya disana. Entah kenapa tidak terlalu banyak yang bisa saya mengerti dari ucapan mereka dan lebih memilih diam. Berbeda dengan disini, saya yang tadinya "dijadwalkan" ikut makan malam semeja sekitar dua kali seminggu, sayanya tidak tahu diri ikut terus dari Senin sampai Jumat. Saya juga tidak canggung lagi karena setiap hari biasanya selalu ada topik yang akan dibahas.

Menurut saya, makan satu meja bisa mengakrabkan semua anggota keluarga. Walaupun di Indonesia saya dan keluarga hanya makan semeja saat bulan Ramadhan, tapi memang momen seperti itulah yang dapat kita manfaatkan berkumpul bersama saat seharian sudah beraktifitas.

Yang saya sebal dari keluarga ini adalah satu, senang sekali buang-buang makanan! Saya ingat betul saat Brian mengambil seikat daun bawang di kulkas, yang jumlahnya mungkin 6 tangkai. Karena yang dibutuhkan hanya 4, sisanya lagi langsung dibuang ke kotak sampah. Oh, damn! Kenapa tidak disimpan di kulkas saja kan ya? Sudah banyak sekali makanan yang terbuang oleh ulah si bapak ini.

Lalu ada juga soal kisah sisa lauk yang biasanya selalu dibuang karena tidak akan mungkin dimakan lagi. Berbeda dengan Indonesia yang biasanya masak sepanci, sisanya masuk kulkas, lalu besoknya dipanaskan lagi. Disini, semua itu tidak berlaku! Tidak habis, ya dibuang. Memang tepat juga sih, mengingat setiap hari menu makanan selalu berubah.  Tapi kan....

"I always try to make or cook food from fresh condiments. That's why I threw away all the things from few days ago in refrigerator. I know it's wasting money, but...."

"No problem," kata saya.

"Yes. It is," katanya sambil ketawa.

Horang kayah!


Tip: Menata Isi Bagasi Ke Luar Negeri

Monday, 21 September 2015



Entah kenapa suatu kali ingin juga bepergian tanpa membawa tas besar selain tas yang hanya menyangkut di tangan. Saya malas sekali menyortir isi lemari yang harus dibawa ke luar negeri (ataupun luar kota) karena ujung-ujungnya walaupun sudah di-list satu per satu, tetap saja ada yang ketinggalan. But well, it's really true that packing is not for everyone.

Ibu saya sudah menduga kalau koper muatan orang pergi umroh yang sempat saya bawa ke Belgia, tidak akan muat menampung barang-barang yang akan saya bawa ke Denmark. Terlebih lagi beliau sepertinya sudah punya ancang-ancang membelikan saya koper baru yang lebih besar. Benar saja, lima menit sebelum toko ditutup, ibu saya langsung saja menarik salah satu koper, yang memang sudah kami lihat beberapa hari sebelumnya, ke kasir.

Taraaaa.. Akhirnya saya punya koper baru bermuatan 70 liter bermaterial nilon. Saya memang tidak memilih koper bermaterial plastik seperti pilihan orang kebanyakan. Menurut saya, koper bermaterial nilon dengan banyak resleting di luar dan dalamnnya lebih fungsional. Lagipula, koper ini bisa diduduki (baca: dipaksa nutup) kalau memang isinya sudah kepenuhan dan tidak bisa diresleting lagi. ;D

Sewaktu berangkat ke Belgia setahun lalu, saya membayangkan tidak akan membeli banyak barang hingga membawa cukup banyak pakaian ke dalam koper. Nyatanya, banyak juga pakaian yang tidak terpakai dan saya juga harus membuang 60% pakaian saat akan pulang ke Indonesia karena koper tidak muat lagi. Makanya di tahun kedua hijrah ke Eropa kali ini, saya benar-benar sudah menyortir isi lemari yang usable saja. Selain membawa dokumen-dokumen penting, berikut beberapa tip yang semoga bermanfaat saat menata bawaan ke dalam koper.

1. Membawa pakaian yang sering digunakan

Walaupun sudah punya pakaian satu lemari, seorang perempuan biasanya tetap saja merasa tidak punya pakaian. Tapi di antara banyak pakaian itu, pastinya kita punya pakaian andalan yang setiap minggunya selalu dipakai. Nah, bawalah pakaian tersebut dan lupakan membawa pakaian yang di Indonesia saja tidak pernah digunakan.

Agar lebih aman, bawalah pakaian dengan warna dasar seperti hitam, abu-abu, dan putih. Warna-warna pakaian dasar seperti ini selalu cocok di-mix & match dengan warna apapun. Kalau memang kebetulan datang di musim panas, bawa juga beberapa potong pakaian berwarna terang dengan motif seru. Musim semi biasanya identik dengan warna pastel yang lembut, musim gugur lebih sering menggunakan warna earthy seperti cokelat, merah marun, atau krem, sementara musim dingin yang sendu selalu dipenuhi oleh orang yang berpakaian gelap seperti hitam, abu-abu, atau biru tua.

Yakinlah, biasanya kita akan tergoda untuk membeli lagi beberapa pakaian di negara tujuan saat sedang diskon. Membawa pakaian yang sering kita gunakan di Indonesia, setidaknya dapat menghemat isi dompet. Kalaupun memang terpaksa membeli, fokuskan pada pakaian musim dingin yang modelnya lebih classy dan beragam dibandingkan di Indonesia.

Jenis pakaian pun bisa bervariasi dengan memasukkan daftar kaos oblong, tank top, batik atau jenis kain khas Indonesia lainnya, kemeja, blazer, gaun santai, atau rok. Bawa juga beberapa potong kaos kaki, long john (pakaian termal), baju olahraga, stocking hitam, scarf bermotif seru, dan cardigan. Oh ya, bagi yang suka pakai jeans dan kebetulan bertubuh petite khas orang Asia, boleh juga membawa beberapa potong jeans berukuran pas dari lemari. Potongan jeans bule panjang normalnya 29 inchi yang akan membuat ujung jeans menumpuk di mata kaki.

2. Jangan bawa semua sepatu!

Awal-awal kedatangan, saya masih nyaman menggunakan sneakers baseball atau sepatu kanvas yang cocok untuk diajak jalan. Entah kenapa saya merasa banyak sepatu olahraga justru hanya keren dipakai, namun tidak nyaman diajak berjalan jauh. Membawa banyak jenis sepatu pun juga sebenarnya bukannya tidak boleh, tapi sekali lagi, yakinlah kalau kita biasanya juga akan tergoda membeli sepatu lagi sesampainya di negara tujuan.

Namun tidak ada salahnya membawa beberapa jenis sepatu dari Indonesia yang tetap akan terpakai dan membuat kita nyaman berjalan kaki, seperti flat shoes, summer sandals, sneakers baseball, atau sepatu kanvas. Kalau memang ingin tampil kece sesekali, membawa midi heels juga cukup oke untuk jalanan Eropa. Kalaupun tidak sempat membeli boot di Indonesia, tetap bisa membelinya di negara tujuan dengan kisaran harga dan model yang lebih bervariasi.

3. Bawalah makanan atau bumbu-bumbu Indonesia

Makanan Barat kebanyakan hambar atau hanya berasa asin. Membawa sambal sachet bisa membantu menghidupkan rasa saat kita makan di restoran atau kafe. Bawa juga beberapa ruas serai (lemongrass), daun jeruk purut, atau kunyit untuk persiapan masak makanan Indonesia. Atau kalau tidak mau repot, beli saja bahan-bahan tersebut dalam bentuk bubuk. Boleh juga membawa beberapa bungkus mie instan sebagai penghilang rasa kangen di awal-awal. Tapi tidak perlu kebanyakan juga, karena beberapa bahan makanan bisa dengan mudah ditemukan di toko Asia yang ada di negara barat.

4. Gunakan space maker

Space maker sangat berguna untuk menata isi koper kita agar lebih banyak muatan. Belilah space maker dengan ukuran yang bervariasi agar bisa lebih sering digunakan saat bepergian. Gulung dulu pakaian sebelum dimasukan ke dalam space maker, lalu kempiskan dengan bantuan vacuum cleaner agar udara lebih mudah keluar dari kantung.

Tapi jangan salah, walaupun sudah dikempiskan, kita harus cepat menutup isi koper agar space maker tidak kembali mengembung karena kemasukan angin. Baiknya mengempiskan space maker sesaat sebelum kita menutup isi koper agar lebih mudah menata dan menutupnya.

Kebutuhan setiap orang memang tidak sama. Jangan lupa pula masukkan obat-obatan yang biasanya selalu kita gunakan di Indonesia. Seperti saya, yang kalau perut kembung selalu mengoleskan minyak kayu putih, mau tidak mau perlu juga membawa beberapa botol ke Eropa. Yang suka baca buku, tidak perlu juga memenuhi isi koper dengan buku-buku yang cukup memberatkan. E-book yang lebih praktis bisa dengan mudah kita beli dan simpan di ponsel atau laptop. Yang paling penting, perhatikan dulu berapa kilo batas maksimum bagasi maskapai yang akan kita gunakan. Kalau over baggage, siap-siap keluar duit lebih ya. Selamat packing!


Ternyata Emirates!

Monday, 14 September 2015




Sebulan sebelum keberangkatan, bahkan sebelum tahu kapan Louise akan membelikan tiket, saya sudah hunting duluan kira-kira maskapai apa yang saya harapkan. Dari daftar Skyscanner, saya selalui menemui Thai Airlines memiliki tarif terendah untuk keberangkatan ke Kopenhagen di awal September. Disusul Aeroflot, maskapai asal Rusia yang saya tidak pernah mendengar sebelumnya.

Saya selalu berharap semoga saja akan terbang lagi dengan pesawat asal Timur Tengah seperti Qatar Airways, Emirates, atau Etihad. Kenapa pesawat Timur Tengah, karena selain bagasinya muat 30kg, makanannya halal, di bandaranya disediakan mushola, dan sudah terkenal memiliki reputasi yang sangat baik di dunia penerbangan. Pesawat Eropa seperti Lufthansa atau KLM memang biasanya mahal, namun yang saya tahu mereka hanya menampung bagasi hingga 23 kg saja. Duh, saya sangat yakin barang yang akan saya bawa memang mendekati 30 kg nantinya!

Selain itu, naik maskapai Timur Tengah menuju Eropa biasanya akan transit dulu menunggu penerbangan berikutnya. Artinya kalau waktu tempuh menuju Eropa bisa sampai 15 jam (di luar waktu transit), 8 jam menuju ke salah satu kota di Timur Tengah, lalu 7 jamnya menuju Eropa. Saya pernah naik pesawat selama 15 jam nonstop dari Amsterdam ke Jakarta dengan Garuda Indonesia dan terus terang saja saya kurang nyaman berada di pesawat selama itu.

Dua minggu kemudian, akhirnya Louise mengirimkan email rekomendasi maskapai apa yang sepertinya akan saya gunakan. Mereka menawarkan Emirates dengan waktu transit 3 jam di Dubai. Saya memang tidak betah lama-lama berada di bandara sendirian. Padahal, kalaupun saya mau jalan-jalan sebentar di Dubai, saya bisa saja menawarkan opsi transit yang lebih lama. Saat itu opsi transit terlama bisa 9 hingga 13 jam. 

Luckily, Louise juga menawarkan untuk membayari tiket pesawat dari Palembang ke Jakarta. Karena ibu saya dan si bungsu ingin mengantarkan sampai Jakarta, akhirnya kami sepakat terbang bersama Sriwijaya Air saja, dilanjutkan naik free shuttle bus ke Terminal 2. Kalau tidak ingin repot naik shuttle bus, silakan menggunakan maskapai Garuda Indonesia yang juga akan tiba di Terminal 2.

Bus transfer gratis ini dapat ditemui di depan bagian informasi di dekat gerbang keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta. Busnya memang tidak terlalu besar, tapi seorang "kernet" tetap akan membantu menaruh koper besar kita di bagasi seandainya dalam bus sudah penuh. Tapi tenang saja, bus akan datang tiap 10 hingga 20 menit sekali.

Maskapai dari Timur Tengah biasanya akan berangkat dini hari dari Jakarta. Tidak perlu repot membawa jaket tebal ke dalam pesawat, karena biasanya sudah disediakan selimut oleh pihak maskapai. Berbeda dengan Qatar Airways yang menyiapkan selimut, masker mata, penutup telinga, dan kaus kaki, saya hanya mendapatkan selimut saja saat terbang bersama Emirates.

Lama penerbangan hingga 15 jam, memastikan kita akan mendapatkan dua kali jatah makan besar selain snack. Para awak kabin biasanya akan memberikan menu makanan yang dapat dipilih saat di pesawat. Tapi karena sedikit membatasi pilihan makanan, akhirnya saya reservasi duluan via website sebelum keberangkatan. 

Kalau memang sedang diet, ada banyak pilihan makanan yang dapat dipesan sesuai program diet kita. Karena berangkat dini hari, perut saya biasanya sudah menolak diberi makanan terlalu berat. Saya pun memilih menu vegetarian menuju Dubai, lalu menu seafood menuju Kopenhagen. Enaknya reservasi via website, makanan yang saya pesan diantarkan terlebih dahulu oleh awak kabinnya mau dimanapun tempat duduk kita. Jadi tidak perlu didatangi langsung sembari antri menunggu penumpang yang lain.

Saat tiba di Dubai pun, saya tidak bisa lihat toko kanan kiri terlalu lama karena nyatanya 3 jam bukanlah waktu yang panjang. Menuju terminal connection flight, saya harus antri menunggu kereta, dilanjutkan naik lift ke arah terminal yang tepat. Belum sampai sejam saya duduk di ruang tunggu, penumpang ternyata sudah bisa naik ke pesawat diantar oleh bus sebelumnya. What a long journey! 

Jam 13.10 CEST, saya sampai di bandara internasional Kopenhagen, mengambil bagasi, lalu keluar bandara menemui Louise dan Brian yang sudah berada di garis depan menyambut saya.

"Welcome to Denmark! Welcome to Copenhagen!", kata Louise hangat sambil memeluk saya diikuti oleh Brian.


Hasil Perburuan Oleh-oleh Khas di Tanah Langka

Tuesday, 8 September 2015




Dua minggu ke belakang saya sempat kebingungan kira-kira oleh-oleh khas Indonesia apa yang akan dibawa ke Denmark. Indonesia sangat luas dengan kebudayaan yang berbeda-beda. Semakin dicari, saya makin kebingungan karena banyaknya benda-benda yang bisa mewakili Indonesia untuk bisa dibawa kesana. 

Dari Sumatera ke Irian Jaya, kerajinan tangan etnik-etnik yang super duper cantik dan lucu cukup menggoda untuk dibeli. Contohnya saja kain-kain batik, songket, atau ulos yang sangat Indonesia sekali. Atau ada juga kerajinan tangan seperti miniatur perak, patung-patung kayu, atau topeng khas Bali dan Jawa. Semakin melihat kerajinan tangan khas Indonesia, semakin membuat saya jatuh cinta dengan negeri ini. Orang Indonesia kurang kreatif dan nyeni apalagi coba ya? Dari perhiasan sampai perabotan rumah tangga, semuanya handmade yang dibuat dengan sangat detail. 

Sempat terpikir untuk membeli kain atau pakaian batik jadi, tapi sedikit ragu apakah akan dipakai atau tidak. Walaupun batik memiliki motif yang sangat rumit dan cantik, belum tentu mereka suka dengan warnanya. Orang Eropa memang cenderung suka tampil elegan dan simpel dengan mengurangi motif di pakaian mereka. Akhirnya saya skip batik dari daftar oleh-oleh.

Saya juga sempat ingin memesan beberapa kerajinan tangan seperti wayang dari budaya Jawa, patung asmat khas Papua, atau topeng khas Bali via online. Tapi niat tersebut dibatalkan karena saran dari ibu saya untuk mencari oleh-oleh langsung saja di Palembang.

Kalau ingin membawakan oleh-oleh ke luar kota memang mudah saja, ada pempek, kemplang bakar, atau songket. Tapi saya tidak yakin akan membawa makanan basah seperti pempek ke luar negeri. Membawa hasil kain tenunan songket pun sepertinya bukan ide yang terlalu bagus mengingat biasanya kami menggunakan songket saat kondangan atau hari pernikahan.

Berbeda dengan kota-kota di Pulau Jawa dan Bali, Palembang adalah tanah langka untuk mencari macam-macam kerajinan tangan. Palembang memang bukan kota tempat berkembangnya industri kreatif seperti Jogja atau Bandung. Kerajinan kayu atau perak akan sangat mahal dijual di kota ini. Lain halnya jika ingin cari pempek atau makanan kering lainnya, sangat mudah sekali ditemukan dimana-mana. Palembang memang bukan kota seni, tapi kota kuliner.

Sebenarnya terdapat banyak juga toko di Pasar 16 dan Ilir Barat yang menjual songket dan batik Palembang. Beberapa toko ini biasanya juga menjual dompet, tas, wadah tisu, atau gantungan kunci berbahan dasar songket yang harganya cukup murah. Sayangnya miniatur Jembatan Ampera atau pajangan dinding kebanyakan dikemas dengan kotak atau figura kaca yang sangat tidak aman dimasukkan ke koper. Pelabuhan saya berakhir di satu toko kerajinan di daerah Mayor Ruslan, di depan SMKN 6 Palembang.

Sebelum mempopulerkan kota-kota lain di Indonesia, saya membawa oleh-oleh khas Sumatera Selatan ini untuk dipamerkan ke mereka:

1. Kopi khas dari Semendo dan Pagar Alam
Saya memang bukan penikmat kopi, tapi membawakan kopi ini akan selalu membuat saya rindu bertemu nenek. Semendo adalah dusun kecil yang terkenal akan biji kopinya yang khas dan nikmat. Sementara Pagar Alam adalah kota yang berada di kaki gunung Dempo. Kopi Luwak sendiri menggambarkan keaslian kopi Indonesia dari biji kopi hasil eek si luwak yang terkenal mahal itu.

2. Teh khas Dempo
Pucuk teh yang diambil langsung dari puncak Gunung Dempo dan sangat khas Sumatera Selatan sekali. Tehnya juga tanpa bahan pengawet, sehingga tidak kalah dengan teh organik yang dijual di Eropa.

3. Pajangan kayu Jembatan Ampera
Walaupun sangat mainstream, tapi saya ingin ada yang dipamerkan tentang Indonesia di rumah mereka. Sama halnya dengan batik dan wayang yang sudah jadi world heritage, kerajinan kayu ini saya harap bisa juga mewakili salah satu khas-nya Indonesia di Palembang. 

4. Make up case songket
Melihat warna-warni cantik songket yang membungkusnya, membuat saya ingin membeli semua tempat pensil atau wadah make up ini. Tapi karena Palembang juga merupakan turunan budaya Cina, jadi warna songket tertua seperti emas dan merah yang saya pilih.

5. Rupa-rupa gantungan kunci songket
Boneka barbie berbalutkan busana pengantin khas Palembang yang lucu atau dompet songket mini yang juga berfungsi sebagai gantungan kunci ini sama-sama membuat saya tergoda membeli.

Oh ya, sebelum memberikan oleh-oleh dalam bentuk apapun, baiknya kita bertanya dengan pertanyaan pancingan dulu apakah kira-kira barang yang kita bawa akan disukai mereka. Saya yang tadinya ingin bertanya, menemui kenyataan ternyata keluarga ini tidak suka kopi dan teh. Akhirnya karena takut tidak diminum, beberapa kopi dan teh yang sudah saya bawa disimpan dulu untuk keluarga angkat di Laarne. Saya memang sudah berencana berkunjung lagi ke rumah mereka sekalian mengambil barang-barang musim dingin yang sengaja saya tinggalkan. Sementara untuk keluarga di Denmark, saya tinggalkan sebungkus untuk icip-icip tamu.

Rupa-rupa kerajinan tangan di Indonesia memang beragam bentuknya. Tidak perlu juga berpikir terlalu keras dan tidak percaya diri dengan barang apa yang akan kita bawa. Sesungguhnya hal yang paling bermakna dari hadiah atau oleh-oleh bukanlah isi atau rupanya, tapi lebih ke packaging hadiah itu sendiri dan perasaan surprise atau bahagia saat menerimanya.