Pengalaman Wawancara Magang dan Kerja Paruh Waktu di Oslo

Saturday, 14 March 2020



Nasib tiap orang memang tak sama, tapi bagi saya, successful rate untuk dapat panggilan wawancara di Norwegia hanya sekitar 18%. Dari 50-an lamaran kerja yang dikirim, 9 aplikasi baru berhasil menyita perhatian rekruiter. Angka ini masih terbilang lumayan, karena cari kerja di Norwegia tanpa networking dan Norwegian fluency bisa jadi mimpi buruk. Untuk student job yang sifatnya part-time di toko atau restoran, kita tak hanya bersaing dengan pelajar lokal tapi juga internasional. Saingan terberatnya tentu saja para imigran dari Swedia yang lebih lucky karena mereka speak the language.

Dua tahun tinggal di Norwegia, saya baru menguasai norsk secara lisan di level A2. Tak banyak lowongan kerja yang bisa saya lamar, kecuali pekerjaan di toko, kafe atau restoran. Padahal kalau mampu seminimalnya B2, ada banyak sekali pekerjaan paruh waktu di kantoran yang sangat welcome dengan pelajar. Sebagai tambahan, saya juga sempat melirik peluang paid or unpaid internship yang akan sangat berguna untuk mencari pengalaman in-office

Tapi dari semua kesempatan ini, saya ingin cerita bagaimana proses wawancara yang pernah saya lalui di Oslo, hingga akhirnya berhasil mendapatkan tawaran kerja. Ada dua segmen cerita, wawancara magang dan kerja paruh waktu.


Internship

Cari kesempatan magang adalah salah satu hal yang saya kejar selama kuliah di sini. Tak hanya soal pengalaman dan pembelajaran, tapi juga bisa menambah networking dan mempercantik CV. Untuk magang di perusahaan dengan modal bahasa Inggris saingannya sangat kompetitif, apalagi yang dibayar. Tiga pengalaman interview magang di Oslo yang pernah saya lalui adalah dengan perusahaan teknologi multinasional di posisi marketing untuk summer internship 2020 (yang lamarannya sudah saya kirim sejak September tahun lalu!), kedua adalah akselerator startup untuk posisi event associate dan voluntary intern, dan yang ketiga adalah organisasi pelajar-slash-startup di posisi event associate juga. 

Dua perusahaan pertama wawancara dijalani via online lewat Google Hangout dan Whereby. Masing-masing, saya diwawancarai oleh 2 profesional muda yang memegang peranan penting di posisi yang saya lamar. Pertanyaan yang ditanyakan juga sebetulnya cukup banyak & lebih menggali seputar pengalaman kerja sebelumnya serta motivasi saya melamar di perusahaan mereka. Just be aware, even for an internship position, they still expect you to have some more experience earlier!

Setelah menunggu berbulan-bulan sejak wawancara pertama di perusahaan multinasional, saya tak lanjut ke ronde kedua dikarenakan mereka lebih memilih orang-orang yang punya pengalaman in-office sebelumnya. Meskipun ditolak, tapi saya cukup amazed dengan feedback jujur yang mereka berikan lewat satu email yang panjang. So professional and caring!

Sama halnya dengan posisi operations/event associate di akselerator startup, meskipun sudah lanjut sampai ronde kedua tapi langkah saya mesti terhenti karena mereka butuh orang yang bisa bekerja full-time dan selalu available di kantor. Tapi karena cukup impressed dengan profil saya, mereka menawarkan apakah saya bersedia untuk diperhitungkan di proses rekruitmen posisi voluntary intern. Posisinya memang tak dibayar, tapi karena cukup tertarik dengan perusahaan ini, saya iyakan saja. Toh, tak perlu wawancara lagi dan hanya menunggu keputusan mereka. Hingga lebih dari 1 bulan kemudian, saya menerima email panjang yang super caring dari rekruiter bahwa saya diterima menjadi voluntary intern selama 4 bulan. 

Untuk organisasi ketiga, sebetulnya saya lebih banyak mendapatkan informasi lewat senior saya di kampus. Ada trial kerja 6 bulan pertama sebagai voluntary intern, sebelum nantinya bisa berlanjut menjadi permanent worker. Di sini saya juga melamar di posisi event associate karena merasa sangat tertarik di bidang operations, yang tugasnya mengkoordinasi, merencanakan, serta eksekusi. Organisasi ini masih sangat muda dan kantornya juga hanya selemparan batu dari kampus. Wawancara dilakukan oleh 2 board members per sesi dan dilakukan selama 2 kali. Meskipun para board members-nya masih muda-muda, tapi wawancara tetap terasa profesional. 

Kurang yakin dengan wawancara kedua, saya diundang kembali wawancara ketiga oleh salah seorang anggota board member yang sebelumnya mewawancarai saya. Meskipun judulnya "wawancara", tapi pertanyaan yang ditanyakan lebih ke menggali kehidupan pribadi; punya pacar kah di sini, suka Norwegia kah, apa planning selepas lulus, dan lainnya, yang hanya berlangsung 30 menitan. Dirasa cocok dengan budaya kerja di tempat tersebut, sorenya saya mendapat email kalau diterima bekerja di sana!


Kerja paruh waktu

(Baca pengalaman saya cari 'student job' part 1 dan 2 di postingan sebelumnya!)

Dikarenakan hampir semua lowongan kerja paruh waktu di Norwegia diiklankan dalam bahasa Norwegia, wawancara yang saya jalani pun hampir semuanya juga menggunakan bahasa lokal. Semoga kalian masih punya semangat membaca pengalaman saya di 5 tempat selanjutnya!


Toko roti

Entah kenapa, bekerja di toko roti adalah pekerjaan paruh waktu impian saya dari dulu. Mungkin karena waktu kecil terlalu sering membaca komik Jepang, makanya imajinasi soal kerja paruh waktu di tempat ini masih terbayang sampai Norwegia. Wangi harum roti fresh from the oven, alunan suara renyah tuangan kopi dari draft, serta atmosfir nyaman toko roti yang mungil rasanya begitu cozy.

But anyway, dua minggu setelah kirim lamaran ke salah satu toko roti terkenal di Norwegia, saya mendapat email undangan wawancara online. Saat itu wawancaranya hanya satu arah via SparkHire dan saya wajib merekam diri sendiri lewat aplikasi tersebut sebelum akhirnya di-submit ke perusahaan.

Ada 5 pertanyaan yang mesti dijawab dan masing-masing diberi waktu 1 menit. Sebelum recording, saya diperbolehkan memikirkan dulu jawabannya selama mungkin dan diberikan kesempatan 3 kali menjawab. I don't know why I was soooooo nervous!!!! Meskipun total jawabannya hanya 5 menit, tapi saya menghabiskan waktu 2 jam untuk latihan sekalian recording! Semuanya harus dijawab menggunakan bahasa Norwegia, yang mana saya mesti ekstra keras memikirkan jawaban plus tata bahasa yang tepat. Hati saya super dag dig dug, meskipun yang dihadapi adalah diri sendiri.

Dua minggu kemudian, saya dapat email berikutnya untuk lanjut ke wawancara ronde kedua! Wawancara masih dilakukan via online, namun kali ini live dengan salah seorang rekruiter. Herannya, wawancara kali ini malah terkesan biasa saja dan lebih rileks ketimbang saat recording. Pertanyaan yang ditanyakan rekruiter pun sebetulnya sedikit mengulang dari apa yang sudah saya rekam di ronde pertama; mengapa ingin kerja di sini, apa kegiatan favorit saat senggang, seberapa fleksibel, serta pertanyaan lain seputar pengalaman au pair.

Sebetulnya saya merasa tak terlalu maksimal saat itu dikarenakan berulang kali menanyakan apa yang dimaksud oleh rekruiter. Ada beberapa pertanyaan yang karena takut salah paham, saya tanyakan lagi beberapa kali untuk memastikan. Saya bisa melihat bahwa si rekruiter ini kurang sabar dan terlalu sibuk mencatat. Saat saya ingin beliau mengulang lagi pertanyaannya hingga 3 kali, beliau sampai mengentakkan pena ke meja dan mengeraskan suaranya ke arah microphone.  Meskipun awalnya sangat positif, namun the last answer dari mereka setelah menunggu 3 minggu adalah NO.


Restoran Italia

Sebagai orang yang belum pernah bekerja di restoran sebelumnya, saya cukup kaget ketika tahu dapat panggilan wawancara di salah satu cabang restoran terbesar di Norwegia! Apalagi yang saya dengar, ada ratusan aplikasi yang masuk ke setiap lowongannya di restoran ini. Satu minggu setelah memasukkan lamaran ke situs mereka, saya langsung dapat wawancara kerja dua minggu berikutnya.

Kali itu wawancara dilakukan secara live dan saya mesti datang ke restoran langsung. Maria, si manager, mengobrol dengan saya di salah satu pojokan. Wawancara pun terkesan santai dan saya bisa menjawab semua pertanyaannya dengan sangat fasih. Padahal pertanyaan yang ditanyakan lebih sulit dari si toko roti. Contohnya, apa definisi mu tentang a good team, bagaimana cara kamu menghadapi stress, atau apa yang kamu lakukan kalau menghadapi pelanggan yang bawel. 

Maria cukup terkesan dengan semua jawaban saya dan memberikan kesempatan untuk ikut uji coba (prøvevakt) selama 8 jam, satu minggu berikutnya. Meskipun belum punya pengalaman sebelumnya, tapi Maria selalu menekankan bahwa pengalaman itu tidak penting. Yang penting itu saya mau belajar & bisa meng-handle stres saat bekerja di tempo yang tinggi. Masalah gaji pun sudah dibahas dan saya sudah diundang kesana kemari untuk sign up di beberapa online course serta social media khusus organisasi tersebut. Well, everything sounds so professional and organized karena restoran ini memang salah satu restaurant chains terbesar di Norwegia yang sudah cukup lama beroperasi.

Long story short, saya pulang uji coba dengan kewalahan. Worked at a very big restaurant with 600 customers every day were daunting for me! Belum lagi trainer saya, seorang gadis muda yang sudah 5 tahun bekerja di restoran, menaruh ekspektasi yang cukup besar agar saya bisa menguasai banyak hal dalam waktu 8 jam saja! I felt so intimated, meskipun banyak feedback positif dari doi tentang saya.

Merasa akan diterima bekerja di sana, 2 hari kemudian saya menerima telepon dari Maria yang hanya akan memberitahu bahwa saya bukan kandidat yang tepat bagi mereka. Lucunya, Maria saat itu mengatakan bahwa saya kurang pengalaman menghadapi hanyak pelanggan dalam satu waktu. “Maybe you should try to work at a smaller restaurant first,” katanya.

My heart fell to the floor in a sudden! Walaupun yang dikatakan Maria memang benar, tapi saya cukup kecewa dengan treatment yang mereka berikan. Pertama, kami sudah membahas panjang lebar soal gaji dan kontrak. Kedua, saya merasa sudah menjadi bagian dari organisasi tersebut karena diundang kesana-kemari via online networking mereka. Ketiga, saya merasa apa yang dikatakan Maria soal "yang penting mau belajar" itu hanyalah omong kosong belaka!


Restoran India

Tak mau down lebih lama, saya teringat seorang teman pernah mengirimkan screenshot lowongan kerja via Facebook di salah satu restoran India di Oslo. Tanpa pikir panjang, jam 9 malam saya langsung menelepon restoran tersebut. Yang saya tahu, restoran India, Pakistan, atau Turki dan sejenisnya, memang tak se-strict atau profesional restoran asli Norwegia atau yang dikelola oleh orang Norwegia. Mereka bahkan menerima walk-in interview dan drop-in CV.

Malamnya saya telepon, besoknya saya langsung disuruh datang untuk wawancara. Dipikir pemiliknya Norwegian born Indian, ternyata sepasang suami istri ini baru tinggal di Norwegia 2-3 tahun dan restoran ini juga ternyata baru buka Agustus tahun lalu. 

Wawancara saat itu hanya berlangsung 10 menit tanpa pertanyaan basa-basi, lalu saya langsung disuruh uji coba (prøvevakt) sore itu juga! Oh-ow! Seemed like they didn’t understand if people also had their own schedule. Karena memang sudah punya schedule hari itu, saya minta untuk uji coba esoknya saja, yang mana saya tak sadar adalah hari Minggu!

Di hari pertama prøvevakt, my first impression of this restaurant was messed! I swore to myself that I am not going to work at this restaurant for so long! Tanpa tahu apa-apa, tanpa briefing, saya langsung terjun bebas belajar sendiri apa yang terjadi di sana. Restorannya memang tak sebesar restoran Italia sebelumnya, tapi tetap saja membuat saya kewalahan karena uji coba dilakukan saat akhir pekan, waktu dimana banyak orang memutuskan makan di luar.

Tamu terus berdatangan dan saya bingung harus mulai dari mana. Tak ada briefing, tak ada training, pokoknya learning by doing saja. Karena restoran ini masih sangat baru, saya sebetulnya cukup paham mengapa manajemennya sangat buruk. Si pemilik restoran, bertugas rangkap sebagai kasir, bartender, pelayan pula, kepala dapur, dan pencuci piring. Makanya tak heran mengapa saya yang baru datang ini langsung disuruh multitasking ini itu. To be honest, 8 jam “belajar” dan uji coba di restoran Italia sangat membantu membentuk mental dan sensivitas saya! Yang dulunya terintimidasi dan takut, trial sekali ini hajar dan just played it cool.

Yang saya lihat, restoran ini memang betul-betul butuh orang yang tepat untuk bisa meng-handle tamu sebagai food server. Makanya di hari itu juga, saya langsung diterima bekerja dan tanda tangan kontrak esok harinya. No ribet, no kirim CV dan cover letter dulu, yang penting kita suka dan mau kerja di sana, then 100% you’ll get the shifts!


Sushi bar

Masih penasaran cari-cari kerja di tempat lain, saya mengirim lamaran lain di sushi bar di daerah paling touristy di Oslo. Tempatnya sangat kecil dan hanya muat sekitar 10 pelanggan saja. Lebih enak untuk mobilitas sebetulnya.

Wawancara juga hanya satu arah karena kebanyakan si pemilik yang bicara. Mungkin tepatnya, si pemilik yang lebih detail menjelaskan panjang lebar tentang struktur kerja di tempat tersebut serta apa yang mereka harapkan dari pegawai baru. Tak ada rentetan pertanyaan yang ingin menggali lebih jauh tentang diri saya.

Tak anti ribet juga karena pemiliknya terkesan easy dan siapa pun yang diwawancaranya saat itu, pada dasarnya itulah orang terpilih yang akan bekerja di sana. Karena jadwal kerjanya tak cocok, malamnya langsung saya tolak job offer tersebut. Saya juga entah kenapa kurang cocok dengan atmosfir kerja di sana karena pegawainya terkesan sangat dingin dan kurang welcome.


Restoran Korea

Jam 11 pagi, saya masih iseng membuka daftar lowongan kerja di internet dan menemukan lowongan menjadi pelayan di restoran Korea di Oslo. Karena sudah persiapan cover letter serta CV yang dikhususkan untuk posisi pelayan, saya langsung kirim aplikasi saat itu juga. Mungkin karena beruntung, besoknya juga saya mendapat email panggilan wawancara lagi. 

Dari sini saya belajar bahwa restoran yang dikelola oleh keluarga (bukan organisasi besar layaknya restoran Italia sebelumnya), pada dasarnya sangat casual dan anti ribet. Wawancara juga lebih ke satu arah dan si pemilik lah yang justru lebih banyak menjelaskan tentang detail pekerjaan. 

Yang saya suka dari restoran ini, di awal si pemilik sudah menjelaskan panjang lebar tentang ekspektasinya serta informalitas yang ada di tempat tersebut. Mungkin karena Norwegian born half-Korean, makanya doi tahu betul soal regulasi serta bagaimana menumbuhkan budaya kerja ala orang Norwegia, meskipun restorannya sendiri menyajikan makanan Asia.

Karena saya dan si pemilik restoran sama-sama punya feel positif, lagi-lagi saya diberi kesempatan untuk uji coba (prøvevakt) selama 6 jam. Prosesnya cukup lambat memang, karena sama-sama sibuk, shift untuk uji coba baru diberikan 2 minggu kemudian. Yang pasti, saya merasa restoran ini bisa jadi tempat kerja saya berikutnya karena lebih terorganisir, profesional, dan adil ketimbang restoran India sebelumnya. Saya juga merasa makanan Korea lebih cocok di lidah dibandingkan kare-karean ala India yang lebih heavy.

Hingga akhirnya, tibalah hari uji coba yang membuat pemikiran saya berbalik 180 derajat! Dari yang tadinya sangat positif dengan restoran ini, saya merasa ada big turn off baik dari saya dan si pemilik! Di hari pertama uji coba, saya sudah banyak melakukan kesalahan yang dirasa bos restoran sangat fatal, contohnya, lupa menyalakan lilin yang sebelumnya sudah diperintahkan, memberikan bill ke meja yang salah, tak mengabari dapur kalau main course harusnya sudah tiba, datang terlambat 5 menit (padahal saya sudah mengetuk pintu restoran 10 menit lebih awal, tapi karena tak ada orang di dalam, saya membunuh waktu dengan sengaja datang terlambat), serta perkara lainnya. 

Saya juga tak suka dengan budaya makan bagi para pelayan di sini. Makan hanya bisa dilakukan secara berdiri di dekat kasir, lalu harus siap berhenti saat pelanggan datang. Diberi makan jam 7 malam, saya baru menghabiskannya dua jam kemudian! Tak ada jeda meski hanya 10 menit untuk duduk dan makan dengan cara yang lebih wajar. Pemiliknya juga tak santai, perfeksionis, dan penuh ekspektasi. Dalam waktu 6 jam, doi ingin saya bisa melakukan dan mengingat banyak hal, yang mana menurut saya mustahil. Tapi karena cukup pengertian, si pemilik ini masih mau memberikan saya kesempatan kedua di uji coba berikutnya.

Mungkin karena memang sudah tak sreg bekerja di sini dari hari pertama dan belum rejeki juga, hari kedua prøvevakt, saya tak sengaja malah datang terlambat 10 menit karena kelewatan halte. Betul saja, tanpa babibu, saat itu juga saya langsung diusir dari restoran dan ditolak karena bukan orang yang tepat untuk restoran mereka. Yeah, Earth heard me!



Dari cerita di atas, bisa kah kalian menebak ujung-ujungnya saya bekerja di mana sekarang?

So, meskipun awalnya malas dengan sistem manajemen dan makanan di tempat ini, tapi saya memutuskan untuk terus bekerja di restoran India. Setidaknya untuk beberapa waktu karena saya juga sedang malas melamar banyak pekerjaan di tempat lain lagi.

Hal yang saya pelajari juga, bahwa uji coba (prøvevakt) di restoran belum tentu membuka kesempatan mu menjadi karyawan tetap mereka. Uji coba itu diberikan untuk melihat seperti apa kamu saat bekerja di sana. Cocok kah dengan budaya perusahaan, tangguh kamu saat menghadapi pelanggan yang banyak, serta seberapa taktis saat mengantarkan makanan. Bekerja di tempat yang dikelola orang Norwegia asli akan sangat menyulitkan karena mereka menaruh ekspektasi besar di hari pertama uji coba kita di sana. No wonder, karena memang uji coba ini juga sebetulnya dibayar.

Hati-hati juga dengan komentar positif dari restoran yang dikelola orang Norwegia karena bisa jadi itu hanya omong kosong! Because in the end, you are not hired anyway! Berbeda halnya dengan restoran yang dikelola non-Norwegian, sistem rekruitmen biasanya lebih santai. Uji coba tak dibayar, namun yang saya dengar, pemiliknya lebih mudah diajak negosiasi ketimbang orang asli Norwegia. Bad side lainnya, mereka selalu berusaha lari dari regulasi resmi sehingga bisa jadi kamu merasa treatment-nya kurang adil.

Tapi akhirnya saya berpikir, kerja itu tak melulu soal gaji karena atmosfir kerja dan kolega yang baik juga sangat mendukung kinerja. Satu lagi, meskipun kalian kira kerja jadi pelayan itu pekerjaan biasa dan mudah, tapi coba saja kirim lamaran di beberapa tempat. I am pretty sure, you'd not get one spoteven for a trialeasily! Seperti yang saya katakan di kalimat pembuka, selain saingannya banyak, pengalaman juga penting, apalagi di restoran yang sudah lama beroperasi. In the end, luck dan koneksi juga berperan sangat penting di Norwegia.

Tak hanya sampai di sana, karena tujuan saya juga ingin cari koneksi yang luas secara profesional, saya langsung menerima tawaran kerja dari organisasi pelajar-slash-startup di atas. Selain karena tujuan organisasi tersebut cocok dengan program studi yang saya ambil, adanya jenjang karir yang lebih luas serta kantor yang hanya selemparan batu dari kampus, membuat saya tak punya alasan untuk menolak tawaran mereka.

And yepp, perhaps you got it right, saya kuliah plus kerja di dua tempat berbeda sekarang! Bagaimana cara saya mengatur waktunya? Tunggu cerita di postingan selanjutnya!



Belajar Ski Gratisan

Monday, 9 March 2020



Punya kesempatan tinggal di Norwegia, belajar ski atau setidaknya mencoba berdiri di papan ski adalah salah satu aktifitas yang ada dalam list saya. Kapan lagi bisa belajar ski di negara yang selalu langganan menjuarai olimpiade internasional ini?! Dua tahun ke belakang, pekerjaan saya hanya menjaga host kids di arena ski sementara orang tuanya menghabiskan waktu di slopes. Iri rasanya. 

Tahun ini, saat Norwegia Selatan baru diguyur salju lebat di awal Maret, saya manfaatkan belajar main ski dengan pelatih pribadi dan tercinta saya, Mumu! Well, he vowed to teach me since last year! Biaya kursus ski di Norwegia, khususnya Oslo, untuk 50 menit pertama dimulai di angka NOK 1500 (€150) untuk belajar 1-on-1. Harga tentu saja sangat beragam berdasarkan tempat, durasi, serta jenis ski apa yang ingin kita pelajari. Jadi kalau kebetulan punya kerabat atau kenalan yang bisa mengajar dari dasar, mengapa tidak.

Tapi meskipun olahraga ski dan Norwegia adalah dua hal yang sama-sama mahal, masih ada yang gratisan di negara ini, lho! Berawal dari informasi profesor saya di kampus, pacar beliau sedang mengelola bisnis penyewaan alat olahraga seperti ski, canoe, atau ice skating, yang dibiayai pemerintah. BUA adalah organisasi nasional yang sangat mendukung anak muda melakukan banyak aktifitas di luar ruangan, tanpa perlu takut membayar mahal demi membeli alat.

Membangun Perusahaan Startup di Norwegia

Monday, 2 March 2020



Setelah sibuk beberapa minggu ke belakang, saya akan membuka postingan pertama di bulan Maret tentang progress perkuliahan semester ini. Kalau ada yang tanya bagaimana kehidupan akademis saya di Universitas Oslo, jawabannya sedang ups and down. Tidak seperti semester lalu yang lebih disibukkan dengan riset dan presentasi, tahun ini pengalamannya lebih hands-on karena kami betul-betul terjun ke lapangan membuat perusahaan startup.

Sebagai salah satu negara terkaya di dunia berdasarkan GDP per kapita, Norwegia akan menjadi tempat dimana perusahaan startup baru akan terus bermunculan. Jika kalian tinggal di sini dan punya ide bagus membuat perusahaan teknologi baru bersama tim yang berkompeten di atas rata-rata, kalian setidaknya mampu mengumpulkan 1-2M NOK (~1,5-3T Rupiah) pada fase pertama.

Ada kabar baik juga bagi para pelajar yang tertarik membangun perusahaan startup. Banyak free money berkucuran dari organisasi di Norwegia yang mau menyumbangkan banyak uang untuk mendukung ide kita menjadi real business. Meskipun saya merasa perkembangan industri startup di Norwegia belum se-booming negara tetangganya di Skandinavia, tapi ekosistem di negara ini cukup menjanjikan bagi para entrepreneur muda.

Negara Rekomendasi di Eropa Sesuai Tujuan Au Pair Mu

Tuesday, 18 February 2020



Pertama kali mendengar program au pair, yang terlintas di benak saya tentu saja pengalaman pertukaran budaya antara kita dan host family di satu negara. Terkesan naif sekali memang karena ternyata ada banyak sekali motif para au pair yang sengaja datang ke Eropa. Apa itu, silakan baca di postingan ini!

Di postingan lainnya tentang negara tujuan, ada 12 negara di Eropa yang saya rekomendasikan bagi para calon au pair yang mungkin masih kebingungan ingin ke mana. Swiss menjadi daftar tambahan saya lainnya, walaupun kesempatan ke sini juga cukup kecil. Ada banyak sekali canton (distrik/kecamatan) di Swiss yang masih menutup kesempatan bagi au pair non-EU. Makanya kalau kamu tertarik dan sempat terlibat percakapan dengan satu keluarga di Swiss, pastikan bahwa keluarga ini tinggal di canton yang regulasinya memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia.

Bagi yang masih bingung juga, yuk seru-seruan mengecek daftar negara rekomendasi saya berikut ini yang bisa jadi pertimbangan kamu selanjutnya! Disclaimer dulu, bahwa apa yang saya tulis ini murni dari referensi pribadi. Soal ingin ke mana ending-nya, kembali ke preferensi masing-masing.

Berburu 'Student Job' Tanpa Lelah (Bagian 2)

Sunday, 9 February 2020



Setelah dua bulan lebih belum dapat kerja juga, saya hampir di ambang batas menyerah. Tapi, harus menyerah karena apa? Hidup akan terus berjalan dan saya masih harus membayar tagihan dan makan bulan depan! I need a new job dan saya harus terus cari kerja sampai dapat! (Cerita saya cari kerja sebelumnya, baca di sini.)

Banyak situs lowongan kerja saya kunjungi dan baca satu per satu setiap hari demi menemukan jenis pekerjaan yang cocok bagi student dan pas dengan kualifikasi saya. Lamaran demi lamaran pun terus saya kirimkan lewat online dan terus-terusan pula mendapatkan banyak penolakan.

Seorang teman menganjurkan untuk mengantarkan CV door-to-door demi membuka kesempatan. Katanya, teman dia ada yang dua hari kemudian dipanggil wawancara karena pakai cara door-to-door. Tapi karena malas cetak CV, buang-buang kertas, lalu keliling, saya belum tertarik menggunakan cara ini. Lagipula ada lebih dari 600 restoran dan kafe, serta ribuan toko di Oslo yang harus saya list lebih dulu sebelum memutuskan ingin kemana. Satu lagi, cara ini diyakini juga bisa menimbulkan rasa awkward. Karena ingin latihan cari kerja lewat cara konvensional, saya masih terus mencari via online. Lagipula tak rugi apa-apa. Gratis juga.

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Tinggal dengan Keluarga Native

Sunday, 2 February 2020


Salah satu hal yang membuat kamu sukses mendapatkan pengalaman berharga saat tinggal di luar negeri dan setelah melewati masa au pair, tentunya adalah host family atau keluarga asuh/angkat. Mereka yang bisa menerbangkan mu dari Indonesia menuju host countries dan memberikan kesempatan mengikuti program pertukaran budaya di negara tujuan. Mereka adalah penentu apakah nasib mu di negara tersebut bisa berakhir menggembirakan, atau justru meninggalkan trauma.

Keluarga angkat ini juga ada yang asli lokal, campuran, atau sama sekali bukan asli warga setempat. Saya pernah tinggal bersama keluarga non-native dan lebih banyak tinggal dengan keluarga native. Pandangan saya terhadap kedua tipe keluarga ini, ada yang super baik, ada juga yang super mean tergantung individualnya. Bukan dari mana mereka berasal. Yakin saja, keluarga jahat itu sebetulnya ada dimana-mana.

Hanya saja, karena tujuan utama kita jadi au pair sebetulnya pertukaran budaya, saya sangat menganjurkan pilihlah keluarga native, atau yang salah satu orang tuanya merupakan orang lokal. Mengapa, karena ada banyak hal yang bisa kamu pelajari dari keluarga native ini.

Pengalaman Naik Cathay Pacific Kelas Bisnis dan Ekonomi Rute Zürich - Hong Kong - Jakarta (PP)

Friday, 31 January 2020



Sudah lama saya mendengar reputasi baik Cathay Pacific yang selalu menjadi top airlines setiap tahunnya. Tak terlalu banyak kesempatan untuk mencoba maskapai asal Hong Kong ini, akhirnya di akhir tahun 2019 saya bisa mencicipi duduk di dua kelas sekaligus dalam satu rute; Ekonomi dan Bisnis.

Naik maskapai ini juga sebetulnya kebetulan karena di tanggal yang saya pilih, hanya Cathay Pacific yang harganya paling murah untuk pulang ke Indonesia. Maklum, akhir tahun, peak season. Saya memesan tiket bolak-balik seharga NOK 6700 atau sekitar €658. Harga maskapai lainnya sudah di atas angka €900, bahkan mencapai €1400 untuk kelas Ekonomi! Tak lsampai Oslo memang, karena saya harus memesan tiket lagi setelahnya.

Tapi apakah benar reputasi Cathay Pacific sebaik yang selalu diberitakan di media? Berikut review saya selama mengudara bersama Cathay Pacific!

Berburu 'Student Job' Tanpa Lelah

Sunday, 19 January 2020



"It doesn't matter if you flip burgers, bricks or houses. Just don't sit on your ass all day flipping channels. Hustle." - Denzel Washington

Setelah pencarian host families tanpa lelah sejak 5 tahun ke belakang, kegiatan saya berburu pekerjaan baru memang belum terhenti sampai di situ. Ketika mendengar cerita berkuliah saya di Norwegia, salah satu om menyayangkan keputusan saya harus kuliah dengan biaya sendiri. Apalagi setelah tahu saya akan kuliah sekalian bekerja paruh waktu untuk menopang biaya hidup. Ide ini dipandangnya cukup nekad dan gila mengingat beliau dulu bisa kuliah di luar negeri juga karena bantuan beasiswa.

"Kalau ada beasiswa, ya kenapa juga harus repot-repot kerja? Sebaiknya fokus saja ke studi, daripada harus mengorbankan waktu sekalian kerja part-time," ujarnya.

Dari sana, beliau dengan pedenya menyuruh saya mencari tahu informasi beasiswa LPDP yang begitu dia banggakan tersebut  meskipun dulunya dapat beasiswa dari Pemerintah Jerman, DAAD. Katanya tak masalah apply meskipun saya sudah masuk semester dua. Jadi maksudnya on going saja begitu. Well, demi memuaskan keingintahuan beliau, saya cari saja informasi soal beasiswa tesis LPDP yang mungkin memang tersedia tahun ini. Namun untungnya, memang tak ada!

Cari Kontrakan Baru di Oslo

Monday, 13 January 2020



Nasib saya di awal tahun ini sebelumnya cukup abu-abu. Setelah nihil akomodasi dan tidak punya alamat lagi per awal Desember tahun lalu, saya cukup dipusingkan kemana akan tinggal setelah kembali lagi ke Oslo. Awal Desember saya sudah harus hengkang bantu host family pindahan ke Swiss sebelum pulang ke Indonesia sampai awal Januari. Intinya, saya sudah kehilangan waktu untuk datang ke room viewing.

Di Norwegia, beberapa pemilik apartemen atau kamar biasanya mewajibkan calon penyewa datang dulu ke lokasi dan melihat langsung kamar, sebelum akhirnya memutuskan. Selain itu, biasanya dari pihak pemilik juga ingin melihat langsung si penyewa ini orangnya seperti apa. Meskipun, ada juga banyak kamar yang bisa disewakan tanpa kita perlu datang langsung tapi cukup lewat video call. Intinya, karena dari awal Desember sampai awal Januari saya tak berada di Oslo, hal ini cukup memberatkan untuk datang langsung melihat hunian.

Ngomong-ngomong, saya ingin cerita dulu tentang banyaknya istilah akomodasi di Norwegia ini. Kali ini saya hanya akan fokus ke kamar saja, bukan rumah atau apartemen, karena daftarnya akan sangat panjang. Di sini, kalau kita menyewa satu kamar di dalam apartemen yang juga dihuni oleh 2-5 orang lainnya, itu disebut hybel atau bofellesskap. Jika kita memilih kamar yang ada di student residence (studentbolig), biasanya hanya disebut rom atau kamar. Bedanya apa dengan dormitory (asrama mahasiswa)? Dormitory biasanya disewakan hanya bagi semua mahasiswa yang berkuliah di satu kampus tertentu. Sementara ‘rom’ di Norwegia ini, bisa dihuni oleh semua mahasiswa campuran dan tak harus berkuliah di satu kampus yang sama.

2020: The Newest Year After Five-Year

Friday, 3 January 2020



Setelah 5 tahun jadi au pair dan selalu merasa hidup dengan banyak batasan, akhirnya di tahun ini saya bebas melakukan apa yang saya mau  meskipun dengan tanggung jawab yang lebih besar pula! Beruntungnya lagi, dari bulan lalu saya masih sempat pulang ke Indonesia demi melepas penat sebelum kembali menyelesaikan studi di Norwegia.

Pulang ke Indonesia selalu menjadi terapi ketika masih punya kesempatan berkumpul bersama keluarga sekalian makan makanan khas yang tak ada kloningannya di Eropa. This is SO good! Bangun tidur dengan santai, tak ada suara teriakan anak, tak ada SMS soal daftar pekerjaan rumah tangga, serta tak ada batas sungkan karena masih tinggal di rumah orang. I am at home, literally my parents' home, Kota Palembang!

What are (gonna be) new things in 2020 that make me this happy?