Jadi Au Pair Tidak Gratis: Siap-siap Modal!

Sunday, 25 October 2020



Beragam postingan dan artikel yang saya baca di luar sana, selalu memotivasi anak muda Indonesia untuk jadi au pair dengan embel-embel bisa jalan-jalan dan kuliah gratis di luar negeri. Dipadu dengan gaya tulisan yang meyakinkan di depan, ujung tulisan tersebut sebetulnya tidak menunjukkan fakta bahwa kamu memang langsung bisa kuliah gratis hanya karena jadi au pair. Banyak yang memotivasi, namun lupa bahwa sesungguhnya tidak ada yang gratis di dunia ini. Termasuk jadi au pair yang selalu dideskripsikan sebagai program pertukaran budaya ke luar negeri dengan berbagai fasilitas gratisan.

First of all, jadi au pair itu tidak gratis ya! Ada biaya dan waktu yang harus kamu keluarkan sebelum bisa pindah ke negara tujuan dan menikmati hidup di negara orang. Biaya dan waktu ini juga tidak sama untuk semua orang. It sounds so stupid kalau kamu hanya percaya satu orang yang mengatakan au pair itu gratis, padahal kenyatannya tidak demikian.

Sebelum memutuskan jadi au pair, cek dulu biaya apa saja yang harus kamu persiapkan! 

1. Biaya kursus dan tes bahasa

Ingin jadi au pair dimana? Pertanyaan ini adalah hal paling utama yang harus kamu tahu sebelum mengorek informasi soal biaya lebih lanjut. Contohnya, biaya au pair ke Jerman dan Austria tentu saja berbeda dengan biaya au pair ke Swedia. Mengapa, karena salah satu syarat jadi au pair ke Jerman dan Austria itu adalah kamu wajib melampirkan sertifikat bahasa Jerman minimal level A. Untuk mendapatkan sertifikat tersebut, tentu saja kamu harus ikut tes dulu di institusi resmi seperti Goethe-Institut.

Cara belajar orang juga tidak sama. Ada yang mungkin belajar otodidak saja sudah cukup, namun ada juga yang mungkin harus ikut kursus dulu agar lebih produktif. Tempat kursus ini pun tidak ada di setiap kota di Indonesia, sampai memungkinkan mu harus terbang atau travelling dulu ke kota lain. Namun dari sini saja, kita sudah harus memikirkan biaya kursus, biaya tes, dan biaya travelling jika tempat kursus jauh dari kediaman.


Saya belum pernah belajar bahasa Jerman di Indonesia dan kurang familiar dengan biaya kursusnya di tiap tempat. Namun karena Jerman adalah negara paling populer bagi au pair Indonesia, saya dengar sudah banyak sekali tempat kursus yang membuka kelas on-campus ataupun online dengan tambahan akan dicarikan host family langsung. Bundle package ini pun harganya bermacam-macam dari yang 1 jutaan sampai belasan juta Rupiah. Sayangnya, karena demand yang tinggi serta kekurangtahuan orang-orang tentang memilih tempat yang kredibel, banyak calon au pair sampai kena tipu karena tempat kursus tersebut tidak bertanggung jawab. 

Saya sendiri tidak pernah menghakimi orang-orang yang berniat ke Jerman sampai harus membayar kursus jutaan rupiah hanya demi uang saku €280 per bulan. Kalau kamu punya uang, ya sah-sah saja membayar jasa orang untuk belajar bahasa hingga dijanjikan mendapatkan host family. Yang paling penting, jangan sampai hanya karena ingin sekali ke Jerman (dan Austria), kamu jadi tak teliti memilih agensi atau tempat kursus yang tepat hingga akhirnya merugikan diri sendiri. Be aware!


2. Biaya menemukan keluarga

Karena semakin banyak yang tahu tentang au pair, semakin banyak pula yang tertarik dan gencar mencari keluarga dari sekarang. Para anak muda ini biasanya memanfaatkan koneksi kanan kiri, grup au pair di Facebook, mendaftar ke beberapa situs pencarian keluarga, ataupun melirik banyak agensi au pair demi menemukan satu keluarga yang mau mengundang mereka ke host country. Salah satu situs paling terkenal, AuPairWorld, merupakan platform tak berbayar yang paling banyak direkomendasikan oleh para au pair di luar sana. Tapi apakah daftar ke AuPairWorld saja cukup? Bagi saya, tidak.

Dari dulu saya tidak pernah beruntung menemukan satu keluarga pun lewat situs tersebut, tapi agensi. Dikarenakan dana yang terbatas, sebisa mungkin juga saya memilih agensi gratis agar tak banyak keluar modal. Namun tak semua au pair punya kisah yang sama. Ada juga yang mau mendaftar ke agensi berbayar dengan kisaran biaya 3-15 jutaan Rupiah karena ingin mudah dan cepat menemukan keluarga yang diinginkan.


Kalau berniat cari keluarga secara mandiri via intenet, kamu juga harus tahu bahwa semua situs tak gratis. Beberapa situs lain seperti Care.com atau Aufini menerapkan biaya langganan jika ingin menikmati fitur berlebih. Kamu juga boleh melirik agensi baik di Indonesia maupun negara tujuan sebagai peluang dijodohkan dengan calon keluarga. Tapi cobalah lebih hati-hati memilih agensi yang sudah berpengalaman di bidangnya, tahu seluk-beluk au pair, dan tidak serta merta 'menjual' mu ke keluarga yang punya catatan buruk hanya karena ingin mengeruk profit.



3. Biaya melengkapi dokumen

Selain biaya untuk mendapatkan sertifikat bahasa asing (jika diperlukan), kamu juga harus menghitung hal paling krusial: biaya memenuhi kelengkapan dokumen sebagai syarat administrasi imigrasi! Contohnya Belgia, yang dokumennya super banyak dan ribet di awal! Tujuh tahun lalu saat mengurus dokumen jadi au pair ke Belgia, biaya yang harus saya keluarkan mencakup tes kesehatan yang dokternya harus terdaftar dalam list kedutaan, biaya menerjemahkan akte kelahiran & ijazah, biaya membuat SKCK, biaya melegalisir SKCK di Jakarta, serta biaya pos internasional untuk mengirim semua dokumen ke Belgia. Kalau ini adalah pengalaman pertama mu menginjakkan kaki ke luar negeri, kamu juga harus membuat paspor yang biayanya harus ditambahkan ke dalam daftar!


Tiap negara punya syarat dokumen yang berbeda-beda dan kamu harus jeli melihat semua detailnya! Contohnya, kamu berniat mendaftar Working Holiday Visa (WHV) ke Australia karena ingin bekerja jadi nanny-au pair di sana. Salah satu syarat dokumennya adalah kamu wajib menyertakan sertifikat bahasa Inggris IELTS/TOEFL level General yang tentunya butuh biaya tambahan lagi saat mendaftar tes.



4. Biaya transportasi dalam kota/negara

Tidak semua orang Indonesia yang jadi au pair itu tinggalnya di Jabodetabek atau Pulau Jawa. Pun meskipun tinggal di ibukota, mereka tetap harus mengeluarkan biaya bensin atau ojek kesana kemari demi mengurus dokumen. Pernah memang saya mendengar ada satu au pair yang semua biaya transportasi dari dia keluar rumah sampai tiba di negara tujuan ditanggung sepenuhnya oleh host family. Namun keberuntungan seperti ini tentu saja tidak milik kita semua.

Saya sudah 3 kali mengurus visa au pair di Indonesia dan harus siap terbang PP Palembang-Jakarta demi berangkat ke Eropa. Apalagi ketika mengurus visa ke Belgia, saya harus dua kali bolak-balik Palembang-Jakarta dan terpaksa menginap di kosan teman selama 1 mingguan. Padahal di Jakarta sendiri tak lebih dari 2 hari, namun karena waktu tunggu serta lain hal, saya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk makan dan transportasi.

Tiket terbang PP Palembang-Jakarta itu sekitar 900 ribu-2 jutaan Rupiah tergantung jam terbang dan maskapai. Saya memilih naik pesawat karena memang ingin cepat sampai dan malas berlama-lama naik bus, naik kapal ke Tanjung Periok, lalu ganti bus lagi menuju pusat ibukota. Biaya ini tentu saja berbeda untuk setiap orang karena bisa jadi ada yang tinggal di Makassar, Medan, ataupun Papua.


5. Biaya visa

Sekali lagi, tiap negara punya peraturan yang berbeda soal biaya aplikasi visa dan ini tugas kamu untuk mengecek langsung ke situs terkait! Tahu berapa biayanya dari mana? Dari situs VFS, TLS Contact (untuk Prancis) di Jakarta, atau langsung saja kunjungi situs imigrasi negara bersangkutan. Contohnya di Denmark, ada 2 biaya yang sedikit berbeda. Satu, biaya aplikasi pendaftaran ke imigrasi Denmark yang sebaiknya dibayar oleh host family. Kedua, adalah biaya visa jangka panjang di kedutaan besar Denmark di Indonesia yang jadi kewajiban calon au pair. 

Sementara Norwegia, mereka hanya punya satu biaya yaitu biaya aplikasi pendaftaran. Kamu tidak perlu lagi mengeluarkan biaya ketika mendatangi VFS di Jakarta dan cukup menyerahkan dokumen saja. Biaya aplikasi ini sudah harus dibayar ketika kamu mengisi formulir pendaftaran online dan jumlahnya NOK 8400 atau sekitar 13 jutaan Rupiah. Tapi tenang saja, di Norwegia biaya tersebut boleh bagi dua dengan host family, bahkan banyak host family berbaik hati mau menanggung semuanya!


Pastikan lagi dengan calon keluarga ketika sudah deal, apakah biaya aplikasi dan visa akan ditanggung atau harus bagi dua. Kalau tidak, tentu saja jangan manyun karena sebetulnya host family tidak punya kewajiban menanggung sepenuhnya. Tiga kali jadi au pair, saya juga belum pernah sampai dibayari host family biaya visa secara penuh. Tanpa berekspektasi tinggi, kamu juga tetap harus menghitung biaya visa yang mungkin akan dikeluarkan jika memang keluarga tidak menanggung semuanya. 


7. Biaya tiket pesawat

Denmark adalah satu-satunya negara yang mewajibkan host family membayari semua tiket pesawat au pair dari/ke negara tujuan kalau akhirnya au pair tersebut memutuskan pulang ke Indonesia. Bersyukur, tiga kali jadi au pair dan tiga kali mengurus visa di Indonesia, semua keluarga saya mau menanggung biaya tiket pesawat dari Indonesia ke negara tujuan. Meskipun saat pulang ke Indonesia dari Belgia, host family hanya menanggung setengahnya.

Bagi saya, biaya tiket pesawat menuju Eropa adalah hal paling mahal dari semua persiapan jadi au pair jika kamu tidak harus kursus dan tes bahasa dulu. Banyak keluarga sebetulnya dianjurkan hanya membiayai tiket pesawat pulang saja setelah au pair menyelesaikan kontraknya. Namun ada juga au pair yang menawar untuk dibayari dulu tiket pergi, lalu akan diganti dengan gaji yang diterima setibanya di negara tujuan. Intinya, soal tiket pesawat ini sebisa kalian menawar dan berdiskusi dengan host family saja. Jangan kecewa juga ketika host family memutuskan untuk tak membayari tiket dari Indonesia ke negara tujuan, karena hal tersebut sebetulnya cukup riskan bagi keluarga tersebut. Host family pastinya juga tak mau rugi, sudah membayari ini itu, namun ternyata baru 1-3 bulan tinggal sudah tak cocok.


Kalau tertarik mengecek berapa kisaran biaya menuju ke negara tujuan, boleh cek lewat online travel agent semisal Skyscanner atau Momondo. Saya dari dulu selalu berusaha mencari keluarga yang mau membayari tiket pesawat menuju Eropa. Mengapa, karena saya tidak punya banyak uang dan tak mau juga merepotkan orang tua. Walaupun selama ini sebetulnya semua keluarga hanya memesan tiket keberangkatan dari kota terbesar, yaitu Jakarta, dan saya tetap harus membeli tiket penerbangan dari Palembang ke Jakarta.


8. Biaya di awal keberangkatan

Sebelum berangkat, bear in mind bahwa kamu harus punya uang simpanan di minggu-minggu awal kedatangan sebelum menerima gaji pertama. Setibanya di negara tujuan, kita setidaknya perlu beli tiket transportasi sendiri dulu jikalau ingin jalan-jalan keluar sebentar ke tengah kota. Di Denmark, saya beruntung dua hari datang langsung dibekali host family uang saku pertama. Namun tidak saat di Belgia. Host family sampai harus menahan dulu uang saku di bulan pertama hanya karena saya belum punya akun bank. 

Banyak yang menanyakan ke saya kira-kira berapa uang yang harus dibawa dari Indonesia ke negara tujuan. Jawabannya, tergantung dengan kondisi finansial masing-masing. Berangkat ke Belgia untuk pertama kali, saya dibekali ibu US$100 yang jumlahnya kala itu mungkin hanya 1 jutaan Rupiah atau kurang dari €80. Teringat sekali ketika ibu harus mendatangi bank tempatnya menabung valuta asing lalu menarik tabungan yang jumlahnya juga tak seberapa. It was mine.

Kalau kalian lebih beruntung bisa membawa bekal dana yang lebih besar untuk 1 bulan awal, justru lebih baik! Mungkin di awal kedatangan sudah harus beli boot salju baru atau mantel yang lebih hangat? You never know.



9. (TAMBAHAN) Karena waktu adalah uang

Cari keluarga itu hampir sama dengan cari kerja, kadang lucky langsung diwawancara, kadang apes sering penerima penolakan. Ada yang cepat dapat keluarga, ada juga yang harus menunggu berbulan-bulan sebelum bisa bertemu dengan keluarga pertamanya. It seriously takes time!

Teman saya bisa saja mendapatkan keluarga hanya 3 minggu dari saat dia mendaftarkan diri di agensi, namun saya harus menunggu 5 bulan sebelum bertemu dengan keluarga pertama. Dulu yang saya ingat, setiap hari harus mengecek Blackberry milik ibu hanya untuk melihat respon dari keluarga di AuPairWorld. Belum lagi cari keluarga tidak hanya cukup dari satu situs, tapi mesti siap-siap daftar juga ke beberapa situs lain agar kesempatan kita menemukan keluarga lebih besar. Menulis profil yang baik juga butuh waktu karena kadang kita bingung apa yang harus ditulis dan harus dikoreksi berkali-kali.


Setelah berhasil diwawancara, kita juga mesti menunggu keputusan apakah kita adalah au pair yang keluarga cari. Belum lagi masa tunggu tak jelas, ketika teks terbaca namun tak dibalas, hingga membuat bingung apakah keluarga tersebut sebetulnya menolak kita? Kadang karena sudah menunggu terlalu lama, kita harus follow up yang mungkin saja ternyata dibalas dengan penolakan. Ketika ini terjadi, lagi-lagi kita harus memulai perburuan keluarga dari awal.

Proses menunggu pun tak hanya sampai di situ. Saat sudah happy diterima jadi au pair dan siap-siap ingin berangkat ke negara tujuan, kita tetap harus dihadapkan dengan tumpukan dokumen aplikasi visa yang harus diserahkan ke kedutaan besar atau visa application center. Selain butuh biaya, proses pengurusan dokumen yang mungkin harus legalisasi kesana kemari, terjemah ijazah sana-sini, menunggu hasil tes kesehatan, hingga menunggu keputusan dari imigrasi juga bisa memakan waktu sampai berbulan-bulan!



So, jadi au pair itu tidak gratis dan cukup melelahkan, kan? Semuanya butuh modal dan kamu harus aware dari awal kalau menggapai impian itu memang perlu pengorbanan. Bagi saya, au pair itu tidak murah, namun bisa jadi batu loncatan termudah demi menggapai mimpi yang lain; contohnya lanjut kuliah. Meskipun saya tahu bahwa biaya yang dikeluarkan untuk jadi au pair tak sedikit, tapi kamu tetap bisa cerdik mengakali pengeluaran! It's okay to spend some bucks, tapi jangan sampai lebih dari batas keuangan. Caranya?

  • Sebisa mungkin pilih negara tanpa syarat keperluan bahasa
  • Pilih agensi gratisan
  • Cari keluarga yang mau membayari tiket pesawat menuju negara tujuan
  • Berdiskusi dengan keluarga soal biaya visa, dibayari setengah pun sudah lumayan
  • Memilih negara yang syarat dokumennya tak ribet dan mahal
  • Kalaupun harus melampirkan syarat bahasa, setidaknya belajarlah otodidak atau belajar dari individu yang harganya tak semahal tempat kursus
  • Menabung dari sekarang! Because there's no such a free lunch!

Good luck menemukan jalan mu jadi au pair! ❤
 
 
 

4 comments:

  1. Dulu, Saya punya beberapa teman yang menempuh jalur au pair untuk hidup di Eropa. Mereka rata-rata jago Bahasa Inggris dan pernah belajar Bahasa Jerman (level A1). Tapi tak ada satupun dari mereka yang mau berbagi kisah sebenarnya (perjuangan), yang muncul di dashboard FB cuma Foto happy-happy aja. Apalagi tahun 2009-2010 internet belum kencang sperti sekarang dan cerita di Blog atau Forum belum menjamur.

    Salam Kenal Ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya dulu emang banyak yg belom tau au pair sih ya. Jadi emang lebih banyak sharing cerita bahagia aja karena yg jadi au pair kan belom banyak. Makanya au pair gak dianggap kayak “perjuangan” 😊

      Sekarang makin banyak yg sharing karena yg butuh informasi pasti selalu ada setiap hari. Makasih udah ninggalin jejak.

      Delete
  2. Btw gw cowo udah umur 23. Gw udah lulus kuliah s1 di umur 21, kayaknya udah telat mengejar impian kuliah dibluar. Dulu SMA sering banget baca kisah orang2 yg berhasil sekolah keluar negeri. 1 bulan sebelum Ujian Nasional ortu tidak mengizinkan kuliah jauh, disekitar rumah sj. Akhirnya semuanya planning berantakan sejak saat itu. Setelah itu hanya bisa melihat teman2 menggapai impiannya. 2 tahun setelah menyelesaikan studi s1, hanya menjadi pekerja biasa. Makin kesini jiwa petualang gw kok mulai tumbuh semakin berkobar. Ada saran kak? Hanya baca blog hanya menimbulkan penyesalan. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah telat???? Are you kidding me, Dude??!! Ada banyak banget orang yang malah mulai S2 pas mereka udah pada nikah & beranak. Yang namanya belajar tuh gak ada yg pernah terlambat. Apalagi baru umur 23. Aduuuh ~ You made so stupid, old, and late! 🤣🤣

      Saran aku?? Look from another perspectives! Lha ngapain nyesel?? Masih muda ini. Hidup mu masih panjaaaang. Banyak banget yang baru S1 malahan pas mereka udah emak2. Gak ada yg telat! Coba aja!

      Delete