Langsung ke konten utama

Semester Tiga: Kuliah, Magang, Kerja Sambilan


Awal tahun ini, kami angkatan 2019, sudah diwanti-wanti oleh kakak tingkat bahwa semester tiga akan jadi semester paling sibuk sepanjang studi. Selain kuliah dan wajib kumpul tugas tiap minggu, kami juga dibekali kesempatan magang selama satu semester di salah satu perusahaan teknologi besar di Norwegia. Good chance to prettify the CV!

Masalahnya, tanggung jawab saya di Norwegia tidak hanya belajar tapi juga bekerja menafkahi diri sendiri. Setelah berjuang kesana kemari cari kerja sambilan (silakan intip kisahnya di sini!), perjuangan saya di awal semester ini sebetulnya sedikit membuahkan hasil. Saya diterima bekerja sebagai pelayan paruh waktu di sebuah restoran, jadi babysitter mingguan, serta tergabung sebagai jurnalis lepas di koran kampus. Itu yang berbayar. Tanggung jawab lainnya ada lagi, magang di kantor startup sebagai unpaid intern di departemen Komunikasi!


Kalau dibayangkan hidup saya awal semester ini, semuanya tampak mustahil. Punya dua posisi magang tak dibayar, kerja sambilan di tiga tempat, plus memenuhi tanggung jawab utama sebagai mahasiswa. Teman sekelas saya sampai geleng-geleng kepala dengan apa yang saya lakukan, "how could you manage your time, Nin?!" Karena bagi mereka, kuliah saja sudah menguras energi dan tenaga, apalagi mesti kerja sambilan di tempat lain.

Tapi benar, semester tiga memang gila! Kami punya tiga mata kuliah utama dengan asumsi waktu per mata kuliahnya 15 jam per minggu. Sebelum Korona gelombang kedua terjadi, saya dan teman setim harus bolak-balik kantor tiga kali seminggu demi menyelesaikan proyek magang. Setiap Kamis malam, deadline tugas sudah menunggu dengan bahan referensi jurnal sepanjang 18-26 halaman yang harus fokus dibaca. Seninnya, kembali bertatap muka dengan para profesor lain yang akan jadi supervisor tesis semester depan. Tugasnya pun ajaib karena tiap profesor punya tugas tersendiri dengan tenggat waktu yang saling berdekatan. No wonder, satu kelas komplen bukan main ke kepala departemen! Untungnya teriakan kami di dengar dan kabarnya akan ada perombakan workload tahun depan. Lucky junior!


Menyambung hidup di Norwegia, mau tak mau saya juga tetap harus membagi waktu cari nafkah di waktu senggang. Kerja di restoran sebetulnya cukup oke meskipun sangat melelahkan. Jadi jurnalis lepas dan babysitter juga bisa dibilang lumayan untuk tambahan tiap bulan. Sementara di kantor startup, ada pengalaman dan tantangan berbeda yang membuat saya enggan resign walaupun kerjanya tak dibayar. Selain cocok dengan jurusan kuliah, kerja di perusahaan startup juga punya keuntungan yang tak ditemukan di perusahaan besar. Saya punya kebebasan yang luas untuk berkontribusi mengubah perusahaan tersebut menjadi lebih baik tanpa campur tangan regulasi konservatif yang bisa membatasi kreasi dan inovasi. 

Awalnya saya masih berusaha mengatur waktu kuliah, magang, dan pekerjaan dengan semaksimal mungkin. Tapi akhirnya, semua beban tugas tersebut membuat saya lelah dan bimbang. I am just a human, you know?! Saya butuh waktu istirahat. Perlu waktu me-recharge diri sebelum kembali ke kelas dan menugas kembali. Pagi kuliah, siang kerja, malam mengerjakan tugas, dan akhir pekan pun mesti direlakan untuk kerja di restoran sampai kaki sakit-sakit. Saking stresnya, otot leher saya sering menegang hingga membuat kepala pusing dan punggung nyeri. Kalau bisa membelah diri, rasanya ingin sekali yang satu kerja di sini, yang satu kerja di sana, tanpa mengganggu waktu kuliah. Everything is just TOO much!!

"You might be a wonder woman, but you know your limit. Kalau memang harus resign, ya lakukan. I think you have spent too much time on that startup company but earned nothing," kata Mumu ketika saya mintai pendapat.

True. I don't get any penny. Tapi saya juga belum mau resign dari kantor tersebut karena mulai nyaman dengan budaya kerja dan kolega di sana. Kalau bisa memilih, rasanya ingin resign dari restoran karena lama-kelamaan seperti beban. The customers are demanding and the working hours are exhausted! Namun karena sudah lelah cari pekerjaan lain, saya keep pekerjaan tersebut sampai masa kontrak habis di akhir tahun.

Jadi jurnalis, apalagi untuk koran kampus, sebetulnya menyenangkan. Ketemu mahasiswa lain dari kampus dan jurusan yang berbeda, tahu para petinggi institusi dan politikus, serta yang pasti memperluas networking.  Tapi karena otak sudah jenuh tiap minggu harus memparafrase jurnal ke tugas kuliah, saya memutuskan untuk berhenti jadi jurnalis lepas yang kala itu baru dua bulanan. Gajinya pun sampai sekarang tak saya tebus ke atasan.

Then, the bad news hit me! Pagi-pagi, sebuah SMS dari orang tua tempat saya babysitting mengatakan bahwa mereka ingin pause menggunakan jasa saya dulu. Ada masalah dokumentasi ke pihak Norwegian Labour and Welfare Administration yang harus diurus sebelum bisa mempekerjakan saya kembali. Menyedihkan. Pundi-pundi rezeki serasa terbang menghilang dan kepala saya langsung pusing memikirkan harus cari kerja dimana lagi. Sementara restoran tempat saya bekerja semakin lama semakin PHP. Mereka mendadak menelpon hanya kalau ada pegawai lain yang sakit saja. Karena saya baru dan lebih dianggap sebagai 'pengganti', dalam satu bulan kadang saya tak diberi jam kerja sama sekali. Hopeless. Saat itu saya hanya berharap suatu hari nanti tenaga dan pikiran ini bisa dibayar dengan layak.


After the storm, must come the sun. Siangnya juga, mood saya kembali baik karena ternyata dapat promosi dari kantor startup! What a gem!!! Setelah magang selama 6 bulan sebagai associate intern, saya naik jabatan jadi Head of Communications. Get promoted means paid position yet more responsibilities. Senang sekali kala itu karena timing-nya sangat tepat. Ini satu lagi keuntungan kerja di perusahaan startup; kerja kita langsung terevaluasi oleh bos dan naik jabatan bukan hal yang mustahil asal berhasil mencapai milestones. Namun, kerja di perusahaan kecil juga berpengaruh di gaji dan benefit yang didapatkan. Tak sama seperti perusahaan besar, kerja di perusahaan kecil membuat kita harus bekerja ekstra dengan pendapatan yang kadang tak seimbang. But hey, it is better than nothing!

Hidup saya kenyataannya juga tidak langsung berubah mudah setelah dapat promosi. Tanggung jawab jadi lebih besar ke kuliah dan tugas kantor yang bertambah. Say goodbye to my sleeping time karena seringkali saya harus tidur larut demi menyelesaikan tugas yang sudah mepet deadline. Saking multitasking-nya, satu tab penuh dengan tugas kuliah, proyek magang, dan juga on going plan menyelesaikan konten untuk keperluan kantor. Dalam sehari, saya bisa saja selesai meeting dengan tim proyek, lanjut meeting dengan teman sekelas membahas tugas, lalu lompat lagi meeting dengan kolega kantor. Pernah juga karena harus kerja dan belajar dari rumah, mata saya tak berhenti melihat laptop dari jam 9 pagi sampai 12 malam. Lucunya, sudah sibuk seperti ini, saya masih sempat-sempatnya ikut kompetisi hacking yang menguras waktu 2 hari kerja!

Beruntung, kantor startup tempat saya bekerja letaknya hanya selemparan kolor saja dengan gedung kuliah, makanya mobilitas jadi super fleksibel. Tak punya jadwal tetap di restoran, ternyata membuat saya lebih bisa maksimal mengerjakan tugas kuliah, proyek magang, dan kerja sekaligus. Oh, tiga minggu setelah minta pause, si ibu kemarin juga mengabari kalau butuh jasa babysitting saya lagi! Meskipun, Korona gelombang kedua di Norwegia membuat situasi semakin buruk dan banyak pegawai kantoran diwajibkan kerja di rumah. Artinya saya tak tahu, apakah dalam kondisi seperti ini si ibu masih butuh bantuan saya atau tidak. 

Kalau ditanya bagaimana saya bisa mengatur waktu dengan jadwal sepadat ini, jawabannya, I just do as much as I can during the working days. Sumpah! Sakit leher sampai ke punggung karena stress itu sungguh tak nyaman dan saya pernah meneguk pain killers hanya demi bisa tidur nyenyak! Makanya saya tak ingin terlalu keras terhadap diri sendiri lagi dan hanya memaksimalkan waktu di hari kerja saja. Akhir pekan waktunya istirahat dan meninggalkan laptop, kecuali ada deadline tugas di hari Seninnya. Lagi-lagi bersyukur, meskipun kantor sering tutup karena Korona gelombang kedua, tapi saya tetap bisa kerja remote dan dibayar. 

Namun sebagai manusia biasa yang terlalu banyak agenda dan tanggung jawab, tentunya ada hal yang terpaksa harus saya abaikan. Pertama, karena hanya punya gol menyelesaikan tugas kuliah tepat waktu, saya jadi tak peduli lagi dengan kualitas tugas dan nilai akhir. I know it might help to get a job, tapi karena bukan juga mahasiswa intelektual, then I let it be. Saya tetap percaya bahwa ada banyak sekali pekerjaan yang tak butuh straight As di transkrip. 

Inilah mengapa kamu sebetulnya layak dapat beasiswa ketimbang hidup pontang-panting seperti saya. Kalau tak perlu pusing memikirkan biaya hidup, kamu punya lebih banyak kesempatan magang dan mengejar nilai yang mungkin akan berguna kalau niat lanjut S3. Meskipun, dapat beasiswa bisa berarti juga dituntut untuk lebih fokus ke nilai tanpa bisa cari pengalaman kerja di luar.


Yang kedua, saya harus mengorbankan les bahasa Norwegia yang sebetulnya bisa jadi poin paling penting kalau ingin cari kerja di sini selepas lulus. Sayangnya, selesainya mengerjakan tugas kuliah dan kantor, saat itu juga saya langsung tutup laptop dan tak ingin belajar apapun lagi. Peringkat Diamond di Duolingo pun sepertinya sudah mubazir karena tak pernah dibuka sejak tiga bulan yang lalu. Dulu masih sering cas-cis-cus berkomunikasi pakai bahasa Norwegia ke Mumu, sekarang lebih sering pakai bahasa Inggris. My brain! 

Ketiga, karena terlalu fokus dengan plan kantor, saya jadi tak peduli lagi dengan isi feed media sosial pribadi. Menulis blog pun saya sempat-sempatkan di waktu luang sebelum akhirnya terus menunda dan lupa. Yang dulunya isi album foto penuh dengan pemandangan cantik alam di Norwegia, sekarang lebih banyak di rumah atau kampus yang kalau kalian perhatikan, Instagram Story saya seringnya menampilkan foto laptop!

Jangan tanya apakah orang tua saya di Indonesia tahu semua jatuh bangun ini, karena saya selalu menyimpan rapat semua cerita sedihnya. Pernah satu hari mengeluh, langsung ditangkis. "Kemarin siapa yang ingin ke Eropa dan memilih lama di sana, lalu langsung lanjut kuliah? Kalau tidak kuat ya pulang saja." 

In the end, whatever life you have chosen, live it up! Kuliah sekalian kerja itu tetap fun, kok, hanya lebih melelahkan saja 😆. Saya juga mengerti terkadang mengeluh ke orang itu mubazir, karena yang paling mengerti memang diri kita sendiri. Listen to our bodies! Kalau lelah, ya istirahat. Put ourselves first!

Kalau jadi saya, mana yang lebih kalian prioritaskan?



Komentar

  1. Bacanya aja udah bikin anxious kak. Wkwkwkwk. Cerita ke orang terdekat emang kadang jadi bumerang yak haha, sampe temenku pernah bilang ga ada salahnya juga cerita ke "stranger". Tapi mungkin if I were you, aku bakal pilih kerja yg memang lebih pake otak daripada tenaga, selain bagusin CV, juga lebih enjoy. Ato cara yg membantu juga bisa tulis positif negatifnya masing2 dari semua kerjaan itu trus ambil yg banyak positifnya. Semangaaat kak Nin!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku tuh cerita sedetail ini cuma di blog lho, Ruth! Tujuannya cuma buat sharing dan buka mata orang2, kalo bertahan di LN tuh gak seindah novel halu yang sering mereka baca. Kalo mesti curhat sama temen2 terdekat, gak akan pernah. Karena mereka juga pasti bingung sama apa yang mau disaranin, secara gak ada orang disekeliling ku yang pengorbanan dan jalan ceritanya sama kayak gini xD

      Setuju juga sama kamu yang bilang emang lebih enjoy kerja pake otak ketimbang tenaga. Atau mungkin juga, aku tuh emang pada dasarnya udah males aja ngelayanin2 orang kayak gitu. Udah 5th jadi au pair dan literally "ngelayanin", jadinya sekali ini pengen kerja yang bener2 make otak dan skill aku. Meskipun sih, awalnya aku mikir kerja di restoran bisa jadi medium ngasah bahasa Norwegia. Tapi endingnya apa, aku malah males ngobrol sama customers. Haha!

      Thank you! ;)

      Hapus
  2. Wah coba kalo kemarin resign dari tempat magang, tau2 dapet promosi kan haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenernya gara2 si Mumu mikir begitu, akunya juga jadi kepikiran untuk resign dari kantor startup tsb. Tapi gak tau kenapa emang pada saat itu aku nge-hold dulu karena lagi asik2nya ketemu orang di kantor. Jadi hidup gak cuma kuliah dan restoran doang xD

      Tapi bener banget, untung gak jadi resign duluan. Kalo gak, rejeki menghilang lagi.

      Hapus
  3. I understand your dilemma, klo boleh prioritas tentu kerja intern yang diprioritaskan karena itu urusannya sama masa depan. Tapi dilema tentunya dengan urusan duit, yang berbayar yang mana. Jadi sekarnag udah dibayar belon setelah naik pangkat dari intern?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru banget aku dipromosiin, Ce. Belom sebulan ;D
      Tapi minggu depan udah cair sih gajinya.

      Hapus
  4. Hi mbk, kalo mau belajar bahasa Norwegia apakah ada buku yg secara spesifik membahas itu? Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena jarang banget ada yang mau belajar bahasa Norwegia, kalo gak tinggal di negaranya langsung, jadi sepertinya belom ada orang Indonesia yang ngeluarin panduan belajarnya. Kalo kamu belajar bahasanya di negaranya langsung, ada buku yang emang dianjurkan sih.

      Kalo emang tertarik belajar, coba aja dulu secara otodidak via Duolingo atau gak ngecek Youtube channel-nya Lærer Karense. Tapi yang di Youtube itu kamu harus latihan bener2, soalnya semuanya diajarin dengan bahasa Norwegia. Biar orang2 gak dikit2 switch/mikir ke English.

      Hapus
  5. Hola mba Nin, suka bacain blog mba tentang Norway, Swedia or Aupair disini. Dari postingan-postingan mba aku jadi tahu, jadi Aupair, tinggal di Eropa this and that nggak seperti yang orang lain gambarkan dan yang seperti yang aku bayangkan. Biasanya aku silent reader, but kali ini nggak tahan buat nggak komen. Mba, you know what? Your Mumu is absolutely right. You might be a wonder woman. Aku yang baca aja anxious banget, apalagi mba yang ngalamin. Omaigat, you're so strong. Sehat terus mba Nin, fisik and mental. Semangat mba ❤❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. Parah ya aku semester ini!! xD

      Mau gimana lagi, aku harus kuliah sekalian nyari nafkah. Di sisi lain, aku juga udah harus mikirin mau kerja dimana kelar lulus ini. Makanya dari sekarang harus ngumpulin pengalaman kerja yang panjang biar bisa dilirik HRD :')

      Thank you banget ya udah baca cerita ku di sini! Bener2 aku apresiasi ;)
      Kamu juga. Stay healthy there!

      Hapus
  6. Hai kak Nin, jadi Aupair dan kuliah S2 di LN memang udh impian dari beberapa tahun lalu. Dan ketemu blog ini itu bersyukur bgt :')
    Informasi dan pengalaman kamu www bgt kak. Mungkin aku kalo jd kamu udah angkat tangan, gak kuat, mental down, nangis tiap hari, apalagi ibaratnya sendirian disana. But you're so strong! GILSS! Aku bacanya malah mau nangis liat perjuangan kamu huhu
    Semangat ya kak, stay healthy, keep strong, and be happy always!♥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin aku bisa “sekuat dan senekad” ini juga karena udah tau medan :) Bagi kebanyakkan orang awam, bertahan di satu negara yg gak ada keluarga & temen deket bisa jadi mimpi buruk. Tapi karena aku udah 5th di Eropa, terus bisa ngeliat juga opportunity-nya, makanya aku bisa bertahan selama ini.

      Kalo kamu juga punya mimpi au pair + lanjut sekolah setelahnya, keep you dream alive ya! Semoga mimpi kamu bisa segera tercapai 😇 You too, stay healthy there!

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa