Camping Date di Finnemarka: Seru Tapi Menggigil!

Wednesday, 15 July 2020



Tiga minggu di awal musim panas, Norwegia bisa jadi adalah tempat terbaik menikmati liburan musim panas tahun ini. Temperatur terus stabil di angka 25-29 derajat Celcius hingga membuat sebagian besar warga Norwegia lupa akan protokol keamanan Korona yang masih harus terus dijalani. Nyaris semua orang bersuka cita gelar tikar di taman, memenuhi kursi restoran dan kafe yang mulai dibuka kembali, berenang menikmati air laut yang menghangat, serta antusias merencanakan trip ke beberapa tempat karena tak harus terus-terusan menghabiskan waktu di rumah.

Apalagi pemerintah setempat sudah dari awal mengkampanyekan Sommer i Norge yang artinya liburan musim panas di Norwegia saja tahun ini ketika ancaman Korona masih membuat negara lockdown. Sebelum pandemi, kebanyakan orang Norwegia memang lebih memilih berlibur ke Eropa Selatan yang hangat. Tapi karena tahun ini 'dikurung' dulu di negara sendiri, tak heran banyak kabin dan penginapan fully-booked! Hal ini tentu saja jadi berita gembira bagi sektor pariwisata yang sempat mati beberapa waktu, akhirnya bisa bernapas kembali.

Tak terkecuali bagi saya dan Mumu yang memang sudah punya rencana untuk liburan sebentar tahun ini. Karena saya sudah pernah ke utara, barat, dan timur Norwegia, sempat terpikir untuk road trip ke Sørlandet, daerah bagian selatan Norwegia yang terkenal dengan pantai dan rumah putihnya. Namun karena saya masih harus cari summer job demi menghidupi diri sebagai mahasiswa, jadinya tahun ini summer getaway tak perlu super fancy dan cukup camping date ke hutan di Finnemarka yang tak terlalu jauh dari Oslo.


Kenapa Finnemarka, selain karena hanya 62 km dari pusat Oslo dijangkau dengan naik mobil, camping di hutan adalah salah satu hal yang paling lumrah di wilayah Norwegia Timur. Mengapa, karena bagian timur memang lebih didominasi dengan pohon-pohon pinus tinggi di daerah perhutanan. Selain itu, mudah juga menemukan tempat hiking dan camping karena banyak bukit kecil dan perairan yang dikelilingi hutan rindang. Tempat super cozy dan cantik di sepenjuru negara ini pun disediakan secara gratis, kecuali wilayah khusus camping berbayar.

Bagi saya, telttur (bahasa Norwegia) atau camping trip bersama pacar atau kerabat saat musim panas bisa jadi alternatif yang bisa dipilih kalau memang tak ingin keluar banyak modal untuk penginapan  asal punya semua perlengkapan camping-nya. Meskipun, untuk menjangkau beberapa tempat terbaik memang tetap harus menggunakan mobil.

Yes, sure, camping memang tidak murah karena harga perlengkapannya kalau dihitung-hitung lumayan juga. Belum alat masaknya, makanannya yang harus dibawa, tenda solid tahan air, kantung tidur, tas, dan segala perintilan kecil super penting. Tapi karena saya punya tenda yang sudah repot-repot dibawa dari Indonesia, ada orang tua Mumu yang mengizinkan perlengkapan outdoor lengkapnya boleh dipinjam, serta partner seperti Mumu yang mau diajak mengasingkan diri dan berpetualang di hutan, akhirnya camping date ini pun bisa terlaksana. Karena pada dasarnya, percuma kalau punya semua peralatan lengkap tapi tak ada yang mau diajak camping alias tidur di alam.


Peraturan camping gratis di hutan Norwegia, tenda hanya boleh didirikan maksimal 2 malam di tempat yang sama, tidak boleh meninggalkan kotoran, tidak boleh menyalakan api unggun besar di hutan saat musim panas karena bisa mengakibatkan kebakaran, serta harus menjaga jarak minimal 150 meter dari permukiman warga. Kalau memang tak ingin jauh-jauh sampai Finnemarka, ada banyak juga hutan di sekitar Oslo yang cukup sunyi dan lahannya cocok untuk camping. Pemandangannya pun tak kalah keren asal pintar memilih tempat. 

Untuk saya pribadi, pilihan tempat paling cozy mendirikan tenda adalah di dekat perairan seperti lautan, sungai, atau danau. Apalagi saat cuaca cerah dan hangat seperti tahun ini, perairan tak hanya menyajikan pemandangan yang menentramkan mata, namun juga bisa berfungsi sebagai hiburan. Ingin berenang, tinggal loncat. Kurang air, tinggal ambil dan masak. Craving for fish, tinggal pancing dan panggang.



This place seemed so cool, calm, and far from the crowd, right?! Saking tenangnya, kamu tak akan punya kesempatan buka internet karena sinyal pun tak ada. It is only you and the nature. Seepik itu!

Tersihir dengan tenangnya alam di tempat ini, saya dan Mumu sampai lupa bahwa musim panas di Norwegia bisa jadi nightmare kalau tak siap peralatan lengkap untuk tidur di luar! Di minggu kami camping date ini, temperatur di daerah Timur memang tak sehangat sebelumnya. Hutan menjadi lembab karena curah hujan yang sering turun lumayan deras. Meskipun di siang hari matahari bisa bersinar dengan teriknya hingga menembus suhu 22-23 derajat Celcius, namun suhu bisa turun drastis di malam hari mencapai 5 derajat!

Here we go! Jam 1 pagi, saya dan Mumu harus tidur dengan posisi meringkuk karena kaki kedinginan meskipun sudah terbungkus kantung tidur dari atas sampai bawah. Mumu memakai jaket lengkap hingga menutup telinganya yang ikut membeku. Muka saya menjadi kaku karena semakin malam, suhu semakin turun. Hidung pun sulit bernapas karena kedinginan. Karena tak tahan dengan rasa dingin ini, saya tak bisa tidur dan berulang kali terbangun. Hingga akhirnya jam 6 pagi, burung-burung hutan yang super berisik hinggap di pohon-pohon atas tenda lalu sukses menyudahi saja tidur saya hari itu. 


Buka tenda, pemandangan cantik menyegarkan mata kala itu ditambah hangatnya mentari mulai menyentuh kulit. Air di danau juga berkilauan karena bercumbu dengan sinarnya mentari. Mumu pun sesegera mungkin bangun lalu mengambil alat pancingnya untuk mencoba lagi menangkap ikan. He has tried more than 12 hours but still got nothing!

Dari hari sebelumnya sudah ingin sekali makan ikan bakar, namun hanya tergantikan dengan roti bakar dan turmat (bahasa Norwegia, tur: jalan-jalan ; mat: makanan) saat makan siang. Ngomong-ngomong, turmat dan Kvikk Lunsj ini adalah makanan wajib yang selalu orang Norwegia bawa saat sedang tur di alam. Turmat ini juga jadi makanan andalan saya dan Mumu saat perut lapar, tapi malas masak. Penyajiannya cukup diseduh dengan air panas, tutup rapat, dan tunggu sampai 8 menit sampai semua bahan lunak. Lebih mirip mie instan, tapi ini versi lebih sehatnya dan pilihan menunya pun sangat bervariasi dari Kari Ayam sampai Sup Ikan.


Finnemarka mungkin jadi salah satu tempat terbaik untuk camping di hutan. Tapi karena miskinnya sinyal serta dinginnya malam di musim panas yang bisa mengusik tidur, saya dan Mumu memutuskan untuk pulang lebih awal. Harusnya ingin dua malam sekalian hiking sebentar, namun kami sudahi saja petualangan di hari pertama. Bahkan niat Mumu ingin berenang telanjang di danau harus terlupakan karena suhu yang kurang nyaman.☺

Bagi kalian yang mungkin juga tertarik camping di Norwegia saat musim panas, pastikan membawa semua peralatan outdoor dengan lengkap! Kantung tidur, kaos kaki tebal, perlengkapan makan, lapisan bawah tidur, hingga karpet wol kalau perlu. Kesalahan yang saya dan Mumu lakukan adalah lupa membawa lapisan tidur dan cuma menggelar karpet piknik saja di tenda. Tentu saja, sia-sia! Perhatikan juga prakiraan cuaca sebelum berangkat karena mungkin malam akan menjadi gerah dan banyak serangga. Nyamuk-nyamuk di Norwegia bisa sama ganasnya dengan Indonesia kalau sedang musimnya!



Dikelilingi oleh alam luar biasa yang mendukung warganya untuk liburan adalah sebuah privilese tersendiri bagi warga Norwegia yang tetap bisa keluar rumah, bersenang-senang, tanpa harus bertemu orang banyak. Wilayah pesisir pantai mungkin yang paling banyak dipilih mengingat inilah waktu yang paling tepat untuk berbikini ria sekalian membuat kulit semakin eksotis. Namun yang saya dengar juga, banyak warga Norwegia yang sebelumnya tak pernah kemana-mana selain ke pantai, memutuskan road trip ke daerah lainnya di penjuru negeri ini, terutama daerah fjord di wilayah Barat. (Baca juga cerita saya jalan-jalan ke kampung kecil di Vestlandet!)

If you could imagine yourself having a camping trip in Norway right now, where would you pitch your tent? Soothing forest, picturesque fjord, scenic mountain, breezy beach, or leafy hills?



8 comments:

  1. "Soothing forest, picturesque fjord, scenic mountain, breezy beach, or leafy hills?" Pengen nyobain semua Nin haha, apalagi aku pecinta camping dari masih kecil. Ya namanya juga anak Pramuka ya haha. Sayangnya disini ga ada temen yang bisa diajak gituan lagi karena semua temen udah nekah. :( padahal alatku lengkap banget lho buat perduniaan camping. Bener katamu, punya alat lengkap tapi ga ada yang bisa diajak camping itu sama aja boong. Mana disini penuh cerita mistic yang bikin aku takut kalau harus camping sendiri haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo di Indonesia kayaknya deket sama alam jadi takut banget ya karena kita percaya sama hal2 mistis. Biasanya yang masih kemping saat ini anak2 pramuka atau gak pecinta alam yang daki gunung doang. Laennya mending nginep di hotel2 butik biar bisa difoto cantik di Instagram.

      Makanya pas pindah ke Eropa ini, sebisa mungkin aku ngelakuin aktifitas yang kalo di Indonesia kayaknya susah banget, salah satunya ya kemping ini. Seru banget kamu punya semua alat2nya! ;D

      Delete
    2. Ada bagian hutan yang biasa aja, tapi ada yang bikin merinding juga sih Nin. Kita bisa ngerasain sih tanpa sadar hawanya gimana. Aku biasa daki dan kemah dan biasanya santai aja gitu, tapi ada satu tempat yang auranya terlalu kuat banget sampe aku ga berani kemana-mana sendiri. Aku liat juga pramuka disini udah ga seheboh jaman aku sekolah, ga tau kenapa bisa gitu padahal pramuka bisa ngelatih mental & fisik banget.

      I envy you Nin, aku juga pengen kayak kamu suatu saat nanti, mimpiku buat roadtrip dari semenjak SMA buat bisa mampir kemping dimanapun juga belum terwujud nih, semoga suatu saat bisa seperti kamu. :)

      Delete
    3. Gitu ya.. kalo aku, kayaknya kalo udah balik ke Indo, yang bentukannya pohon tetep aja bikin ngeri. Ngeri sama begal juga kadang2 yg suka sembunyi di balik itu 😞

      I agree! Kalo ku liat sih, sekarang kayaknya anak2 orang pada manja sih ya. Gak terlalu dibiarin idup keliaran & mandiri di alam gitu. Terus juga senioritas makin tinggi. Seolah2 tanah Indonesia punya bapaknya, jadi suka bully ke junior. Serba salah ya sekarang2.

      Aahhh... please don’t! 😇
      Kalo memang rejekinya kamu, aku yakiiiin banget suatu hari nanti kamu juga bisa road trip + kemping kayak gini. Yakin aja!

      Delete
  2. Bagus bangettt Nin. Kebayang waktu malam pun pasti indah bertaburan bintang.
    Terus kalau perlu ke toilet gimana? Ada toilet umum dimana-mana atau ke semak-semak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak ada bintang, Mel. Karena kan summer, jadinya langit gak 100% gelap. Pas winter lebih bisa ngeliat bintang :)

      Untuk toilet, kamu mesti terbiasa hidup di tengah hutan. Jadinya kalo pipis mesti disemak2. Terus kalo mau BAB, wajib bawa kantong plastik dan tisu sendiri. Mesti dibuang di tempat sampah dan gak boleh ninggalin jejak kotoran di daerah yang kemungkinan orang bakal gunain ;)

      Delete
  3. tempatnya indah banget... thank ya dah berbagi .. aku nemu blog ini ga sengaja pas lagi ngeriset soal finladia dan makin banyak tahu soal karakter cowok-cowok eropa utara ..salam kkenal kak dari aku yang ada di indo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Widiiih.. sampe cowok Eropa Utara kena riset, lho! ;)

      Happy to have you here. Thanks for coming by and hopefully it’s entertaining 😇

      Delete