Semakin Banyak yang Ingin Jadi Au Pair, Semakin Sedikit Keluarga yang Butuh

Wednesday, 1 July 2020



Meskipun sudah selesai jadi au pair sejak Desember tahun lalu (setelah 5 tahun lamanya!), tapi cerita tentang au pair selalu saja ada untuk dibahas. Apalagi belakangan ini, saya sering kali dapat keluhan dari para calon au pair Indonesia yang merasa kesulitan mendapatkan keluarga, terutama di saat krisis Korona masih belum pulih sepenuhnya.

Dulu, mungkin hanya anak sastra atau para polyglot saja yang lebih tahu au pair. Sekarang, karena informasi tentang dunia au pair sudah bertebaran di internet dan media sosial, semakin banyak orang Indonesia yang tergiur untuk segera ringkas koper bermigrasi ke negara lain. No wonder, au pair dianggap bisa menjadi batu loncatan untuk tinggal lebih lama di Eropa dengan bonus dapat pasangan Kaukasia, lanjut kuliah, sampai punya pekerjaan dengan gaji lumayan. 

Tapi sebelum berandai-andai bisa segera menapakkan kaki ke negara impian, kamu harus disadarkan dulu kalau yang ingin jadi au pair semakin banyak dan persyaratan dari calon keluarga pun semakin demanding! Namun apakah kesempatan kamu masih ada? Tentu saja!

Saya sendiri baru tahu tentang au pair di tahun 2013, saat search engines kebanyakan berisi daftar tulisan orang Indonesia yang jadi au pair ke Belanda, Jerman, dan Prancis. Karena saat itu rejeki dapat keluarga Belgia, saya melangkahkan kaki pertama kali ke negara yang jadi starting point hidup saya di Eropa hingga saat ini. Selama periode 2014-2015, saya hanya mengenal kurang dari 10 orang au pair Indonesia yang ada di Belgia. Bisa saja lebih, namun tidak terlacak radar sosialisasi. Lalu dari semua au pair tersebut, hanya 3 orang yang baru pertama kali jadi au pair di Belgia dan sisanya adalah au pair pindahan yang sebelumnya tinggal di Belanda.

Satu dua tahun berikutnya berkunjung kembali dan menjenguk teman ke Belgia, saya cukup amazed bahwa kabarnya ada banyak au pair Indonesia yang sekarang tinggal di negara wafel ini. Apalagi teman saya seringkali menyebut nama-nama baru yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Bisa jadi newbie dari Indonesia atau mungkin pindahan dari Belanda dan negara lain.

Berikutnya, Denmark, negara di kawasan Eropa Utara yang mungkin sama sekali tak populer bagi orang Indonesia, akhirnya saya pilih menjadi negara kedua au pair. Di tahun 2015-2016, hanya ada 4-5 orang au pair Indonesia saja yang saya kenal hingga akhirnya salah seorang di antaranya berinisiatif membuat grup WhatsApp. Meskipun saya yakin pasti ada au pair Indonesia lain yang berada di Denmark, namun jumlahnya kemungkinan tak lebih dari 10 orang. Kurang dari satu tahun kemudian, sudah ada sekitar 12 orang baru yang berhasil dikumpulkan ke wadah grup WhatsApp au pair Indonesia di Denmark dan kebanyakan dari mereka justru newbie. Jumlah tersebut pun belum termasuk anggota baru yang masih berada di Indonesia karena masih menunggu status visa mereka.

Lalu apakah tren jadi au pair dan punya au pair memang selalu meningkat jumlahnya?

Menurut data dari keimigrasian Norwegia, sebanyak 963 orang au pair berhasil mendapatkan izin tinggal di tahun 2017. Di antara semua pelamar ini, 854 orang berasal dari Filipina, 21 orang dari Ukraina, dan 12 orang dari Amerika Serikat. Angka ini menurun setengahnya sejak tahun 2011 yang mana saat itu sebanyak 1829 anak muda datang dengan skema au pair, dengan 1539 totalnya berasal dari Filipina. 

Sementara di Denmark, jumlah au pair yang mendapatkan izin tinggal selalu menurun sejak tahun 2008. Menurut data dari Ministry of Foreign Affairs and Integration Denmark, 2937 izin tinggal au pair dikeluarkan di tahun 2008. Sementara di tahun 2018, hanya 1311 au pair mendapatkan izin tinggal di Denmark. Angka ini semakin menurun dikarenakan banyaknya aturan dari pemerintah Denmark yang mengharuskan host family memenuhi syarat administrasi yang mengikat. 



Awal Juli 2019, peraturan baru pun diperkenalkan dengan kembali membebani host family minimal DKK 17.300 (€2322) sebagai syarat untuk punya au pair baru. Biaya ini meningkat tajam dikarenakan pemerintah Denmark menghapus kelas bahasa gratis untuk orang asing yang sebelumnya selalu diberikan. Ditambah lagi adanya kewajiban host family untuk membayari tiket pesawat pulang pergi dari/ke negara asal, serta memberikan uang saku yang nominalnya setiap tahun selalu naik. Imbasnya, 30-40 persen keluarga memutuskan untuk tak punya au pair lagi dengan perkiraan hanya sekitar 907 izin tinggal sepanjang tahun 2019 telah dikeluarkan. Mantan host family saya di Denmark dulu pun harus secara tiba-tiba membatalkan kontrak kerja dengan calon au pair mereka, meskipun saat itu sedang di masa tunggu keputusan izin tinggal. Alasannya, karena punya au pair sekarang itu sangat mahal!

Menurut data dari statistik Denmark, 80 persen au pair yang berada di negara ini juga didominasi oleh warga negara Filipina. Di tahun 2018, sekitar 1006 izin tinggal au pair yang dikeluarkan, 818 orang berasal dari Filipina. Sementara Ukraina menempati posisi kedua lalu diikuti oleh Thailand di posisi ketiga.


Menilik dari angka yang terus menurun di atas, bisa disimpulkan bahwa perbandingan antara yang ingin jadi au pair dan kebutuhan keluarga yang butuh au pair justru tak sebanding. Bahkan banyak keluarga menambahkan syarat baru untuk mencari au pair yang sudah tinggal di Eropa saja agar proses imigrasi lebih mudah. Kalau si calon au pair masih di Indonesia, host family tentunya harus menunggu waktu berbulan-bulan lamanya agar izin tinggal dikeluarkan sebelum akhirnya bisa mempekerjakan au pair. Di sisi lain, banyak juga keluarga ingin langsung bertemu dengan calon au pair ketimbang hanya mengobrol lewat pesan dan Skype yang sebelumnya jadi metode yang paling sering digunakan. Bagi host family, cara ini cukup menguntungkan karena dinilai lebih efisien, cepat, aman, dan murah. (Baca: 7 Tips Agar Host Family Melirik Profil Mu)

Tak heran, au pair yang sudah berada di Eropa lebih beruntung ketimbang para calon au pair baru yang masih berada di Indonesia. Belum lagi saingan juga semakin banyak, karena integritas dan kepiawaian bersih-bersih orang-orang Filipina sudah terkenal dimana-mana. Jangan heran kalau kalian tertarik ke Eropa Utara, host family cenderung lebih mencari orang Filipina ketimbang orang Indonesia.

Lalu apalagi cara yang harus dilakukan agar peluang kita tetap terus terbuka selama masih di Indonesia?

Yang pertama, menurut saya kalian tetap harus terbuka dengan kesempatan apapun juga. Selama ini mungkin hanya tahu Au Pair World sebagai platform terbesar dan terkenal agar terhubung dengan banyak keluarga angkat, padahal di luar sana ada banyak platform lain yang bisa kalian coba. Saya sudah menuliskan beberapa informasinya lewat postingan ini.

Ada juga yang menyarankan sebisa mungkin cari keluarga di platform gratis dengan modal seminimal mungkin. Menurut saya, cara ini mungkin akan berhasil beberapa tahun lalu. Namun kalau kalian memang punya uang dan tahu beberapa agensi yang bisa menjamin mendapatkan keluarga dengan cepat, why not?? Bahkan untuk beberapa situs au pair pun, kita tetap harus jadi anggota dan membayar iuran berlangganan dulu agar bisa menikmati banyak fitur. Lagipula, tidak semua calon au pair tinggal di Jakarta dengan kemudahan akses kesana kemari. Bagi beberapa calon au pair yang tinggal di luar Jakarta, tetap ada beberapa tambahan biaya yang harus dikeluarkan agar semua proses berjalan lancar. Perjuangan itu memang costs a thing dan tidak semua orang bisa beruntung berangkat ke luar negeri dengan gratisan. (Baca juga: Sebaiknya Pakai Agensi atau Mandiri?)

FYI, persaingan jadi au pair di Filipina sebetulnya lebih kompetitif! Banyak sekali agensi berbayar yang menawarkan jasa untuk menjodohkan calon au pair dan keluarga di banyak negara Eropa. Eks au pair keluarga saya di Norwegia, harus mengeluarkan biaya setara 30 juta Rupiah hanya untuk mendapatkan keluarga pertamanya! Mengapa menjadi sangat mahal dan kompetitif, karena program au pair ini diyakini bisa menjamin kehidupan lebih baik dengan moto 'anak rantau pantau pulang'. Tak heran, para au pair Filipina yang saya temui di Eropa selalu punya cara agar tak pulang (for good) ke negara asalnya.

Jadi untuk kalian yang masih berjuang mencari keluarga, yang masih menunggu kelulusan agar bisa jadi au pair, yang mungkin juga punya mimpi besar untuk lanjut kuliah dengan batu lompatan sebagai au pair, yakinlah bahwa kesempatan itu masih ada! Be open and keep seeking the opportunities!



2 comments:

  1. "1539 totalnya berasal dari Filipina" oh wooooww!
    Kaget aku Nin! kirain paling banter berapa puluh aja, lha kok ribuan gini.
    Bikin kampung buat mereka sendiri bisa tuh disana, udah hampir kayak imigrant aja ternyata ya haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu kayaknya mesti datang dulu deh ke Norwegia atau Denmark. Udah beneran kayak kampung orang Filipina di sini, saking banyaknya au pair! 🤣 Hebatnya, setelah kelar au pair, mereka pasti punya 1000 cara buat tetep stay/balik lagi ke Eropa Utara.

      Delete