Mari Menjelekkan Norwegia!

Tuesday, 21 July 2020



Dua tahun lebih tinggal di Norwegia, membuat saya tak berhenti belajar banyak hal tentang negara ini. Menjadi au pair di 3 negara yang berbeda, saya akui bahwa gaya hidup di Norwegia memang berbeda dari Belgia dan banyak tradisinya pun lebih menarik untuk diikuti ketimbang Denmark. Kehidupan yang nyaman, kesetaraan gender yang sangat solid, sistem kesehatan dan pendidikan yang merata, serta alamnya yang luar biasa indah, adalah beberapa alasan yang membuat Norwegia menjadi salah satu tempat terbaik untuk hidup. Apalagi selama beberapa tahun ke belakang, negara-negara di Eropa Utara termasuk Norwegia, selalu memegang peringkat teratas sebagai negara terbahagia di dunia. 

Tapi dari hal yang selalu terlihat indah di foto, belum tentu membuat Norwegia sesempurna yang orang-orang bayangkan. Negara ini tentunya memiliki banyak kekurangan yang kadang menyebalkan bagi para imigran. Tak adil juga kalau setiap waktu harus membandingkan Indonesia dan Norwegia karena populasi di Norwegia pun sudah kalah jauh dari Indonesia. Kalau memang ingin membandingkan Indonesia, mungkin lebih tepat disandingkan dengan Pakistan atau Brazil yang jumlah penduduknya sama-sama lebih dari 200 juta jiwa. Makanya di tulisan kali ini saya hanya akan membandingkan Norwegia dengan beberapa negara di Eropa saja, agar lebih adil πŸ˜‹.

Saya juga tidak akan menjelekkan Norwegia hanya karena mahal dan dinginnya negara ini. Lama-lama kita juga akan terbiasa dengan harga yang tinggi, saat sadar bahwa penghasilan yang kita dapatkan juga sama besarnya. Lambat laun, akan ada rasa kebahagiaan tersendiri juga saat ketemu gundukan salju yang tebal karena hal tersebut justru membuat pemandangan Norwegia semakin magis. Jadi apa duka laranya tinggal di Norwegia, berdasarkan pengalaman saya?

1. Apa-apa supermarket


Salah satu stan produk perawatan badan di pasar akhir pekan Prancis

Sebagai orang Indonesia yang dari kecil selalu diajak ibu ke pasar, mengunjungi pasar tradisional dengan keriuhan di dalamnya adalah salah satu hal yang saya rindukan. Meskipun pasar tradisional identik dengan hal-hal semrawut, becek, bau, hingga sempit, tapi bagi saya, pasar tradisional memiliki banyak interaksi yang tidak ditemukan di pasar modern. Kita punya kesempatan tawar-menawar dengan pedagang, mengobrol basa-basi tak jelas bagi yang sudah langganan, hingga belajar memilih sendiri sayuran dan buah-buahan yang masih segar.

Makanya ketika tinggal di Belgia dan dapat kesempatan liburan lebih lama di Prancis, mengunjungi farmer's market atau weekend market adalah salah satu aktifitas favorit saya! Selain harganya lebih murah dari supermarket, barang yang dijajakan tidak hanya sayur dan buah-buahan, tapi juga baju, hewan ternak, hingga bunga segar. Di Prancis atau Jerman misalnya, pasar juga diisi oleh lapak pedagang roti dan kue-kue khas lokal yang aromanya menggugah kemana-mana.

Di Norwegia, stan untuk farmer's market ini mungkin hanya digelar 2-3 kali saja sepanjang tahun di kota-kota besar. Sementara hasil panen petani lokal biasanya tak langsung dijual ke supermarket, tapi lewat pasar khusus yang hanya dibuka seminggu sekali. Letaknya pun tak di semua tempat dan harganya juga lebih mahal dari supermarket karena memang organik dan lokal.

Meskipun banyak petani di Norwegia, tapi negara ini masih tetap harus mengimpor produk dan bahan makanan dari negara lain. Beberapa sayuran kadang sudah terlihat layu duluan di rak-rak supermarket dan pilihannya pun tak banyak. Interaksi di supermarket juga flat karena kita cuma bertukar percakapan super pendek di kasir, bahkan bisa langsung bayar sendiri di selfservice cashier


2. Gaji menggiurkan, tapi kenyataannya?


Butuh integrasi dan usaha yang keras agar bisa berkompetisi di luar negeri

Dengan biaya hidup dan pajak yang tinggi, upah kerja di Norwegia bisa dikatakan sama tingginya dari apa yang harus dikeluarkan. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak imigran dari seluruh dunia tertarik untuk tinggal dan mencari kesempatan kerja di sini. Selain dapat gaji tinggi dan adanya dana pensiun, waktu untuk keluarga dan kerja pun sangat seimbang. Libur berbayar sampai 25 hari per tahun serta cuti 1 tahun bagi para ibu mengandung dan cuti 3,5 bulan bagi ayah yang baru memiliki bayi, membuat ritme hidup menjadi sangat teratur dan lamban.

Namun sebelum berpikir untuk merasakan semua kenikmatan tersebut, kita sebagai imigran yang datang dari Indonesia harus lebih realistis bahwa memulai karir di negara orang itu tidak mudah! Oke, kamu seorang dokter yang sudah bertahun-tahun praktek di Indonesia. Sampai Norwegia, jangan harap bisa langsung diangkat menjadi dokter lokal! Ada banyak sekali cerita dari imigran berpengalaman yang dulu di negaranya bisa mendapat posisi tinggi, namun sesampainya di Norwegia harus puas jaga kios bensin sebagai first step. Ada juga yang lulusan universitas ternama di negaranya, namun di Norwegia harus bekerja sebagai pelayan restoran atau tukang bersih-bersih dulu hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. It's so sad to know, tapi begitulah adanya. 

Dengan banyaknya jumlah orang berpendidikan tinggi serta fasihnya orang-orang Norwegia dalam berbahasa Inggris, hal ini mempersempit ketertarikan banyak perusahaan lokal untuk mempekerjakan para imigran. Yang ada justru sebaliknya, para imigran dituntut untuk bisa berintegrasi dengan sangat cepat kalau memang ingin mendapatkan pekerjaan bagus. Kecuali kamu lulusan sekolah atau kampus di Norwegia, fasih bicara bahasa lokal, mau berusaha keras untuk berintegrasi, punya network yang luas, serta memiliki intelektual yang tinggi, jangan harap bisa mendapatkan pekerjaan dengan upah di atas rata-rata di sini!

Bukan berarti juga semua lulusan sekolah di Norwegia bisa langsung mendapatkan pekerjaan, karena saingan datang dari banyak sisi dan kualifikasi untuk lancar berbahasa Norwegia biasanya jadi penghalang paling besar. But trust me, finding a job here is a nightmare! Saya juga tak menyangka bahwa kualifikasi pekerjaan semisal pelayan restoran pun tetap butuh diploma dan pengalaman yang panjang. Sementara di Belgia, saya mendengar bahwa teman yang juga sedang kuliah bisa saja mendapatkan pekerjaan dengan mudah di toko makanan, toko baju, sampai kantoran. Here in Norway, the job market is so tight and luck speaks as well! (Baca juga: Berburu Student Job Tanpa Lelah)


3. Hard to copy their habit


Tumpukan salju - bagi kita musibah, bagi mereka berkah

Sure, sure, you like nature, you love Viking history, you enjoy being outdoor, you fancy Scandinavian countries, then fall in love with the native. But are those enough to be part of Norwegians? Definitely, NOT!

Tahu kah kamu ada yang mengatakan bahwa "Norwegians born with skis on their feet"? Maksudnya, orang-orang Norwegia dari lahir pada dasarnya sudah ditakdirkan punya bakat main ski dan olahraga musim dingin lainnya. Banyak yang tak tahu bahwa Norwegia adalah salah satu negara pencetak atlet profesional tingkat dunia. Yang cuma tahu sepak bola, mungkin merasa Norwegia memang tak ada apa-apanya. Padahal kalau sudah tinggal di sini, kamu akan tahu bahwa olimpiade dunia untuk cabang olahraga musim dingin seperti ski atau curling selalu dipegang oleh Norwegia.

Artinya, imigran yang lahir dari negara tropis semacam saya ini sampai kapan pun mungkin tak akan pernah bisa blending dengan kecintaan orang Norwegia terhadap salju dan ski. Pertama kali mencoba ski pun saya sudah ketakutan bukan main. Belum lagi kebiasaan mereka yang hobi naik gunung, tidur beratapkan langit saat musim gugur, berenang di air es, tidur di dalam gundukan salju, serta tak betah lama-lama di rumah, sejatinya sudah tak cocok dengan gaya hidup saya selama tinggal di Indonesia. (Baca cerita saya mencoba cross country skiing pertama kali di sini!)

Tentu saja kita tak mesti tahu cara meluncur di es dulu untuk bisa berteman baik dengan orang Norwegia. Tapi betapa membosankannya hyttetur di musim dingin bersama satu grup orang Norwegia, namun hanya berdiam di kabin karena tak bisa main ski. Lalu saat musim panas, orang Norwegia tetap tergila-gila dengan aktifitas luar ruangan seperti mengendarai kapal, memancing, berlama-lama di pantai, serta hyttetur ke kabin musim panas di dekat lautan. Beberapa aktifitas tersebut mungkin masih dapat kita ikuti, tapi apakah kamu siap diajak hytettur almost in the middle of nowhere tanpa listrik, sinyal ponsel, dan melepaskan semua atribut fashionable tanpa mesti pamer dulu di media sosial? (Bagi yang belum tahu apa itu hyttetur, baca postingan saya yang ini!)

Karena kebiasaan yang unik dan super sporty tersebut, saya banyak mendengar bahwa tak semua imigran bisa compatible dengan gaya hidup ini. Bahkan beberapa generasi imigran yang lahir dan besar di Norwegia pun banyak yang tak bisa main ski karena latar belakang kultur yang diajarkan orang tua mereka masih lebih kental ketimbang budaya lokal.


4. Makanan Indonesia jadi hal yang sangat mewah


Salad med fenalΓ₯r: dilarang manja, karena lidah juga harus terbiasa makan makanan hambar khas lokal!

Karena populasi orang Indonesia juga tak banyak, menemukan jejak makanan Indonesia di Norwegia bisa jadi tantangan berat. Beberapa cara untuk mengobati rasa rindu makanan Indonesia ini kalau tak sedang ada acara dari KBRI, icip-icip makanan buatan ibu-ibu Indonesia, ya memang harus buat sendiri. Untuk buat sendiri pun harus siap-siap kurang bumbu karena minimnya bahan makanan asli Indonesia yang dijual di Norwegia. Satu-satunya restoran Indonesia yang ada di Oslo pun kabarnya sudah tutup permanen sejak akhir tahun lalu. Meskipun dengar-dengar kabar juga kalau ada restoran baru akan dibuka lagi per Agustus ini.

Kalau memang malas masak makanan Indonesia, alternatifnya hanya bisa mampir ke restoran Asia. Di sini pun restoran Asia kebanyakan menyediakan makanan fusion alias kombinasi. Bisa saja judulnya restoran Cina, tapi kamu akan tetap menemukan beberapa perintilan sushi atau Korean Fried Chicken di menunya. 

Beruntunglah bagi yang tinggal di Eropa Barat karena mudahnya menemukan restoran dan aneka bahan makanan dari Indonesia. Sewaktu tinggal di Belgia dulu, saya tak perlu pusing ingin masak makanan Indonesia karena toko Asianya super lengkap dan sering mengimpor langsung bumbu-bumbu asli dari Indonesia. Di Denmark, salah satu diaspora yang tinggal di sana bahkan berinisiatif membuka toko online khas produk Indonesia untuk dijual kembali. Tahun lalu bahkan restoran Indonesia akhirnya dibuka di Kopenhagen dengan menyajikan menu-menu yang tentu saja lebih modern.

Meskipun banyak sekali makanan khas Indonesia yang tak butuh bumbu-bumbu sulit seperti Bakwan atau Ayam Bakar Madu, namun tetap saja belum ada yang bisa menandingi nasi padang, bakso, dan sate abang-abang! Intinya kalau sedang kangen makanan Indonesia, kita harus lebih kreatif saat membuat dan sering-sering memaklumi jika memang rasanya tak seenak tempat asal.


5. Pajak impor dan sedikitnya pilihan


Untuk urusan fashion, Norwegia tentu saja masih kalah dari dua negara tetangganya di Skandinavia

Norwegia tidak masuk menjadi anggota Uni Eropa yang artinya negara ini menerapkan pajak barang yang dibeli dari luar negara. Contohnya, kamu tertarik belanja alat elektronik dari Belanda karena lebih murah dan gratis ongkos kirim ke semua negara di Eropa. Setibanya barang tersebut di Norwegia, pihak pos akan menghitung jumlah pajak belanja yang harus dibayar pembeli sebelum barang bisa diambil. Pajak belanja ini pun tidak main-main karena jumlahnya bisa lebih mahal dari harga asli barang tersebut. 

Sebetulnya ada batasan untuk meloloskan pajak belanja jika harga barang ditambah ongkos kirim dan asuransi totalnya hanya NOK 350. Namun jika lebih 1 krona saja, si pembeli tetap harus membayar pajak. Untuk mengecek berapa pajak belanja yang harus dibayarkan, bisa menuju ke situs pajak berikut. Batasan NOK 350 ini pun tidak berlaku untuk semua barang, terutama rokok, minuman, tembakau, serta makanan yang dibeli dari luar. Mengapa, karena pemerintah Norwegia juga ingin melindungi usaha lokal agar warganya tetap mendukung penuh perekonomian negara. Kalau warganya keasikan belanja dari luar hanya karena lebih murah, dipastikan banyak usaha makanan lokal akan bangkrut. Makanya tak heran, banyak sekali warga Norwegia yang lebih tertarik borong belanjaan ke Swedia, karena harga bahan makanan memang lebih murah. 

Yang sebalnya lagi, pilihan barang di Norwegia ini termasuk kecil dan kurang bervariasi. Toko-toko baju pun terkesan biasa saja, namun harganya cukup mahal. Karena keterbatasan barang dan harganya yang mahal ini lah, makanya warga lokal kadang melirik toko-toko online di luar negeri. Lucunya lagi, orang Norwegia memiliki daya beli yang rendah terhadap dunia fashion dan desain interior yang menyebabkan seringnya toko bangkrut.

Sewaktu tinggal di Belgia dan berkunjung ke Jerman, betapa bahagianya saya bisa belanja barang yang super variatif dari harga termurah sampai yang paling mahal pun ada! Di Norwegia, kebanyakan harga hanya mid- sampai high-range untuk barang yang sebetulnya biasa saja. The best thing you could only buy in Norway tentu saja adalah hal-hal yang berbau musim dingin seperti perlengkapan ski dan sweater wol tebal.


6. Less city vibes, monotonous rural life


Karena memang tidak semua anak muda betah tinggal di pedesaan

Di Skandinavia, Oslo mungkin adalah ibukota paling membosankan bagi anak-anak muda. Orang-orang yang tinggal di Oslo terkesan simpel, taat aturan, dan pekerja keras hingga sibuk dengan dunianya masing-masing. Lalu di akhir pekan, ketimbang menghabiskan waktu di ibukota, kebanyakan warganya melipir ke kabin demi rileksasi dari penatnya kota.

Sebagai ibukota yang masih dalam tahap berkembang, Oslo belum mampu menawarkan banyak bar atau klub malam seasik Stockholm, misalnya. Ingin makan pun, kamu tidak akan bisa memilih banyak tempat enak layaknya di Kopenhagen. Restoran paling berjaya dan enak di Norwegia justru adalah makanan Asia yang rasanya far from authentic dengan harga yang tak murah. Intinya, kalo kamu tipe-tipe city person yang suka dengan segala kehingarbingaran ibukota, hiburan untuk mu di Oslo mungkin hanya bisa digantikan oleh Oslofjord dan pelabuhan saja.

Lalu bagaimana dengan desa-desa cantik di sepenjuru Norwegia? Bukankah hidup kita setiap hari bisa terasa lebih bahagia dengan menatap hal yang indah terus? True, but it might be what you'd say in the first months. Setelahnya, kamu akan sadar bahwa hidup di pedesaan tidak senyaman yang semua orang pikirkan. Sepinya sosialisasi, jauhnya tempat kursus, bus yang tak datang setiap waktu, hingga keterbatasan hiburan, bisa membuat mu serasa hidup di gua. Kalau memang harus tinggal di pedesaan, ada baiknya persiapkan mental untuk siap-siap belajar bahasa secara mandiri atau mulailah berpikir untuk belajar menyetir mobil sendiri.

Sebuah privilese bagi yang bisa menyetir di Norwegia karena banyak tempat cantik justru hanya bisa dicapai dengan cara naik mobil. Tapi sayangnya, punya mobil di Norwegia juga tak murah serta dapat SIM-nya cukup sulit. Kita mesti ikut kursus dan tes lebih dulu yang tentu saja, tanpa calo!


7. Sulitnya buka akun bank 


Peran kartu bank di Norwegia begitu penting mengingat hampir semua transaksi sudah cashless

Awal-awal datang ke Norwegia, saya sempat dibuat kesal dengan sistem pembukaan rekening bagi orang asing di negara ini! Hampir semua warga asing yang datang ke Norwegia pernah mengelukan sulitnya mendapatkan kartu bank jika belum punya personal number atau nomor kependudukan.

Untuk buka akun bank ini pun sedikit bertele-tele karena diiringi dengan security yang tinggi. Semua dilakukan serba digital dengan syarat utama memiliki e-paspor, bukan paspor biasa. Setelah mengirimkan permohonan untuk buka akun via online, pihak bank akan membuatkan janji temu terlebih dahulu. Janji temu ini lamanya bukan main karena sistemnya antri! Seorang teman saya bahkan harus menunggu selama 4 bulan sebelum akhirnya bisa bertemu dengan petugas bank. Setelah bertemu dengan petugas tersebut, kita tetap harus menunggu lagi agar semua data teregistrasi dan bisa mendapatkan BankID.

BankID ini sifatnya sangat krusial saat tinggal di Norwegia karena berfungsi sebagai tanda tangan dan verifikasi diri digital. BankID hanya bisa dimiliki oleh warga yang memiliki personal number, bukan D-number. Bedanya apa, personal number ini biasanya diberikan kepada orang asing yang akan tinggal lebih dari 6 bulan dan bukan untuk urusan diplomatik. Tanpa BankID, kegiatan dalam bertransaksi digital akan terhambat karena ada banyak fitur yang tak dapat dinikmati. Saya pribadi sudah pernah menuliskan kegundahan tentang buka rekening bank di postingan ini. Silakan dibaca bagi yang ingin tahu lebih lanjut sampai akhirnya saya bisa hidup wajar di Norwegia dengan segala akses digitalnya!


8. No light, nonstop light


Musim panas di Norwegia Utara, pukul 1 malam - ketika peran bulan tergantikan oleh matahari

Karena letak geografis negaranya memang sangat dekat dengan Kutub Utara, adanya perbedaan waktu antara siang dan malam begitu terasa di musim dingin dan musim panas. Untuk wilayah Norwegia Utara yang dilewati lingkaran kutub, musim dingin adalah waktu terdepresi bagi beberapa orang karena panjangnya waktu malam. Matahari baru bersinar jam 11 pagi, lalu tenggelam kembali jam 3 atau 4 sore. Musim dingin yang gelap berlangsung selama hampir 8 bulan ini bisa menjadi tantangan berat bagi para imigran Indonesia yang mungkin sudah terbiasa dengan teriknya kampung halaman. Pergi sekolah atau bekerja masih gelap, pulang pun sudah gelap lagi.

Di musim panas, jangan sangka para penduduk Norwegia Utara selalu bersuka cita ketika berjumpa lagi dengan matahari. Untuk beberapa orang, musim panas bisa jadi tak nyaman karena matahari selalu bersinar terang hingga menyebabkan waktu siangnya lebih panjang. Bahkan ada fenomena midnight sun atau matahari yang tak pernah tenggelam selama 24 jam, dimulai dari 12 Juni sampai 1 Juli. Saat peristiwa ini, matahari betul-betul hanya menggantung di langit dan bersinar terang setiap hari. Imbasnya, waktu malam yang harusnya bisa tidur dan beristirahat dengan tenang jadi sedikit terganggu karena kamar masih terang benderang. Belum lagi kebanyakan tirai orang Norwegia tidak menyerap cahaya sama sekali.

Tinggal di Norwegia juga bisa jadi tantangan bagi para imigran Muslim saat menjalankan ibadah puasa. Mungkin akan ringan jika Ramadhan bertepatan dengan musim dingin dengan waktu siang yang pendek. Namun saat musim panas, puasa bisa berlangsung selama hampir 24 jam! Enak kalau puasa sekalian liburan musim panas tanpa mesti berangkat ke kantor. Tapi kalau masih harus bekerja atau sekolah, hal ini tentu saja sangat berat karena jarak antara waktu berbuka dan sahur sangat mepet.

-

Dengan segala hal-hal menyenangkan yang selama ini terpublikasi, tak heran kebanyakan imigran merasa beruntung bisa tinggal di Norwegia. Ada yang merasa enggan pulang atau selalu berpikir bagaimana caranya untuk kembali. Norway is such an incredible country to live in! Tapi tentu saja, tidak ada tempat yang sempurna di dunia ini.

Jangan dikira bahwa tidak ada bully dan rasisme di Norwegia. Jangan dikira bahwa di Norwegia tidak ada nepotisme, karena pengaruh orang dalam itu sangat kuat. Jangan dikira bahwa Norwegia itu aman karena masih sering terjadi peristiwa penusukkan. Jangan juga dikira karena sudah lama tinggal di sini serta sudah ganti paspor, lalu langsung bisa masuk ke dalam banyak circle orang Norwegia dan merasa jadi orang lokal sepenuhnya. Tentu saja tidak semudah itu, Barbara! Kalau di Indonesia mungkin kamu sering merasa dominan, di sini bisa jadi kamu hanyalah sebuah butiran tebu. Ada banyak orang yang mesti ganti nama dan merasa tak beruntung terlahir dari keluarga imigran hanya karena tersisihkan di dunia kerja. Because in the end, we are still the outsiders.



4 comments:

  1. Baru 4 bulan tinggal disini beberapa udah aku rasain, and yeahhh these are totally true!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar, Al. Ntar lama2 kerasa semua πŸ˜†πŸ˜†

      Delete
  2. Tulisan yang menarik dan membuka mata. Terima kasih sudah sharing cerita...hujan emas di negara orang hujan batu di negeri sendiri..
    Setiap bangsa punya keunikan sendiri2 ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks for dropping by πŸ˜‡

      Yang pasti tiap orang punya kegelisahan & ceritanya masing2 kok. Aku yakin di luar sana banyak yang berusaha menutupi kekurangan ini karena terlalu cinta & positif aja terus sama Norwegia.

      Delete