Langsung ke konten utama

Mabuk Servis di Phnom Penh (1)

Juni 2013
Saya dan dua orang travel mate di awal kedatangan kami ke Kamboja untuk pertama kalinya sempat dibuat takjub dengan keramahan orang Kamboja. Awalnya kami mengira negara ini masih miskin dan masyarakatnya tidak terlalu terbuka dengan dunia luar. Namun, kenyataanya justru tidak seratus persen benar. Kami justru mendapatkan fakta bahwa orang Kamboja sangat menghargai orang asing dan berusaha menjamu dengan sebaik mungkin.

Dwi, salah seorang travel mate, pernah jadi LO (Liaison Officer) untuk atlet petanque kontingen Laos waktu kejuaraan SEA Games ASEAN yang diadakan di Palembang dulu. Dari pengalamannya itu, dia akhirnya punya teman atlet dari dua negara, Laos dan Kamboja. H-5 sebelum keberangkatan Dwi memang sudah intens bilang ke saya kalau dia mau ketemuan dengan temannya di Phnom Penh. Saya, Dwi, dan Mbak Lia, seorang travel mate lain, menyangka ini cuma ketemuan biasa atau ajang reunian semata sih. Namun nyatanya, kami tidak pernah menduga kalau pertemuan kami disambut dengan luar biasa!

Di malam pertama kedatangan kami ke Phnom Penh, Mai, seorang teman Dwi, sudah siap menjemput kami dengan mobil Mercy-nya. Mai mengajak kami makan malam di sebuah food court open air yang menurut saya cozy sekali. Agak kontras dengan imej kota Phnom Penh yang menurut saya masih kalah bagus dengan Palembang. Tempatnya bagus, dengan kursi-kursi putih dan meja bundar. Di tiang-tiang tenda, dipasangi lampion dan tambahan live music membuat suasana makin romantis. Sayangnya ini bukan tempat makan sepasang muda-mudi, tapi lebih diperuntukkan untuk keluarga atau teman.


Food court open air yang saya lupa namanya

Dari saat memarkirkan mobil, saya juga agak kaget dengan 'tukang parkir'-nya yang super ramah membukakan pintu mobil. Dia memakai kemeja biru muda dengan penampilan yang rapih dengan walkie talkie di tangannya. Wihh..'tukang parkir' profesional nih, pikir saya. Lalu dengan senyum ramah dia mengantarkan kami berempat ke meja kosong hingga memastikan kami nyaman di tempat itu baru dia pergi.

Mai memesan seafood dengan berbagai macam lauk dan sedikit nasi. Nasinya dikit sekali, saya sampai mikir beneran cukup nasi segitu untuk orang 4?

Cara makan orang Kamboja ini menganut adat China yang biasanya menghidangkan banyak makanan dengan sedikit nasi. Biasanya tuan rumah akan mengambilkan makanan untuk tamu dan mempersilakan tamu mencicipinya. Karena lauknya yang banyak, nasi cuma jadi selingan. Kalau ditanya kenyang atau tidak? Pasti! Bukan karena makanannya, tapi karena kebanyakan minum air.


Apapun makannya, minumnya Angkor beer

Orang Kamboja terkenal dengan kebiasaan minum bir yang berlebihan. Mereka tidak akan berhenti minum sebelum merasa mabuk. Karena saya tidak bisa minum alkohol, akhirnya saya cuma minum teh melon kalengan. Berulang kali seorang pelayan berkeliling ke meja-meja untuk memastikan gelas-gelas tamu tidak kosong dengan batu es. Saya yang tadinya tidak bisa minum es, akhirnya menyerah dengan servis orang Kamboja yang ramah. Seorang pelayan cowok berulang kali menghampiri meja kami untuk sekedar mengisi gelas-gelas dengan batu es. Mukanya lumayan sih, untuk ukuran orang Kamboja yang sebenarnya 'biasa' aja. Saya yakin dia sudah lelah sekali, tapi tidak ada raut kebosanan di mukanya untuk melayani tamu. Saat dia mengisikan es batu di gelas saya, saya tidak mendapatkan senyuman disana. Dasar memang si pelayannya cuek kali ya.. Jadinya saya isengin dia dan berkata, "smile.. pleaseee smile". Akhirnya dia tersenyum juga. Usil!

Di tengah acara makan kami, Mai menelepon teman dan kakaknya untuk bergabung dengan kami. Si kakak yang datang duluan, sampai menghabiskan bir hingga 8 botol. Karena bahasa Inggrisnya kurang bagus, jadinya saya cuma pakai bahasa Tarzan yang intinya ngomong, kamu tidak apa-apa minum banyak? Padahal kan nanti mau mengendarai motor. Si kakak bilang kalau dia baik-baik saja dan dia tahu kapan harus berhenti minum, apalagi dia juga mengendarai motor. Tapi saya tidak yakin tuh. Buktinya dia sudah ngelantur dan perutnya mulai membuncit.

Sekitar setengah jam sebelum pulang, Dina, seorang atlet petanque juga, datang bergabung dengan kami. Bahasa Inggrisnya lumayan fasih dan orangnya seru juga. Dina sempat tidak menyangka kalau kedatangan kami ke Kamboja adalah yang pertama. Karena besoknya kami harus buru-buru ke Siem Reap, akhirnya Dina menawari kami sarapan pagi bersama esoknya. Horeee... :p

Namun karena kebanyakan minum, saya cukup sering bolak-balik toilet. Awalnya saya mengira toilet disini bakalan kotor dan tidak terlalu dirawat. Daann..saya salah lagi! Justru toiletnya super bersih dan wangi. Huehehehe.. Si penjaga toilet, seorang bibi, juga selalu tersenyum ramah kepada orang-orang yang keluar masuk toilet. Sehabis kami selesai menggunakan toilet dan mencuci tangan, biasanya dia akan memberikan tisu untuk mengeringkan tangan. Saya dan Mbak Lia sempat salah tingkah juga nih kira-kira 'pelayanan' ini bayar atau tidak. Masih dengan senyuman ramah, saat saya tanya si bibi bilang kalau kami tidak perlu membayar toilet.

Tapi saya tidak tega juga untuk tidak memberikan dia uang, habisnya dia adalah penjaga toilet yang paling ramah yang pernah saya temui. Dia juga ramah dan baik kepada semua orang, bukan hanya kepada turis. Justru dia tidak tahu sebelumnya kalau kami adalah orang asing. Saat menggunakan toilet kedua kalinya saya berikan sisa uang Riel (mata uang Kamboja) yang jumlahnya cuma 500. Duuh...saya jadi merasa Phnom Penh adalah kota biasa dengan penduduk yang sebenarnya ramah dan hangat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa