Mabuk Servis di Phnom Penh (1)

Wednesday, 10 July 2013


Juni 2013
Saya dan dua orang travel mate di awal kedatangan kami ke Kamboja untuk pertama kalinya sempat dibuat takjub dengan keramahan orang Kamboja. Awalnya kami mengira negara ini masih miskin dan masyarakatnya tidak terlalu terbuka dengan dunia luar. Namun, kenyataanya justru tidak seratus persen benar. Kami justru mendapatkan fakta bahwa orang Kamboja sangat menghargai orang asing dan berusaha menjamu dengan sebaik mungkin.

Dwi, salah seorang travel mate, pernah jadi LO (Liaison Officer) untuk atlet petanque kontingen Laos waktu kejuaraan SEA Games ASEAN yang diadakan di Palembang dulu. Dari pengalamannya itu, dia akhirnya punya teman atlet dari dua negara, Laos dan Kamboja. H-5 sebelum keberangkatan Dwi memang sudah intens bilang ke saya kalau dia mau ketemuan dengan temannya di Phnom Penh. Saya, Dwi, dan Mbak Lia, seorang travel mate lain, menyangka ini cuma ketemuan biasa atau ajang reunian semata sih. Namun nyatanya, kami tidak pernah menduga kalau pertemuan kami disambut dengan luar biasa!

Di malam pertama kedatangan kami ke Phnom Penh, Mai, seorang teman Dwi, sudah siap menjemput kami dengan mobil Mercy-nya. Mai mengajak kami makan malam di sebuah food court open air yang menurut saya cozy sekali. Agak kontras dengan imej kota Phnom Penh yang menurut saya masih kalah bagus dengan Palembang. Tempatnya bagus, dengan kursi-kursi putih dan meja bundar. Di tiang-tiang tenda, dipasangi lampion dan tambahan live music membuat suasana makin romantis. Sayangnya ini bukan tempat makan sepasang muda-mudi, tapi lebih diperuntukkan untuk keluarga atau teman.

Food court open air yang saya lupa namanya

Dari saat memarkirkan mobil, saya juga agak kaget dengan 'tukang parkir'-nya yang super ramah membukakan pintu mobil. Dia memakai kemeja biru muda dengan penampilan yang rapih dengan walkie talkie di tangannya. Wihh..'tukang parkir' profesional nih, pikir saya. Lalu dengan senyum ramah dia mengantarkan kami berempat ke meja kosong hingga memastikan kami nyaman di tempat itu baru dia pergi.

Mai memesan seafood dengan berbagai macam lauk dan sedikit nasi. Nasinya dikit sekali, saya sampai mikir beneran cukup nasi segitu untuk orang 4?

Cara makan orang Kamboja ini menganut adat China yang biasanya menghidangkan banyak makanan dengan sedikit nasi. Biasanya tuan rumah akan mengambilkan makanan untuk tamu dan mempersilakan tamu mencicipinya. Karena lauknya yang banyak, nasi cuma jadi selingan. Kalau ditanya kenyang atau tidak? Pasti! Bukan karena makanannya, tapi karena kebanyakan minum air.

Apapun makannya, minumnya Angkor beer

Orang Kamboja terkenal dengan kebiasaan minum bir yang berlebihan. Mereka tidak akan berhenti minum sebelum merasa mabuk. Karena saya tidak bisa minum alkohol, akhirnya saya cuma minum teh melon kalengan. Berulang kali seorang pelayan berkeliling ke meja-meja untuk memastikan gelas-gelas tamu tidak kosong dengan batu es. Saya yang tadinya tidak bisa minum es, akhirnya menyerah dengan servis orang Kamboja yang ramah. Seorang pelayan cowok berulang kali menghampiri meja kami untuk sekedar mengisi gelas-gelas dengan batu es. Mukanya lumayan sih, untuk ukuran orang Kamboja yang sebenarnya 'biasa' aja. Saya yakin dia sudah lelah sekali, tapi tidak ada raut kebosanan di mukanya untuk melayani tamu. Saat dia mengisikan es batu di gelas saya, saya tidak mendapatkan senyuman disana. Dasar memang si pelayannya cuek kali ya.. Jadinya saya isengin dia dan berkata, "smile.. pleaseee smile". Akhirnya dia tersenyum juga. Usil!

Di tengah acara makan kami, Mai menelepon teman dan kakaknya untuk bergabung dengan kami. Si kakak yang datang duluan, sampai menghabiskan bir hingga 8 botol. Karena bahasa Inggrisnya kurang bagus, jadinya saya cuma pakai bahasa Tarzan yang intinya ngomong, kamu tidak apa-apa minum banyak? Padahal kan nanti mau mengendarai motor. Si kakak bilang kalau dia baik-baik saja dan dia tahu kapan harus berhenti minum, apalagi dia juga mengendarai motor. Tapi saya tidak yakin tuh. Buktinya dia sudah ngelantur dan perutnya mulai membuncit.

Sekitar setengah jam sebelum pulang, Dina, seorang atlet petanque juga, datang bergabung dengan kami. Bahasa Inggrisnya lumayan fasih dan orangnya seru juga. Dina sempat tidak menyangka kalau kedatangan kami ke Kamboja adalah yang pertama. Karena besoknya kami harus buru-buru ke Siem Reap, akhirnya Dina menawari kami sarapan pagi bersama esoknya. Horeee... :p

Namun karena kebanyakan minum, saya cukup sering bolak-balik toilet. Awalnya saya mengira toilet disini bakalan kotor dan tidak terlalu dirawat. Daann..saya salah lagi! Justru toiletnya super bersih dan wangi. Huehehehe.. Si penjaga toilet, seorang bibi, juga selalu tersenyum ramah kepada orang-orang yang keluar masuk toilet. Sehabis kami selesai menggunakan toilet dan mencuci tangan, biasanya dia akan memberikan tisu untuk mengeringkan tangan. Saya dan Mbak Lia sempat salah tingkah juga nih kira-kira 'pelayanan' ini bayar atau tidak. Masih dengan senyuman ramah, saat saya tanya si bibi bilang kalau kami tidak perlu membayar toilet.

Tapi saya tidak tega juga untuk tidak memberikan dia uang, habisnya dia adalah penjaga toilet yang paling ramah yang pernah saya temui. Dia juga ramah dan baik kepada semua orang, bukan hanya kepada turis. Justru dia tidak tahu sebelumnya kalau kami adalah orang asing. Saat menggunakan toilet kedua kalinya saya berikan sisa uang Riel (mata uang Kamboja) yang jumlahnya cuma 500. Duuh...saya jadi merasa Phnom Penh adalah kota biasa dengan penduduk yang sebenarnya ramah dan hangat.


No comments:

Care to leave your comments?