Langsung ke konten utama

Mendapatkan Surat Izin Kerja Au Pair Belgia



Berlanjut dari pencarian keluarga angkat, sekarang saatnya menyiapkan berkas-berkas untuk di-apply sebagai syarat memperoleh izin kerja dari Belgia. Karena pihak agensi AuPair Support Belgium sangat membantu dan menjawab email saya dengan sangat responsif, akhirnya pengurusan izin kerja ini Alhamdulillah berjalan lancar. Perlu diketahui juga, agensi mereka tidak memungut satu persen biaya pun dari calon host family maupun au pair. Bahkan mereka sangat bertanggungjawab dalam mengurusi dokumen-dokumen yang diperlukan untuk aplikasi izin kerja dan visa.

Sebelumnya saya memang sudah googling dokumen apa saya yang mesti dibutuhkan. Belum sempat membayangkan prosesnya bagaimana, saya sudah dibuat panik dengan banyaknya prosedur yang harus dilalui. Karena saya tinggal di luar Jakarta dengan mobilitas yang terbatas, prosedur tersebut cukup merepotkan di awal. 

Dari hasil googlingan dan tanya kesana-kemari, ada yang menyarankan untuk mencoba menghubungi biro jasa yang ditunjuk oleh Kedutaan Belgia. Berharap mendapatkan bantuan, yang ada saya mesti mengeruk finansial lebih dalam karena biaya yang dipatok sangat mahal. Sebagai bocoran, untuk mengurus dokumen tersebut memerlukan biaya paling murah 5 juta rupiah secara keseluruhan (terjemah dokumen ke bahasa Belanda, legalisasi, dan urus SKCK di Mabes). Waduh, saya yang masih anak kuliahan (yang pasti kere) mana berani minta langsung ke ortu duit segitu banyaknya.

Dokumen yang diperlukan untuk apply ini sempat saya tanyakan ke Eva, adminnya agensi AuPair Support Belgium. Tapi ternyata, Tuhan masih baik sama saya, hingga Eva mengatakan kalau dokumen yang dibutuhkan tidak sebanyak itu. Karena agensi yang akan mengurus izin kerjanya, jadi dokumen yang saya butuhkan hanya:

1. Sertifikat kesehatan yang ASLI dari dokter yang ditunjuk oleh pihak kedutaan.

Nama-nama dokter yang ditunjuk bisa dilihat di link ini. Setelah tanya dengan teman di blog sebelah, saya memutuskan untuk medical chek-up ke dr. Ivy Kumentas di Medicare Clinic. Biayanya 690ribu untuk tes rontgen, tes urin dan feses, BB/TB, dan tes darah. Saya sarankan untuk medical check-up ke dokter ini kalau agak risih dengan dokter laki-laki. Bukannya apa sih, soalnya bakal ada pemeriksaan tanda-tanda kanker pada payudara, yang pastinya bakal kena raba-raba di bagian itu.

Saya medical check-up hari Jumat, lalu pihak kedutaan menghubungi saya pada hari Rabu untuk mengambil hasil tes kesehatan yang dikirim oleh klinik. Ada 2 buah sertifikat kesehatan, untuk visa dan work permit. Sertifikat kesehatan untuk work permit inilah yang nantinya saya kirim ke pihak agensi.

2. Fotokopi halaman identitas paspor dan halaman yang sudah ada cap dari negara lain.

3. Fotokopi ijazah terakhir (yang membuktikan kalau saya sekolah sampai umur 18 tahun) dan harus diterjemahkan ke Bahasa Inggris atau Perancis terlebih dahulu. 

Dari hasil googling saya menemukan bahwa ijazah ini harus dilegalisasi, diterjemahkan dulu ke Bahasa Belanda/Perancis (tergantung region tempat kita tinggal nanti) lalu dilegalisasi lagi ke Depkumham, Menlu, dan Kedutaan Belgia agar legal. Tapi nyatanya, saat saya hubungi pihak agensi, Eva mengatakan kalau saya tidak perlu membuang uang untuk melegalisasi itu semua dan saya cukup mempercayakan urusan ini padanya karena mereka sudah sering berurusan dengan pihak balai kota.

Saya sih bahagia-bahagia saja kalau ternyata tidak perlu bolak-balik Jakarta demi mengurus itu semua. Karena ingin 'diakui' legal, akhirnya saya meminta penerjemah tersumpah untuk menerjemahkan ijazah SMA ke Bahasa Inggris. Ongkos yang saya keluarkan 50ribu/halaman (total 100ribu karena ijazah bolak-balik) dan sudah termasuk ongkir (saat itu penerjemahnya di Jakarta dan sedang membuka harga promo).

4. 4 lembar foto berukuran 3.5x4.5cm berlatar belakang putih.

5. Mengirimkan surat kontrak kerja di halaman 4 yang bertandatangan asli. 

Surat kontrak kerja berbahasa Belanda ini juga sudah dikirimkan Eva ke email sehingga saya cukup mengeprint halaman 4 dan menandatanganinya.

Setelah semua beres, saya mengirimkan semua dokumen ke agensi mereka di Belgia. Karena finansial yang lagi terbatas, saya akhirnya menggunakan jasa PT. POS Indonesia untuk mengirimkan dokumen. Biaya pengiriman EMS ke Belgia dengan berat kurang dari 0,5kg adalah 276ribu dengan lama pengiriman 4-5 hari kerja. Sialnya, gara-gara saya mengirim dokumen berdekatan dengan hari libur Natal, dokumen saya baru sampai 2 minggu kemudian.

Sempat was-was apakah izin kerja saya akan diterbitkan oleh pihak balai kota di Belgia, mengingat proses yang saya jalani berbeda dengan kebanyakan orang. Tapi akhirnya, Alhamdulillah, satu bulan kemudian, Eva mengirimkan email dan memberi kabar kalau izin kerja saya sudah sampai di kantornya dan akan segera dikirimkan ke Indonesia. Finally, I got my blue work permit! 

>> Tahap selanjutnya adalah mengajukan aplikasi visa ke Kedubes Belgia di Jakarta



Komentar

  1. Hi Nin,
    Salam kenal yah. Alhamdulillah banget ketemu blog kamu ini. Aku iseng aja ngeklik nama kamu yg ada di comment blognya alfie. :D
    Kebetulan aku juga lagi ribet sm dokumen untuk Aupair ke Belgia. :))
    Blog kamu sangat membantu skali. Hehe. Makasii yahh..
    Btw, Kamu kpn berangkat nya ke belgia?

    BalasHapus
  2. Halo Anggi,
    Iya, salam kenal juga ya. Wah, mau aupairing juga ke Belgia?
    Terima kasih udah mampir ke blog aku ya.
    Aku ke Belgianya, Insha Allah bulan depan.
    Kamu gimana? Udah sejauh mana persiapan?

    BalasHapus
  3. Iya, Insha Allah mau ke Belgia juga. :)
    Skrg lagi ngurus dokumen untuk working permit.
    Mudah2an lancar. Siapa tau bisa brangkat bareng yah? hehee
    Kamu di Belgia dmn nya nanti? Aku di daerah Antwerp.
    Oiyah aku boleh minta contact penerjemah tersumpah yg kamu pake kemarin?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hore.. Ada temen aupairing lagi dari Indonesia nih.
      Kamu berangkatnya bulan depan juga?
      Sukses ya ngurusin berkas-berkasnya.
      Aku tinggal di kota kecil, Londerzeel, sekitar setengah jam dari Brussels.
      Penerjemah tersumpah sebenarnya kamu bisa googling sih untuk dapat tarif termurah. Kalo aku kemaren pake jasa Mahacita Translation di no hape +6281316982500.

      Hapus
  4. Hehee, iya nin.. Makasih banyak yah.. mudah2an dokumen aku gak ada masalah, biar bisa brangkat bulan depan juga. kalo boleh aku minta email kamu yah. :)) ini emailku : gie.yinata@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aaammiinn..
      Boleh. Ntar aku kirim pesan ke email kamu ya.
      Biar enak gitu ngobrolnya. :)

      Hapus
  5. Halooooo, Ikut nimbrung ah :D
    aku mungkin berangkat bulan ini, akhir maret.
    bagi kontak kalian dong, gitayurnidasari@yahoo.com alamat email aku..

    BalasHapus
  6. hallo ka nin, blh minta sharing gak tentang au pair ini? kalo blh tlng contact di email saya boleh? di: nindi25septiani@gmail.com terimaksih :)

    BalasHapus
  7. boleh contact via email? ini email aku mutiara.ramadhani14@gmail.com

    BalasHapus
  8. hallo assalamu'alaikum.sya aldi dari tasikmalaya.saya mau tanya nih.saya ada yang minta org swiss.ada yang tau cara apply visa nya kaya gmana?apa butuh sertifikat bahasa?thanks a lot.and waiting for your answer.

    BalasHapus
  9. kak mksd dari kalimat yg ini apa ya ? mksdnya bahwa kita pernah masuk ke negara lain gitu ? atau gmn ? 2. Fotokopi halaman identitas paspor dan halaman yang sudah ada cap dari negara lain.
    thankyou

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Rachel,

      Iya, maksudnya kalo di paspor kamu udah ada cap/visa dari negara lain, mesti difotokopi juga :)

      Hapus
  10. Halo ka Nin, di Belgia sendiri pakai 3 bahasa. Sedangkan semua dokument saya berbahasa Jerman. Apa harus translate lagi atau bisa digunakan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo.. Sebenernya bisa aja kok digunain, soalnya temen saya juga pernah pake bahasa Jerman pas dia jadi au pair yang emang daerahnya kebetulan deket sama Jerman. Atau biar lebih jelasnya, coba kamu telpon Kedubes Belgia langsung deh ;)

      Hapus
  11. Halo kak nin kalau yg punya passpor kosong blm pernah keluar negri maupun cap bagai mana ka apkah bisa tetap buat surat izinnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak ada hubungan apa2 sama seberapa sering kamu jalan2 :) kan au pair itu sifatnya bukan kayak visa Schengen yg cuma turis doang. Visa au pair udah ada jaminan, yaitu host family. Jadi gak ada konsiderasi hanya karena paspor kamu kosong.

      Hapus
  12. Sis, itu bener ada pemeriksaan payudara khusus Wanita yaa? Kalo boleh tau pas pemeriksaan itu apakah disuruh harus topless atau tidak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Aku kemaren dokternya cewek, jadinya ada pemeriksaan kanker payudara dini. Mesti braless biar ngerabanya lebih ketahuan. Tapi gara2 itu, aku jadi notice ada benjolan di payudara ku sih :)

      Hapus
    2. Wah kudu braless ya 🙈🙈 jadi bener2 topless ya? Apakah diraba jg di bagian (maaf) puting?

      Hapus
    3. Kamu punya ketakutan sendiri kah dengan pemeriksaan tubuh? :)

      Pemeriksaan kanker payudara dengan cara diraba itu biasanya di daerah "daging" payudaranya sendiri. Di sisi kanan kiri, atas dan bawah. Ya kalo dokter gak bisa nyentuh, gimana bisa taunya dong ;D

      Hapus
  13. Saya juga udah pernah MCU buat masuk pramugari, tapi memang tidak ada pemeriksaan di bagian itu, hehehe.

    Waktu itu periksanya lama ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya beda2, tergantung dokternya. Kemaren itu dokter aku cewek, jadinya aku biasa aja. Gak lama, cuma diraba doang apakah ada benjolan/indikas kanker.

      Kalo kamunya emang gak nyaman, ya gak perlu :)

      Hapus
  14. Oh gitu? Jadi apakah bisa request dokter Ivy utk tdk perlu diperiksa di bagian itu?

    Ohya mau nanya, in your case apakah dgn adanya benjolan ketika diperiksa akan mempengaruhi hasil tes?

    BalasHapus
  15. Hi, Kak Nin
    apakah semua proses di atas masih berlaku untuk tahun 2024 ini juga?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa