Sebulan Pertama di Belgia

Wednesday, 23 April 2014




Finally, sudah satu bulan saya di Belgia. Lama meninggalkan blog, sekarang saatnya sharing lagi tentang serunya tinggal di salah sudut benua biru ini. Awal-awal kedatangan kesini, banyak pertanyaan yang sering ditanyakan ke saya tentang Eropa. Mulai dari berapa banyak bule ganteng yang sudah saya temui, sampai bagaimana kehidupan saya pribadi sebagai au pair.

Bagaimana perasaan setelah sampai Eropa, benua idaman semua orang di dunia?

Alhamdulillah saya senang sekali, pastilah itu. Beberapa menit sebelum Qatar Airways, yang membawa saya sebulan lalu kesini, mendarat di bandara internasional Brussel, saya tidak berhenti mengucap syukur. Rasanya tidak percaya bisa ke Eropa dan melihat pemandangan dari atas langit yang keren sekali. Saat kedatangan saya kesini, Eropa sedang masuk awal musim semi. Pemandangan dari atas langit berpadu antara warna hijau dan cokelat yang sungguh menarik. Pepohonan hijau tampak mengelilingi rumah khas Eropa yang biasanya cuma bisa saya lihat di foto.

Sudut kota di Eropa keren sekali pasti kan?

Hmmm.. Menurut saya 'begitu-begitu saja'. Eropa terkenal dengan bangunan kuno gaya neo gothic yang pasti ada di negara mana saja di Eropa. Kalau turis yang hanya bisa berkunjung sebentar kesini, pasti tidak akan melewatkan kesempatan berfoto di tiap sudut kota. Tapi saya pribadi lebih memilih membidik tempat lain yang lebih berwarna daripada sekedar foto-foto di katedral atau bangunan kuno. Balik ke tipikal masing-masing sih, saya suka yang berwarna dan dinamis. Hehe..

Tinggal dimana? Daerah perkotaan, pinggir kota, atau desa?

Saya tinggal di Londerzeel, sebuah desa yang kalau naik bus hanya sekitar 1 jam ke Brussel. Well, kalau mendengar kata 'desa', yang ada di pikiran pasti daerah terpencil, penduduknya sedikit, transportasi ke kota jarang, dan berteman dengan hewan ternak. Nyatanya itu tidak seratus persen salah! Londerzeel memang cukup jauh dari kota besar, tapi kehidupan disini menurut saya lebih baik dari perkotaan.

Saya memang medium-city person sekali, tidak terlalu suka keramaian dan macet. Londerzeel memang cenderung sepi, tapi pemandangan hijau dan peternakan kuda di dekat rumah membuat saya nyaman disini. Frekuensi bus yang ke Brussel pun datang setiap interval sejam. Lumayanlah kalau ingin melihat keramaian dan belanja ke kota besar sesekali. Disini juga terdapat stasiun kereta antarkota, supermarket, dan juga perpustakaan atau toko buku berbahasa Belanda yang jaraknya tidak terlalu jauh berjalan kaki dari rumah.

Serunya lagi, ada sportcentrum yang cukup terkenal disini yang bisa dikunjungi untuk sekedar work out di gym, renang, tenis, atau main trampolin. Selain itu, tinggal disini membuat saya lebih sering bertemu dengan orang Belgia pirang asli yang akan sangat jarang ditemui kalau di kota besar. Etnis Maroko lumayan mendominasi di kota-kota besar sampai saya agak bosan melihat mereka dimana-mana. Haha.. Tapi keuntungannya sih, toko dan restoran halal juga tidak sulit ditemui. 

Bule disana ganteng-ganteng pasti kan?

Relatif ya. Menurut saya dimana saja pasti ada orang ganteng, tidak hanya di Eropa. Tapi karena saya cenderung tidak terlalu suka blonde man, jadi biasa saja melihat mereka. Namun balik lagi, ada yang ganteng, ada juga yang tidak.

Bagaimana kehidupan baru sebagai au pair? Bagaimana adaptasi disana?

Alhamdulillah masih berjalan baik-baik saja selama sebulan ini. Keluarga angkat saya orang Maroko muslim dan sangat memperhatikan makanan. Saya beruntung karena tidak perlu lagi takut apakah ayam dan daging di dalam kulkas halal atau tidak, karena keluarga angkat saya sangat memperhatikan kehalalan makanan. Mereka juga tidak pelit soal makanan. Dua kulkas mereka selalu penuh dan saya dibebaskan makan atau masak apa saja dari sana. Keluarga muda ini juga senang masak, sehingga saya selalu mencicipi makanan baru khas Eropa.

Selain itu, kalau sedang berkunjung ke rumah orang tuanya, saya juga diajak untuk makan siang yang biasanya menu khas Maroko. Walaupun orang Maroko di Belgia mempunyai citra yang agak buruk, tapi keluarga angkat saya ini termasuk yang baik. Alhamdulillah juga saya orang yang cenderung mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Jadi untuk saat ini belum ada masalah, kecuali makanan. Lidah saya sangat asia sekali, cenderung pedas dan kaya rasa rempah. Sementara makanan disini agak hambar dan kebanyakan kurang fresh.

Oh ya, cuaca juga membuat saya harus berkali-kali mengeluh. Karena baru masuk musim semi, cuaca masih dingin dan biasanya angin bertiup kencang. Walaupun sinar mentari sudah mulai terik, namun kadang suhu masih di bawah 10 derajat. Hal ini membuat saya sangat tidak nyaman jalan-jalan di siang hari.

Apa saja yang mesti dilakukan ketika awal-awal disana?

Sebagai au pair, hal pertama yang harus dilakukan tentunya adalah lapor diri ke city hall yang ada di tempat kita tinggal paling lambat delapan hari sejak kedatangan kita ke Belgia. Hal ini dilakukan agar kita mendapatkan temporary id card yang akan sangat diperlukan seperti membuka akun bank atau sewa blue bike. 

Di city hall, petugas mencatat diri saya dan mengatakan seminggu lagi akan ada polisi yang akan datang untuk mengecek keadaan saya di rumah. Benar saja, Jumat malam, saat saya dan keluarga angkat sedang dinner, seorang polisi datang dan mengecek keberadaan saya di rumah. Biasa saja sih sebenarnya, datang dan sedikit bertanya, lalu pergi. Kata pak polisi, seminggu lagi akan ada surat pengantar dari city hall dan saya disuruh mengulang kesana. Baiklah, menunggu lagi.

Sebalnya gara-gara belum dapat id card ini, hostmom saya belum bisa membukakan akun bank di Fortis dan membelikan saya tiket bus De Lijn. Sebelumnya sempat ada syarat baru dari city hall yang mengharuskan saya cek kesehatan di dokter yang dikenal pemerintah Belgia. Mereka memberikan form untuk cek kesehatan yang isinya tidak beda dengan hasil cek kesehatan saya di Indonesia.

Hostmom saya coba membicarakan hal ini ke petugas city hall. Akhirnya petugasnya menyuruh untuk mengirimkan scanning hasil tes kesehatan dan SKCK saya lewat email. Mereka akan coba meneruskan ke Ministry of Foreign blablabla.. Hostmom saya juga sempat menelepon KBRI di Brussel tentang lapor diri. Apakah saya juga perlu lapor diri ke KBRI ataukah cukup sampai city hall Londerzeel saja. Petugas KBRI mengatakan kalau saya cukup lapor diri ke city hall terdekat. Namun, saya juga perlu lapor diri ke KBRI untuk data pemilu nantinya. Tapi sampai sekarang saya juga belum kesana.

Seminggu kemudian, surat dari city hall datang dan menyuruh saya kembali kesana dengan membawa dua lembar pasfoto. Saat datang, saya disuruh tanda tangan di alat digital dan membayar biaya kartu sebesar 17.20 Euro. Petugasnya mengatakan (lagi-lagi) dua minggu kemudian akan ada surat dari city hall yang isinya id card saya. Nanti saya disuruh datang lagi ke city hall untuk mengaktifkan kartu identitas itu. Haduuhh.. kerjaan saya di Londerzeel bolak-balik city hall saja sepertinya.

Pernah punya masalah dengan keluarga angkat atau anak mereka sebulan ke belakang?

Pernah, menyangkut jam kerja sebagai au pair. Awalnya sangat menyebalkan harus babysit hingga jam 9 malam nyaris setiap hari. Lalu, hostmom saya ini tipikal orang yang agak cerewet tapi sebenarnya pengertian. Hostdad saya orang yang cuek sekali, kurang fasih berbahasa Inggris, tapi selalu mencoba mengobrol walaupun kadang banyak diam. Hostdad saya ini sebenarnya sangat helpful dan menurut saya penurut sama istrinya.

Untuk masalah jam kerja ini, sempat saya tanyakan ke Eva dari agensi. Tapi percuma, si Eva juga tidak memberikan solusi. Jadi tinggal sayanya saja yang mengatur waktu. Sekarang jam setengah 8 malam anaknya sudah saya tinggal dengan orang tuanya. Anak yang saya asuh ini namanya Inés, umur 2 tahun. Awal kedatangan saya kesini, dia selalu menolak kehadiran saya yang mengajaknya main. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah mulai melunak dan dekat dengan saya.

Disana pakai bahasa apa? Sudah mulai kursus bahasa?

Londerzeel masuk Flandria atau Flemish area yang memakai bahasa Belanda sehari-harinya. Di rumah, saya memakai bahasa Inggris kalau mengobrol dengan ibunya. Keluarga ini sebenarnya lebih fasih bahasa Perancis dan Arab Maroko, tapi hostmom saya bisa empat bahasa kecuali suaminya. Untuk kursus bahasa, baru mulai akhir April ini. Jadinya saya baru belajar bahasa Belanda lewat buku atau percakapan Perancis standar di rumah.

Sudah punya teman?

Belum. Sempat tukar kontak dengan teman bule di Meerdonk sebelum berangkat kesini. Namun saya kehilangan nomor ponselnya sehingga komunikasi tidak berjalan baik. Pertengahan bulan April saya sempat meet up dengan Gita, au pair Indonesia yang juga baru datang kesini. Ya lumayanlah, ada teman Indonesia disini.

Pernah merasa kesepian dan bosan, atau kangen dengan Indonesia?

Pasti! Bosan karena rutinitas selalu menyerang saya nyaris setiap hari. Hari ini rutinitas begini begitu, besoknya ketemu hari lain, tapi aktifitasnya begitu lagi. Kursus bahasa belum mulai, jadinya saya tidak punya aktifitas lain dalam sebulan. Kalau kesepian tidak pernah, Alhamdulillah. Saya orang yang memang sudah terbiasa travelling sendirian, jadinya tidak masalah kalau tidak ada teman jalan. Walaupun minusnya, saya tidak punya foto pribadi di beberapa tempat. Hiks..

Untuk menghilangkan kebosanan, biasanya saya retail therapy ke kota-kota besar seperti Brussels atau Antwerp. Sungguh, saya ini bukan turis sejati. Ke kota lain bukannya mampir ke objek wisata disana, malah mampir ke toko-toko berantai satu per satu. Haha.. Retail therapy is the best way on the weekend lah!

Satu lagi, karena saya sangat suka art dan crafting, saya sering menyibukkan diri di kamar, gunting kertas atau gambar ini itu untuk mendadani kamar yang warnanya kaku. Kalau kangen dengan Indonesia, sepertinya belum, kecuali makanannya. Saya nyaris tiap hari dan tiap waktu makan mie dan cabe rawit. Bahkan makan pasta pun ditambah bawang goreng dan cabe rawit. Hehe...

Komunikasi disana bagaimana?

Thanks to your smartphone untuk aplikasi BBM dan Skype-nya. Komunikasi sangat lancar dan setiap hari juga bisa mengobrol dengan keluarga dan teman. Untuk SIM card, karena sejak awal sudah dibelikan BASE oleh hostdad, jadinya saya pakai ini saja.

Biasanya isi pulsa 15 Euro di Colruyt, 10 Euronya untuk langganan internet 1 GB perbulan, 5 Euronya untuk beli tiket De Lijn. Karena belum dibelikan tiket bus, jadinya sebulan ini saya bayar pakai dana pribadi dulu. Beli tiket De Lijn lebih murah lewat SMS. Walaupun pakai WiFi di rumah, tapi saya sangat perlu GPS kalau lagi jalan sendirian. Seriously, it will be your trusty friend!

Itulah daftar pertanyaan yang sering ditanyakan ke saya. Nyatanya, Alhamdulillah sebulan ini everything's going well (masih). A year is going faster, saya masih menunggu 11 bulan ke depan untuk pengalaman lainnya. Eropa memang seru, tapi juga 'dingin'.


7 comments:

  1. Hai Nin,
    Saya juga lagi proses apply Au Pair. Sya cari hostfam nya di situr AuPair-world-net. Udah kirim beberapa applikasi lewat pesan di site tsb, tapi belum ada yang tertarik. Saya berpikiran apakah itu karena saya berjilbab? Yang saya mau tanya kan gimana pandangan hostfam tentang Au Pair nya yang muslim atau berjilbab. Apakah susah mendapatkan hostfam and masih banyak penolakan di masyarakat sana tentang wanita berjilbab. Saya rencana mau appy di German atau Austria, negara yang pake bahasa German. Btw Belgium masynya pake bahasa Belanda ya? Mohon informasinya :)

    ReplyDelete
  2. Hi Devita, terima kasih sudah mampir (:
    Wah, kamu jangan underestimate dulu. Karena sejujurnya yang ngirim aplikasi di Aupair World itu juga bejibun dan yang kena tolak bukan kamu saja. Memang agak susah ya, soalnya saya juga kena tolak melulu disana. Hihi..

    Soal jilbab, bukannya saya menurunkan semangat. Tapi memang, orang Belgia asli agak skeptis sama cewek berjilbab disini. Kebanyakan warga pendatang dari Turki/Maroko yang muslim, banyak terlibat masalah kriminal. Makanya orang Belgia menilai nyaris semua muslim itu terlalu belagu dan gak aman. Walaupun gak semua orang Belgia berpandangan negatif dengan orang muslim, tapi cewek berjilbab masih dianggap weird disini karena dinilai terlalu freak dan strict.

    Tapi kamu jangan menyerah dulu ya. Gak semua orang Eropa beranggapan begitu kok. Banyak juga yang gak mempedulikan soal jilbab. Semangat terus pokoknya cari keluarga ya! (:

    Untuk Belgia sendiri, ada 3 bahasa nasional. Tapi kebanyakan penduduknya pakai bahasa Belanda dan Perancis. Bahasa Jerman cuma digunakan di wilayah perbatasan saja.

    ReplyDelete
  3. btw mba di sana kerja atou jalan2.kalo saya ke sana boleh lah di ajak keliling biar makin tau

    ReplyDelete
  4. Hai Nin,
    Saya mau tanya dong, kamu buka rekening bank di bank mana?
    Kan nanti pasti banyak pilihan ya.. saya butuhnya yg bisa internet banking, bisa kirim uang langsung ke rek bank indo (kaya misalnya ada logo visa atau cirrusnya jd bisa transfer ke bank mandiri), dan yang bisa buat verifikasi paypal. Ada rekomendasi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Melisa,

      Waktu di Belgia kemaren aku pake BNP Paribas Fortis yang khusus buat anak muda. Gak ada logo VISA/Mastercard-nya. Cuma ada logo Maestro doang. Tapi aku tetep bisa pake kartu itu buat PayPal, cuma gak bisa buat belanja online.

      Kalo mau transfer duit ke Indo, kenapa gak coba pake TransferWise aja? Potongannya lebih kecil dan cepet juga kok nyampenya :)

      Delete
  5. Ah okay.. kalo bisa paypal berarti bisa belanja online juga dong harusnya? Tapi pembayaran pake paypal, gitu kan? hehe.
    Baru denger sih transferwise.. makasih ya infonya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Asal ada metode pembayaran pake PayPal, bisa kok.
      Tapi beberapa bank di Belgia juga ngeluarin Visa Debit kok. Cuma aku gak tau yang mana, karena kemaren cuma dikasih kartu ATM biasa sama BNP Paribas Fortis.

      Delete