Menyudahi Kontrak Au Pair Lebih Awal

Friday, 11 July 2014




Cerita au pair memang banyak yang menggembirakan dan seru, tapi banyak juga yang mengalami kisah sedih dan penuh penyesalan. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin kalau keluarga angkat benar-benar akan memperlakukan kita seperti seorang au pair, bukan nanny atau housekeeper. Bahkan seorang agensi pun, tidak bisa memberi jaminan apakah calon keluarga dan calon au pair itu baik atau tidak.

Kadang saya juga mengutuki diri sebagai seorang Asia yang terlalu 'pakai perasaan'. Apa-apa merasa tidak enakan, terlalu banyak berpikir apakah omongan kita kasar atau berlebihan, padahal budaya Barat lebih condong bersikap blak-blakan dan terbuka. Perlunya speak up dan jujur tentang ketidaknyamanan ini sangat penting jika kita merasa ada masalah dengan keluarga angkat.

Sejujurnya saya tidak punya masalah besar dengan keluarga angkat yang sekarang. Mereka masih memperlakukan saya dengan baik, menyiapkan makan malam, bahkan tidak pernah mengatur macam-macam. Masalah terjadi ketika host mom merasa tidak puas lagi dengan hasil kerja saya dan berpikir kalau saya bukanlah orang yang tepat untuk merawat anaknya.

Suatu pagi, saya salah aksi yang akhirnya membuat host mom marah besar. Berawal dari kesalahan menaruh keju di kotak makan yang sama, akhirnya si hostmom pagi-pagi sudah kesal dan mengatakan kalau kontrak ini tidak akan bisa bertahan setahun. Katanya dia perlu orang yang lebih detail, fleksibel, dan dinamis mengasuh anaknya. Sementara saya, cenderung cepat bosan dan tidak inisiatif.

Sejujurnya host mom saya ini memang orang yang gampang sekali naik pitam. Sekalinya marah, dia benar-benar memaki dan kadang membuat saya harus pura-pura tutup telinga atas semua perkataannya. Sebalnya, besoknya dia seolah lupa sudah mengatakan apa dan membiarkan semuanya berlalu.

Di hari yang sama setelah kena makian, saya langsung membahas semua yang terjadi lewat WhatsApp. Ya, lewat WhatsApp. Dia bukan orang yang bisa diajak bicara secara langsung karena terlalu sibuk dengan kantornya. Itu juga baru dibalas dua hari kemudian.

Kesalahan-kesalahan saya beberapa bulan lalu diungkapkan dan seolah-olah membuat semuanya adalah kesalahan saya. Yang membuat saya dongkol lagi, saat day off dan sedang di luar, host mom masih sempat-sempatnya kirim pesan WhatsApp yang komplain kenapa bagian bawah sofanya terlihat menjijikkan karena tidak saya sapu. Padahal dia tidak pernah minta.

Kedua, saya juga tidak pernah melihat cleaning lady-nya vacuuming sampai ke bagian bawah sofa. So, I thought, clean what you can see saja. Lagipula, itu hari libur saya! Kenapa dia tidak coba diskusikan besoknya saja? Toh saya memang selalu di rumah.

Walaupun mereka terlihat baik, namun sebenarnya sifat si host mom yang terlalu emosional dan perfeksionis membuat saya berpikir ulang untuk bertahan di rumah mereka. Apalagi gaya bossy-nya yang saya kurang suka. Kalau ada sesuatu yang salah, hilang, atau tidak wajar pada tempatnya, pasti langsung bertanya ke saya dengan muka mengkerut.

Padahal dari awal kontrak dia sudah menekankan untuk lebih fokus ke anaknya daripada ke pekerjaan rumah tangga. Ternyata, semakin hari semakin banyak tugas bersih-bersih dan selalu dicek. Lucunya, tidak ada yang pernah sempurna di mata host mom. Selaluuuuu saja ada yang kurang dan membuat dia menegur lagi dan lagi. Padahal selama ini dia tidak pernah menjelaskan mana yang sempurna mana yang tidak.

Au pair job can go smoothly or end quickly, like mine. Sangat sulit bertahan di kondisi yang membuat kita sudah tidak nyaman dan terhakimi. Tapi kalau kamu merasa sebaiknya mesti keluar, then you should leave. Bekerja dan tinggal dengan keluarga yang membuat kita merasa tertekan lama-lama bisa bikin stress.

Makanya ketika ada teman atau kenalan yang ingin jadi au pair, saya tekankan untuk mengenal dulu kondisi keluarga, pekerjaan, dan anak yang akan diasuh sebelum langsung menerima pekerjaan tersebut. Hal ini untuk menghindari masalah jam kerja yang sering overworked atau miskomunikasi yang sering terjadi.


2 comments:

  1. Hallo boleh minta alamat email nggak? Ada beberapa hal yg saya ingin tanyakan soalnya kisah diatas sam persis dengan apa yg saya alami sekarang di jerman..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Melati..

      Boleh banget! Cerita2 ke email saya ini ya: h.atmaningtyas@gmail.com

      Delete