Langsung ke konten utama

Pesta Menyambut Kelahiran Bayi ala Maroko



Dua minggu pertama tinggal di Belgia, keluarga angkat saya sedang sibuk-sibuknya menyiapkan persalinan anak kedua mereka yang diberi nama Issa. Si ibu yang tadinya berharap si anak kedua ini akan lahir di tanggal yang sama dengan kakaknya, 24 Maret, meleset menjadi 5 April 2015.


Dua hari setelah persalinan, saya baru bisa menjenguk si ibu di rumah sakit. Karena pihak keluarga sedang sibuk-sibuknya, saya mesti datang ke rumah sakit sendirian. Mereka hanya memberikan alamat dan juga nomor kamar di CHU Brugmann - Victor Horta Site. Berhubung tempatnya sering dilewati, akhirnya saya bisa sampai disana lewat bantuan Google Maps setelah muter-muter kebingungan. Mencari kamarnya pun tidak gampang, karena saya mesti bertanya dulu dengan beberapa perawat yang lewat. Alhamdulillah mereka berbicara bahasa Inggris dengan baik dan sangat membantu.

Sama seperti di Indonesia, saat mengunjungi orang di rumah sakit, biasanya kita membawakan buah tangan dari rumah. Sayangnya karena bingung mesti membawa apa, akhirnya saya kesana dengan tangan kosong. Padahal menurut budaya Barat, membawakan bunga sebagai tanda "selamat atau ikut merayakan kebahagian" merupakan hal yang layak walaupun tidak penting.

Bukan hanya tamu yang membawakan bunga atau hadiah, namun keluarga pasien biasanya juga menyiapkan suvenir sebagai ucapan terima kasih. Karena bayinya laki-laki, keluarga saya memang sudah mendekorasi kamar dengan nuansa biru muda dan kuning. Suvenir yang disediakan pun lucu-lucu dan semuanya bisa dibawa pulang oleh tamu. Ada garam mandi yang juga berwarna biru dan kuning, popcorn manis dan asin, bunga mini dan potnya, dan juga cokelat berwarna sama. Tamu-tamu yang datang pun memang tidak semaruk dan sekiasu (stereotip tidak mau rugi) orang Indonesia. Jadi mereka hanya membawa pulang barang yang mereka suka dan itupun jumlahnya tidak lebih dari satu.

Satu bulan kemudian, tepatnya di bulan Mei, akan diadakan lagi pesta menyambut kelahiran Issa oleh para kerabat si ibu dan bapak. Awalnya saya berpikir mungkin pesta ini sama dengan aqiqahan di Indonesia; mengundang orang banyak, potong rambut bayi, lalu rebutan bendera uang. Namun ternyata berbeda dengan tradisi Maroko. 

Untuk menyambut kelahiran bayi baru, si ibu akan mengadakan pesta yang hanya dihadiri oleh wanita. Sementara beberapa minggu kemudian, si bapak yang akan mengadakan syukuran sederhana dan hanya akan dihadiri oleh para lelaki saja. Tradisi memisahkan lelaki dan wanita dalam sebuah pesta ini memang sudah jadi khas orang Arab. Walaupun Maroko masuk ke dalam wilayah Afrika, namun budaya mereka mirip dengan budaya orang Arab yang sedikit sentimentil untuk urusan lelaki dan wanita. Sementara cukur rambut sudah dilakukan di rumah sakit tempat si ibu melahirkan disaksikan para keluarga saja.

Karena acara akan digelar pada Sabtu malam, saya datang sore harinya setelah jalan-jalan dulu di Brussels. Karena hari itu adalah hari libur saya, si ibu memang tidak masalah kalau saya datang belakangan. Banyak juga anggota keluarga yang masih membantu merangkai bunga dan menyusun makanan-makanan kecil di ruangan saat saya datang kesana. 


Lokasi pesta berada di wilayah terhijau di Brussels, Tervuren, yang sedikit jauh dari pusat kota. Tempat ini pun menjadi tempat yang sama saat si ibu dan bapak menikah dulu. "Jadinya seperti nostalgia beberapa tahun lalu", kata si ibu.


Yang saya sangat suka dari pestanya orang Barat adalah mereka sangat mempertimbangkan soal dekorasi. Walaupun keluarga angkat saya yang dulu orang Maroko, namun karena mereka lahir dan besar di Belgia, gaya hidup mereka sudah beradaptasi dengan budaya Barat. Karena ini pesta wanita alias emak-emak, para emak ini akan membawa anaknya juga ke pesta. Agar si emak bisa leluasa berpesta dengan temannya, si anak biasanya akan dibuatkan pojokan khusus dengan tujuan mereka bisa betah berlama-lama di pesta. You know-lah ya kalo emak-emak udah pesta. Lama boookkk..



Jam 6 sore, si ibu dan keluarga wanitanya lagi asik berhias. Sementara saya sendiri masih kucel menjaga Ines yang masih sibuk bermain kesana kemari. Sekitar jam 8 malam, saya baru niat ganti baju dan berhias di toilet. Sebelum saya berangkat ke Belgia, si ibu memang sudah mewanti-wanti untuk membawa pakaian pesta ke Belgia. Karena bingung juga pestanya nanti seperti apa, akhirnya saya bawa saja outfit yang sangat Indonesia, batik!

Walaupun pesta ini khusus untuk para wanita, si bapak, kakek, adik, kakak, dan keponakannya si ibu yang laki-laki juga ikut datang. Mereka berada di lantai paling atas, terpisah dengan para tamu. Intinya mereka tetap tidak boleh turun ke bawah. Walaupun tersembunyi, mereka tetap rapi memakai jas dan sepatu pantofel, lho!

Lucunya, meskipun sudah di Belgia, tetap saja masih ketemu budaya ngaret. Acara yang harusnya mulai jam 9 malam, jadi mundur jam 10 malam menunggu tamu datang. Para emak-emak, nenek-nenek, dan gadis muda yang datang semuanya cantik-cantik. Mereka yang tadinya memakai jilbab atau hijab dan keluar rumah tanpa make up sedikit pun, tampil semalam bak putri dan ratu. Mereka melepas semua atribut muslimah tersebut, berdandan dengan polesan make up warna-warni, serta mengeriting ataupun menyanggul rambut mereka dengan heboh. Gaun-gaun yang mereka pakai pun seksi-seksi hingga membuat saya lupa kalau tampilan mereka sehari-harinya sangat konservatif. 

Acaranya pun tidaklah serumit di Indonesia yang penuh pidato bergilir dari sana sini. Saat kursi tamu sudah mulai terisi penuh, para pelayan yang juga semuanya wanita masuk ke dalam ruangan membawakan appetizer berupa sup tomat. Selanjutnya acara hanya diisi dengan nyanyian khas Arab-Maroko yang diiringi tabuhan gendang dari grup musik yang semua personelnya wanita berjilbab panjang, bahkan memakai burqah. Sayangnya, para perempuan tersebut menolak saat fotonya akan saya ambil.

Jangan berpikir dulu kalau musik pengiring ini mirip grup-grup rebana ibu-ibu pengajian di Indonesia. Alunan musik-musik yang dimainkan justru sangat asik dan nge-beat. Semakin malam, tempo musiknya pun semakin kencang dan membuat semua tamu bergoyang di depan. Tujuan pesta ini memang seperti itu, bernyanyi dan bergoyang. Karena semuanya wanita, tidak ada yang merasa malu bergoyang heboh menunjukkan perut atau pinggul mereka. Namun karena mayoritas wanita ini memakai jilbab kesehariannya, saya tidak bisa menampilkan foto kehebohan dan keseruan mereka saat menari.

Karena tugas menyebalkan menjaga Ines dan mengawasi anak-anak tamu lainnya, saya tidak bisa sering-sering masuk ke ruang pesta yang hangat. Jadinya cuma bisa mengamati pesta wanita ala Maroko tersebut dari pintu yang terbuka lebar. Pojokan anak dan ruangan pesta memang terletak di ruang yang berbeda.
 
Yang saya sebal dari pesta orang Barat adalah mereka benar-benar mengutamakan keseruan acara ketimbang memikirkan makanan. Di Indonesia, kita bisa saja datang sangat terlambat di pesta pernikahan seseorang hanya demi makan siang. Sementara di sini, saya mesti menunggu menu utama datang hampir jam 2 pagi. Untungnya karena banyak makanan di pojokan anak, tidak terlalu kelaparan. Hiks..

Jam setengah 2 pagi, salah seorang pelayan mengantarkan makanan utama berupa ikan yang hanya dibubuhi garam dan lada, serta beberapa potong kentang. Menurut saya, menu utama  ini benar-benar tidak sebanding dengan rasa kelaparan di tengah kedinginan musim semi. Meskipun berada dalam satu gedung, saya bertugas di bagian luar ruangan pesta yang tetap saja dingin di tengah malam. 

Acara hampir selesai setelah pelayan mulai mengantarkan makanan penutup berupa kue-kue manis khas Maroko. Musik pun biasanya dimainkan dengan tempo semakin cepat dan seru. Kalau sudah sangat cepat seperti itu, tandanya pesta akan usai. Benar saja, jam setengah 3 teng pesta ditutup dan para tamu mulai meninggalkan lokasi.

Berbeda dengan para emak yang berpesta heboh di gedung, sekitar dua minggu kemudian giliran si bapak yang mengadakan pesta di rumah. Rumput-rumput yang memenuhi halaman depan rumah pun mulai ditebas dan dibersihkan. Tenda-tenda putih sederhana didirikan sehari sebelum pesta digelar. Meja-meja bundar mulai disusun di halaman untuk menyambut tamu. 

Tidak ada alunan musik heboh seperti pestanya emak-emak, acara si bapak hanya diisi dengan makan, makan, dan makan lagi. Tamu-tamu kenalan dan temannya si bapak datang, duduk di kursi yang telah disediakan, lalu menunggu makanan datang. Makanan yang disajikan pun lebih sederhana dan sangat khas Maroko. Dalam satu piring bulat besar biasanya berisi daging sapi atau kambing yang dikare dan dengan roti baguette besar-besar. Satu meja, satu piring, sehingga makannya pun rame-rame. Acara yang digelar siang hari ini pun hanya berlangsung sekitar 3 jam sebelum akhirnya ditutup lagi dengan menyediakan kue-kue manis Maroko.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

Jadi Au Pair Tidak Gratis: Siap-siap Modal!

Beragam postingan dan artikel yang saya baca di luar sana, selalu memotivasi anak muda Indonesia untuk jadi au pair dengan embel-embel bisa jalan-jalan dan kuliah gratis di luar negeri. Dipadu dengan gaya tulisan yang meyakinkan di depan, ujung tulisan tersebut sebetulnya tidak menunjukkan fakta bahwa kamu memang langsung bisa kuliah gratis hanya karena jadi au pair. Banyak yang memotivasi, namun lupa bahwa sesungguhnya tidak ada yang gratis di dunia ini. Termasuk jadi au pair yang selalu dideskripsikan sebagai program pertukaran budaya ke luar negeri dengan berbagai fasilitas gratisan. First of all , jadi au pair itu tidak gratis ya! Ada biaya dan waktu yang harus kamu keluarkan sebelum bisa pindah ke negara tujuan dan menikmati hidup di negara orang. Biaya dan waktu ini juga tidak sama untuk semua orang. It sounds so stupid kalau kamu hanya percaya satu orang yang mengatakan au pair itu gratis, padahal kenyatannya tidak demikian. Sebelum memutuskan jadi au pair, cek dulu biaya apa s

Guide Untuk Para Calon Au Pair

Kepada para pembaca blog saya yang tertarik menjadi au pair, terima kasih! Karena banyaknya surel dan pertanyaan tentang au pair, saya merasa perlu membuat satu postingan lain demi menjawab rasa penasaran pembaca. Mungkin juga kalian tertarik untuk membaca hal-hal yang harus diketahui sebelum memutuskan jadi au pair  ataupun tips seputar au pair ? Atau mungkin juga merasa tertantang untuk jadi au pair di usia 20an, baca juga cerita saya disini . Saya tidak akan membahas apa itu au pair ataupun tugas-tugasnya, karena yang membaca postingan ini saya percaya sudah berminat menjadi au pair dan minimal tahu sedikit. Meskipun sudah ada minat keluar negeri dan menjadi au pair, banyak juga yang masih bingung harus mulai dari mana. Ada juga pertanyaan apakah mesti pakai agen atau tidak, hingga pertanyaan soal negara mana saja yang memungkinkan peluang kerja atau kuliah setelah masa au pair selesai. Oke, tenang! Saya mencoba menjabarkan lagi hal yang saya tahu demi menjawab rasa penasar