Langsung ke konten utama

9 Alasan Positif Mengapa Harus Ikut Kegiatan Sukarelawan



Baru-baru ini, akhir pekan saya harus tergadaikan karena diisi dengan acara ataupun festival yang ada di Kopenhagen dan area sekitarnya. Bukan dengan sengaja datang sebagai peserta atau penonton, tapi bekerja sebagai sukarelawan di acara tersebut. Iya, bahkan akhir pekan pun saya memutuskan untuk tetap bekerja.

Saya memang sudah tahu kegiatan sukarelawan sejak dulu. Tapi jujur saja, baru sekarang bisa benar-benar mengikuti dan terlibat langsung di dalamnya. Saya ingat betul, saat mendaftar ke salah satu program beasiswa pemuda ke Jerman, mereka sempat menanyakan tentang kegiatan sukarelawan yang pernah diikuti saat pengisian formulir. Saya bingung, tidak ada kegiatan sukarelawan yang pernah saya ikuti selama ini. Malu, merasa ada kesempatan yang hilang, hingga minder bercampur menjadi satu. Padahal, pengalaman mengikuti kegiatan sukarelawan adalah salah satu poin penting yang akan dinilai oleh juri.

Di kota kelahiran saya, Palembang, kegiatan sukarelawan memang nihil. Ada, sukarelawan saat demo, yang dibayar hanya dengan nasi bungkus dan sama sekali memalukan dicantumkan di dalam CV. Di beberapa kota besar di Indonesia sebenarnya kegiatan sukarelawan ini sudah cukup terjamah. Niat sudah ada, tapi cukup memberatkan bagi saya harus pulang pergi naik pesawat bekerja sebagai sukarelawan kala itu.

Bermula dari salah satu topik di buku bahasa Denmark tentang sukarelawan, akhirnya saya penasaran lalu menelusuri tentang kegiatan tersebut di Denmark. Semakin ditelusuri, semakin membuka pikiran saya tentang kegiatan ini. Dulunya, saya sempat minder karena tidak memiliki skill sama sekali di banyak bidang sosial. Yang saya tahu, kegiatan sukarelawan lebih banyak dan terbatas membantu orang-orang soal masalah kesehatan, edukasi, hingga perang. Ternyata, kegiatan sosial maknanya lebih luas dan siapapun bisa membantu di banyak bidang.

Beberapa manfaat positif pun bisa didapatkan melalui kegiatan ini. Walaupun saya baru mendapatkan kesempatan menjadi sukarelawan saat tinggal di Denmark, tapi kegiatan semacam ini memang harus dicoba oleh anak muda dimana pun berada, setidaknya sekali seumur hidup. Mengapa?

1. Mencoba melirik hal baru yang tidak ditemui setiap hari

Walaupun Kopenhagen memang tempatnya anak nongkrong, tapi kalau setiap akhir pekan harus dipenuhi dengan jadwal hedonisasi, saya juga bosan. Selain itu, hidup juga makin konsumtif dan terlalu datar. Mengisi sesuatu yang baru, dapat menciptakan variasi dan warna di akhir pekan agar tidak selalu melirik tempat belanja, tv, ataupun cuma stuck di layar ponsel mengintipi timeline. Sesungguhnya kehidupan yang baik itu tidak hanya seimbang, namun juga bervariasi.

2. Belajar hal lain yang bukan bidangnya

Selain berkesempatan menemukan variasi di masa muda, kegiatan sukarelawan juga membuat kita belajar banyak hal. Seperti yang saya jelaskan di atas, dulu saya sempat berpikir kalau kegiatan ini hanya terbatas di hal-hal tertentu saja. Ternyata, kegiatan sosial dalam membantu seseorang maknanya lebih luas.

Tidak harus menjadi sukarelawan di bidang yang kita tekuni ataupun sukai. Contohnya mencoba bekerja di teater atau museum, walaupun tidak mengerti sama sekali, membuat kita menemukan dunia lain yang jauh dari kapasitas selama ini.

Banyak acara dan festival musik, olahraga, seni, ataupun kafe non-profit yang juga membutuhkan bantuan sukarelawan. Walaupun ada beberapa pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus, namun banyak sekali bidang yang nyatanya tidak membutuhkan keahlian apapun. Yang terpenting, bawalah semangat positif, pikiran terbuka, serta keinginan yang kuat untuk membantu proyek yang akan diikuti.

3. Berlatih bahasa asing langsung tanpa papan tulis

Menjadi sukarelawan tentunya juga akan sangat menguntungkan bagi orang-orang yang sedang tinggal di luar negeri. Bertemu langsung dengan orang lokal, memaksakan lidah untuk bicara bahasa mereka. Walaupun belum sempurna, namun setidaknya sudah berusaha mencoba melatih kuping dan telinga agar lebih terbiasa.

Kesempatan seperti ini tentunya tidak bisa saya dapatkan jika hanya nongkrong di kafe atau belajar di kelas. Meskipun banyak juga kegiatan yang tidak mengharuskan sukarelawan bisa bahasa lokal, namun meminimalisir bahasa Inggris tentu tidak ada salahnya juga.

4. Belajar bersosialisasi

Tinggal di negara asing memang sangat tidak menyenangkan bagi banyak orang. Terutama bagi para pelajar, au pair, pekerja, ataupun istri yang ikut suaminya tinggal di luar negeri. Rasa kesepian dan kesendirian yang sering menyerang, biasanya menimbulkan rasa ingin menutup diri dari lingkungan luar, hingga hanya ingin menemukan teman yang satu bangsa satu bahasa saja.

Mengikuti kegiatan sukarelawan di negara asing adalah salah satu cara melawan rasa kesepian dan nyaman yang selama ini ditakuti. Tidak hanya di luar negeri, banyak juga yang tinggal di Indonesia, masih kurang mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan sosial. Bergaul bersama orang-orang dengan banyak perbedaan; bahasa, umur, agama, suku bangsa, dan latar belakang sosial, membuat kita lebih kaya pengalaman. Menutup diri dan hanya mengikuti perasaan nyaman, sama sekali tidak membuat berkembang.

5. Lebih percaya diri

Bekerja bersama tim yang sama sekali belum dikenal sebelumnya, tentunya juga bisa meningkatkan rasa kepercayaan diri. Kita yang tadinya pemalu, biasanya akan dipaksa untuk membuka mulut dan lebih cepat beradaptasi. Perasaan yang tadinya minder, akan terenyahkan ketika sadar bahwa teman satu tim pun ternyata menjadi sukarelawan untuk mendapatkan manfaat positif serupa. Mereka yang memiliki usia dan latar belakang berbeda, tidak lantas menjadi senior atau sok tahu. Intinya, kita dan mereka sama-sama ingin membantu menyukseskan satu misi sekalian menciptakan networking yang lebih luas.

6. Mengenal lebih dekat lingkungan sekitar

Aktif di kegiatan sosial tentu saja menjadikan seseorang lebih peka dengan lingkungan sekitar. Tidak hanya meningkatkan rasa kepedulian, tapi juga sadar bahwa ada banyak hal yang menarik dan patut dijadikan perhatian di sekitar kehidupan kita.

Saya yang tadinya tidak pernah ke satu daerah di Kopenhagen, akhirnya datang ke tempat tersebut karena jadi sukarelawan. Sangat menarik, karena sebenarnya daerah yang saya datangi memang lepas dari jamahan dan sangat lokal. Selain tempat-tempat baru, rasa empati pun biasanya akan muncul menyadari bahwa ternyata banyak orang yang memang jauh dari hidup nyaman dan perhatian. That's why we're here for caring.

7. Pengalaman yang tak ternilai

Mengajar anak-anak di pedalaman Kalimantan, ikut membantu korban bencana alam, masuk keluar gratis di festival keren, ataupun ikut terlibat mengkampanyekan pelarangan perburuan hiu, merupakan banyak pengalaman seru yang akan tersimpan secara memorable. Dari banyaknya pengalaman ini, tentunya akan mengubah cara pandang kita untuk berpikiran lebih positif, membuka cakrawala tentang banyak pengetahuan, hingga meningkatkan semangat juang yang tinggi.

8. Mempercantik Curriculum Vitae (CV)

Banyak para pencari kerja yang sudah nyaman dengan gelar wisuda, pengalaman kerja, ataupun kemampuan akademis yang dimiliki. Hanya beberapa orang dari mereka yang menyisipkan pengalaman di kegiatan sosial, seperti menjadi sukarelawan. Padahal, banyak perusahaan yang tidak hanya mencari karyawan berdasarkan apa yang ada di deskripsi pekerjaan. Namun juga mereka mencari orang-orang dengan kemampuan kepimpinan yang baik, memiliki perasaan empati, serta mampu bekerja di dalam tim. Tidak hanya dengan aktif berorganisasi di kampus, kita juga bisa memperolehnya dengan menjadi sukarelawan.

Selain mencari kerja, pengalaman sebagai sukarelawan pun sangat berharga di mata para pemberi beasiswa. Orang-orang yang pernah menjadi sukarelawan diyakini memiliki kemampuan menyelesaikan masalah, berorganisasi, dan jiwa kepimpinan yang baik. Percayalah, menjadi sukarelawan akan membawa manfaat yang sangat positif bagi karir di masa mendatang.

9. Bersenang-senang

Bekerja tidak hanya soal uang ataupun jabatan. Bersenang-senang pun tidak hanya sekedar membuang uang di kafe ataupun bioskop. Membantu orang di kegiatan sosial merupakan salah satu bentuk kebahagiaan yang bisa dirasakan. Bertemu teman baru, mendapatkan pengalaman seru, terlibat dalam kesuksesan acara, ataupun membantu banyak orang untuk menjadi lebih bahagia, tentunya salah bentuk kesenangan batin lainnya. Satu hal lagi, dengan jadi sukarelawan di banyak event, kita bisa keluar masuk ke acara gratis! Having fun to the fullest yooo!

Di Denmark sendiri, beberapa acara dan festival biasanya menyiapkan pesta setelah semua acara selesai. Tidak jarang, mereka mengundang para sukarelawan untuk bergabung menikmati musik, minuman, dan makanan yang lebih wah ketimbang sandwich isi tuna. So, bersenang-senang tidak hanya di diskotek dan menghamburkan uang kan? Bukankah hidup yang baik itu adalah hidup yang banyak memberi arti?


Komentar

  1. Wahh, dari Palembang kak? aku juga dari Sumsel. Tadi abis baca2 artikel kamu yang visa bekerja dan berlibur di Australia. Kebetulan aku ada rencana mau au pair kesana. Mau minta kontak kamu buat tanya-tanya boleh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Deddy, bisa hubungi saya lewat Contact Form ya ;)

      Hapus
  2. Sungguh sangat menginspirasi ini
    Bangga banget sama anak anak dari bumi Srwijaya
    Wong kito galo☺☺☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yesh!! Bangga jadi wong Plembang ;>

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa