Fakta Tentang Bahasa Denmark

Wednesday, 21 December 2016



Wohooo.. Sudah nyaris satu tahun yang lalu saya membuat postingan tentang bahasa Denmark, tahun ini saya sudah masuk Modul 4. Apa yang menarik dari modul ini? Pelajaran tata bahasa makin sulit, tapi saya belum bisa juga bicara dengan baik.

Di kelas saya, mayoritas siswanya memang nyaris 90% bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Daripada capek-capek memikirkan kata per kata dan menyusun hingga jadi kalimat dalam bahasa Denmark, saya dan mereka keseringan berganti ke bahasa Inggris saja. Jadi bisa dibayangkan betapa beratnya perjuangan siswa kelas saya di bagian speaking bahasa Denmark ini.

Teman-teman au pair ataupun non-au pair yang dulu sempat mengambil kelas bahasa Denmark, banyak yang memutuskan menyerah. Begitu pun juga saya. Meskipun sempat up dan down menyusun mood datang ke sekolah, akhirnya saya putuskan untuk kembali datang ke kelas menemui teman-teman seperjuangan. Semakin dipelajari, semakin banyak fakta menarik soal bahasa bangsa Viking ini.

1. Datar dan tanpa irama

Bahasa Denmark diakui sebagai bahasa terjelek di Skandinavia oleh banyak orang. Tidak seperti bahasa Swedia yang lemah gemulai dan bernada, ataupun bahasa Norwegia yang lebih jelas cara bacanya, bahasa Denmark lebih mirip orang lagi kumur-kumur. Tidak hanya super datar, tapi nyaris semua huruf dimakan.

Gara-gara label "terjelek" namun juga tersulit inilah, banyak pendatang memutuskan malas belajar bahasa Denmark. Alasan lainnya, tanpa bahasa Denmark pun, mereka tetap bisa bertahan hidup di kota-kota besar hanya dengan bahasa Inggris.

2. Rigsdansk

Sama seperti negara mana pun, tiap area biasanya memiliki dialek atau aksen di setiap bahasa resmi mereka. Di Denmark, dialek orang Aalborg berbeda dengan orang Ringkøbing. Pun begitu dengan dua dialek tersebut, sangat berbeda dengan dialek orang-orang yang tinggal di sekitar area Kopenhagen.

Rigsdansk atau rich Danish sebenarnya merupakan tata bahasa resmi yang dipakai di Denmark hingga saat ini. Rigsdansk biasanya diajarkan di sekolah ataupun dipakai saat acara formal.

Lucunya, rigsdansk sering dikaitkan oleh bahasa orang-orang middle class di tahun 1800-an. Di tahun 1970-an, karena pusat pemerintahan ada di Kopenhagen, rigsdansk menjadi tata bahasa resmi sekaligus dialek tetap para Copenhageners ataupun orang-orang yang tinggal di area Sjælland.

Karena perbedaan dialek inilah, orang-orang Sjælland biasanya kesulitan mengerti dialek orang Jutland ataupun Bornholm. Mereka lebih sering disebut bahasa petani ataupun bahasa lower class karena tidak menggunakan standar bahasa Denmark yang dipakai oleh para Copenhageners.

3. Terkesan kasar

Saat belajar bahasa Inggris, kita sudah diajarkan soal pembagian bahasa formal dan non-formal. Untuk memanggil orang yang tak dikenal pun, kita tahu harus memanggil mereka dengan sebutan Sir atau Madam, jika tidak tahu nama belakang orang tersebut. Pun begitu saat saya belajar bahasa Prancis dan Belanda sewaktu di Belgia.

Di Denmark (dan juga bahasa Nordik lainnya), formalitas bukanlah ketetapan dari standarisasi satu bahasa. Selain kata undskyld yang berarti maaf (atau excuse me), saya tidak mengenal kata lemah lembut lainnya.

Atmosfir antara siswa dan guru pun tercipta dengan sangat kasual. Yang tua tidak gila hormat hanya untuk dipanggil Pak, yang muda pun tidak perlu pikir panjang hanya untuk bersikap sopan.

Ketiadaan bahasa formal, logat yang datar dan tanpa berirama, cocok saja jika bahasa ini terdengar cukup kasar di telinga.

4. Betapa liberalnya bahasa ini

Orang Denmark termasuk yang sangat bebas dalam pemakaian bahasa mereka. Tidak seperti orang-orang di Britania Raya yang sangat sopan dan takut untuk memakai kata-kata kasar, orang Denmark justru sebaliknya.

Kata-kata makian yang bermakna seksual, kasar, dan tidak pantas dianggap biasa saja digunakan dalam percakapan sehari-hari. Karena terpengaruh tontonan Amerika, anak-anak kecil di Denmark sudah sangat akrab dengan F! word. Belum lagi para orang dewasa yang sering lepas kontrol mengucapkan kata serupa.

Di lirik lagu, deadline koran, ataupun majalah, kata-kata pinjaman dari Inggris-Amerika yang bermakna negatif sering dipakai. Karena hal inilah, tidak heran kalau orang Denmark juga dicap sebagai bangsa yang hobi cursing.

Host kid saya yang baru berumur 5 tahun, bebas saja mengatai orang tuanya. Saya pernah mendengar gadis kecil ini sampai berteriak-teriak, "Ayah bodoh!" atau "Betapa bodohnya orang tua ku ini!". Seorang teman pernah bercerita, sepupunya yang berusia 13 tahun, bebas saja mengatakan, "Dasar ibu bodoh, such a b**ch!"

Reaksi orang tua mereka? Biasa saja. Malah hanya bertanya dengan lemah lembut, "Kenapa? Kenapa ibu sampai dikatai bodoh?"

Dulu, saat satu kata kasar keluar dari mulut kecil kami, orang tua saya tidak segan-segan mengambil cabe merah atau rawit untuk dimasukkin ke mulut kami. Memang tidak pernah terjadi karena hanya menakut-nakuti. Tapi jelas sekali, kalau no place for bad words at home!


No comments:

Care to leave your comments?