REYKJAVÍK: Menelusuri Kota Sepi Bergaya Eropa Klasik di Akhir Pekan

Sunday, 11 December 2016



"Kamu jadi pergi ke Irlandia? Eh, yang terkenal dari sana apa sih?" tanya seorang kenalan. "Westlife!" jawab saya.

"Kak, jadi pergi ke Sislandia?" tanya Rika, beberapa saat setelah melihat status terbaru saya di BBM. "Hah? Emang ada di peta?" tanya saya balik.

ISLANDIA, sodara-sodara! Saya liburan ke Islandia, bukan ke kedua tempat yang Anda sudah sebutkan. Seriusan, saat saya menyebutkan Reykjavík, banyak yang tidak tahu dimana letak kota ini berada.

Dari letak geografisnya pun, banyak yang bingung, negara ini masuk bagian Eropa atau tidak. Apakah visa Schengen bisa digunakan atau mesti apply visa baru. Iya bisa. Islandia masuk bagian negara Nordik yang letaknya paling utara Eropa. Karena masuk salah satu negara Schengen, tidak perlu lagi apply visa baru untuk datang kesini.

Waktu terbaik mengunjungi Islandia adalah saat musim dingin dan musim panas. Banyak sekali orang yang sengaja datang hanya untuk memburu Aurora Borealis ataupun menunggang kuda saat rumput sedang hijau. Sialnya, banyak aktifitas berpetualang di Islandia harus dilakukan hanya dengan dua pilihan; ikut tur atau menyewa mobil sendiri lalu menuju tempat yang ingin dikunjungi. Tempat terbaik menikmati alam Islandia pun sebenarnya jauh dari pusat keramaian di ibukota.

Reykjavík, ibukota Islandia, merupakan kota terbesar namun berpenduduk sedikit. Tidak banyak yang bisa dilakukan di kota ini kalau memang berniat tinggal lama. Saya mengunjungi Reykjavík di akhir pekan hanya untuk mendapatkan gambaran bagaimana hiruk-pikuk negara yang letaknya di tengah Samudera Atlantik ini.

DISTRIK HUNIAN REYKJAVÍK


Penginapan yang saya pilih memang terletak di area strategis yang tidak jauh dari pusat kota, namun juga berdekatan dengan ketenangan hunian penduduk Reykjavík. Suasana kontras terlihat jika saya memutuskan mengambil jalan kanan ataupun kiri. Di bagian kanan penginapan saya, hanya satu menit jalan kaki, saya sudah sampai di area pedestrian turis yang sangat terkenal, Laugavegur. Sementara kalau memutuskan mengambil jalan ke kiri, saya menemukan ketenangan, raut wajah datar orang Islandia, serta perumahan bergaya Eropa lama.

Ketika melihat gaya rumah dan apartemen di Reykjavík ini, saya seperti melihat Eropa di era 60an. Memang, saya belum pernah ke Eropa di tahun itu, saya juga belum lahir. Namun suasana sepi, halte bus yang sendiri berdiri kokoh, serta arsitektur bangunannya, membuat saya melihat sisi klasik Eropa sebelum menjadi modern. "It seems like a village!" komentar kakak saya saat ditunjukkan foto-foto Reykjavík via BBM.

Ketiadaan transportasi umum semisal tram dan metro pun membuat penduduk Reykjavík lebih nyaman mengendarai mobil pribadi mereka. Sama seperti halnya di Indonesia, di jam-jam sibuk pun, antrian mobil saat lampu merah bisa sangat panjang.

Saat hari mulai gelap, suasana kalem dan romantis bisa saya temukan hanya dengan melewati distrik hunian penduduk Reykjavík. Si pemilik rumah mulai menyalakan lampu yang sedikit temaram jika dilihat dari luar. Karena saya datang di awal musim dingin, banyak juga keluarga yang sudah menyalakan lampu-lampu kecil khas Natal di rumah ataupun halaman mereka.

PERLAN


Saya harus menunggu hari benar-benar terang dulu sebelum datang ke tempat ini. Jangan harap bisa menemukan matahari sebelum jam 10.30 pagi di Reykjavík saat musim dingin. Good side-nya, saya bisa jadi lebih lama tidur.

Perlan, atau disebut mutiara dalam bahasa Islandia, adalah salah satu landmark terbaik di Reykjavík. Bangunannya sendiri sedikit kontras dari gaya hunian klasik yang sudah saya lewati. Arsitektur dan interiornya sangat mengagumkan dan modern. Meskipun sedikit kurang dimanfaatkan oleh penduduk Reykjavík, namun Perlan memiliki high-class restoran, kafe, serta sering kali mengadakan pameran kaset dan buku. Lucunya, kita juga melihat semburan air panas replikanya The Golden Circle yang terkenal itu di dalam bangunan ini.

Datanglah ke Perlan untuk mendapatkan panorama terbaik Reykjavík. Dari balkon restoran yang ada di lantai 4, kita bisa melihat pemandangan kota Reykjavík hingga 360° dari ketinggian yang sangat breathtaking. Selain perumahan berwarna-warni, hamparan gletser dan sungai es yang mencengkram kota Reykjavík are so freaking beautiful! Kita juga bisa menikmati magisnya Reykjavík saat makan malam di restoran, ataupun sekedar menyesap kopi di kafe. Perfect!

Sebelum datang kesini, siapkan juga kamera berdaya tangkap tinggi untuk mengambil pemandangan kota dan gunung es secara lebih jelas.

HARPA


Harpa atau biasa dikenal dengan Icelandic Opera House sebenarnya memiliki hubungan baik dan buruk dengan penduduk Reykjavík. Pembangunannya sendiri dikerjakan saat keadaan ekonomi Islandia sedang berada di puncak, namun harus dihentikan ketika Islandia sedang mengalami krisis keuangan. Sempat adanya keraguan kalau bangunan ini akan selesai, namun nyatanya, it's here and beautiful!

Kabar yang saya dengar, Islandia sempat meminjam banyak uang dari negara tetangga hanya untuk membuat konstruksi bangunan ini selesai. Tak tanggung-tanggung, uang yang harus dipinjam untuk membangun Harpa pun sangat fantastis jumlahnya. Namun karena meninggalkan hutang yang banyak, penduduk Reykjavík juga kecewa dengan hal itu. Di sisi lain, banyak juga diantara mereka yang mulai mencintai salah satu bangunan tercantik dan modern ini.

Selain arsitekturnya yang mengagumkan,  Harpa memiliki kafe, restoran, toko kaset 12 Tónar dan Epal, sebuah tempat dimana kita bisa menemukan barang-barang khas desain Islandia dan negara-negara Nordik. 

LIVE SHOW WAJIB TONTON


"The show is much more than a stand up comedy!" bunyi salah satu tagline dilampiran brosur.

Sebelum ke Islandia, saya sudah mendengar reputasi acara ini ketika memutuskan liburan ke Stockholm. Di Swedia, ada juga acara live serupa berjudul How To Become Swedish in 60 Minutes. Usut punya usut, ternyata acara yang ada di Swedia terinspirasi dari kesuksesan komedi show dari Islandia.

Kalau tidak keberatan mengeluarkan 4400 ISK atau €38, sebenarnya saya sangat merekomendasikan menonton acara live ini di Harpa. Seorang host asli Islandia, akan mengajarkan kita menjadi orang Islandia hanya dalam waktu 60 menit. Tidak hanya menceritakan tentang sejarah Islandia dan karakteristik orang-orangnya, acara ini pun dikemas dengan joke-joke ringan ala orang Islandia.

Setelah menonton acara ini pun, saya jadi paham soal karakteristik penghuni Eropa Utara yang notabene nyariiiis berkarakter serupa. It's a funny way to learn about the icelandic and its culture from the stage!

LAUGAVEGUR


Seorang pendatang pernah bercerita, di tahun 2008, saat dimana Islandia sedang mengalami krisis keuangan, Laugavegur hanyalah jalanan sepi tanpa turis. Kita bisa saja berjalan sepanjang jalanan ini dan hanya menjumpai lima orang pejalan kaki. Di malam hari, bar sangat sepi dan para turis biasanya sangat menarik perhatian orang lokal. Mereka sangat ingin menanyakan kedatangan para turis ini ke Reykjavík, "what are you doing here? What do you do?"

Sekarang masa-masa itu sudah hilang. Siapa sangka, karena rasa penasaran banyak orang dengan Reykjavík, Laugavegur menjelma menjadi area yang tidak pernah sepi turis. Saat saya berjalan-jalan di Sabtu malam, bar mulai ramai dari jam 9. Belum lagi mobil yang lewat di jalan ini memang rata-rata berisikan anak muda lokal yang siap menikmati hiburan malam di tengah kota.

Di siang hari, Laugevegur adalah salah satu tempat terbaik menemukan banyak restoran, kafe, toko-toko khas desainer lokal, hingga wol terbaik dari domba Islandia. Salah satu tempat makan terbaik dan favorit saya di Laugavegur adalah Noodle Station.

Menyusuri Laugavegur juga tidak lengkap tanpa berkunjung ke gereja tertinggi di Islandia, Hallgrímskirkja. Selain Perlan, kita juga bisa memotret pemandangan terbaik Reykjavík dari tempat ini. Tidak gratis memang, kocek yang harus dikeluarkan adalah 600 ISK atau €5 saja. Datanglah ke Hallgrímskirkja sebelum jam 5 sore saat tower belum ditutup untuk umum.


No comments:

Care to leave your comments?