Islandia: Mengejar Paus Hingga Mabuk Laut

Monday, 20 March 2017



Meneruskan cerita di malam sebelumnya saat perburuan aurora yang berakhir tragis, siang ini jadwal lain saya mengikuti tur melihat paus di laut lepas. Tur yang akan berlangsung selama 3 jam ini dijadwalkan akan dimulai jam 1 siang di tempat dan kapal yang sama dengan yang dipakai semalam.

Ada cerita lucu tapi juga sedih dari kapal-kapal yang sedang terjejer rapih melabuh di pelabuhan. Kabarnya, kapal untuk melihat tur dan kapal untuk menangkap paus saling berdekatan. Sangat ironis ketika para turis membayar mahal untuk melihat paus hidup di laut lepas, namun di sisi lain, banyak nelayan lokal yang mencoba memburu paus untuk dijadikan santapan restoran.

Kalau sedang jalan-jalan di Laugavegur, coba saja intip menu-menu restoran yang ada di area tersebut. Selain menyajikan domba Islandia, menu terkenal lainnya pastilah paus ataupun burung Puffin. Siapa lagi yang tertarik mencoba menu eksotis tersebut kalau bukan para turis. Berjiwa petualang dan berkantong lebar? Silakan mencicipinya :)

Sepuluh menit kurang dari jam 1 siang, saya sudah berada di pelabuhan dan menunjukkan bukti booking saya ke dua orang karyawan tur di depan kapal. Kasihan sekali melihat dua karyawan ini, hidung mereka sampai meler-meler karena kedinginan diterpa angin ganas Reykjavík. Entah sudah berapa lama mereka berdiri disana menyambut dan mengecek tiket penumpang.

Tanpa delay, jam 1 teng kapal sudah naik jangkar dan meninggalkan pelabuhan. Berkaca dari pengalaman semalam, saya memutuskan untuk tidak turun ke bawah dan memakai si baju astronot. Karena sudah cek di Google bagaimana mengatasi mabuk laut, saya akhirnya langsung saja mencari tempat duduk di bagian luar dek kapal. Tidak hanya saya, banyak juga orang yang ingin melihat paus secara langsung, lalu mencari tempat duduk di bagian luar.

Salah satu alasan mabuk laut biasanya disebabkan karena indera keseimbangan, seperti mata, mengalami konflik. Akibatnya, otak menjadi bingung karena tidak melihat ada benda yang bergerak namun indera lain merasakan adanya gerakan. Konflik persepsi ini akan memicu rasa mual.
Cara terbaik menghindari sensasi ini adalah tidak melihat benda statis di dalam kendaraan seperti membaca atau menatap layar (laptop, HP, dll). 
Saat berada diatas kapal, melihat air dan gelombang akan memungkinkan otak melihat sesuatu yang bergerak sehingga mengurangi konflik persepsi pada otak. Jadinya dari awal kapal sudah meninggalkan pelabuhan, saya seperti orang linglung yang hanya bengong memerhatikan gelombang air laut. 
Apakah itu membantu? Iya, awalnya. Hingga suatu ketika, saat saya mulai kedinginan karena diterpa angin laut habis-habisan, saya memutuskan untuk bangkit dan pindah ke bagian dalam kapal. Sialnya, karena kapal masih dalam keadaan goyang, perut saya mulai berulah lagi. Saya yang semula sudah mengantisipasi, akhirnya lagi-lagi mesti kena mabuk laut juga.
Saat kapal mulai bergerak lambat hingga turun jangkar mengamati jika ada paus yang naik ke permukaan, saya akhirnya teler dan tidur. Proses pengamatan ini berlangsung sekitar 30 menit tanpa ada tanda-tanda si paus akan muncul. Sepuluh menit berselang, akhirnya seorang pemandu tur mengumumkan kepada penumpang untuk mengakhiri tur kali ini.  
Sama halnya dengan memburu aurora, untuk melihat paus naik ke permukaan pun termasuk proses alami alias untung-untungan. Banyak juga nahkoda kapal ataupun pemandu tur yang sebenarnya belum pernah melihat paus secara langsung. Meskipun nahkoda kapal sudah tahu dimana letak tempat terbaik si paus akan muncul, namun tetap saja, hari itu saya masih zonk.
Mata saya sempat terbuka sebentar melihat gletser putih nan cantik yang kami lewati ketika hendak kembali lagi ke pelabuhan. Banyak orang yang rasa kecewanya segera padam saat berhasil mengabadikan foto si gletser dengan kamera mereka. Saya? Balik tidur.
Catatan:
- Angin Reykjavík kencangnya gila-gilaan menjelang musim gugur ke dingin. Jangan lupa untuk memakai mantel cukup tebal dan anti angin, serta aksesoris lengkap-lengkap seperti beanie hat, syal, sarung tangan, penutup muka, dan boot tinggi. Lupakan dulu soal gaya kalau memang ingin ikut tur. Nobody cares!
- Sama seperti tur aurora borealis, peserta tur yang tidak bisa melihat paus hari itu, masih bisa menggunakan kode booking tiket lama untuk mengikuti tur selanjutnya. Jaminan agen tur ini: ikut dan lihat lagi, sampai puas!
- Untuk mengantisipasi mabuk laut, cobalah untuk mengonsumsi banyak air putih dan obat anti mual sebelum mengikuti tur. Kalaupun memang masih mual di atas kapal, tidak usah malu dan takut untuk muntah. Peserta tur lain biasanya juga banyak yang mabuk laut, kok.


No comments:

Care to leave your comments?