Saya Bosan Travelling

Tuesday, 18 July 2017



Sekarang saya di Paris lagi untuk ketiga kalinya. Sebelum sampai Paris, badan dan koper saya ini sudah melompat ke beberapa negara seperti Austria, Slovakia, Jerman, dan Islandia. Bayangkan, dalam satu hari, saya bisa ada di 3 negara. Makan pagi di Bratislava, makan siang di Berlin, lalu makan malam di Reykjavík. Saya beruntung? Iya. Saya bahagia? Mungkin. Saya lelah? Iya! Pasti!

Saya tidak pernah tahu kalau saya juga bisa bosan jalan-jalan, apalagi di Eropa. Kelelahan terbesar adalah saat pulang dari Cina awal Juni lalu. Belum penuh mengecas tenaga selama 3 minggu, saya harus terbang lagi ke Barcelona karena tiketnya sudah dibeli dari 6 bulan yang lalu. Tidak sampai seminggu pulang ke Denmark, saya masih mengantongi tiket pesawat ke Vienna. 

Kalau ada yang mengatakan saya kaya raya, mungkin mereka salah. Meskipun di tahun 2017 ini saya hampir tiap bulan travelling ke banyak negara, tapi sesungguhnya uang saku perbulan lah yang saya gunakan untuk membiayai ongkos perjalanan. Tidak mau rugi, selama masih tinggal di Eropa, alasan saya. Asal kalian tahu, 80% perjalanan saya di Eropa ini pun, saya lakukan sendiri. Jadi bisa dibayangkan betapa kesepiannya saya kadang.

Puncaknya adalah sekarang, saat saya datang lagi ke Paris. Sebelum ke Paris, saya sempat ganti pesawat dulu di Berlin. Sempat membuncah perasaan ingin cepat-cepat pulang ke Kopenhagen dan berlindung hangat di bawah selimut kamar. Saya tahu, luar negeri tidak diciptakan untuk kenyamanan. Tapi sekali lagi, saya mulai bosan dan hanya ingin cepat pulang. No matter how much you love to travel, if you do it for long or often enough, you will get sick of it. 

Perasaan seperti capek sendirian mengangkut koper kesana kemari, naik turun tangga stasiun, hingga mengangkat ke kabin pesawat. Bosan mendengar dengkuran lelah para traveller yang sekamar dengan saya di hostel. Bosan dengan suara loker dan gemerincing kunci yang selalu mengganggu tidur di pagi hari. Lelah mendengar serutan resleting penghuni kamar yang siap packing dan check out. Bosan mencari WiFi yang kadang sekalinya ketemu, kacrutnya bukan main. Belum lagi perasaan kecewa setelah mendapati kamar hostel yang bising karena berdekatan dengan jalan raya, perlengkapan dapur yang tidak lengkap, ataupun toilet yang jorok. 

Kesempatan bertemu orang lokal, melihat tempat berarsitektur keren, mencoba makanan setempat, hangout di kafe, bukan lagi hal yang menarik setibanya saya di tempat baru. Padahal, justru itulah momentum berharga yang bisa saya dapatkan saat travelling. Sering kali saya mendapati diri yang hanya ingin berleha-leha di kamar, tidak bicara dan bertemu dengan seorang pun, ataupun hanya menunggu saat pulang. 

Back to Paris, I start to hate the locals so bad! Orang-orang lokal yang biasanya selalu saya ingin jumpai, menjadi sangat menyebalkan. Kafe-kafe ala Prancis yang cocok untuk menikmati kopi dan croissant, saya acuhkan begitu saja. Acara kultural seperti nonton kabaret, kunjungan ke museum, atau menemukan hidden gems pun, saya coret habis-habisan dari to-do list. Things start to look the same all over Europe.

Saya tidak mengeluh. Travel burnout atau keadaan dimana para traveller merasa jenuh, muak, dan lelah travelling adalah hal yang lumrah. Travelling itu melelahkan. Packing, unpacking, staying in dorm rooms and hotels, booking flights, planning bus routes, reading maps…it all gets a little bit exhausting. Travelling menyenangkan di awal-awal, tapi kalau dilakukan secara terus-terusan, kenyamanan saya merasa dirampas dan ingin secara mengecas kembali di tempat, yang disebut "rumah".


2 comments:

  1. sehari bisa ketiga negara itu lg menjalankan au pair ataundiluar itu kak? Seru baca2 blog kakak sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. FYI, saya gak pernah liburan bareng hf selama au pair di DK. Jadi semua travelling pure banget holiday di luar kerjaan ;>

      Delete