Langsung ke konten utama

Pengalaman Terbang dengan Thai Airways Rute Kopenhagen - Bangkok


Di tahun 2017, Thai Airways dinobatkan sebagai maskapai dengan katering dan kelas Ekonomi terbaik. Bertepatan dengan jadwal kepulangan saya di Indonesia, Brian akhirnya memesankan tiket Thai Airways yang memang saat itu adalah yang paling murah dan paling cepat. Belum pernah naik maskapai asal Thailand ini, akhirnya saya hepi-hepi saya dibelikan tiket tersebut.

Rute penerbangan kali ini akan dilayani dari Kopenhagen ke Jakarta. Tapi berhubung saya tidak terlalu banyak mengambil gambar saat transit di Bangkok, jadinya saya hanya merangkum pengalaman naik Boeing 777-300 nonstop selama nyaris 11 jam hingga Bangkok saja. Tapi secara keseluruhan, pengalaman naik penerbangan lanjutan menuju Jakarta, pesawat dan pelayanannya pun sama.

Berat bagasi 

Di website tertulis kalau bagasi yang boleh dibawa untuk penumpang kelas ekonomi adalah 30 kg**. Jujur saja, saya tinggal di Denmark sudah 2 tahun. Mana mungkin bisa membawa pulang semua barang ke dalam koper yang hanya bermuatan 30 kg. Belum lagi coat tebal dan boot berat yang harus saya lupakan untuk dibawa pulang. Buku-buku dan banyak peralatan gambar pun mau tidak mau ditinggalkan dulu di rumah Louise.

Di malam sebelum keberangkatan, saya dibantu Adel, teman asal Indonesia, berulang lagi bongkar muat isi koper hanya untuk mendapatkan gambaran angka 30 pas di timbangan. Tidak bisa. Berulang kali juga isi koper saya tetap berujung di angka 36 atau 34 kg. Padahal semua baju sudah saya masukkan ke dalam space maker, namun terpaksa harus dibongkar lagi juga.

Setelah bongkar-timbang-bongkar-timbang lebih dari 10 kali, akhirnya saya harus pasrah dengan timbangan koper yang mantap di angka 32 kg. Seingat saya dulu saat pulang dari Belgia menggunakan Garuda Indonesia, ada kebijakan dari beberapa maskapai yang memperbolehkan kelebihan bagasi maksimum 2 kg dari batas normal. Ya sudah, saya dengan percaya diri bahwa Thai Airways akan berlaku sama dengan Garuda Indonesia.

Untuk mengakali isi koper check-in yang sudah 32 kg, saya terpaksa harus membawa 3 tas besar ke dalam kabin untuk mengangkut sisa barang yang tidak muat. Bayangkan, saya harus membawa 1 koper kabin ukuran 55L, satu tas backpack ukuran 44L, satu tas tangan berisi laptop, serta tas kecil yang menggantung di pundak ke dalam kabin! Oh my!!

**per April 2019, Thai Airways hanya memberikan bagasi 20kg bagi tiket berkode L/V/W. Kecuali untuk tiket yang dipesan sebelum 31/4/2019, ketentuan lama masih berlaku.

Proses check-in

Sehari sebelumnya, saya sudah check-in online via website mereka. Selain check-in, penumpang juga bisa memilih kursi dan makanan khusus maksimum 24 jam sebelum terbang. Karena sudah memilih kursi sebelumnya, saya kosongkan saja request makanan.

Saat menimbang bagasi di konter check-in, petugas konter mengatakan kalau koper saya kelebihan bagasi 2 kg yang artinya sudah overweight. Petugas tersebut juga menawarkan jika saya ingin membayar kelebihan bagasi senilai 50 USD per kilo. Karena sayang duit, saya pun keluar dari konter dan berpikir untuk menaruh 2 kg barang ke tas yang akan dibawa ke kabin.

Brian dan Louise yang saat itu ikut mengantar, sampai heran kenapa saya balik lagi ke belakang padahal urusan koper belum selesai.

"It's overweight 2 kilogram," kata saya.

"Cannot we just pay for it?" tanya Brian.

"No, Brian. It's okay. Saya keluarkan saja isinya."

"No, no, no. I will help you," kata Brian mantap sambil menuju konter check-in kembali.

Meskipun Brian berusaha untuk nego 2 kg ke petugas konter yang ganteng itu, tapi tetap saja akhirnya kelebihan bagasi harus tetap dibayar. Kata si petugas, takutnya akan ada masalah saat di Bangkok menuju Jakarta nanti. Thank you, Brian!

Untung saja, petugas konter hanya sibuk mengawasi koper check-in sehingga tas-tas yang akan saya bawa ke kabin, aman! Bayangkan kalau si petugas ikut memeriksa berapa banyak tas kabin saya, bisa-bisa sama saja membeli tiket baru ini namanya.

In-flight service

Pesawat kali ini menggunakan formasi kursi 3-3-3 untuk kelas ekonomi. Tapi karena tidak ingin bersikutan dengan banyak orang, saya memilih kursi nomor 39 di dekat toilet yang memang dikhususkan untuk 2 orang saja.

Selain katering, tahun ini kursi kelas Ekonomi Thai Airways juga dinobatkan sebagai kursi nomor 3 terbaik di dunia. Badan saya yang tidak terlalu tinggi merasa super comfy karena banyaknya space yang tersedia di kursi berukuran 32" ini.



Meskipun repot di awal karena harus mengangkut koper kecil dan backpack ke atas kabin, tapi karena saya memilih kursi di dekat jendela, jadinya masih banyak ruang tersedia untuk menaruh tas lain. Satu hal lagi yang saya suka, kursi Thai Airways terdapat senderan kaki di depan dan belakang yang sangat berguna untuk merilekskan kaki saat tidur. Walaupun saya memilih kursi paling belakang di kabin tersebut, namun kursi tetap bisa disandarkan maksimal.

Di sisi kursi juga terdapat colokan USB untuk mengecas hape. Selain earplugs, penumpang kelas ekonomi juga mendapatkan selimut dan bantal berwarna ungu khas Thai Airways. Sayangnya, hiburan selama di dalam pesawat tidak terlalu oke. Genre film dan musiknya tidak satu selera dengan saya. Jadi selama perjalanan, saya kebanyakan tidur.

Oh iya, saya cukup amazed dengan jumlah penumpang Thai Airways yang kala itu kebanyakan didominasi pasangan beda negara, ceweknya Thai, lakinya bule. Kebanyakan dari mereka ceweknya cantik dan muda, lalu si laki sudah kelihatan tua. Hmm.. liburan ke rumah mertua? :p

In-flight meal

Karena sedang mengikuti program diet vegetarian, saya memang biasanya memesan menu khusus sebelum keberangkatan. Plusnya, makanan tersebut akan diantarkan terlebih dahulu saat kita berada di dalam pesawat. Jadi daripada kelamaan menunggu pramugari membagikan makanan, saya biasanya sudah mulai menyuap makanan duluan.

Untuk penerbangan kali ini, saya memang sengaja tidak memesan makanan karena siapa tahu kursi saya bisa di-upgrade seperti kasusnya Air France dan KLM dulu. Hehe. Gambling sih memang, tapi boleh juga dicoba. Meksipun tidak mendapat upgrade di penerbangan kali ini, tapi saya cukup puas dengan pelayanan di kelas ekonomi.

Menu makan malam ayam kari dengan piring porselen 

Sarapan pagi omelet dan sosis sapi 

Sialnya, saat proses pembagian makan malam saya malah ketiduran. Bangun-bangun, saya sudah mendapati banyak penumpang yang malah selesai menyantap makanan mereka. Sekitar 15 menit kemudian, saya memencet bel dan bermaksud meminta pramugari membawakan makanan saya.

"Can I get my food?" tanya saya.

Pramugari Thailand ramah itu pun hanya menjawab tanpa memberikan opsi, "maaf, makanan kami hanya tersisa babi."

Waduh!

"Kamu tidak makan babi? Bagaimana kalau mie?"

Saya tersenyum tapi ciut dan ragu.

"Tunggu ya, coba kami periksa dulu."

Sekitar 5 menit kemudian, si pramugari datang lagi dan memberi kabar gembira kalau masih ada menu ayam kari di pentry. Tanpa babibu, langsung saya iyakan. Ya daripada makan mie.

Transit di Suvarnabhumi

Secara keseluruhan, saya sebenarnya cukup puas dengan pelayanan di kelas ekonomi Thai Airways kali itu. Pramugarinya ramah, muda, dan sigap, kursinya enak, meskipun makanannya...ya, cukup okelah.

Tapi kerepotan masih terus berlanjut saat transit di Suvarnabhumi. Untuk naik ke lift dan pemeriksaan barang pun, antriannya puaanjang sekali! Saran saya, tidak perlu pakai sepatu aneh-aneh, cukup kets ringan atau ballerina saja. Malas sekali kan harus copot sana sini dulu.

Karena hanya memiliki waktu transit 2 jam, saya tidak sempat keliling bandara dulu. Pun begitu, saya tidak tertarik. Badan saya rasanya pegal-pegal semua membawa banyak tas kabin. Penerbangan pun belum usai, karena saya harus menuju Jakarta dan Palembang untuk rute selanjutnya.

Saya tidak kecewa dengan penerbangan kali ini, namun saya akan berpikir dulu kalau harus naik Thai Airways lagi. Capek di jalan dan transit di bandara itu, lho!




Komentar

  1. Aku baca ini lagi dengan usaha dapat pencerahan nanti untuk pulang ke Indo. I have the same problem as u ka, mencoba cari akal buat muatin semua barang. Anyway, koper kabin di timbang ga ka?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak ditimbang. Lagian kalopun ditimbang, semua barang kabin ku dititipin dulu ke yang nganter di bandara. Pas udah kelar check-in, aku ambil ;>

      Hapus
  2. Halo,,
    Mau tanya.. Kemarin itu brp koper yg dibawa utk bagasinya?
    Kalau bawa 2 koper 24inch dgn total berat dua2nya 30kg gitu boleh gak ya?
    Makasih banyaaakk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo..

      Aku kemaren cuma bawa 1 bagasi ukuran 30 inch. Jadinya semua dimasukin disitu sampe 30kg :)

      Boleh kok bawa 2 koper asal total semuanya 30kg.

      Hapus
  3. hi..
    waktu transit apa perlu ambil bagasi? dan check in ulang?
    kalau ambil penerbangan yg transit cm satu jam, kira-kira gmn ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak perlu ambil bagasi lagi atau check-in ulang, udah diteruskan langsung sama orang maskapainya.

      Pihak maskapai biasanya udah mengatur jadwal sedemikian rupa biar pas sama jadwal penerbangan selanjutnya. Satu jam possible banget kok. Aku kemaren di Suvarnabhumi cuma 20-30 menitan doang udah duduk di gate baru lagi ;)

      Hapus
    2. Halo kak, aku lagi nyari2 info juga nih krn mau terbang pake thai airways. Aku ada penerbangan dr SIN-VIE transit di bangkok 3 jam, apakah harus lewat imigrasi dulu? atau langsung cari gate nya saja?

      Hapus
    3. Kalo mau keluar bandara & jalan2 ke kota Bangkok, ya mesti lewat imigrasi. Kalo cuma transit & stay di bandara doang, langsung aja menuju gate :) Bagasi udah langsung dioper sama pihak maskapai kok.

      Hapus
    4. thank you so much for your reply! biasa anxiety sebelum berangkat dan jarang jalan2 k LN, kali ini bawa keluarga pula, jd mau make sure hihihi.. again, thank you!

      Hapus
  4. bang, pas transit dari pesawat 1 ke pesawat 2, apa kita juga masih di buat repot urusin barang bawaan kita ?? yg harus menenteng dari pesawat 1 menuju ke pesawat 2 ??
    atau semua barang barang kita dari peswat sebelumnya sudah di atur petugas menuju ke pesawat selanjutnya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo maksudnya barang bawaan bagasi, ya gak usah repot2 lagi. Udah diurus semua sama petugas bandara. Pas transit tinggal jalan aja ke gate yang bener.

      Kecuali barang bawaan yang kamu bawa ke kabin. Gak ada yang bisa bantuin, jadinya semua mesti diangkut pas pindah pesawat.

      Hapus
  5. makaish infonya kak... :3

    btw maap kirain penulisnya cowok, eh taunya cewe :v
    maap keun...

    BalasHapus
  6. over 2kg bayar brpa kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku kemaren kena DKK 600 atau sekitar 1,2 jutaan. Sekarang juga katanya Thai udah ngurangin bagasi sampe 20 kg aja.

      Hapus
  7. Kalau pesan 2 tiket kan otomatis dapat bagasi 20+20 kg. Apakah bisa digabung jadi 40 kg? maksudnya kalau bawa 1 koper seberat 35 kg apakah ga masalah atau harus masing2 max 20 kg?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak, Mas. Satu tiket tetap berlakunya 20kg, jadi tiap orang wajib bawa 20kg maksimal, tapi tasnya boleh dipisah2, gak hanya 1.

      Hapus
  8. min td mimin bilang koper kabin lagi lolos aja ga kenak cek petugasnya,sebenarnya ditimbang ga sih koper kabinnya min?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo itu balik lagi ke siapa tukang jaga konter check-innya. Selama ini saya gak pernah ditimbang-timbang sih. Tapi temen saya kena timbang karena emang petugasnya rese dari awal.

      Hapus
  9. Mbak saya kan udah naik thai dari jkt-stockholm pp dpt bagasi 30kg nah masalahnya skg saya mau balik bawa koper baru jd koper gede dibagasi 2 klo totalnya 30kg ada 2 koper ngpp ya? Abis mau nambah bagasi 10kg kena 14jt sama kaya harga tiketnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gapapa dibagi2. Asal berat totalnya 30 kg :)

      Hapus
  10. Halo kak, aku tahun ini pakai Thai Airways buat terbang dr JKT ke Osaka. Dapat bagasi 30kg, kalau aturan Thai Airways 1 koper (28 inchi) 30kg boleh kan ya kalau saya lihat balasan komentar Kakak di atas.
    Pasalnya, temen saya selalu bilang gak boleh bawa 1 koper isinya lebih dari 23kg. Tapi di websitenya tidak ditulis 1 koper 23 kg ditambah sisanya. Mudah2an kakak paham maksud saya.

    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Temen kamu kayaknya gak paham antara bagasi based on weight dan bagasi based on quantity. Kalo kamu dapet bagasi 30kg, artinya berapapun koper yang kamu bawa, berat totalnya maks. 30 kg. Tapi kalo misalnya nih, dari Thai ngasih kamu 2 bagasi gratis (utk kelas ekonomi), maka berat perkopernya gak boleh lebih dari 23 kg.

      Balik ke pertanyaan kamu, yepp. Kalo kamu cuma bawa 1 koper, berarti beratnya maks 30 :)

      Hapus
  11. hai kak, aku tahun ini pakai Airways buat transit ke bangkok terus lanjut ke tokyo aku dapet bagasi 30 kg bisa ga ya bawa koper 2 tp beda beda ukuran yg satu ukuran 24 yang satunya ukuran 20 atau harus seimbang ukuran 24 semua terus berat nya masing masing 15 kg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh. Kalo aturan Thai Airways dapet based on weight max 30kg, artinya kamu bisa bawa berapapun koper ke bagasi yang total semuanya max 30kg.

      Kalo bawa 2, gak harus 15:15. Bisa aja yang satu 24kg yang satu cuma 6kg. Gak harus juga yang satu ukuran 28" yang satu 24". Bebas aja. Yang penting berat semua koper yang bakalan masuk bagasi gak lebih 30kg :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

Jadi Au Pair Tidak Gratis: Siap-siap Modal!

Beragam postingan dan artikel yang saya baca di luar sana, selalu memotivasi anak muda Indonesia untuk jadi au pair dengan embel-embel bisa jalan-jalan dan kuliah gratis di luar negeri. Dipadu dengan gaya tulisan yang meyakinkan di depan, ujung tulisan tersebut sebetulnya tidak menunjukkan fakta bahwa kamu memang langsung bisa kuliah gratis hanya karena jadi au pair. Banyak yang memotivasi, namun lupa bahwa sesungguhnya tidak ada yang gratis di dunia ini. Termasuk jadi au pair yang selalu dideskripsikan sebagai program pertukaran budaya ke luar negeri dengan berbagai fasilitas gratisan. First of all , jadi au pair itu tidak gratis ya! Ada biaya dan waktu yang harus kamu keluarkan sebelum bisa pindah ke negara tujuan dan menikmati hidup di negara orang. Biaya dan waktu ini juga tidak sama untuk semua orang. It sounds so stupid kalau kamu hanya percaya satu orang yang mengatakan au pair itu gratis, padahal kenyatannya tidak demikian. Sebelum memutuskan jadi au pair, cek dulu biaya apa s

Guide Untuk Para Calon Au Pair

Kepada para pembaca blog saya yang tertarik menjadi au pair, terima kasih! Karena banyaknya surel dan pertanyaan tentang au pair, saya merasa perlu membuat satu postingan lain demi menjawab rasa penasaran pembaca. Mungkin juga kalian tertarik untuk membaca hal-hal yang harus diketahui sebelum memutuskan jadi au pair  ataupun tips seputar au pair ? Atau mungkin juga merasa tertantang untuk jadi au pair di usia 20an, baca juga cerita saya disini . Saya tidak akan membahas apa itu au pair ataupun tugas-tugasnya, karena yang membaca postingan ini saya percaya sudah berminat menjadi au pair dan minimal tahu sedikit. Meskipun sudah ada minat keluar negeri dan menjadi au pair, banyak juga yang masih bingung harus mulai dari mana. Ada juga pertanyaan apakah mesti pakai agen atau tidak, hingga pertanyaan soal negara mana saja yang memungkinkan peluang kerja atau kuliah setelah masa au pair selesai. Oke, tenang! Saya mencoba menjabarkan lagi hal yang saya tahu demi menjawab rasa penasar