Ke Tembok Cina Pakai Sopir dan Mobil Pribadi

Wednesday, 31 January 2018


Ke Beijing tanpa melihat Tembok Cina rasanya ada yang kurang. Apalagi perjalanan saya dan keluarga saat itu sudah jauh-jauh dari Shanghai naik kereta cepat selama lebih dari 5 jam.

Cerita sedikit tentang sejarahnya, Tembok Cina merupakan salah satu bangunan terpanjang yang pernah dibuat manusia. Pembangunan tembok ini sebenarnya sudah dimulai sekitar tahun 722 SM sebelum masa Dinasti Qin. Pada tahun 220 SM di bawah pemerintahan Dinasti Qin, Tembok Cina mulai dilanjutkan pembangunannya hingga banyak memakan korban jiwa. 

Setelah mengalami pasang surut pembangunan yang banyak menelan jiwa dan biaya, Tembok Cina direkonstruksi pada zaman Dinasti Ming sebagai benteng pertahanan serta gerbang masuk ke daerah perbatasan. Pada masa pemerintahan ini juga, Tembok Cina berhasil diselesaikan dengan panjang hingga 8850 km.

Tidak banyak yang tahu bahwa di luar segala kemegahan dan kegagahannya, Tembok Cina menyimpan duka mendalam yang misterius. Kabarnya, para lelaki zaman dulu dipaksa bekerja untuk membangun tembok tanpa diberi upah dan makan. Karena banyaknya manusia yang tidak bisa bertahan hidup, jasad mereka langsung dikuburkan di bawah konstruksi bangunan.

Saat melihat rute ke Tembok Cina, saya cukup kaget karena ternyata lokasinya berada di gunung yang jauh dari pusat kota Beijing. Bagian tembok pun sebenarnya dibagi-bagi berdasarkan apa yang ingin pengunjung lihat dan bagaimana cara kesana. Ada empat bagian tembok yang paling terkenal, seperti Badaling, Mutianyu, Jinshanling, dan Simatai. Ada banyak lagi bagian tembok yang terbuka untuk umum, namun untuk menuju kesana biasanya lebih sulit dan butuh usaha mendaki yang panjang.

Where to go?

Bingung akan kemana, saya langsung saja mencari cara menuju Tembok Cina dengan mempertimbangkan bagian tembok mana yang oke plus transportasi termudah. 

Badaling merupakan bagian tembok yang paling dekat dengan Beijing, paling mudah transportasinya dari pusat kota, paling mudah didaki, tapi juga paling ramai oleh turis. Mutianyu adalah spot terbaik yang lebih jauh dari Badaling, lebih sedikit turis, lebih susah dakiannya, tapi juga menawarkan pemandangan hutan dan gunung yang fantastis.

Jinshanling lebih jauh, lebih menantang, tidak sedikit turis yang datang, tapi juga butuh waktu lebih lama untuk naik ke gunung menuju tembok. Kalau memang berjiwa petualang dan malas melihat banyak turis, bagian tembok ini memang paling pas untuk sang penantang. Sementara Simatai, mengundang banyak grup turis datang meskipun jarak tempuhnya cukup jauh. Kabarnya, bagian tembok ini adalah bagian terbaik melihat Tembok Cina secara keseluruhan arsitektur.

How to get there?

Karena membawa ibu ikut travelling, kami tidak ingin repot mesti mengejar bus paling pagi lalu harus berganti-ganti moda transportasi sebelum sampai tujuan. Apalagi kami datang ke Cina saat musim dingin dengan suhu -7 derajat Celsius. Aduh, ibu saya sudah mulai malas duluan.

Saya langsung skip ke Tembok Cina menggunakan transportasi umum, lalu mencari-cari informasi tur. Sebenarnya banyak grup tur yang bersedia antar-jemput ke hotel hingga mampir dulu ke objek wisata lainnya. Tapi harganya itu mahal sekali. Belum lagi karena sudah terjadwal, mau tidak mau kami harus ikut jadwal pemandu wisata tanpa boleh berlama-lama di suatu tempat.

Akhirnya setelah membaca pengalaman beberapa travel blogger, kami lebih tertarik menyewa sopir dan kendaraan pribadi. Saya menemukan rekomendasi salah seorang blogger tentang Mark's Guide & Driver Service - Day Tour di TripAdvisor. Ternyata Mark, si pemilik, juga memiliki situs tur perjalanan yang sangat rinci di Best-our.

Beberapa opsi pun ditawarkan sesuai dengan budget dan pilihan lokasi pengunjung. Kami sepakat mengunjungi Mutianyu (baca: Mu Tien Yu) dengan harga 600 CNY (bukan per orang) sudah termasuk mobil dan sopir pribadi. Harga tersebut adalah yang termurah karena si sopir hanya bisa berbahasa Mandarin. Sementara sopir berbahasa Inggris-Mandarin dikenakan tarif 700 CNY. 

Saya dan ibu cukup lega karena adik saya memang sudah fasih berbahasa Mandarin. Jadinya kami tidak perlu mengeluarkan 100 CNY tambahan hanya untuk English driverIt was so easy, stress-free, dan kami tidak harus mengikuti jadwal bus atau pemandu wisata dulu. 

Kami menghubungi Mark via email dan 10 menit kemudian langsung dikonfirmasi dengan cepat. 

How was the experience?

Sesuai dengan kesepakatan, jam 8 pagi, seorang bapak sekitar umur 50 tahunan sudah menunggu kami di lobi dengan membawa kertas bernama saya. Si bapak yang bermarga Sun itu langsung menyambut kami ramah dan langsung keluar mengambil mobil.


Jumlah penumpang hanya 3 orang, tapi mobil yang kami gunakan saat itu cukup besar muat hingga 6 penumpang. Mobilnya super bersih dan sangat nyaman.

Si bapak juga tidak berhenti mengajak adik saya mengobrol saat tahu doski sudah fasih berbahasa Mandarin. Pak Sun juga dengan ramah dan terbuka menjawab beberapa pertanyaan kami seputar Cina. Meskipun hanya bisa berbahasa Mandarin, tapi saya juga paham selera humor beliau yang kadang garing tapi tetap lucu.


Perjalanan dari hotel ke Mutianyu ditempuh sekitar 1,5 jam. Sangat disarankan minta jemput pagi-pagi sekitar jam 7.30-8.30 untuk menghindari macet. Suasana kota pagi itu masih lenggang karena kami memang berangkat saat akhir pekan.

Sedikit cemas juga karena kabarnya akhir pekan merupakan waktu terburuk mengunjungi Tembok Cina dikarenakan naiknya lonjakan turis. Turis-turis ini tidak hanya warga negara asing, lho. Orang Cina pun sebenarnya sangat senang jalan-jalan keliling negara mereka di akhir pekan.

Sebelum sampai di loket pembelian tiket, Pak Sun menanyakan apakah ingin diantar sampai ke atas ataukah ingin ditunggu di kaki gunung lalu menuju ke atas pakai shuttle bus? Jadi sebenarnya, para sopir hanya mengantar dan memarkirkan mobil hingga sampai loket pembelian tiket di bawah ini.


Dari tempat parkiran menuju lokasi ke atas sekitar 3,5 km yang dapat ditempuh dengan naik shuttle bus atau hiking sendiri. Pak Sun menawarkan, mobil bisa naik sampai atas asal si pengunjung meluangkan waktu dan uangnya sedikit untuk membeli makanan atau minuman di restoran Subway. Jadi sebenarnya parkiran atas itu milik Subway. Makanya kalau ingin parkir di atas, setidaknya mampir dan belilah produk mereka sedikit.

No worry! Semua langsung oke.

Ngomong-ngomong, tiket masuk ke lokasi harganya 60 CNY per orang. Kata Pak Sun, kalau punya kartu pelajar, bisa didiskon sampai 20 CNY dengan menunjukkan kartu ke petugas tiket.

Sampai di atas, Pak Sun keluar dan menunjukkan kami loket cable car. Jadi sebenarnya ada dua opsi menuju bagian atas Tembok Cina, bisa dengan cable car atau hiking sendiri. Baca-baca di blog, katanya mendaki memerlukan waktu sekitar 1 jam 45 menit. Daripada kelelahan dan kedinginan, kami semua sepakat naik ke atas naik cable car saja.

Untuk menuju loket cable car dari parkiran ini pengunjung tetap harus mendaki lagi, lho. Ibu saya sampai ngos-ngosan menuju ke atas.


Lokasi cable car-nya juga ternyata ada dua pilihan, spot 6 dan spot 14. Spot 6 paling dekat dari pintu masuk parkiran tapi lebih asik kalau sedang musim panas. Soalnya cable car ini bagian depannya terbuka, hanya muat 2 orang, lalu sekembalinya dari atas bisa meluncur menggunakan sejenis kapal tunggangan kecil.

Sementara spot 14 dakiannya lebih panjang dan tinggi. Kami terpaksa harus mendaki lebih tinggi karena memang cable car di spot tersebut lebih cocok untuk kami bertiga. Harga di kedua spot tersebut pun sebenarnya sama saja, one way 100 CNY sementara return 120 CNY.  


Kami naik cable car sekitar jam setengah 10, tapi ternyata sudah ada beberapa pengunjung yang selesai dan siap turun gunung.

Pak Sun hanya mengantar kami hingga menuju loket cable car saja. Beliau memberikan waktu 2 jam sekalian menunggu di Subway.

Beruntung sekali kami datang cukup pagi. Karena meskipun akhir pekan, pengunjung masih sangat sepi. Foto-foto pun tidak perlu editing Photoshop segala karena bisa bebas memotret tanpa halangan kepala orang.

Walaupun datang di musim yang kurang tepat, tapi pemandangan hutan dan gunung di sekitar Tembok Cina membuat foto semakin terlihat magis. Apalagi saat itu sedang foggy, jadinya banyak siluet terlihat cantik dengan batang pepohonan yang daunnya mengering.

  


Saya suka Mutianyu dan semua pengalaman kami bersama Pak Sun. Namun ibu saya sebaliknya, beliau ternyata lebih suka tempat wisata yang lebih banyak turis karena bisa diajak berfoto-foto. Saking sepinya Mutianyu pagi itu, beberapa turis pun "kena paksa" foto dengan ibu saya.

Tengah hari, saat kami mulai turun gunung, banyak sekali pengunjung mulai mendaki ke atas. Suhu udara pun terasa mulai naik karena matahari bersinar dengan teriknya.

Anyway, karena harus hiking sedikit, ada baiknya menggunakan sepatu dengan sol karet yang tidak licin. Banyak juga turis yang ternyata pakai hi-heels boot dan pantofel kesini.

Musim dingin memang bukan waktu yang tepat menuju Tembok Cina, tapi asal tidak ada angin dan salju, semuanya tetap aman. We still love to be there!



No comments:

Care to leave your comments?