Langsung ke konten utama

Cupcake Kaos Kaki Untuk Bunny


Saya sebenarnya sudah gatal memberikan Bunny kaos kaki. Beberapa kali, saya memergoki doi yang ternyata memakai kaos kaki berwarna gelap tapi tidak selaras. Yang kanan pakai hitam, yang kiri pakai biru dongker.

"Iya, saya sering kesulitan menemukan pasangannya karena hampir semua kaos kaki saya warnanya gelap. They are dark, but have different.. how do you call it? Tone? Jadi kalau penerangan sedang tidak bagus, saya asal ambil saja yang warnanya sama. Tapi pas sudah terang, baru ketahuan kalau mereka beda."

Hmm.

He is so Danish. Jarang sekali saya menemukan pakaian atau barang-barang Bunny di luar warna hitam, cokelat tua, atau biru tua. Kalaupun bermotif, warnanya pasti tidak ngejreng. Kebetulan masih summer sale, saya menemukan kaos kaki motif lucu-lucu dari Happy Socks yang masih gratis ongkir ke seluruh Eropa. Tanpa mengurangi rasa hormat saya ke so-Danish-an Bunny, saya memilih kaos kaki bermotif dengan warna pastel.

And it is time for crafting! Tidak ingin membungkus kaos kaki hanya dengan kertas kado, saya menemukan inspirasi wrapping gift di Chica Circle yang juga bisa dicoba untuk membungkus baju bayi ataupun handuk kecil.

Bahan yang disiapkan:

  • Kertas karton ukuran HVS
  • Kertas kado atau motif ukuran HVS
  • Papercup motif
  • Dua pasang kaos kaki; seukuran mata kaki dan panjang
  • Lem
  • Selotip


Cara membuat kaos kaki berbentuk cupcake ini pun sangat gampang dan bisa dilihat caranya di Cupcake Onesies Gift Idea.

Karena cupcake yang diberikan hanya dua biji, saya membuat sendiri kotak kecil sebagai wadah. Membuatnya pun sangat mudah hanya dengan bermodalkan kertas karton, kertas bermotif, lem, selotip, dan gunting. Lagipula saya berpikir, kalau kotaknya terlalu bagus dan harus beli, toh juga langsung dibuang oleh si Bunny. Tapi bagi yang tidak mau repot dan ingin memberikan cupcake lebih banyak, boleh cari kotak di pasaran yang bentuknya lebih cantik.

Anyway, sebenarnya papercup untuk muffin atau cupcake di rumah Louise cukup banyak, tapi yang jenis kertasnya tipis. Karena kaos kaki setelah digulung sedikit besar, papercup yang tipis tidak terlalu cantik "menggenggam" si kaos kaki. Jadinya saya memilih papercup yang kertasnya lebih tebal dan sudah berbentuk mangkuk.

Setelah semua selesai, kado tinggal dibungkus dengan plastik dan pita sebagai pemanis. Oh ya, karena di Denmark rata-rata pemberi hadiah harus menyertakan kartu ucapan, saya juga mengisi kartu ucapan yang akan diberikan ke Bunny. Ehh... voila!


"Thank you so much, Nin. Lucu sekali kaos kakinya. Ini bakalan jadi kaos kaki ter-colorful yang pernah saya punya. Additionally, they are also easier to find since I always miss the other pair (of the dark ones)," kata Bunny saat membuka kado.

Kalian sendiri bagaimana, pernah memberi hadiah unik ke pasangan? Or, do you enjoy crafting?



Komentar

  1. Never really gave Johnny such unique gift 不, last time on Christmas I gave him bottle water (because he needs it, so it urges him to drink more water, I want to give him something valuable) 不不不不不不

    BalasHapus
    Balasan
    1. I think the most valuable gift is when you know they would need it anyway. That's so cute, Manda ;) Sounds like you care a lot about his drinking habit.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa