Mengintip Khasnya Kabin Keluarga Norwegia di Hemsedal

Monday, 26 March 2018


Paskah tahun ini jadwal saya 'business trip' ikut keluarga ke Hemsedal. Kenapa saya katakan business trip, karena meskipun judulnya jalan-jalan dan rehat dari Oslo, tapi saya tetap harus kerja. Saya tahu betul liburan dengan keluarga angkat kadang menyebalkan. Yang liburan sebenarnya si keluarga, bukan au pair. Au pair kembali lagi ke tugas aslinya, jaga anak!

Tapi daripada mengeluh terus-terusan, saya sebenarnya beruntung dan bersyukur bisa diajak jalan ke Hemsedal yang merupakan Scandinavian Alps-nya Eropa. Cerita sedikit tentang keluarga baru saya ini, mereka punya 3 tempat tinggal di Norwegia.

Satu rumah di Oslo, satu di Tjøme, dan satu kabin di Hemsedal. Bisa dikatakan, mereka jarang sekali menghabiskan akhir pekan di Oslo. What to do in Oslo? It's boring anyway.

Makanya kalau on duty, saya mesti ikut mereka pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Hemsedal sangat terkenal dengan landaian ski dan pegunungannya yang jadi daya tarik turis se-Eropa. Tapi karena travelling kali ini dalam rangka kerja, jadinya saya belum bisa mencoba berseluncur di gunung.

Tidak semua orang Norwegia memiliki kabin. Apalagi kebanyakan kabin hanya ditempati saat liburan saja oleh si pemilik. Kata host dad saya, hanya sekitar 20% penduduk Norwegia yang memiliki summer atau winter cabin disini.



Keluarga saya yang sekarang super aktif dan sangat betah di luar rumah. Mereka bisa saja hanya menghabiskan waktu untuk berolahraga berjam-jam meskipun cuaca sedang dingin-dinginnya. Karena sama-sama suka ski, makanya punya satu kabin keluarga di Hemsedal merupakan hal wajib. Sebenarnya kabin ini punya host dad saya sebelum bertemu dengan si emak. Si emak juga punya kabin keluarga, tapi sudah dijual katanya.

Kabin yang sekarang sudah berusia 10 tahun dan dibangun sendiri oleh si bapak tanpa bantuan finansial dari keluarganya. Meskipun alam masih menyediakan lahan, tapi membangun dan memiliki properti sendiri di Norwegia tidak murah. Makanya si bapak betul-betul bangga selalu bisa singgah ke Hemsedal dan menginap di kabin pribadinya.


Yang menarik dari kabin ini, semua ruangan, interior, dan perabotan terlihat khas Norwegia sekali. Walaupun ukuran kabin tidak terlalu besar, tapi kesan nyaman langsung terasa saat masuk ke ruangan.


Saya juga suka dengan penambahan karpet bergaya vintage yang mempermanis ruangan. Bukannya terkesan membosankan, justru karpet ini menampilkan kesan energetik khas penduduk Norwegia yang tidak pernah bosan berada di luar ruangan.


Masuk ke ruangan utama sebenarnya membuat saya sedih karena banyaknya hewan liar yang berhasil diburu dan dijadikan pajangan. Selain kucing hutan, si bapak juga mengoleksi pajangan kepala rusa besar, beruang, kelinci, burung, serta kepala kijang.

Sebenarnya pas. Karena kabin ini letaknya di hutan, makanya hewan-hewan yang dijadikan pajangan pun rata-rata hewan liar hasil buruan. FYI, beruang yang dijadikan pajangan sebenarnya hasil perburuan kakak host dad saya yang memang seorang huntsman. Dapatnya bukan di Norwegia, tapi Kanada. Sengaja tidak saya abadikan karena kasihan melihat si beruang kecil.



Pun jangan berharap menemukan fake leather di kabin ini karena semuanya asli! Mulai dari selimut berbulu hewan, bantal, seat covers, sofa, jaket, kaos kaki, hingga sepatu, terbuat dari kulit hewan berkualitas tinggi.

Ini juga salah satu tipikal kabin di Norwegia, sangat suka mengoleksi bulu hewan yang sudah diawetkan. Hampir semua sofa dan tempat duduk di kabin biasanya dilapisi kulit dan bulu hewan untuk menambah kehangatan.


Dibandingkan dengan orang Indonesia yang lebih suka memakai perabotan plastik, kabin di Norwegia lebih banyak menggunakan perabotan masak kayu yang menambah kesan natural dan elegan. Plus, bunga segar sebagai pemanis di Paskah yang masih bersalju.




Satu lagi yang saya suka dengan orang Norwegia, mereka tidak sengaja melupakan sejarah keluarga. Banyak sekali foto, perabotan masak, buku, pajangan, atau alat ski di kabin ini yang sebenarnya hasil turun temurun dari keluarga si bapak. Sebenarnya barang-barang tersebut tidak terbuat dari bahan berharga, seperti emas atau perak. Namun karena selalu diturunkan dari nenek moyang, makanya sebisa mungkin dijaga dan tetap dipakai hingga generasi selanjutnya.

Senapan berburu yang pernah dipakai oleh kakek si bapak dulu pun masih dipajang apik di kabin ini. Ada lagi satu mangkuk turun temurun yang katanya berasal dari abad 18 juga masih tetap dipakai sampai sekarang.

Di Indonesia, barang seperti ini mungkin hanya akan masuk lemari kaca saja ya?


Sekali lagi, saya sangat bersyukur bisa diajak business trip ke Hemsedal dan melihat alam yang luar biasa cantiknya. Menghirup udara sejuk pegunungan, minum air gunung langsung dari keran, hingga melihat betapa indahnya 'musim semi' saat salju masih menutupi sebagian besar wilayah ini. Bayangkan kalau saya harus kesini sendiri, pun sepertinya tidak masuk dalam waiting list.



Oke, mungkin kali ini saya belum bisa mencoba olahraga ski di Hemsedal, tapi bersantai di teras rumah sambil menyeruput hangatnya cokelat panas selagi memandang jauh pegunungan bersalju bukanlah hal yang sia-sia.


Do you like this post? Semoga bisa menambah inspirasi untuk desain interior di rumah kalian ya!


3 comments:

  1. Semuanya keren...

    ReplyDelete
  2. Wiww skill photography nya meningkat yeee 😝

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sialan dah!! xD
      Ente yang ngajarin soalnya. Bhaha.

      Delete