Haruskah Bule?

Friday, 1 June 2018



Minggu lalu seorang teman au pair cerita ke saya tentang teman-teman Indonesianya yang super nosy. Intinya mereka iri karena si teman saya ini punya pacar bule, bisa ke Eropa karena program au pair, dan Instagramnya dipenuhi foto-foto keren di banyak negara. Pokoknya tipe-tipe sohib bermuka dua yang iri saat temannya sukses lebih dulu.

Kalau ingat cerita si teman au pair ini, saya jadi bersyukur karena teman-teman saya di Palembang tidak ada satu pun yang nosy begitu. Mereka rata-rata sudah menikah tak lama dari lulus kuliah dan fokus dengan kehidupan sendiri-sendiri. Pun yang belum menikah, kebanyakan sudah punya pacar. Apa yang mesti dicemburui dari saya yang bisa berkencan dengan cowok bule, misalnya?

Ngomong-ngomong soal bule, saya sama sekali tidak pernah merasa lucky juga bisa berkencan dengan para cowok kulit putih ini. I have no option, but I have a chance. That's all!

Kalau mau bicara tipetsaahhsaya sebetulnya masih suka dengan cowok bermuka oriental. Saya lahir di tahun 90-an saat era Jimmy Lin, Aaron Kwok, atau Andy Lau lagi hits. Ya ala-ala cowok berambut halus berbelah tengah dan bermuka kyut yang selalu menghiasi layar kaca dari siang sampai malam.

Karena juga tinggal di kawasan pecinan, saya merasa selalu diikuti bayang-bayang para artis tersebut. Ke tukang salon, ada poster Jimmy Lin. Ke pasar, di dindingnya ada gambar Andy Lau. Lewat depan rumah Om Apeng, lagunya siapa entahlah berbahasa Mandarin selalu dipasang.

Masuk tahun 2000-an, Meteor Garden tiba-tiba booming dan semua cewek sepertinya mengidolakan F4. Tak terkecuali saya dan teman-teman SD yang mulai genit. Idola saya saat itu si Koko Hua Zhe Lei yang pendiam dan misterius. Muka-muka F4 pun ada dimana-mana saking terkenalnya. Ke rumah sepupu, poster Jerry Yan sebesar pintu kamar terpajang. Ke sekolah, tukang jualan belakang SD semarak berjualan pernak-pernik F4. Ke toko, lagu-lagu Meteor Garden dan F4 berulang kali diputar. Duh!

Saat SMP, era-era manga dan dorama Jepang mulai mengimbangi drama Taiwan. Saya pun ikut membayangkan cowok-cowok ganteng di dalam komik yang mukanya hanya hitam putih. Tak lama kemudian, muncul juga Takashi Kashiwabara dan Hideaki Takizawa yang memberikan ide betapa kyutnya para cowok Jepang di dunia nyata.

Tahun 2005, teman-teman SMA saya mulai seru membahas drama Korea dengan aktor-aktor bermata sipit berwujud pangeran. Sebut saja Rain, Jae Hee, Ju Ji-hoon atau yang terakhir kali Super Junior. Setelah masuk kuliah, saya mulai meninggalkan para pangeran karena demam Korea mewabah dan sudah terlalu mainstream. Saya sampai bosan sendiri mendengar K-Pop dimana-mana. Plus, selera cewek-cewek Indonesia mulai tidak realistis berkiblat ke para cowok kaya, romantis, dan nan tampan yang ada di drama Korea.

Tidak ada nama Westlife, Zac Efron, Justin Timberlake, apalagi Justin Bieber yang pernah saya kagumi. Nope. No white guys. Bahkan saat zamannya telenovela Amigos x siempre (2000), saya absen mengidolakan si Pedro a.k.a Martin Ricca yang sering jadi imajinasi teman-teman sebaya saya.

Jujur saja, tipe cowok saya dulu memang mengikuti tren para aktor Asia yang saling berganti masa menghiasi tv. Kalau mau dirunut pun, gebetan dan mantan pacar saya juga mukanya rata-rata oriental dengan karakter misterius.

Lalu kenapa sekarang gebetannya bule semua?

Lha, karena saya tinggal di Eropa! Kanan kiri warnanya putih, bermata biru, berambut kuning. Ingin cari yang mukanya oriental, di Skandinavia ini kok susah ya? Apalagi yang mukanya totok Indonesia. Sekalinya ada, kalau bukan bapak orang, ya suami orang. Kalaupun ada yang sepantaran, sudah punya pacar atau tidak cocok saja.

Jadi kalau kamu tanya kenapa rata-rata au pair Indonesia di Eropa bisa punya pacar bule, sebetulnya hanya karena mereka punya kesempatan bertemu. Bisa tahu juga mana yang benaran tampan dan mana yang biasa saja. Tak seperti di Indonesia yang semua bule dipukul rata ganteng semua. Si bule itu pun harusnya lucky bisa mendapatkan cewek Indonesia yang pinter masak, independent, jenaka, dan soft-spoken! 

Saya tidak punya pilihan kalau mau bicara tipe. Meskipun, kadang rindu juga cowok-cowok Asia yang manner-nya masih sama dengan Indonesia. Kencan terbaik saya di Eropa pun sebetulnya bersama cowok Korea-Amerika yang saat itu sedang business trip di Kopenhagen. Dari humor sampai basa-basi super nyambung.

Ya kembali lagi, terserah kamu inginnya punya pacar asli Indonesia, Korea, Uzbekistan, Swedia, atau Kanada. Hanya saja, don't worship white guys that much! They're not exclusive at all. Mereka juga banyak yang miskin, kampungan, bodoh, bau badan, dan sombong. Tinggalkan juga kesan negatif kalau yang pacaran dengan bule hanya melihat visa dan harta. Some do. But most of them are just falling in love!



7 comments:

  1. Setuju. Adanya cuman itu. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya :<
      Makanya jangan tanya "kenapa harus bule banget?"

      Delete
  2. Kalau boleh jujur sih saya demennya pria Chinese (terbukti kebanyakan mantan orang Chinese). Sudah pintar, rambutnya bagus, kulitnya putih, dll. Tapi ternyata lagi2 kepentok di agama dan keluarga. Sekarang malah dengan pria Denmark yang gak cuman beda agama tapi juga ras dan nationality. Haha Bedanya, pria yang satu ini berani mendobrak semua perbedaan demi visi dan misi yang sama. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo masih pacaran, semua emang terasa “gampang” jalaninnya. Ntar pas udah mau serius tuh yang susah. Banyak perbedaan pola pikir dan budaya. Apalagi kalo kamu niatnya nikah. Mesti dibicarain semuanya mumpung masih pacaran ini :)

      Awet ya!

      Delete
  3. Halo kak,aku sdg cari2 tau tentang bule dr Balkan,karena aku skrg sdg LDR sm bule dr Albania,a dentist,seneng banget olahraga beladiri,punya dojo ( tempat latihan) aku kagum sm dia krn dia mandiri,cinta banget keluarga,dewasa selisih 10 thn sm aku.dia 32 .gak ngekang sy mau ngapain juga.yang pasti diatas segalanya dia mau sm aku krn alasan keyakinan yg dia gak bisa dapat dr cewek sebangsanya.not so good looking,tp manislah,not so tall,pendekar..pendek dan kekar,hahaha..dia jujur pernah bobo sm ceweknya yg niat mau dia nikahin,tp krn karakternya keras trus menghina agama,mereka break up. Dah 3 taun ini lah. Menurut kakak apakah aku kudu pertahankan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah pernah ketemu? Udah pernah jalan bareng? Udah sejauh ngomongin relationship?

      Gak usah bawa2 Balkan-nya dulu coba. Posisiin aja dia orang Indonesia. Kira-kira masih mau kamu pertahankan atau gak? ;)

      Delete
    2. Setahuku orang Albania tak pernah mau datang dimari deh karena alasan uang, dan tak mau juga nikah sama dengan orang luar negeri hanya mau dengan sebangsa nya sendiri.

      Delete